Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Merasa di fitnah


__ADS_3

Meyla yang sudah berada di dapur, rupanya tengah mengagetkan Mbak Nana maupun asisten yang lainnya.


"Nona! Nona Meyla sudah bisa jalan?"


Mbak Nana begitu kaget saat melihat istri majikannya sudah berdiri dan berjalan tanpa menggunakan alat bantu. Sungguh membuat semua asisten rumah mendadak tersenyum senang dan merekah ketika Meyla tidak lagi kesulitan untuk berjalan.


"Ya, Mbak, saya sudah bisa jalan. Mulai sekarang saya tidak akan lagi menyuruh Mbak Nana, Mbak Yeni, dan yang lainnya untuk menuruti kemauan saya. Saya mau minta maaf sama semuanya yang udah saya buat kesal, juga banyak menuntut kepada kalian." Jawab Meyla yang akhirnya menyadari akan kesalahannya dulu, yakni waktu pertama tinggal di rumah suaminya.


"Sama-sama, Nona. Sekiranya pelayanan dari kami kurang baik, kami semua asisten meminta maaf sama Nona. Juga, kami semua merasa senang, dan ikut bahagia melihat Nona sudah bisa berjalan lagi dengan normal. Namun, saya menyarankan untuk tetap hati-hati, jangan terlalu lama untuk berjalan. Soalnya kaki Nona belum sepenuhnya pulih." Ucap Mbak Nana mewakili asisten yang lainnya.


"Oh Mbak, saya boleh bantu menyiapkan makan malamnya 'kan?"


"Tentu saja Nona, tapi ... kalau ketahuan Tuan Daniel, gimana? kami takutnya nanti Nona kena marah, juga pastinya kami ikutan kena marah."


"Tenang saja, saya sudah meminta izin sama suami."


"Baiklah, jika Tuan sudah mengizinkan." Kata Mbak Nana.


Setelah itu, Meyla ikutan membantu menyiapkan makan malam untuk suaminya. Namun, tiba-tiba dikagetkan dengan sosok Yena yang baru saja datang dan ikut menimbrung.


"Mbak Nana 'kan ya? aku Yena, Mbak. Aku yang sering pulang bareng sama Wingga, masih ingat 'kan Mbak?"


Dengan percaya dirinya, Yena ikut menimbrung. Meyla yang merasa risih dengan Yena, berusaha untuk tidak mudah terbawa suasana dan terpancing dengan sikapnya yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Ya, Nona, saya masih ingat. Oh ya, saya mau ambil belanjaan dulu di lantai bawah." Jawab Mbak Nana yang juga merasa malas untuk meladeni, dan bergegas pamit untuk mengambil belanjaan di lantai bawah.

__ADS_1


Yena yang penuh percaya diri, ia langsung menyambar panci yang ada di atas kompor yang sudah berisi air. Sedangkan Meyla baru saja mengeluarkan daging ayam dari dalam freezer.


"Kak Daniel itu gak suka sup ayam, dia sukanya sup iga. Jadi, biarin aku aja yang masak. Kamu 'kan menikahnya karena terpaksa, pastinya gak tau seleranya kak Daniel. Mendingan juga, kamu minggir, biar aku yang nyiapin makan malam untuk suami kamu, ups! calon suamiku maksudnya." Ucap Yena begitu pedenya.


Meyla yang merasa aneh dan juga ada rasa kesalnya, pun hanya menatapnya aneh.


"Sudah sana kamu pergi aja dari ruangan ini, biar aku aja yang masak. Ups! maaf, baju kamu jadi basah." Sambungnya lagi, Meyla yang merasa dongkol saat bajunya disiram oleh Yena, rasanya benar-benar ingin menamparnya.


PLAK!


Dengan reflek, Meyla menampar pipi Yena karena kesal. Saat itu juga, Daniel yang baru saja ke dapur, dibuatnya terkejut ketika melihat istrinya tengah menampar Yena.


Dengan kesempatannya, Yena langsung mendekati Daniel dan menangis.


"Kak Daniel, istri Kakak sudah menampar aku. Padahal aku cuma mengingatkan saja, kalau Kak Daniel tidak suka sup ayam. Tapi, istri kakak tetap tidak terima dan mendorongku, dan akhirnya air dalam panci tumpah dan mengenai bajunya. Terus, aku di tampar." Ucap Yena mengadu.


"Aku gak mendorong dia, serius. Justru itu, dia yang mendorongku dan bajuku menjadi basah." Sahut Meyla membela diri.


"Bohong, istrinya Kak Daniel yang fitnah aku, Kak. Kalau gak percaya, lihat saja lewat CCTV." Ucap Yena memberi saran kepada Daniel.


Karena memang itu jalan satu-satunya, akhirnya Daniel membuktikannya dengan cara melihat rekaman CCTV.


"Baiklah, kita lihat lewat rekaman CCTV." Kata Meyla yang langsung menimpali.


"Ya udah kalau gitu, ayo kita lihat bersama." Ucap Daniel yang akhirnya menyetujui saran dari Yena.

__ADS_1


Sedangkan Wingga yang baru saja keluar dari kamar, pun merasa ada yang aneh ketika melihat kakaknya bersama kakak ipar dan juga Yena yang terlihat seperti ada sesuatu.


"Kak, Kak, Kak! tunggu." Panggil Wingga merasa ada yang aneh.


Karena rasa ingin tahu, Wingga langsung mengejarnya.


sampainya di dalam ruangan khusus memantau CCTV, Wingga masih juga belum mengerti dan hanya bisa menjadi pendengar setia.


Daniel yang sudah tidak sabar, ia langsung mencari rekaman CCTV saat dimana istrinya berada di dapur bersama Yena hingga terjadi perdebatan.


"Aku tidak melakukan apapun sama kamu, serius. Percayalah denganku, aku tidak menyakiti Yena sama sekali, aku serius." Ucap Meyla yang tidak terima jika dirinya yang akan di salahkan.


"Kita akan melihatnya, dan kamu tidak perlu takut jika tidak melakukan kesalahan." Jawab Daniel sambil mencari rekaman CCTV.


Berkali-kali mencari rekaman CCTV di jam itu juga, Daniel sama sekali tidak mendapatkannya. Justru yang ada hanya rekaman yang lainnya.


"Rusak, kenapa CCTV-nya rusak? perasaan baik-baik saja. Juga, baru satu minggu ini dibenerin keknya, kok udah rusak aja ya." Ucapnya lirih saat tidak bisa mencari rekamannya.


"Tuh 'kan, pasti ini semua ulah istri kak Daniel. Yang namanya salah, selamanya juga tetap salah dan salah. Aku yakin kalau istrinya kak Daniel sudah merencanakan semuanya agar bisa mengusir diriku. Tapi sayangnya, ternyata tetap ketahuan." Ucap Yena yang terus membuat masalah hingga merasa lelah, pikirnya.


BRAK!


"He! enak aja main nuduh orang yang gak bersalah. Dari awal kamu datang aja sudah bermasalah, masih saja nyalahin aku." Sahut Meyla dengan kesal.


"Sudah! cukup!" bentak Daniel dengan suara yang cukup keras.

__ADS_1


Saat itu juga, Meyla langsung pergi dari hadapan suaminya dan juga Yena maupun Wingga.


Mey yang merasa dongkol, pun memilih kembali ke kamar daripada harus berdebat. Sedangkan Daniel merasa geram terhadap Yena yang menurutnya memang dia lah yang sudah membuat masalah.


__ADS_2