
Selesai makan siang, Daniel segera kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Dilain tempat, Meyla masih duduk bersantai di taman belakang rumah yang tengah ditemani oleh Mbak Nana, tentu saja diminta untuk memegangi piring yang berisi buah.
'Apakah orang kaya itu seperti Nona Meyla? aku rasa sih gak juga, kebangetan emang. Nona Reina saja yang hidupnya di luar negri saja sangat baik sikapnya dengan semua asisten rumah, tidak seperti istrinya Tuan Daniel, bikin jantungan mah ya.' Batin Mbak Nana yang merasa geram dengan sikap manja pada istri majikannya.
"Nih, kembalikan piringnya. Aku sudah tidak berselera makan buahnya, ambilkan tisunya, cepetan." Ucap Meyla masih dengan nada bentakan.
Saat itu juga, Mbak Nana segera menyambar tisu yang ada di dekatnya, dan memberikannya.
"Ini, Nona." Jawab Mbak Nana sambil menyodorkan tisunya.
Meyla langsung mengambil dan mengelap mulutnya.
"Antar aku ke kamar, aku mau istirahat." Perintah Meyla sambil membuang tisunya.
"Baik, Nona." Jawab Mbak Nana yang langsung bergegas untuk mengantarkan istri majikannya ke kamar.
__ADS_1
Setelah itu, Mbak Nana kembali melanjutkan pekerjaannya untuk bersih-bersih dan juga sekaligus menyiapkan makan siang untuk istri majikan.
"Kamu kenapa, Na? perasaan bibir kamu kek susah untuk senyum, kena semprot terus ya, sama majikan kesayangannya Tuan Daniel."
"Hus! jangan ngomong kek gitu, biarin aja lah. Yuk, kita selesaikan pekerjaan kita, biar nanti malam biar istirahatnya lebih awal." Jawab Mbak Nana yang lagi tidak ingin membahas istri majikannya.
Sedangkan di kantor, Daniel yang tengah disibukkan dengan pekerjaannya, secepatnya agar segera selesai dan pulang lebih awal.
Suara ketukan pintu rupanya tengah mengagetkan keseriusan Daniel saat menyelesaikan pekerjaannya. Saat itu juga, tombol pintu langsung ditekan, dan terbuka dengan sendirinya.
"Masuk saja, dan tutup kembali pintunya." Ucap Daniel sambil fokus dengan layar komputernya.
"Gak mau lihat nih, sombong juga ya sekarang." Ucapnya yang langsung menegur Daniel.
"Riki, kamu rupanya. Ada perlu apa datang ke kantorku?"
"Aku mau mengajakmu makan, nonton, nongkrong, gimana, mau 'kan?"
__ADS_1
"Pekerjaan aku sangat padat, juga aku sudah menikah, tentu saja aku sudah jarang punya waktu untuk nongkrong. Lain kali aja, aku lagi sibuk dengan pekerjaanku."
"Menikah, kapan? wah! jangan ngada ngada kamunya, Dan. Perasaan gak ada undangan yang menyebar, kapan nikahnya? ngarang cerita aja kamunya, Bro."
Daniel langsung menghentikan pekerjaannya, kemudian mengajak temannya untuk duduk di sofa. Kemudian, Daniel menceritakan kebenarannya, yakni tentang awal kejadian hingga dirinya harus bertanggung jawab untuk menikahi perempuan yang sudah dibuatnya cidera.
"Apa! kamu nabrak orang? terus, kamu disuruh menikahi itu perempuan? apes dibilang apes juga gak, untung dibilang untung juga untung sih. Soalnya biar kamu gak jomblo mulu, Bro."
"Sialan, kamu. Aku menikah dengannya juga di atas kertas, mana ada untungnya buatku, Bro. Setelah istriku sembuh, maka dia akan menceraikan aku."
"Apa! enak banget itu istri kamu. Kalau aku sih ogah, Bro. Mending juga di bui, juga ambil pengacara yang hebat. Enak aja cuma mau manfaatin kamunya."
"Sudahlah, biarin saja. Mungkin memang dengan cara seperti ini aku bisa bebas dari hukuman, juga bisa melakukan aktivitas ku seperti biasa. Kalau aku di sel tahanan, yang ada aku tidak menghirup udara segar yang seperti sekarang ini." Ucap Daniel yang berusaha untuk menerima takdirnya.
"Aku salut sama kamu, Bro. Baiklah, aku akan mendukungmu. Ya udah ya, lain kali kalau kamu ada waktu, aku akan mengajakmu nongkrong kek dulu bareng teman yang lainnya."
"Oke, nanti aku kabari kamu kalau ada waktu senggang."
__ADS_1
"Siap, aku pulang duluan ya, Bro." Jawab Riki dan bergegas pergi setelah berpamitan.