
Waktu yang ditunggu akhirnya datang juga, waktu untuk membawa pulang sepasang pengantin, yakni Daniel bersama Meylana.
"Saya serahkan putri kami kepadamu, jaga dia, rawat dia, dan jangan membuatnya bersedih. Kalau sampai terjadi sesuatu pada putri kami, maka kami tidak segan-segan menjebloskan kamu dalam penjara seumur hidupmu." Ucap ayahnya Meyla memberi pesan kepada menantunya sebelum putrinya dibawanya pulang.
"Saya akan bertanggungjawab atas istri saya dengan sepenuhnya, dan juga akan merawatnya dengan baik. Jika saya melakukan kesalahan kepada istri saya, maka peringatkan saya untuk menjadi suami yang lebih baik lagi." Jawab Daniel sebaik mungkin di hadapan ayah mertua, juga bagian keluarga istrinya.
Meyla yang merasa berat untuk berpisah dengan keluarganya, hanya menangisi nasibnya yang kini telah menjadi seorang istri dari laki-laki yang tidak dicintainya.
"Ma, Meyla takut." Ucap Meyla yang akhirnya membuka suara.
"Kamu tidak perlu takut, Mama sama Papa, juga kedua kakak kamu akan sering menghubungi kamu nantinya. Jadi, kamu tidak perlu merasa kesepian." Jawab ibunya mencoba untuk meyakinkan putrinya.
"Tuan dan Nyonya tidak perlu risau, kami sudah menyiapkan rumah untuk putra Kami, dan juga untuk Meyla. Jadi, kalian bisa datang kapan saja untuk menemui putri kalian, maupun adik kalian. Kami sekeluarga tetap berlaku adil, untuk Daniel, ataupun adiknya." Ucap Tuan Herdana angkat bicara, dalam waktu semalam, Tuan Herdana sudah menyiapkan rumah untuk Daniel bersama istrinya.
"Terima kasih sudah peduli dengan putri kami."
'Wow! benar-benar tidak diragukan lagi, jika keluarga suaminya Meyla sangat tajir. Dalam waktu semalam saja sudah mampu menyiapkan rumah untuk anak dan menantunya.' Batin Rafka ketika mendengar ucapan dari ayah mertua adiknya.
"Buat kamu Daniel, ingat pesan dariku untuk memperlakukan adikku dengan baik. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Meyla, maka siap siaplah untuk menerima akibatnya." Ucap Virgo memberi pesan serta ancaman kepada adik iparnya.
Ferdinan yang tengah mendengarnya, pun tidak bersuara, dirinya memilih untuk diam.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku akan memperlakukan istriku dengan baik." Jawab Daniel meyakinkan kakak iparnya.
Setelah tidak ada yang perlu dibicarakan, Tuan Herdana mengajak anak dan menantunya untuk pulang. Kemudian, keluarga besan mengiyakan.
.
.
.
Selama dalam perjalanan, Daniel dan Meyla sama-sama diam. Keduanya tidak ada yang mau membuka suara, dan benar-benar hening didalam mobil hingga tidak terasa sudah sampai di rumah yang telah disiapkan oleh Tuan Herdana. Bahkan, ruang kerjanya pun sudah dipindah bersama berkas-berkasnya hanya dengan tempo semalam oleh beberapa anak buahnya.
Dengan telaten, Daniel memperlakukan istrinya begitu baik dan penuh hati-hati. Tuan Herdana maupun istrinya dan juga Ferdinan yang tengah melihat sikap dari Daniel, pun merasa tersentuh hatinya.
Meski pernikahannya sebagai pengganti, namun sikap Daniel begitu baik dan benar-benar suami yang bertanggung jawab.
"Semoga mereka berdua bisa saling menerima satu sama lain, dan tidak ada masalah untuk mereka berdua. Mama mendoakan kalian, semoga perjalanan rumah tangga kalian ini, kalian akan temukan kebahagiaan." Ucap ibunya dengan lirih, dan juga dengan doanya.
"Semoga Daniel dan Meyla bisa rukun dan saling menerima kekurangannya masing-masing, dan hidup dengan bahagia. Kita tidak pernah tahu akhir dari cerita hidup seseorang." Timpal Tuan Herdana yang juga ikut mendoakan kebahagiaan putranya.
Meski Daniel bukan putra kandungnya, namun kasih sayangnya tidak berbeda dengan Ferdinan yang anak kandungnya. Tuan Herdana dan istrinya memperlakukannya dengan baik, sama seperti memperlakukan Ferdinan.
__ADS_1
Ferdinan sendiri yang melihat sikap perhatian dari kakaknya, pun merasa senang dan juga ada sedihnya. Rasa sedihnya karena sang kakak harus menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya, sama seperti dirinya dulu yang sama sekali tidak mencintai istrinya.
Karena tidak ingin mengganggu jam istirahat, Tuan Herdana bersama istrinya, juga Ferdinan, mereka bertiga segera berpamitan untuk pulang.
"Daniel, Meyla, kami pulang dulu ya. Jaga diri kalian baik-baik di rumah. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa telepon Mama." Ucapnya.
"Ya, Ma. Terima kasih untuk hadiah rumahnya. Maafkan Daniel yang sudah banyak merepotkan Mama dan Papa. Juga untuk Ferdinan, terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk kakak mu ini yang sudah merepotkan." Jawab Daniel.
"Kak Daniel tak memikirkan yang aneh aneh, bahagia selalu untuk kalian berdua. Ya udah ya Kak, kita pulang duluan. Kakak ipar, sampai jumpa." Ucap Ferdinan sekaligus berpamitan untuk pulang.
Setelah semuanya berpamitan, kini tinggal Daniel dan Meyla akan menjalani kehidupan baru yang berstatus suami-istri.
Meyla yang belum mengenal suaminya, memilih untuk diam, lantaran bingung harus berkata apa. Lebih lagi suaminya tidak bersikap kasar, tentu saja merasa enggan untuk memulai bicara.
Dengan hati-hati, Daniel mendorong kursi rodanya sampai di dalam kamar.
"Kamu mau mandi atau mau langsung istirahat. Kalau mau mandi, biar aku panggilkan asisten rumah untuk membantumu membersihkan badanmu. Kalau aku yang membantumu mandi, takutnya kamu akan menolak."
"Ya lah, siapa juga yang mau mandi dibantu kamu. Yang ada kamu bakal mencari kesempatan. Ingat ya, kita menikah hanya di atas kertas. Bahkan, aku melarang kamu untuk menyentuh ku, paham." Jawab Meyla yang masih merasa benci, lantaran harus menerima nasibnya yang gagal menikah dengan laki-laki yang dicintainya.
Daniel yang mendengarnya, pun hanya bisa menerimanya, lantaran memang dirinya merasa bersalah.
__ADS_1