Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Rasa penasaran dan ingin tahu


__ADS_3

Waktu yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya sudah waktunya untuk pulang ke rumah. Daniel yang tidak ingin pulang terlambat, dirinya, segera membereskan meja kerjanya. Setelah itu, ia segera pulang.


"Bang Rom, ayo kita pulang." Ajak Daniel kepada supir pribadinya.


"Baik, Tuan, mari." Jawab Bang Romi selaku supir pribadinya Daniel.


Sedangkan yang ada di rumah, Meyla selalu sibuk dengan ponselnya. Karena menyimpan rasa penasaran, Meyla mencoba untuk masuk ke ruangan kerja suaminya.


"Jadi penasaran aku sama itu laki, sebenarnya Daniel itu laki laki seperti apa sih. Masa iya, dia gak punya pacar. Gak mungkin banget seorang cowok tajir kek dia gak punya pacar, ya gak sih." Gumam Meyla yang mulai dihantui dengan rasa penasaran soal sosok suaminya.


Karena sudah tidak sabar, akhirnya Meyla nekad untuk masuk ke ruang kerjanya. Dirinya berharap dapat mengetahui tentang suaminya.


Saat sudah berada di ruang kerjanya, kedua matanya tengah mengamati isi dalam ruangan tersebut. Nihil, Meyla sama sekali tidak mendapati sesuatu yang berhubungan dengan kepribadian suaminya, karena dirinya pun menyadari jika sang suami baru pertama kalinya tinggal di rumah yang sekarang ini ditempati.

__ADS_1


"Ya iya lah, mana ada barang yang mencurigakan. Ini 'kan rumah baru, bodoh sekali akunya." Gumamnya saat baru menyadarinya.


Namun, tiba-tiba tanpa sengaja Meyla menjatuhkan sesuatu ke lantai. Kaget, itu sudah pasti. Meyla segera melihatnya saat itu juga. Alangkah terkejutnya ketika melihat foto yang tertindih buku tebal.


"Aih! gimana cara ngambilnya, tangan aku aja gak sampai. Masa iya, aku minta tolong sama Mbak Nana, gak mungkin banget gitu. Yang ada juga bakal mengadu sama bosnya, mau ditaruh dimana muka aku ini." Gerutu Meyla saat dirinya tak mampu untuk mengambil foto yang jatuh ke lantai.


"Meyla." Panggil Daniel yang baru saja masuk ke ruang kerjanya.


Seketika, Meyla begitu terkejut saat suaminya tengah memergoki dirinya yang hendak mengambil foto yang jatuh di lantai.


"Em-- i-itu, aku cuma bingung aja mau ngapain. Jadi, aku iseng masuk ke ruang kerjamu. Habisnya kamu gak pulang-pulang, aku 'kan bingung harus ngapain. Makanya kalau udah beres di kantor, langsung pulang dong, aku 'kan kesepian di rumah." Jawab Meyla sambil menggeser kursi rodanya agar bisa menutupi foto yang ada di lantai.


Nahas, kedua mata Daniel sudah menangkapnya sedari tadi. Tentu saja, Daniel tidak bisa dibohongi. Saat itu juga, Daniel langsung berjongkok dan mengambil buku dan lembaran foto yang ada di lantai.

__ADS_1


Setelah itu, Daniel mendongak di hadapan istrinya.


"Kamu mau ambil foto ini? nih, kalau mau lihat." Ucap Daniel yang langsung menyodorkan tiga lembar foto kepada istrinya.


Meyla yang memang penasaran, pun menerimanya, sekaligus melihat foto tersebut.


"Itu foto mantan aku, yang sekarang ini menjadi adik iparku. Namanya Yuanda, dia masa laluku waktu dia masih sekolah abu-abu. Sebenarnya semalam aku mau membereskan sesuatu yang gak penting, tapi aku keburu tidur karena ngantuk. Jadi, masih tergeletak di atas meja. Apa ada pertanyaan lain?"


"Enggak ada. Jugaan siapa yang tanya soal foto ini, terlalu jujur kamunya. Nih, simpan aja kalau kamu masih suka. Siapa tahu aja kamu masih mengharapkan mantan kamu. Jaman sekarang 'kan gak peduli, mau adik ipar, mau bukan kek, kalau udah gila cinta juga bakal dikejar." Jawab Meyla dengan ketus, Daniel justru tersenyum mendengarnya.


"Sudahlah, gak perlu dibahas. Yuanda masa laluku, gak penting untuk diingat. Oh ya, tadi waktu aku berangkat ke kantor, aku membeli sesuatu untuk mu, mau lihat, gak?"


"Membeli sesuatu untukku, memangnya kamu membeli apaan?"

__ADS_1


"Ayo ikut aku ke kamar, nanti kamu akan tahu sendiri apa yang aku beli untukmu. Bukan perhiasan, belum saatnya. Ayo, kita ke kamar." Jawab Daniel tanpa rasa canggung sedikitpun terhadap istrinya.


Meyla yang penasaran, pun mengiyakan.


__ADS_2