Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Gengsi


__ADS_3

Waktu yang dijalani oleh Daniel bersama istrinya, rupanya sudah sudah beberapa hari tinggal di rumah bersama dalam satu atap dan satu tempat tidur. Keduanya tampak biasa biasa saja, juga tidak ada perdebatan seperti sebelumnya.


Waktu yang dilewatinya tidak terasa membawa perubahan yang begitu baik untuk Meyla, lantaran sedikit demi sedikit mulai ada perubahan. Meski dengan susah payah ketika berjalan satu langkah ke langkah berikutnya tanpa menggunakan alat bantu, tetap saja terkadang butuh ada seseorang didekatnya untuk berjaga-jaga.


Daniel yang memang ingin fokus dengan dunia kerjanya dan juga untuk kesembuhan istrinya, selalu membagi waktunya dengan adil. Bahkan, waktu untuk dirinya saja terkadang diabaikan ketika ada temannya yang mengajaknya keluar meski sekedar nongkrong dan mengobrol.


"Mey! ayo coba jalan lagi, kamu pasti bisa, ayo." Panggil Daniel sambil memberi semangat untuk istrinya.


Meyla yang tengah berjalan penuh hati-hati ketika ingin menuju ke arah suaminya, siapa sangka jika Meyla berhasil berjalan tanpa ada keraguan dan nahas, saat mau meluk suaminya, justru ada perempuan lain yang rupanya lebih dulu memeluknya.


"Kak Daniel, Yena kangen banget sama Kakak." Ucapnya sambil memeluk Daniel.


"Yena, lepasin, jangan seperti anak kecil." Jawab Daniel berusaha untuk melepaskan pelukan dari Yena.


Namun, siapa sangka jika Yena semakin mempererat pelukannya.


"Yena kangen banget, Kak. Kenapa sih, Kakak menikah gak bilang-bilang sama Yena." Ucap Yena yang masih memeluk Daniel.

__ADS_1


Meyla yang melihatnya, pun terasa cemburu ketika suaminya ada yang memeluk. Meski belum pernah mendengar suaminya mengatakan cinta kepada dirinya, tetap aja ada rasa cemburu ketika suaminya dipeluk oleh wanita lain.


Karena tidak ingin semakin panas terbakar api cemburu, Meyla memilih pergi dan kembali ke kamarnya.


Daniel yang melihat istrinya seperti cemburu, langsung melepaskan pelukan dari Yena dengan sekuat tenaganya.


"Mey! Meyla! Mey! tunggu, aku bisa jelasin." Panggil Daniel dan berusaha mengejar istrinya sampai di dalam kamar.


Sedangkan Yena yang telah diabaikan oleh Daniel, pun mendengus kesal.


"Kak Daniel itu sudah punya istri, tentu saja istrinya cemburu sama kamu, Yen." Ucap Wingga mengingatkan.


"Lagian juga usia kamu sama kak Daniel itu jauh beda banget, Yen. Jugaan kak Daniel menganggap kamu sebagai adiknya, sama sepertiku."


"Tapi 'kan Wing, aku sangat cinta."


"Hem. Cinta ya cinta, tapi gak segitunya juga dong Yen." Ucap Wingga dan memilih duduk di sofa sambil menunggu kakaknya keluar dari kamar.

__ADS_1


Sedangkan Daniel yang sudah ada di kamar, tengah menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Takut, jika terjadi sesuatu pada istrinya.


"Meyla, buka pintunya dong Mey. Tadi itu temannya adikku, dia memang mau liburan, jadi sementara tinggal di rumah ini. Mey, kamu cemburu?"


Saat itu juga, Meyla membuka pintu kamar mandi.


"Siapa juga yang cemburu, kepedean banget sih kamu. Kamu tahu, aku tuh tadi kebelet, perut aku mules. Jadi, ya langsung ke kamar mandi, kenapa?"


Seketika, Daniel langsung menarik tubuh istrinya dan menekannya hingga sulit untuk bernapas.


"Aku bisa melihat dari sikapmu, kamu cemburu, 'kan? ngaku aja. Jangan sampai kamu menyesal nantinya."


"Enggak, aku gak cemburu. Ngapain juga aku cemburu, memangnya kamu siapaku, bukan siapa-siapaku juga." Jawab Meyla sambil membuang muka, yakni agar tidak menatap wajah suaminya.


Saat itu juga, Daniel langsung menghadapkan wajah istrinya menatap dirinya. Dengan sigap, Daniel langsung menci_um bibir ranum milik istrinya.


"Ini bonus untuk kamu yang sudah bisa berjalan, aku mau menemui adikku dulu." Ucap Daniel dan langsung merenggangkan jaraknya, dan bergegas keluar dari kamar.

__ADS_1


Meyla yang baru saja mendapat ciu_man dari suaminya, pun memegangi bibirnya dan tersenyum.


__ADS_2