Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Tetap berusaha untuk sabar


__ADS_3

Dengan seksama, Daniel membuka isi pesan dari Wingga.


"Kak, seminggu lagi aku pulang ke tanah air, aku dan temanku mau menginap di rumah kakak. Kata paman Herdana, kakak sudah menikah, benarkah? selamat ya, kak Daniel, semoga bahagia dengan pernikahan kakak." Ucapnya saat membaca pesan dari adiknya.


Meski tidak tinggal satu rumah, Daniel dan adiknya selalu berkomunikasi dengan baik. Bahkan, keduanya tidak memberatkan ketika harus berpisah sejak kecil dan ikut dengan orang tua asuhnya masing-masing.


Daniel yang baru saja membaca pesan dari adik perempuannya, pun merasa senang, juga tersenyum bahagia.


"Ya, Kakak akan tunggu kedatangan mu, Wingga." Ucapnya saat mengetikkan pesan untuk adik perempuannya.


Kisah Ferdinan tidak jauh beda dengan Daniel, yakni terpisahkan jarak dengan orang tuanya masing-masing. Meski tidak hidup bersama, keduanya sama-sama menjalani hubungan baik antara kakak dan adik.


Setelah membaca pesan masuk, Daniel segera keluar dari ruang kerjanya, dan kembali ke kamarnya.


Saat baru saja masuk ke kamar, dilihatnya sang istri yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Baru bangun?"

__ADS_1


"Ya! kenapa? mau ngomel, ngomel aja sendiri. Mau bangun kepagian kek, mau bangun kesiangan kek, bukan urusan kamu. Urusan kamu tuh, bertanggung jawab tentang diriku, termasuk melayaniku." Jawab Meyla masih sama ketusnya.


Bukannya marah, justru Daniel tersenyum mendengarnya.


"Baik, Tuan putri. Mau saya mandikan, atau ... mau yang lainnya." Ucap Daniel yang kini mulai berani untuk mengimbangi istrinya, tentu saja dengan sikapnya yang berbeda.


"Dih! udah cepetan panggilkan asisten kamu itu yang nyebelin, siapa namanya, si Nana ya. Udah cepetan panggilkan asisten mu itu, buruan." Perintah Meyla dengan raut wajahnya yang masih terlihat kesal.


"Baik, Tuan putri." Jawab Daniel dengan sengaja meledek istrinya.


Saat itu juga, Daniel langsung menekan tombolnya. Tidak lama kemudian, Mbak Nana pun datang.


"Permisi, Tuan, Nona." Ucap Mbak Nana saat sudah di ambang pintu, lantaran pintu kamar yang tidak ditutup.


"Masuk aja, Mbak." Sahut Daniel, Mbak Nana pun segera masuk dan mendekati majikannya.


Saat sudah berada di hadapan majikannya, Mbak Nana masih diam.

__ADS_1


"Tolong ya, Mbak, bantu istri saya untuk mandi." Perintah Daniel kepada asisten rumahnya.


Sebelum ke kamar mandi, Daniel membantu istrinya untuk duduk di kursi roda. Setelah itu, Mbak Nana mendorongnya sampai ke kamar mandi.


Daniel yang tidak ada kesibukan, dirinya memilih untuk menyiapkan berkas yang akan dibawanya ke kantor.


Sedangkan Meyla tengah dibantu Mbak Nana untuk membersihkan diri. Meski dengan susah payah, sebisa mungkin untuk hati-hati.


"Mbak Nana bisa menggosok badan ku gak sih, yang pelan-pelan dong kalau menggosok badanku, sakit tau." Ucapnya sambil mendengus kesal.


"Maaf, Nona. Ini juga saya sudah sangat pelan, dan juga hati-hati." Jawab Mbak Nana yang mulai muncul rasa takut ketika harus berhadapan dengan istri majikannya.


'Kalau bukan karena aku membutuhkan pekerjaan, tidak sudi aku melayanimu. Mending juga bekerja di rumah utama, daripada disini seperti menghadapi singa kelaparan.' Batin Mbak Nana yang mulai kesal dengan sikap istri majikannya.


Cukup lama membantu majikannya mandi, akhirnya selesai juga, Mbak Nana akhirnya merasa lega setelah pekerjaannya selesai.


Setelah itu, Mbak Nana membantunya untuk mengenakan bajunya, juga menyisir rambutnya serta mengikatnya.

__ADS_1


__ADS_2