Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Merasa kecewa dengan keluarga sendiri


__ADS_3

Sampainya di dalam kamar, Daniel segera menunjukkan sesuatu yang ia beli di tempat alat penjual terapi.


"Ini, aku membelikannya untukmu. Mulai sekarang aku melarang mu menggunakan kursi roda, apapun alasannya. Juga, kamu akan menjadi malas kalau terus-terusan menggunakan kursi roda ini. Kamu ingin cepat sembuh, 'kan? ikuti saran dariku. Kalau kamu tidak mau juga, terserah kamu. Aku hanya ingin membantumu agar kakimu segera sembuh, dan bisa berjalan dengan normal lagi. Tidak hanya itu saja, nanti akan ada dokter spesialis untuk menangani kaki kamu yang cidera itu. Kamu tidak perlu pergi ke rumah sakit, nanti dokter yang akan datang ke sini." Ucap Daniel dengan tegas.


"Yang benar saja kamu. Kalau aku jatuh bagaimana? yang ada akan bertambah masalah dengan kakiku ini. Aku gak mau, nanti yang ada akan bertambah sakit kakiku." Jawab Meyla dengan ketus.


"Terus, maunya kamu apa? mau tetap pakai kursi roda? ya udah kalau itu maunya kamu. Aku hanya ingin membantumu agar bisa berjalan lagi dengan normal. Gak apa-apa sih kalau kamu tidak mau, yang ingin sembuh 'kan kamu, bukan aku. Toh kalau kamu bisa jalan, juga bisa bebas dariku, 'kan? ini yang kamu mau, 'kan?"


Daniel langsung menunjukkan lembaran kertas yang ia tanda tangani di atas materai sebelum menikah. Meyla langsung teringat akan perjanjian yang diinginkannya itu, yakni akan menceraikan suaminya ketika dirinya bisa berjalan lagi dengan normal.


"Kenapa diam? bukankah ini yang kamu inginkan? sembuh bisa berjalan, lalu kita bercerai."

__ADS_1


Meyla masih diam, entah kenapa saat mendengar ucapan dari suaminya seolah dirinya terpojok.


"Ya! itu yang aku inginkan. Siapa juga yang mau menjadi istrimu, aku tidak sudi menjadi istrimu." Jawab Meyla dengan angkuhnya.


"Ya udah, sesuai perjanjian, kamu akan aku bantu untuk bisa berjalan dengan normal lagi. Setelah itu, terserah kamu maunya apa. Yang terpenting kamu tidak merasa terbebani setelah kamu mengambil keputusan yang terakhir, yaitu bercerai." Ucap Daniel dengan tegas, Meyla hanya mengangguk tanda mengiyakan.


"Baiklah kalau gitu, mulai sekarang jauhi kursi roda. Juga, jangan sekali-kali membentak asisten rumah ku. Kamu berada di rumah ini bukan sebagai istriku, tetapi sebagai pasien ku, bagaimana?"


"Silakan, lakukan saja kalau kamu berani. Dengarkan ini, ayo dengarkan." Ucap Daniel yang langsung menunjukkan rekaman video di rumah kedua orang tuanya.


Alangkah terkejutnya saat melihat dan mendengarnya.

__ADS_1


"Tidak! tidak mungkin."


"Kenyataannya memang begitu. Keluarga kamu terlilit dengan hutang yang sangat besar, dan meminta uang kepada keluargaku sebagai ganti rugi atas cideranya kaki kamu. Terus, kamu dijadikan jaminannya. Bahkan, mereka sudah tidak peduli denganmu, kamu mau apa?"


"Brengs_ek!"


"Sudahlah, lebih baik kamu nurut saja denganku. Kamu mau sembuh atau tidak, ha? kalau tidak mau, ya udah terserah kamu. Tapi jangan salahkan aku, jika aku keluar rumah tidak mengajakmu pergi." Ucap Daniel yang sengaja memanasi istrinya, berharap bisa memberi pelajaran untuknya.


"Ya iya iya, aku nurut, bawel." Jawab Meyla dengan ketus.


"Nah, gitu dong. Kalau nurut 'kan gak capek-capek marah, ya gak. Mendingan sekarang kamu mandi dulu aja, sudah sore jugaan. Kalau gitu aku mau panggilkan Mbak Nana dulu, kamu tunggu aja disini sebentar. Sekalian aku mau ambil air minum." Ucap Daniel, dan bergegas pergi ke dapur.

__ADS_1


Meyla yang tengah duduk di kursi roda, dirinya merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih lagi ketika mendengar dan melihat rekaman video ayahnya dan juga kakaknya yang meminjam uang yang sangat besar, membuatnya seperti barang hina yang ditukar dengan uang, pikirnya.


__ADS_2