Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Acara pernikahan


__ADS_3

Ketika surat perjanjian sudah ditanda tangani, kini Daniel sudah dijemput oleh pihak keluarga Huantama.


Daniel yang juga ditemani oleh kedua orang tuanya, juga Ferdinan selaku adiknya, bersama pihak keluarga beberapa orang kini tengah dalam perjalanan menuju tempat resepsi pernikahan.


"Fer, jangan ngebut ngebut." Ucap sang ayah yang tengah duduk dibelakang pengemudi.


"Tenang saja, Pa. Ini hanya kecepatan sedang." Jawab Ferdinan sambil fokus dengan setirnya.


"Yuan gak kamu ajak?" tanya ibunya menimpali.


"Repot, Ma. Keyzan sama Keynan lagi rusuh rusuhnya, besok aja kalau Kak Daniel sudah pulang, nanti aku ajak ke rumah." Jawab Ferdinan, dan tidak terasa sudah sampai di tempat tujuan.


Acara yang sudah dipersiapkan sejauh jauh hari, ternyata Daniel lah yang harus menjadi pengganti pengantin laki-laki. Tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikiran Daniel, jika dirinya akan menikahi perempuan asing yang tidak dikenali. Juga, keluarga yang begitu asing.


Daniel yang sudah mengenakan jas pengantin, terlihat tak bersemangat. Bagaimana mau bersemangat, pernikahan hanya di atas kertas. Berbeda dengan kasus lainnya, biasanya pihak laki-laki yang memberi syarat, namun kali ini justru pihak perempuan yang mengajukan persyaratan.


Ferdinan yang baru saja masuk di dalam gedung, arah pandangannya mengamati di sekelilingnya. Tentu saja, arah pandangannya Ferdinan tertuju ke arah Virgo, kakak dari pihak calon pengantin perempuan yang tengah mendorong kursi roda.


'Kasihan juga pengantin perempuannya, pantas saja Kak Daniel harus menikahinya. Semoga saja perempuan itu segera sembuh, eh tapi... bukankah kalau sembuh pihak perempuan akan menggugat cerai? semoga saja tidak.' Batin Ferdinan saat memperhatikan calon istri kakaknya.

__ADS_1


"Fer, ayo ke sana. Ngapain kamu melamun, kamu sedang memperhatikan apa, ha?"


"Papa, ngagetin aja. Tidak ada apa-apa kok, Pa. Ya udah ayok kita ke sana temani Kak Daniel." Jawab Ferdinan setengah kaget karena sang ayah yang sudah membuyarkan lamunannya.


Karena acara akan segera dimulai, Daniel dan Meyla tengah duduk bersebelahan, meski dengan tempat duduk yang berbeda.


Semua para saksi dan juga para tamu undangan tengah duduk untuk mengikuti berjalannya acara pengucapan kalimat sakral.


Tuan Herdana selaku ayah dari Daniel, ada menyimpan rasa sedihnya, lantaran harus menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya, perempuan yang mengalami kecelakaan karena perbuatannya.


Ditambah lagi dengan keluarga yang tidak dikenali, tentu saja sikap dari masing-masing keluarga sama-sama dinginnya.


Begitu juga dengan ibunya, sama halnya merasa sedih melihat putranya akan menikah dengan cara menggantikan pengantin laki-laki untuk menikahi perempuan yang telah cidera oleh putranya sendiri.


Acara yang sebentar lagi akan berlangsung, semua yang ada didalam gedung begitu tenang. Ada beberapa yang tengah membicarakan pihak pengantin laki-laki yang tidak lain berbeda dengan yang tertulis di kertas undangan. Tentu saja menjadi tanda tanya besar untuk para tamu undangan.


Karena tidak ingin ada kesalahpahaman, keluarga Huantama akhirnya buka suara mengenai pengantin laki-laki. Setelah mendapat penjelasan, akhirnya semua memahaminya. Sungguh pengakuan yang cukup jujur di hadapan para tamu undangan, jika Daniel mengganti posisi calon pengantin laki-laki karena perbuatannya.


Setelah itu, acara pun dilanjutkan kembali hingga selesai.

__ADS_1


Kalimat demi kalimat yang terucap begitu jelas, akhirnya Meyla telah resmi menjadi istrinya Daniel. Begitu juga dengan Daniel sama halnya yang telah resmi menjadi suaminya Meyla secara hukum maupun agamanya.


Setelah pengucapan kalimat sakral, semua mengucapkan selamat berbahagia satu persatu di antara para tamu undangan dan juga kedua orang tuanya masing-masing.


"Kak Daniel, Kak Meyla, selamat ya, atas pernikahan kalian berdua. Aku doakan, semoga kalian berdua bisa menerima satu sama lain, dan juga dilimpahkan kebahagiaan yang sempurna untuk kalian berdua." Ucap Ferdinan kepada kakaknya dan juga kakak iparnya.


Kemudian, Ferdinan memeluknya.


"Terima kasih banyak atas doa darimu, Fer. Kamu juga, semoga kamu selalu bahagia bersama keluarga kecilmu." Jawab Daniel saat mendapat pelukan dari adiknya.


Setelah cukup, Ferdinan melepaskan pelukannya, dan menoleh ke arah kakak iparnya.


"Terima kasih atas doa darimu." Ucap Meyla.


"Semoga kakak ipar segera lekas sembuh, dan bisa berjalan lagi. Selamat berbahagia untuk kalian berdua." Jawab Ferdinan dan bergegas untuk menemui kedua orang tuanya.


"Ma, mau langsung pulang atau nanti." Ucap Ferdinan saat berada di dekat ibunya.


"Kita pulangnya nanti setelah acara resepsi selesai, sekalian pulang bersama kedua pengantin. Jadi, kita tunggu saja sampai acaranya selesai, agar tidak bolak balik menjemput." Sahut sang ayah.

__ADS_1


"Oh. Ya udah kalau begitu." Ucap Ferdinan dan memilih untuk mencari tempat duduk sambil mengobrol dengan tamu undangan walau hanya sekedar basa basi.


__ADS_2