Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Merasa tidak sempurna


__ADS_3

Daniel yang baru saja keluar dari kamar mandi, membuat Meyla salah tingkah dan langsung mematikan ponselnya, dan meletakkannya di atas nakas.


"Siapa yang menelpon mu, Mey?" tanya Daniel sambil berjalan menuju tempat tidur.


"Tadi kak Virgo telpon, pamit mau ke luar negri katanya. Soal urusannya apa, aku lupa bertanya." Jawab Meyla sedikit gugup, ingatannya kembali saat dirinya tanpa sengaja menc_ium bibir milik suaminya.


Daniel mulai duduk di sebelah istrinya, kemudian mengatur napasnya sebelum membuka obrolan.


"Oh, kakak kamu. Kamu ingin tahu kenapa? Kedua kakak kamu memang sengaja di minta untuk ke luar negri, yaitu untuk bekerja dengan adikku, Ferdinan. Di luar negri ada proyek baru, dan kedua kakak kamu yang akan mengutusnya. Jadi, kalau nanti berhasil, maka keluarga kamu bebas dari hutang dari keluarga Jayakama. Sebagian memang sudah di lunasi, sebagiannya bentuk pinjaman. Bukan berarti tidak mau memberi, tapi untuk menjadikan kedua kakak kamu mempunyai tanggung jawab yang besar atas apa yang sudah dipinjamkan dari keluarga Jayakama." Ucap Daniel menjelaskannya cukup detail.


"Begitu besarkah, hutang dari keluargaku?" tanya Meyla penasaran.


Daniel langsung menoleh, kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Kedua kakak kamu mempunyai ambisi yang besar, sampai-sampai lupa dengan tujuannya. Suatu saat kamu akan mengetahuinya, sekarang tidurlah, sudah malam, juga sudah waktunya untuk istirahat. Ingat, besok kamu akan mulai terapi, siapkan diri kamu mulai dari sekarang, yaitu istirahatlah yang cukup." Ucap Daniel dan berpindah tempat, yakni di sebelah istrinya, karena tidak mungkin juga meminta istrinya untuk bergeser, karena kakinya tengah cidera.


Meyla yang semakin gugup ketika harus tidur bersama suaminya, sebisa mungkin agar tidak salah tingkah. Berbeda dengan Daniel, justru dirinya tetap bersikap santai dan biasa-biasa saja.


Sambil berbaring, Daniel menarik selimutnya, dan memejamkan kedua matanya. Sedangkan Meyla sendiri memilih tidurnya dengan posisi membelakangi suaminya sambil memeluk guling agar terhindar dari kegugupannya.


Sedangkan Daniel yang sempat menoleh, pun tersenyum tanpa sepengetahuan istrinya. Karena rasa kantuk yang tidak bisa ditahan lagi, keduanya terlelap dari tidurnya masing-masing hingga pagi menyambutnya.


Daniel yang sudah bangun lebih awal, seperti biasa dirinya menyibukkan diri di ruang kerjanya. Lain lagi dengan Meyla yang masih terjaga dalam mimpinya.


"Apa! udah pagi? kenapa mesti kesiangan lagi sih, benar-benar memalukan emang akunya." Gumamnya mengerutuki diri sendiri karena bangun kesiangan.


"Sudah bangun kamunya? kalau masih ngantuk, tidur lagi aja gak apa-apa. Nanti sarapannya agak siangan, kebetulan juga hari ini aku ada pertemuan di kantor, jadi berangkatnya bisa agak kesiangan."

__ADS_1


"Ada gitu, ada pertemuan, berangkatnya siangan?"


Daniel tertawa kecil mendengarnya.


"Soalnya ini hari sabtu, gak begitu padat jadwal kerja hari ini. Jadi, cuma melakukan pertemuan, terus pulang. Kamu mau ikut? nanti aku ajak kamu ke kantor ku kalau kamu mau ikut."


"Enggak ah, nanti yang ada aku nyusahin kamu. Juga, nanti bakalan bikin kamunya malu, secara aku bukan wanita sempurna yang tidak bisa jalan dengan normal."


"Hem. Kalau bahas orang sempurna dan normal, tidak akan pernah ada titik temunya, yang ada kamu yang egois sendiri, karena tidak mau percaya diri untuk tampil dihadapan banyaknya orang."


"Ya mau gimana lagi, kenyataannya gak sempurna. Oh ya, 'kan kamu bilang kalau hari ini aku disuruh terapi, tentu saja aku gak bisa ikut denganmu."


"Oh iya ya, aku lupa. Ya udah, kamu fokus aja dengan kaki kamu. Nanti aku usahakan untuk pulang lebih awal. Ya udah ya, aku mau mandi dulu." Ucap Daniel yang langsung bergegas untuk membersihkan diri terlebih dulu.

__ADS_1


Sedangkan Meyla yang mulai merasa bosan berada di dalam kamar, ia keluar di balkon sambil menikmati udara sejuk di pagi hari, juga menunggu suaminya selesai mandi, baru giliran dirinya.


__ADS_2