Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Kedatangan orang tua


__ADS_3

Daniel yang melihat istrinya masih diam, ia sengaja membiarkannya dan mengambil satu porsi makan untuk istrinya.


"Mau aku suapi atau ... mau makan sendiri?"


Meyla yang dikagetkan, pun langsung terkesiap dan menyambar piring yang ada ditangan suaminya.


"Aku bisa makan sendiri, makasih sudah mengambilkannya untukku. Maaf, sudah merepotkan." Jawab Meyla yang langsung mengambil alih piringnya dan meletakkannya di atas meja.


"Kamu kenapa, Mey?" tanya Daniel yang merasa aneh dengan sikap istrinya.


"Enggak apa-apa, aku makan." Jawab Meyla yang langsung menyendok dan menyuapi mulutnya sendiri.


"Pelan-pelan makannya. Kalau mau aku suapi, bilang aja, gak perlu sungkan. Oh, apa kamu butuh ponsel?"


Meyla langsung menoleh kepada suaminya, Daniel justru tersenyum menatap istrinya..


"Aku bercanda, ayo kita makan." Ucap Daniel dan segera mengambil porsi untuk diri sendiri.

__ADS_1


Meyla yang malas bicara, dirinya memilih untuk diam dan melanjutkan makan malamnya. Sedangkan Daniel sendiri merasa seperti memenangkan lotre, istrinya yang tadinya bersikap semaunya, sedikit demi sedikit mulai ada perubahan.


'Aku tidak tahu akhir hubungan kita nantinya, yang terpenting bagiku melakukan hal baik untuk dirimu. Mau bagaimanapun, kamu itu istriku dan tanggung jawabku sepenuhnya. Jadi, setidaknya ketika kamu meminta cerai denganku, aku tidak meninggalkan sikap burukku kepadamu.' Batin Daniel sambil mengunyah makanan.


Cukup lama keduanya saling diam dan tidak bersuara, rupanya masing-masing sudah menghabiskan satu porsi.


Selesai makan, Daniel mengelap mulutnya dengan tisu. Kemudian, ia menoleh ke arah istrinya yang tengah duduk di sebelahnya.


"Permisi, Tuan."


Daniel langsung menoleh ke sumber suara.


"Ada tamu, katanya keluarga istrinya Tuan."


"Mama," Meyla langsung menyahut.


"Benar, Nona. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di ruang tamu." Ucap Mbak Nana, Meyla pun tersenyum merekah saat kedua orang tuanya datang ke rumah.

__ADS_1


"Mbak Nana buatkan minuman, juga sekalian sama cemilannya ya, Mbak." Perintah Daniel.


" Baik, Tuan, permisi." Jawab Mbak Nana dan segera bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman serta menyiapkan cemilannya.


Daniel yang tengah membantu istrinya berdiri, pelan-pelan dan penuh hati-hati.


"Aku gendong aja ya, biar gak kelamaan. Kasihan kedua orang tuamu sudah menunggu." Ucap Daniel memberi saran kepada istrinya.


"Tidak apa-apa kok, sekalian aku ingin latihan berjalan. Kamu cukup berjaga-jaga saja di dekatku, itupun kalau kamu bersedia." Jawab Meyla tengah menolak.


"Tentu saja aku bersedia, kamu sudah menjadi tanggung jawabku. Sini, aku bantu kamu untuk melangkah. Pegang dulu bahuku, biar kamu bisa jaga keseimbangan dulu." Kata Daniel, sedangkan Meyla dengan hati-hati memegangi bahu milik suaminya dan mencoba untuk menyeimbangkan badannya agar tidak terjatuh.


Setelah merasa seimbang dan tidak ada yang dikhawatirkan, Meyla memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya dengan pelan-pelan, juga penuh hati-hati.


Daniel yang siaga di dekat istrinya, tak lepas kedua matanya untuk mengawasinya. Sampai-sampai Meyla tidak sadarkan diri jika sudah sampai di ruang tamu dengan jalannya yang tertatih-tatih.


Kedua orang tuanya yang melihat putrinya tengah belajar berjalan dengan menggunakan alat bantu, pun merasa senang karena ada perubahan terhadap putrinya yang tidak lagi ketergantungan dengan kursi roda.

__ADS_1


"Meyla, kamu sudah bisa jalan, Nak?"


Ibunya tersenyum senang saat melihat putrinya ada perubahan. Begitu juga dengan ayahnya, sama halnya seperti ibunya Meyla yang benar-benar merasa senang melihatnya.


__ADS_2