
Selama dalam perjalanan menuju tempat yang dituju, Daniel dan Meyla sama-sama diam dan tidak ada yang membuka suara. Namun, dibalik diamnya Daniel, Diam-diam dirinya memperhatikan istrinya.
"Sudah sampai, ayo kita turun." Ucap Daniel yang baru saja mematikan mesin mobilnya.
Meyla yang belum pernah datang ke tempat tersebut, pun merasa asing.
"Dimana ini?" tanya Meyla saat melihat disekelilingnya terasa asing dimatanya.
"Ini danau kecil, juga sepi. Tapi, di danau ini selalu ada pengunjungnya. Hanya tiket terbatas untuk masuk ke area danau ini." Jawab Daniel sambil melepaskan sabuk pengaman.
"Danau kecil tapi sepi, gak menarik berarti dong?" tanya Meyla kembali karena belum mengerti.
"Bukan karena tidak menarik, tapi terbatas. Hanya yang beruntung saja yang bisa masuk, termasuk kita." Jawab Daniel sambil menatap lekat pada istrinya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku gak terbiasa." Kata Meyla merasa gugup, rasanya pun seperti anak muda yang baru merasakan indahnya jatuh cinta.
"Kenapa, gak boleh aku menatapmu?"
"Bub-bukan begitu maksudnya aku, em- malu aja akunya."
"Kenapa mesti malu, aku suami kamu." Kata Daniel sambil tersenyum tipis terhadap istrinya.
"Ah sudah lah, ayo kita turun. Aku udah lapar, energi aku udah terkuras abis sama temannya adik kamu itu. Perempuan yang tidak punya sopan dan santunnya sama sekali di rumah orang." Ucap Meyla yang buru-buru melepaskan sabuk pengamanannya.
__ADS_1
Daniel masih memperhatikan istrinya yang salah tingkah dibuatnya. Kemudian, Meyla kembali menoleh ke arah suaminya.
"Ya, aku ngaku juga, aku pun sama seperti Yena itu. Tapi 'kan, aku sudah tidak mengulangi kesalahan itu lagi, dan aku wajar karena aku dengan masalah yang berbeda." Sambungnya lagi untuk membela diri.
Lagi-lagi Daniel justru tersenyum kembali mendengar ucapan dari istrinya.
"Ya, aku percaya kok sama kamu. Ya udah, ayo kita turun. Nanti kalau kita kelamaan didalam mobil, perutku bertambah keroncongan." Ajak Daniel untuk segera turun.
Meyla tersenyum dan mengangguk. Setelah itu, keduanya segera turun dan menikmati makan malam di dekat danau. Restoran mini di sekitaran danau, namun memiliki kesan tersendiri bagi pengunjung.
Daniel yang sudah tidak ada rasa canggung, ia menggandeng tangan istrinya. Juga, Meyla tidak ada penolakan apapun terhadap suaminya.
Sampainya di tempat yang sudah di pesan lewat online, Daniel mengajak istrinya duduk. Setelah itu, datang salah satu pelayan.
"Sama juga boleh, aku tidak ada alergi apapun untuk segala macam makanan, asalkan itu makanan yang memang dikhususkan untuk dimakan." Jawab Meyla malu-malu.
"Baiklah kalau maunya sama, terus untuk minumannya?"
"Sama juga boleh." Jawab Meyla, Daniel mengiyakan dan memesankan makanan yang sama.
Setelah itu, keduanya menikmati suasana di malam hari di tepi danau dengan pemandangan indah dengan hiasan lampu yang berbeda-beda. Tentu saja membuat sekitaran danau terlihat begitu indah dan juga berkesan.
"Gimana, kamu suka tempatnya?" tanya Daniel sambil memperhatikan istrinya, bukan memperhatikan sekeliling danau.
__ADS_1
"Suka, soalnya aku jarang main ke tempat yang seperti ini. Aku seringnya mendatangi cafe dan ngobrol bareng sama teman-teman aku. Kalaupun sama pacar, cuma jalan-jalan ke pantai saja, itupun sebentar. Eh! maaf, yang terakhir aku tidak sengaja." Jawab Meyla merasa bersalah karena keceplosan dengan jujur.
Daniel tersenyum tipis saat melihat ekspresi istrinya saat teringat apa yang sudah diucapkannya.
"Tidak apa-apa, namanya juga jujur, gak bohong, 'kan?"
"Maaf, tadi aku gak ada niat untuk bicara kek tadi. Jujur, aku cuma gak sadar aja tadi."
"Ya, aku ngerti. Kalaupun kamu masih berharap ingin kembali dengan lelaki yang kamu sukai, aku tidak melarang kamu. Itu hak kamu sepenuhnya, janjiku hanya menyembuhkan kaki kamu. Setelah itu, terserah kamu bagaimana keputusan kamu. Kamu tidak perlu bohongi perasaan kamu, jujur dengan kata hatimu." Ucap Daniel kepada istrinya.
Meyla yang mendengar ucapan dari suaminya, pun merasa terpojok.
"Permisi, Tuan, Nona, ini pesanannya." Ucap seorang pelayan dengan membawa satu nampan besar yang berisi dua porsi dan dua gelas minuman.
"Terima kasih, Mbak." Jawab Daniel bersamaan dengan istrinya.
"Silakan untuk dinikmati makanannya, Nona, Tuan." Ucapnya, kemudian bergegas pergi.
Kini, Meyla dengan Daniel saling menatap satu sama lain. Juga, belum ada yang bicara.
"Kita makan, lanjut ngobrolnya nanti lagi." Ajak Daniel kepada istrinya.
Meyla mengangguk, yakni mengiyakan tanpa bicara karena masih kepikiran dengan ucapan dari suaminya.
__ADS_1