
Daniel langsung menatap serius kepada Yena.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan di ruang dapur, Yena? ha!"
Kini suara Daniel mulai meninggi, tentu saja membuat Yena ada sedikit rasa takut jika dirinya yang akan mendapatkan marah. Sedangkan Wingga memilih untuk diam, karena memang dirinya belum mengetahui siapa yang salah dan mana yang benar.
"Ayo! jawab, jangan sampai kesabaran ku habis. Istriku atau diri kamu yang mulai. Apa perlu aku menunjukkan rekaman CCTV yang lebih akurat lagi?"
Yena langsung melotot, dan tentu saja membuatnya takut.
"Jangan Kak, jangan. Ya deh ya, aku yang salah, dan aku yang sudah memulainya. Habisnya Kak Daniel kenapa menikahi perempuan lain, kenapa bukan aku, Kak? aku yang seharusnya kamu nikahi. Karena aku tuh cinta banget sama Kakak, juga sayang." Jawab Yena yang akhirnya mengakui kesalahannya.
"Kakak menganggap kamu itu, hanya sebatas adik, sama seperti Wingga. Kamu temannya Wingga adiknya Kakak, dan Kakak memang tidak punya ketertarikan sama sekali denganmu. Juga, Kakak mempunyai pilihan sendiri soal siapa yang Kakak cintai, sukai, dan kakak sayangi. Jadi, berhentilah berharap kepada Kakak. Di luaran sana, kamu masih mencari lelaki yang jauh lebih baik dari kakak. Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang, jangan kamu sia-siakan dengan hal bodoh seperti tadi." Ucap Daniel memberi nasehat kepada Yena.
"Yang dikatakan Kak Daniel itu memang benar, Yen. Di luaran sana masih banyak laki-laki yang seperti kamu harapkan. Juga, kamu masih muda. Masa depan itu yang paling utama, nanti jodoh yang akan mencari kita." Timpal Wingga ikut bicara dan juga ikut mengingatkan temannya.
Yena yang masih merasa kecewa karena cintanya ditolak secara mentah-mentah, pun masih diam, lantaran masih belum bisa terima.
"Ya udah, sekarang sudah waktunya makan malam. Kakak mau ajak kalian makan di luar, tapi nunggu persetujuan dari istri Kakak. Kalau istri Kakak tidak mau, kalian akan di antar sama Pak Romi." Ucap Daniel.
"Ya, Kak." Jawab Wingga.
Setelah itu, Daniel segera bergegas masuk ke kamar untuk menemui istrinya.
__ADS_1
Saat sudah berada di depan pintu kamar, rupanya di kunci. Kemudian, Daniel menggunakan kode.
Ketika pintu kamar dapat dibuka, dilihatnya sang istri tengah meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk guling. Daniel berjalan mendekatinya.
"Mey, Meyla, kamu marah?"
Sambil berjalan mendekati istrinya, Daniel memanggil sekaligus bertanya. Meyla yang masih merasa kesal, sama sekali tidak menyahut.
Daniel duduk di sebelah istrinya, dan meraih pundaknya.
"Mey, jangan marah seperti itu dong. Kalau kamu marah kek gitu, sama aja kek Yena kamunya. Marahnya seperti anak kecil, sini lihat aku."
"Gak mau, urusin aja perempuan itu. Dia yang lebih tahu segalanya tentang kamu ketimbang aku. Lagi pula aku ini bukan siapa-siapa kamu, kita nikah juga tidak ada perasaan apapun. Juga, aku sudah bisa jalan, kamu sudah bebas." Jawab Meyla yang masih meringkuk sambil memeluk guling.
"Kamu ini gimana lagi sih. Lah, 'kan kamu sendiri yang membuat perjanjian soal kaki kamu kalau sudah bisa berjalan. Sudahlah, lupakan itu semua soal perjanjian, itu kalau kamu mau. Tapi, kalau kamu tidak mau, ya itu hak kamu. Dari awal aku menikahi kamu dan bertanggung jawab atas diri kamu, aku tidak menganggap ada perjanjian di atas kertas."
Meyla masih diam, bingung untuk menjawabnya.
"Sudahlah, jangan seperti anak kecil. Aku mau mengajak kamu makan malam di luar, soalnya Mbak Nana mau masak juga sudah percuma, lama menunggu nantinya. Ya gak cuma ngajak kamu saja sih, ada Wingga dan temannya. Tapi, kalau kamu gak mau makan malam bareng mereka, kita berangkat berdua aja, biar Wingga sama Yena diantar sama pak Romi, bagaimana?"
Meyla langsung menoleh ke arah suaminya.
"Gak bohong?"
__ADS_1
Daniel menggelengkan kepalanya.
"Yakin, serius. Ya udah, sekarang kamu ganti bajumu. Aku mau nyuruh pak Romi untuk mengantar Wingga sama Yena ke Restoran. Nanti kita berangkat berdua saja, kita cari tempat yang lain saja."
Meyla tersenyum dan langsung bergegas mengganti bajunya. Kemudian, Daniel segera menyuruh pak Romi.
Sambil menunggu istrinya mengganti baju, Daniel duduk santai di ruang keluarga sambil nonton televisi.
Yena yang gagal untuk merebut Daniel, akhirnya hanya menyimpan rasa kecewanya.
"Sudahlah Yen, ayo kita berangkat. Nanti kalau kamu bikin masalah lagi, bisa bertambah besar masalahnya." Ucap Wingga sambil menarik lengannya Yena.
'Awas saja kamu, aku bakal balas.' Batin Yena penuh kesal.
Setelah itu, Yena dan Wingga pergi diantar pak Romi. Sedangkan Daniel yang tengah menunggu istrinya mengganti baju, rupanya baru saja keluar dari kamar.
Terdengar suara langkah kaki istrinya yang tengah berjalan karena baru saja keluar dari lift, Daniel pun langsung bangkit dari posisinya.
Penampilan kali ini benar-benar membuat Daniel susah untuk mengedipkan kedua matanya, lantaran penampilan istrinya yang begitu terlihat sangat cantik dan pakaiannya yang elegan. Juga, tidak lagi menggunakan alat bantu.
"Kamu terlihat sangat cantik malam ini. Ternyata ada untungnya juga gagal makan malam di rumah, kita bisa makan malam di luar. Ayo kita berangkat, aku gendong atau ...."
"Enggak enggak enggak, aku sudah bisa jalan sendiri. Nanti kalau kamu menggendong aku, bisa bisa penampilan aku bisa berantakan." Jawab Meyla dengan wajah yang terlihat sumringah bahagia.
__ADS_1
Daniel yang memang belum pernah mengatakan cinta kepada istrinya, pun tetap memperlakukan istrinya sama seperti laki-laki lainnya terhadap istri mereka.