
Selesai membereskan pekerjaannya, ternyata setelah melihat jam, sudah waktunya untuk makan malam. Daniel yang tidak ingin istrinya bertambah marah, ia segera keluar dari ruang kerjanya dan mengajak istrinya untuk makan malam.
Namun, sebelum keluar, Daniel pergi ke ruang makan untuk melihat apakah makan malamnya sudah disajikan atau belum. Ketika terlihat Mbak Nana sedang menyiapkan makan malam di meja makan, jelas sudah bisa mengajak istrinya.
Saat baru saja membuka pintu, rupanya sang istri masih disibukkan dengan ponselnya.
"Sudah selesai dengan ponselnya? kalau sudah, ayo kita makan malam dulu. Setelah itu, kamu boleh lanjutkan mainan ponselnya."
"Aku gak mau keluar dari kamar. Bawakan saja makan malamnya kesini. Aku capek harus pindah pindah dari kursi roda dan ke tempat tidur, bolak balik seperti itu terus membuatku capek saja." Jawabnya dengan ketus, juga terlihat seperti masih kesal.
Daniel yang memang sengaja ingin melihat sejauh mana istrinya akan bersikap keras, tetap mencoba untuk mengikuti keinginannya selagi emosinya masih terkontrol.
"Baiklah kalau kamu tidak mau makan malam di ruang makan, aku akan meminta Mbak Nana untuk mengantarkan makanannya untuk kamu. Mau aku temani, atau Mbak Nana yang menemani kamu, Meyla?"
"Aku gak butuh Mbak Nana, dia orangnya ribet. Kamu aja yang ngambil makan malamnya untukku." Jawab Meyla dengan ketus, bahkan tidak menatap suaminya sama sekali.
__ADS_1
Daniel hanya mengangguk.
"Ya udah kalau itu maunya kamu, aku akan mengambilkannya untukmu." Ucap Daniel dan bergegas keluar dari kamar dan mengambilkan makan malam untuk istrinya.
'Mungkin Meyla masih sakit hati atas diriku yang sudah mencelakai dirinya, maka dari itu, sikapnya semaunya sendiri. Tapi maaf, mungkin hanya beberapa saat aku akan menuruti mu, tapi tidak untuk selanjutnya, kamu harus merubah dirimu Meyla.' Batin Daniel sambil menuruni anak tangga.
"Tuan, Nona Meyla mana? kok, tidak ikut Tuan keluar dari kamar."
"Istriku sedang tidak ingin keluar, Mbak. Jadi, aku akan mengantarkan makan malamnya di kamar." Jawab Daniel sambil mengambil satu porsi untuk istrinya.
"Biar saya saja, Tuan. Biar saya yang mengantarkan makan malamnya untuk Nona Meyla, Tuan." Ucap Mbak Nana yang hendak mengambil alih, sayangnya tangan Mbak Nana dihalangi oleh Daniel.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi, Tuan."
"Ya, Mbak, silakan." Jawab Daniel sambil menuangkan air putih kedalam gelas.
__ADS_1
Setelah itu, Daniel segera mengantarkan makan malam untuk istrinya yang didalam kamar. Mbak Nana yang melihat majikannya yang begitu perhatian, merasa ikut kasihan karena memiliki seorang istri yang jauh berbeda sifatnya dengan majikan laki-lakinya.
'Kasihan sekali Tuan Daniel, mendapatkan istri yang tidak sesuai dengan karakternya. Sudah gagal mendapatkan cintanya dengan Nona Yunda, sekarang harus bersabar menghadapi sikap istrinya yang sangat manja.' Batin Mbak Nana yang teringat di waktu di rumah utama majikannya.
Daniel yang sudah sampai didepan pintu, pelan-pelan membuka pintu kamarnya. Kemudian, Daniel meletakkan satu nampan yang berisi satu porsi makan malam dan dengan segelas air putih, juga ada buahnya.
"Makan dulu, main ponselnya nanti lagi." Ucap Daniel sambil meraih piring yang ada di nampan.
Kemudian, Daniel menyodorkan piringnya.
"Mau aku suapi atau makan sendiri, Mey?" tanya Daniel setelah menyodorkan satu piring kepada istrinya.
"Apa kamu tidak lihat, kalau aku sedang sibuk dengan ponselku. Tentu saja kamu yang menyuapi aku, males banget menyuapi diri sendiri. Aku begini juga gara-gara kamu. Coba kalau kamu tidak sampai menabrak aku, gak bakal begini jadinya. Juga, gak bakal nikah sama orang kek kamu." Jawab Meyla masih menunjukkan sikap angkuhnya.
Daniel hanya menghela napasnya dengan pelan, tentu saja ada sedikit kesal dengan tuduhan dari istrinya. Namun, sebisa mungkin untuk tidak mudah terpancing emosinya. Apapun keadaan yang sekarang, Daniel berusaha untuk tetap bersikap tenang ketika menghadapi sikap istrinya yang keras kepala.
__ADS_1
"Ya udah, sini aku suapi. Buka mulutnya, a' buka." Ucap Daniel sambil mengajaknya untuk membuka mulutnya.
Meyla yang memang sudah merasa lapar, dirinya sama sekali tidak menolak ketika disuapin oleh suaminya hingga satu porsi dalam piring pun telah habis dan tidak lagi tersisa.