Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Gugup


__ADS_3

Sambil menikmati makan malamnya ditepi danau, Meyla masih kepikiran dengan ucapan dari suaminya.


Saat itu juga, Meyla tersedak saat mengunyah makanan sambil melamun.


"Ini air minumnya." Ucap Daniel sambil menyodorkan satu gelas air putih kepada istrinya.


Meyla langsung meraihnya dan segera minum agar jalan pernapasannya tidak tertutup makanan.


"Hati-hati kalau sedang makan, jangan banyak melamun, nanti tersedak." Ucapnya lagi yang juga tengah menikmati makanan.


"Enggak kok, aku gak sedang melamun, cuma kebetulan aja tadi tersedak." Jawab Meyla beralasan.


"Terserah kamu, karena kamu yang punya alasan. Sudahlah, habiskan dulu makanannya. Setelah ini, aku akan mengajak mu naik ke atas sana. Sepertinya tempatnya bagus buat ngobrol sama menikmati pemandangan lewat atas sana." Ucap Daniel sambil menunjuk ke arah yang di tunjukkan.


Meyla hanya mengangguk, karena masih merasa malu dan juga gugup.


'Kenapa aku merasa jadi malu gini ya, padahal waktu pertama aku kenal dia, aku bisa galak banget sama dia. Tapi, semakin lama kenapa aku merasa gugup. Apalagi kalau udah mengeluarkan senjatanya dengan penuh nasehat, seolah aku itu sedang dipojokkan.' Batinnya sambil mengunyah makanan, juga tanpa sadar memperhatikan suaminya.


Daniel sendiri yang merasa sedari tadi istrinya memperhatikan dirinya, sama sekali memilih untuk tidak meresponnya, dan lebih fokus untuk menghabiskan makanannya.

__ADS_1


Setelah makanannya habis, Daniel mengajak istrinya ke suatu tempat yang baru saja dibicarakan kepada istrinya.


"Ayo kita ke sana, duduk di atas sana keknya lebih adem suasananya." Ajak Daniel sambil berdiri.


"Boleh, aku pun penasaran dengan tempat ini kalau dilihat dari atas, sepertinya indah banget, soalnya banyak macam-macam cahaya lampu yang menerangi danau ini." Jawab Meyla yang juga sambil berdiri.


Setelah mengiyakan, Daniel dan istrinya naik ke atas. Kemudian, keduanya menikmati suasana lewat atas untuk melihatnya.


"Wah! rupanya lebih indah lewat atas ya, benar-benar cantik cahaya lampunya. Pantas aja tuh, banyak yang nongkrong di atas, rupanya lebih nyaman dan juga tenang suasananya." Ucap Meyla memuji keindahan dimalam hari di danau kecil tersebut.


Saat itu juga, Daniel langsung meraih tangan istrinya. Tentu saja, Meyla seperti mendapat sengatan listrik.


Pastinya membuat detak jantung miliknya Meyla tidak karuan saat suaminya semakin mendekat.


Meyla dengan gugup dan juga malu, ia menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana dengan keputusan kamu soal kesembuhan kaki kamu ini, Mey?" tanya Daniel begitu serius tatapannya, seolah Meyla seperti tengah diadili.


"A-aku tidak tahu, karena yang mempunyai keputusan bukan aku, tapi kamu suamiku." Jawab Meyla dengan gugup.

__ADS_1


"Kenapa aku? bukankah kamu sendiri pernah mengatakannya, bahwa kamu ingin men-ce-"


Seketika, Meyla langsung memeluk erat suaminya.


"Aku gak mau bercerai denganmu, aku gak mau." Ucap Meyla sambil memeluk erat suaminya.


Daniel langsung membalas pelukan dari sang istri.


"Kamu yakin dengan yang kamu ucapkan tadi, Mey?" tanya Daniel untuk memastikannya.


Meyla mengangguk.


"Ya, aku tidak ingin bercerai sama kamu. Mungkin dulu itu aku belum bisa mengontrol emosiku, dan aku masih terbawa dengan suasana hatiku yang hancur. Selain kakiku yang cidera, juga Erdan yang tidak mau menerima aku dengan kondisiku yang seperti ini. Tapi kamu, kamu berbeda dengannya. Kamu bertanggung jawab dan memperlakukan aku dengan sangat baik, sekalipun aku sudah bersikap kasar kepadamu. Saat itu juga, aku mulai merasa menyesal atas sikapku yang kurang baik, dan begitu kasar terhadap diri kamu, juga kepada semua asisten rumah. Kamu begitu sabar menghadapi sikapku, dan aku tidak pernah bertemu dengan lelaki sebaik kamu." Jawab Meyla yang masih memeluk suaminya.


Daniel yang mendengar jawaban dari istrinya, perlahan mencoba untuk melepaskan pelukannya. Kini, keduanya saling merenggangkan pelukannya dan saling menatap satu sama lain.


"Aku tidak ingin kamu kecewa setelah menjadi istriku, karena aku bukan suami yang romantis seperti laki-laki lain di luaran sana." Ucap Daniel sambil menatap lekat pada istrinya.


"Kata siapa kamu tidak romantis, ini buktinya. Kamu membawaku ke tempat ini, tempat yang begitu nyaman. Tidak hanya itu saja, sikapmu memang dingin, tapi penuh perhatian, juga kamu orangnya tegas. Juga, kamu sosok laki-laki yang tidak enggan untuk menasehati siapapun yang salah, termasuk aku, adik kamu, juga orang lainnya." Jawab Meyla.

__ADS_1


Saat itu juga, Daniel memeluk istrinya. Kemudian, Daniel melepaskan kembali pelukannya.


__ADS_2