
Sambil menunggu istrinya, Daniel mengirimkan pesan kepada Wingga untuk menemui di ruang kerjanya.
Wingga yang tengah rebahan sambil menunggu Yena, rupanya ada pesan masuk ke nomornya.
"Kak Daniel, ngapain kirim pesan segala." Gumamnya saat melihat nama kontak yang muncul di layar ponselnya.
Saat itu juga, Wingga langsung membuka isi pesan dari kakaknya lantaran penasaran.
"Ditunggu di ruang kerjanya? suruh ngapain?" Gumamnya sambil membalas pesan dari kakaknya.
"Cepetan." Ucapnya saat membaca pesan masuk.
Karena penasaran, Wingga segera bergegas menemui kakaknya di ruang kerjanya. Sedangkan Yena sendiri masih berada di kamar mandi.
Sampai di depan pintu, Wingga langsung mengetuk pintunya. Kemudian, pintu pun dibukakan oleh Daniel.
"Kak Daniel ada perlu apa?" tanya Wingga sambil mengikuti kakaknya dari belakang.
Kemudian, Daniel memutarbalikkan badannya dan menghadap pada adik perempuannya.
"Kak Daniel mau marahin aku ya, soal pulang ngajak Yena."
__ADS_1
Sebelum kakaknya marah, Wingga langsung bicara ke pokok intinya.
"Sebenarnya aku mau ngajakin Sherly keponakannya Tante Yuli, tapi si Yena maksa. Jadi, ya maaf. Habisnya mau gimana lagi, kedua orang tuanya Yena juga memaksaku." Sambung Wingga merasa bersalah kepada kakaknya.
"Kakak hanya batasin kamu satu minggu tinggal di rumah ini. Setelah itu, kamu pulang. Kamu tahu, ada istri Kakak di rumah ini. Bukannya Kakak melarang kamu untuk tinggal disini, tapi keadaan yang tidak memungkinkan. Makanya, Kakak terpaksa melarang kamu. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal bersama kedua orang tua Kakak, dan kamu bisa ajak Sherly, bukan Yena." Ucap Daniel dengan tegas mengatakannya kepada adik perempuannya.
"Ya deh, ya, Wingga minta maaf. Gak deh kalau suruh tinggal di rumah Paman Herdana, nanti Mama Nela cemburu. Tapi, kalau cuma main dan sekedar menginap untuk waktu entah kapan, boleh 'kan Kak?"
"Tentu saja boleh, tapi tidak untuk dengan Yena, atau teman perempuan kamu yang lainnya."
"Siap, Bos. Ya udah ya, Wingga mau mandi. Juga, takutnya nanti si Yena nyariin. Ya uda ya Kak, salam buat kakak ipar."
"Salam balik untuk kamu, adik ipar." Sahut Meyla yang baru saja masuk ke ruang kerja suaminya.
"Akhirnya aku bisa meluk kakak ipar." Ucap Wingga sambil memeluk Meyla, kemudian merenggangkan pelukannya dan menatap wajah ayu kakak iparnya.
"Selamat apa ya, selamat bahagia deh buat Kakak ipar, atas pernikahan Kakak dengan Kak Daniel. Oh ya, kenalin, aku Wingga, adik satu-satunya Kak Daniel. Eh bukan ya, ada Kak Ferdinan yang juga adiknya Kak Daniel."
"Kamu bisa saja, nama Kakak em- Meylana, panggil saja, Mey, atau Meyla." Ucap Meyla sambil memegangi kedua lengan adik iparnya.
"Kak Meyla sangat cantik, pantes aja Kak Daniel akhir akhir ini seperti menang lotre."
__ADS_1
"Wingga."
Wingga langsung nyengir kuda ketika mendapat tatapan yang cukup tajam dari kakaknya.
"Enggak enggak enggak, ampun Kak. Ya udah ya, Wingga tinggal dulu." Jawab Wingga dan bergegas keluar dari ruang kerjanya Daniel.
Daniel yang merasa geram atas sikap dari adiknya, pun membuang napasnya dengan kasar.
"Maafin kelakuan adikku, dia memang seperti itu. Tapi aku sangat menyayanginya, karena dia satu-satunya hartaku yang aku punya selain kedua orang tua yang sudah mengasuhku." Ucap Daniel kepada istrinya.
"Tidak masalah. Kakak beradik memang seperti itu, aku pun juga mempunyai seorang kakak laki-laki, sikapku sama seperti Wingga, juga diperlukan sangat baik seperti kamu memperlakukan adikmu. Kedua kakakku menganggap kalau aku adalah harta satu-satunya yang dimiliki setelah kedua orang tuaku." Jawab Meyla.
"Oh ya, kamu sudah mandi 'kan? kalau sudah, aku mau mandi dulu. Kamu boleh mau ngapain aja di ruangan ini, silakan."
"Enggak ah, aku mau keluar mau ke dapur, sekalian mau menemani Mbak Nana menyiapkan makan malam."
"Ya udah, terserah kamu aja. Tapi, bagaimana dengan kaki kamu? nanti kalau sakit gimana? kamu 'kan baru saja bisa berjalan. Nanti kalau kenapa-kenapa dengan kaki kamu, bagaimana?"
"Kaki aku udah gak sakit kok, nanti aku jalannya pelan-pelan. Juga, aku gak lewat tangga, aku lewat lift, jalan pintas."
"Hati-hati."
__ADS_1
Meyla mengangguk, dan segera pergi ke dapur. Sedangkan Daniel bergegas untuk mandi.