Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Berteman


__ADS_3

Selesai membantu istri majikannya mandi, Mbak Nana segera keluar dari kamar setelah dirinya tidak dibutuhkan lagi oleh majikannya.


Kini, tinggal Daniel bersama istrinya yang ada didalam kamar.


"Sini, aku bantu kamu untuk pakai alat penyangga tubuh kamu, agar kamu terbiasa menggunakannya. Juga, supaya kamu tidak ketergantungan dengan kursi roda. Satu lagi, kamu harus yakin bahwa kamu bisa." Ucap Daniel saat berdiri di hadapan istrinya.


"Kalau aku jatuh, bagaimana?"


"Tenang saja, kamu gak akan jatuh, ada aku yang akan membantumu belajar menggunakan alat penyangga ini. Sudah lah, nurut saja denganku." Jawab Daniel meyakinkan.


Meyla yang tidak bisa menolak karena memang dirinya ingin bisa berjalan dengan normal, apapun dilakukannya, sekalipun itu sulit.


Dengan hati-hati dan juga penuh kewaspadaan, Daniel membantu istrinya berdiri dengan cara memapah tubuhnya. Kemudian, Daniel menempatkan alat penyangganya tepat di ketiak istrinya. Lalu menahan badan istrinya agar tidak terjatuh.


"Hati-hati, jangan buru-buru."


"Aw!" pekik Meyla saat menahan rasa sakit pada bagian kakinya yang cidera. Saat itu juga, Meyla langsung memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.


Tersadar dengan apa yang dilakukannya, Meyla langsung melepaskan pelukannya.


"Ih, lepasin. Kamu sengaja ya, mau nyari kesempatan, biar aku peluk kamu. Dih! jangan kepedean."


"Untuk apa aku mengambil kesempatan dari kamu, yang peluk juga kamu sendiri. Terus, siapa yang ambil kesempatan, bukannya kamu? hem."

__ADS_1


"Kalau bukan kamu yang nyuruh aku menggunakan alat penyangga ini, lalu siapa? hem. Jelas-jelas ini ide kamu, ya kamu pastinya biar mendapat kesempatan agar aku bisa peluk kamu."


"Gak penting untuk dibahas. Lebih baik sekarang kamu belajar berjalan, lupakan saja yang tadi. Satu lagi, fokus dengan tujuan kamu untuk bisa berjalan lagi dengan normal, ngerti."


"Dih! galak banget sih kamu sekarang. Mentang-mentang udah ngasih uang banyak sama keluargaku, dengan seenaknya kamu mengaturku. Awas saja kalau aku bisa berjalan, aku tidak akan tinggal disini."


"Terserah kamu mau bilang apa soal diriku. Karena tujuanku sekarang ini untuk menyembuhkan kakimu. Kalau sampai aku tidak bisa menyembuhkan kakimu, aku yang rugi."


"Rugi kenapa?" tanya Meyla penasaran.


"Kalau aku gagal membuatmu bisa berjalan, maka uang keluargaku tidak akan kembali." Jawab Daniel dengan sengaja membuat istrinya kesal.


"Dasar! mata duitan."


Meyla yang sudah dibuatnya jengkel, hanya bisa mendengus kesal. Mau tidak mau, akhirnya Meyla nurut dengan ajakan suaminya, yakni latihan berjalan dengan menggunakan alat penyangga.


Dengan hati-hati, Meyla mencoba untuk melangkahkan kakinya untuk memulai percobaan.


Daniel yang begitu sabar dan telaten, sebisa mungkin untuk memberi perubahan kepada istrinya agar bisa berjalan dengan normal. Meski terkadang sikap istrinya sangat menyebalkan, Daniel berusaha sabar karena cideranya kaki istrinya atas perbuatannya yang tidak hati-hati dalam mengendarai mobilnya.


Siapa orangnya yang akan terima jika hari bahagianya direnggut paksa, dan juga pernikahannya yang harus gagal, tentu saja itu sangat menyakitkan. Tapi sayangnya, Meyla hanya bercermin dengan melihat kondisinya sendiri, yakni tanpa mengingat apa yang sudah dilakukannya sebelum insiden itu terjadi.


"Ayo jalan lagi, kok melamun."

__ADS_1


"Oh ya, maaf."


"Maaf, katamu? kamu gak sedang lagi amnesia, 'kan? tumben tumbennya kamu bilang maaf. Eh! tapi bagus juga dong, tandanya kamu masih punya sisi baiknya."


Daniel pun tersenyum pada istrinya.


"Diam Lu, gak ada yang lucu, tau. Dah lah, aku mau istirahat. Kaki aku capek, aku pingin istirahat. Latihannya besok lagi, dah mau malam jugaan."


"Ya udah kalau kamu mau istirahat. Mau minum, atau ... aku buatkan jus buah, pilih mana?"


"Air putih aja, tadi aku udah kebanyakan makan buah, jadi air putih aja." Jawab Meyla sambil menunjukkan muka masamnya.


"Gak baik memasang muka cemberut kek gitu, yang ada masa depanmu akan suram. Mendingan gini aja, kita berteman bagaimana? kalau gak mau juga gak apa-apa sih. Ya udah ya, aku ambil air minum dulu. Sini, aku bantu kamu duduk di kursi roda." Ucap Daniel tetap bersikap santai.


"Ya udah kita berteman." Jawab Meyla masih dengan ekspresi datar.


Daniel tersenyum dan mengangguk. Kemudian, ia bergegas untuk mengambilkan air minum di atas meja dan memberikannya kepada sang istri.


"Nih, diminum." Ucap Daniel.


"Terima kasih." Jawab Meyla sambil menerima satu gelas air minum dari suaminya.


Lagi-lagi Daniel tersenyum melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2