Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Ada yang mau nekad


__ADS_3

Daniel yang baru saja keluar dari kamar, ia segera menemui adiknya yang baru saja datang ke rumahnya.


Yena yang melihat Daniel tengah menuruni anak tangga, ia langsung mendekatinya.


"Kak Daniel, maafin yang tadi ya, Kak." Ucap Yena saat Daniel sudah di anak tangga paling akhir.


"Lain kali jaga sikapmu, dan jangan kamu ulangi lagi, kamu mengerti." Jawab Daniel dengan tegas.


"Ya Kak, maaf. Habisnya udah lama banget gak ketemu sama kakak, jadi ya maaf." Ucap Yena yang terpaksa tersenyum, meski sebenarnya merasa kesal.


"Kamu itu sudah besar, bukan lagi anak kecil. Jadi, jaga sikapmu kepada siapapun." Jawab Daniel mengingatkan.


"Ya deh Kak, ya. Yena minta maaf, dan gak akan mengulangi lagi kalau tidak lupa. Enggak enggak enggak, Yena barusan bercanda." Ucap Yena dengan senda gurau.


'Pokoknya aku gak bakalan menyerah, lagi pula mereka menikah juga karena terpaksa. Apapun caranya, aku harus bisa merebut Kak Daniel dari perempuan tadi.' Batin Yena yang sudah gelap mata.

__ADS_1


Wingga yang selaku adiknya, pun ikut mendekatinya.


"Kak Daniel, apa kabarnya? maaf, tadi Wingga gak nelpon dulu sama Kakak, soalnya tadi supirnya Paman Herdana yang nganter, jadi lupa deh mau menghubungi nomor Kakak." Ucap Wingga yang langsung meminta maaf.


"Kabar Kakak baik, kamu sendiri bagaimana? kamu pulang hanya mau liburan, atau ... sudah selesai kuliahnya?"


"Udah dong Kak, aku dan Yena udah selesai kuliah. Jadi, untuk menikmati hari liburan setelah wisuda, aku dan Yena mau numpang tinggal di rumah Kakak untuk sementara waktu sambil belajar kerja sama Kakak."


Daniel langsung membuang napasnya dengan kasar, kemudian memegangi kedua pundaknya Wingga.


Wingga yang mengerti maksud dari ucapan kakaknya, pun mengangguk. Sedangkan Yena yang tengah berdiri di dekat Daniel, pun tengah memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang dipikirkannya, Yena yang tengah memikirkannya.


"Ya udah, sekarang sudah sore, waktunya untuk masuk ke kamar dan mandi. Jadi, ajak Yena ke kamar, oke. Nanti kalau sudah waktunya makan malam, Mbak Nana panggil kamu." Sambungnya lagi, Wingga hanya nurut apa yang diperintahkan kakaknya.


Setelah itu, Daniel bergegas masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Wingga, karena tidak ingin Yena membuat masalah yang kedua kalinya, dirinya langsung mengajaknya untuk istirahat di kamar.

__ADS_1


'Tau gini aku tidak ajak Yena, jadi gak punya waktu untuk menikmati liburanku bersama Kakak. Padahal aku ingin sekali menikmati hari liburan bareng Kak Daniel, juga kakak ipar. Tapi, ah sudahlah.' Batin Wingga merasa menyesal ketika waktu liburannya harus tersita waktunya.


"Yena, Yen! kamu dimana?"


Wingga memanggil Yena berulang ulang sambil mencari kemana perginya.


"Aku di dapur, Wing, ambil air minum." Sahut Yena yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa satu gelas air minum.


"Kirain dimana, ke kamar yuk."


"Ngapain? baru juga datang, sudah suruh ke kamar, males ah akunya."


"Sudah sore ini, Yen. Kita mandi dulu aja yuk, gerah tau." Ajak Wingga yang sengaja untuk tidak mengganggu kakaknya.


"Ya deh, ya, ya." Jawab Yena yang akhirnya nurut dengan ajakannya Wingga.

__ADS_1


Sedangkan Daniel yang sudah berada di kamar, rupanya sang istri tengah dikamar mandi. Karena tidak ingin menunggu lama, Daniel memilih untuk menyibukkan diri di ruang kerjanya.


__ADS_2