Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Mendapat nasehat


__ADS_3

Setelah merasa cukup saat belajar berjalan dengan menggunakan alat bantu, Meyla tengah menikmati di waktu senja di balkon sambil menyibukkan diri dengan ponselnya. Tiada teman untuk Meyla selain dengan ponselnya sendiri yang terhubung dengan media sosial untuk berkomunikasi dengan teman-temannya.


Daniel yang baru aja keluar dari ruang kerjanya karena harus membereskan sesuatu yang harus dibereskan, kini kembali masuk ke kamarnya. Sejenak mengamati isi ruang kamarnya, dan tidak mendapati sang istri di dalamnya.


"Dimana Meyla, kok gak ada di kamar." Gumamnya saat tidak mendapati istrinya sama sekali.


Karena takut terjadi sesuatu pada istrinya, Daniel mencari keberadaan istrinya.


"Mey! Meyla! Mey ..."


Seketika, Daniel mengecilkan suaranya saat melihat istrinya tengah berada di balkon sambil memainkan ponselnya.


"Ada apa?" tanya Meyla.


"Kirain kamu dimana, udah hampir gelap, gak masuk? bentar lagi waktunya makan malam. Gak baik jam segini berada di luar, ayo masuk." Jawab Daniel dan mengajak istrinya masuk ke dalam kamar.


"Ya, bentar, nanti aku masuk." Ucap Meyla dan segera mematikan ponselnya.


Daniel yang melihat istrinya kesulitan saat mau menjalankan kursi rodanya, ia langsung mengambil alih dan mendorongnya.


"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Meyla menolaknya.


"Sudah, tinggal diam aja apa susahnya. Biar aku aja yang dorong, kamu nurut aja. Oh ya, ini hanya sementara, mulai besok kamu jangan menggunakan kursi roda." Kata Daniel kembali mengingatkan istrinya.


"Ya, gimana ya. Kalau aku pingin duduk santai di balkon, aku harus gimana?"

__ADS_1


"Besok aku sediakan tempat duduk yang nyaman untuk kamu. Jadi, kamu tetap menggunakan alat penyangga. Apapun alasannya, aku tidak mengizinkan kamu untuk menggunakan kursi roda." Jawab Daniel yang tetap bersikukuh melarang istrinya menggunakan kursi roda.


Meyla hanya mengangguk pasrah. Sampai di dalam kamar, Daniel membantu istrinya untuk menggunakan alat bantu, dan mencoba untuk tidak ketergantungan dengan kursi roda.


"Awalnya memang sulit, tapi lama kelamaan nanti kamu akan terbiasa." Ucap Daniel meyakinkan istrinya.


"Ya, semoga aja." Jawab Meyla.


Dengan hati-hati, Daniel membantu istrinya menggunakan alat bantu untuk berjalan. Meyla yang belum terbiasa menggunakan alat bantu tersebut, pun masih terasa kaku.


"Gimana rasanya, masih sakit?" tanya Daniel ingin tahu reaksi yang dirasakan oleh istrinya.


"Gak begitu sih, cuma masih ada rada-rada sedikit sakit."


"Nanti kalau udah terbiasa, gak bakalan sakit. Mungkin karena kaki kamu masih terasa kaku, jadi ada sedikit rasa sakit. Mulai besok kaki kamu akan diterapi, siapkan diri kamu sebaik mungkin. Ingat, fokus dengan kesembuhan kaki kamu, dan gak perlu memikirkan sesuatu yang gak penting dan bisa mengganggu konsentrasi mu untuk belajar berjalan." Ucap Daniel kembali mengingatkan, dan juga memberi nasehat kecil kepada istrinya.


"Aku takut untuk jalan, aku makannya di kamar aja deh."


"Sini, pegang bahuku. Lingkarkan kedua tanganmu di tengkuk leherku, aku akan menggendong kamu."


"Apa!"


Meyla langsung melotot saat mendengar ucapan dari suaminya.


"Ya, kamu akan aku gendong, kenapa, gak mau?"

__ADS_1


"Bukan begitu, aku gak mau merepotkan kamu aja. Aku bisa pakai kursi roda, ya kursi roda."


Daniel yang malas menanggapi istrinya, dirinya langsung mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya.


Dengan reflek, Meyla langsung melingkarkan kedua tangannya tepat di tengkuk leher suaminya.


Gugup, canggung, itu sudah pasti. Sampai-sampai Meyla tidak berani menatap wajah suaminya.


Karena tidak ingin ada perdebatan, Daniel langsung menuju ke ruang makan menggunakan jalan pintas. Saat sampai di ruang makan, pelan-pelan Daniel menurunkan istrinya di kursi dengan penuh hati-hati agar tidak mengenai kakinya yang cidera.


"Mbak Yeni, Mbak." Panggil Daniel kepada salah satu asisten rumahnya.


"Ya, Tuan."


"Tolong ambilkan alat penyangga milik istri saya di kamar, sekalian gelas kotornya juga di ambil." Perintah Daniel kepada asisten rumahnya.


"Baik, Tuan." Jawab Mbak Yeni yang langsung bergegas pergi untuk mengambilnya.


Kini, Daniel tengah menatap wajah istrinya begitu serius.


"Mbak Yeni, Mbak Nana, juga asisten yang lainnya, mereka sama seperti kita. Apalagi tugas mereka lewat perintah kita, maka dari itu, jaga ucapan kita, sikap kita, maka mereka akan melakukannya dengan senang hati, bukan dengan perasaan yang dongkol, atau kesal sekalipun. Hargai mereka, seperti kita ingin di hormati, tapi kalau aku tidak butuh itu, cukup bersikap baik dan sopan, itu sudah lebih dari cukup. Jadi, kurangi emosi kamu di rumah ini. Kamu disini itu istriku, beri contoh yang baik kepada mereka." Ucap Daniel dengan panjang lebar memberi nasehat kepada istrinya.


Meyla yang merasa jika dirinya sudah keterlaluan kepada asisten rumah maupun kepada suaminya sendiri, pun serasa terpojok atas perbuatannya itu.


"Jangan marah, aku hanya mengingatkan kamu saja. Tidak lebih dari kata mengingatkan, karena aku ini suami kamu yang punya hak penuh atas dirimu, salah atau benarnya. Maaf, jika sudah mengurangi selera makanmu. Lupakan sejenak, kita makan dulu. Setelah ini, aku akan mengajakmu keluar, agar kamu tidak merasa jenuh." Sambungnya lagi.

__ADS_1


Meyla yang sudah seperti kehilangan kosa kata, tak tahu harus bicara apa selain menganggukkan kepalanya.


__ADS_2