
"siapa kamu?! beraninya datang memukul kami!!"
"kalian pantas menerima pukulan itu karena telah mengganggu wanita yang sedang berjalan pulang ke rumah!"
Ya, pemuda yang menolong Santi adalah Dani. Berhubung Dani tadi baru saja beres mandi dan ingin pulang, namun ia melihat Santi di ganggu pemuda kampung. Dengan berani, ia menolong Santi dan memukul para pemuda itu.
para pemuda itu nampak marah dan hendak membalas perbuatan Dani tersebut. Namun langkah mereka terhenti saat Dani kembali menantang mereka. Karena tubuh Dani lebih besar dari mereka, seketika nyali mereka menciut dan akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka.
Dani merasa lega karena para pemuda pengganggu itu sudah pergi meninggalkan area ini. ia pun menoleh pada Santi yang masih terduduk sembari menundukkan kepala melindungi kain yang hampir terlepas. Tangisannya pun tak bisa dihindari karena ketakutan yang luar biasa. Dani memposisikan dirinya dengan jongkok di samping Santi dan mengusap punggungnya.
"pemuda itu sudah pergi.. Jangan takut lagi ya"
Namun tangisan Santi tak mereda juga. Dani inisiatif menggunakan baju yang ia bawa dan membalut tubuhnya itu.
"sudah aman.. Ada aku di sampingmu"
Dani mulai menghapus air mata Santi yang sedari tadi terus mengalir di pipi mulusnya itu.
"jangan menangis lagi ya.. Sudah tidak ada apa-apa" ujarnya dengan lembut.
Kelembutan yang diberikan Dani padanya, membuat Santi seketika luluh dan menuruti perkataan pemuda itu. Ia pun menghapus semua airmatanya. Namun ia syok karena cuciannya kembali kotor.
"cucianku.. Kotor semua" lirih Santi yang sudah lelah.
"terpaksa harus dicuci lagi"
Ia pun memunguti baju-baju yang kotor itu masuk kedalam bakul tersebut.
"sini.. Aku bantu"
Santi menoleh pada Dani dan melarangnya untuk tidak membantunya "tidak usah.. Lebih baik mas Dani pulang saja, biar aku cuci ulang semuanya"
"tidak.. Izinkan aku untuk bantu kamu ya. Aku tidak mau kamu kelelahan"
Santi terdiam sejenak. Walaupun ia sangat terbantu tapi ia tidak enak harus merepotkan orang lain. karena lama menunggu jawaban, Dani merebut bakul yang dibawa Santi berada padanya.
"eh.."
"ayo, kita ke sungai bersama"
Akhirnya Santi pun memperbolehkan Dani untuk membantunya. Mereka pun jalan berdua menuju sungai kembali. Kali ini mereka memilih untuk mencuci baju di tempat yang memang sudah sepi. Pakaian yang kotor kemudian bilas hingga bersih.
dengan dibantu oleh Dani, cuciannya pun kembali bersih dengan cepat. Kemudian, bakul tersebut Dani tepukan agar tidak terjatuh ke sungai.
"ayo, aku bantu berdiri"
Santi mengangguk, lalu ia menerima uluran tangan Dani. Namun saat hendak berdiri, kakinya terasa licin dan membuatnya hendak terpeleset.
"aaaaa!!!"
"Santi!!"
Badan Santi akhirnya bisa ditahan oleh Dani dengan memegang pinggangnya. Sementara Santi tidak sengaja menarik kerah bajunya membuat wajahnya sangat dekat dengan Dani. Lalu Dani menarik perlahan tubuh Santi dan akhirnya ia pun selamat tidak terjatuh.
Tubuh mereka sangat dekat sekali. Bahkan Dani pun tersadar sampai menatap Santi yang berada di depannya.
"M-mmmas Dani.." lirihnya.
pandangan mereka saling bertemu beberapa detik, namun Santi tiba-tiba melepaskan pelukannya itu dan sedikit menjauhi tubuh Dani.
"maaf.. Terima kasih sekali lagi"
Dani pun tersenyum manis ke arahnya "sama-sama, ayo pulang bersama"
__ADS_1
"ayo"
***
"pak.. Bu.. Santi pulang!"
Mereka baru saja pulang kerumah setelah tragedi di sungai tadi. Sementara Dani mengikuti Santi dari belakang dan mulai masuk setelahnya. Ia melihat Nathan sahabatnya tengah makan sebuah cemilan tanpa menunggunya terlebih dahulu.
"enak banget lu, belum mandi langsung makan"
"udah mandi ye.. Gue nyusul bapak tadi.. Lah lu kenapa baru balik? Lama amat"
Dani tersenyum "ada tragedi tadi.. Jadi gue nolongin orang dulu"
"CK.. Segala dah"
Nathan kembali fokus pada makanannya, sementara Dani membereskan peralatan yang ia gunakan untuk mandi tadi pagi. Santi yang berada di dapur, tak sengaja melihat Dani yang sedang merapikan ranselnya. Ia tersenyum mengingat Dani sangat baik hati menolongnya dan menjadi pahlawan saat dirinya di ganggu.
Ternyata Dani pun merasakan ada yang menatapnya, ternyata Santi sedang menatapnya di balik dapur. Ia pun membalas tatapannya dengan senyum manis di bibirnya. Dan itu membuat Santi salah tingkah dan akhirnya menyembunyikan dirinya.
Semua anggota keluarga berkumpul untuk sarapan bersama.
"ibu.. Aku ke ladang dulu ya, mau ngasih hewan makan"
"sarapan dulu"
"nanti saja di sana"
Santi pun meninggalkan mereka yang masih sarapan bersama. Memang ia seperti biasa setiap habis mandi langsung ke ladang dan sarapannya bareng hewan.
"Dia gak sarapan pak?" tanya Nathan.
"Dia biasa sarapan di ladang bareng hewan ternak.. jadi sambil ngasih makan hewan, sambil dianya juga sarapan"
mereka pun kembali terdiam dan melanjutkan sarapannya.
setelah sarapan, Dani meminta izin kepada pak Ujang dan Bu Narmi untuk berkeliling desa. Sementara Nathan menawarkan diri untuk membantu pak Ujang mencari pangan.
Sebenarnya ia tahu jika Dani ingin menghampiri Santi di ladang. Ia ingin ikut tapi takut jadi nyamuknya mereka. Jadi ia memutuskan untuk ikut dengan pak Ujang saja.
Dani yang meminta izin berkeliling, ternyata pergi ke sebuah ladang domba yang tersusun rapi sedang memakan rumputnya. Di sana juga ada gadis yang ia cari, siapa lagi kalau bukan Santi. tanpa berlama-lama, ia pun mendekat kearahnya.
"Boleh duduk di sini?"
Santi menoleh pada sumber suara yang berada di dekatnya. Lalu ia melihat Dani yang tersenyum di sampingnya dan itu membuatnya sedikit terkejut.
"eh.. I-iiya boleh"
"kamu sedang apa?"
"lihat domba sambil sarapan.. mas mau?"
"tidak.. buat kamu saja"
Kemudian Dani membiarkan Santi untuk menghabiskan sarapannya. Suasana di sana memang sangat nyaman. Pantas saja Santi selalu sarapan di sini di temani para domba yang jinak-jinak.
Setelah selesai sarapan, ia pun merapikan bekas makanannya agar tidak berantakan. Saat sedang asik minum, ia melihat seekor kelinci yang datang menghampirinya. Dan itu adalah kelincinya yang bernama Lily.
"eh Lily.. kemana aja hm?"
Santi langsung menggendong kelinci tersebut dan duduk kembali di samping Dani.
"itu kelinci kamu?"
__ADS_1
"iya.. Aku Nemu di hutan. Karena kasian aku bawa pulang saja. Dan aku kasih nama dia Lily, bagus tidak?"
"bagus kok.. Cantik"
Dani pun ikut mengelus kepala kelinci tersebut. Ia lalu menatap Santi yang masih fokus pada kelincinya itu. Tawaannya sangat terdengar indah. Senyumnya yang manis membuatnya semakin terpana.
"mas Dani.."
"eh iya?"
"mas kenapa lihatin aku kaya gitu? Aku aneh ya?" ujar Santi yang sedikit sedih.
"eh.. Nggak kok.. Itu.. Domba, kita main kejar-kejaran sama domba yuk" ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Senyum lebarnya kembali terbit "ayok!!"
Dani lega karena Santi tidak berpikir negatif lagi. Lalu mereka pun bermain bersama dengan kejar mengejar dengan domba atau pun mereka berdua.
"aku akan tangkap kamu ya.."
"tidak bisa wleekk.."
"haaaaaa"
tangan Santi tertangkap oleh Dani dan dalam artian ia kalah dalam permainan.
"yah kalah.. Capek"
"ya sudah, kita duduk lagi"
karena semangat bermain membuat badan Santi sedikit kelelahan. Dani kembali tersenyum saat melihat Santi yang menurutnya sangatlah lucu. Kemudian ia teringat akan gelang yang waktu itu sempat ia dapatkan. Ia merogoh saku bajunya dan ternyata ia membawanya. Kemudian, ka pun mengeluarkan gelang tersebut dari saku bajunya.
"Santi.. Boleh lihat aku sebentar?"
"hm?"
Kemudian, Dani meraih tangan Santi perlahan dan sontak membuat Santi terkaget.
"ada apa?"
Dani hanya tersenyum kemudian tangannya yang satu lagi memasangkan gelang ke tangan Santi. Ia terkejut karena tiba-tiba saja Dani memasukkan gelang di area tangannya.
"gelang?"
"itu untukmu.. Anggap saja hadiah dariku, bagaimana cantik tidak?"
Santi berbinar saat melihat gelang cantik itu bersemi di tangannya "cantik sekali.. Mas Dani, terima kasih"
"sama-sama.. Eh iya, ini udah siang ayo pulang.."
"iya ayok"
Dani kembali menawarkan ukuran tangannya untuk membantu Santi berdiri. Ia pun sembari menggendong kelinci kesayangannya untuk di bawa pulang.
"mau di bawa juga?" tanya Dani saat melihat Santi membawa kelinci itu.
"iya.. biar ada teman"
Kemudian, mereka pun pergi meninggalkan area itu untuk kembali ke rumah. Namun setengah perjalanan, mereka kembali di hadang oleh segerombolan pemuda yang tadi pagi mengganggu Santi. Santi yang ketakutan, bersembunyi dibalik punggung pria itu.
"mas.. Aku takut"
"kamu tenang ya, ada aku" jawabnya berbisik.
__ADS_1
"heh kamu! Kamu harap kita bisa lupa dengan perbuatanmu tadi. Kita semua mau balas dendam!"