Mentari Yang Hilang

Mentari Yang Hilang
Cerita suasana di kota


__ADS_3

"hati-hati sayang.."


Dani terus menggenggam jari jemari istri dengan kuat agar tidak terjatuh saat menuruni tangga menuju sungai yang sedikit curam. Mereka sekarang tengah berada di sungai untuk membersihkan diri. Biasanya Santi punya tempat tersendiri untuk mandi agar tidak berebutan dengan warga yang lain. Maka dari itu, dia mengajak suaminya juga untuk ke sungai yang biasa ia gunakan untuk mandi.


"di sini?"


"iya.. Aku biasa mandi di sini.."


Santi turun terlebih dahulu. Sebelumnya ia lepaskan pakaian atasnya dan menyisakan kain batik yang ia kenakan hingga ke atas dada.


"haaa dingin.."


Mandi di sungai dengan kondisi badannya yang lengket sedikit ngilu sangat membuatnya tenang. Bahkan tubuhnya tidak terasa sakit lagi. Setelah melihat istrinya mandi, ia pun turun menghampiri Santi dengan pakaian kaos yang masih lengkap di bajunya.


mereka mandi bersama tanpa takut diketahui oleh orang lain. Ya namanya juga sudah sah kalau kepergok juga tidak masalah, Pikir Dani. Ia langsung memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang.


"mas Dani ih.."


Dani terkekeh geli. Lalu ia pun mulai menggerayangi leher jenjang istrinya dengan mengendus perlahan. Serta memberi kecupan di bahu polos yang tidak dibalut apapun.


"mas daniiihh.." lenguhan Santi yang merasa geli akibat ulah suaminya itu.


Kemudian, Dani membalikkan tubuh istrinya dan mengecup kening serta bibirnya dengan singkat.


"jangan lama-lama mandinya.."


"issshh.. Kan mas sendiri yang bikin lama" ujar Santi dengan kesal.


"hehe iya maaf.. Ya sudah, bersihkan diri kamu ya.."


Mereka pun lanjut mandi masing-masing membersihkan diri mereka tanpa adanya adegan romantis karena buru-buru sudah siang. Setelah beberapa menit, mereka pun beranjak dari air dan mulai mengganti pakaian mereka di tempat yang sudah di sediakan berupa penutup yang terbuat dari bilik yang digunakan warga mengganti pakaian mereka.


Santi sudah berganti pakaian dengan baju yang biasa ia gunakan, begitu juga dengan Dani yang sudah rapi dengan pakaian gantinya walaupun rambutnya masih basah.


"ayo kita pulang"


"ayo.."


mereka kembali saling membantu untuk sampai ke atas karena perlu kehati-hatian agar tidak terjatuh ke bawah. Setelah itu, mereka pergi meninggalkan area sungai yang mereka pakai mandi tadi. Di perjalanan, layaknya pengantin baru Santi terus menggelayut manja di tangan Dani. pria itu pun merasa senang akan perlakuan Santi itu.


Karena suasana kampung sudah ramai, tak heran jika pengantin baru itu menjadi sorotan warga yang lewat diantara mereka. ada yang memuji ada juga yang menghina Santi terutama kaum wanita yang memang membencinya.


Dan itu terdengar sampai di telinga Santi, tapi ia hanya meresponnya acuh. Ia tidak ingin menghabiskan waktu untuk ribut dengan mereka.


"lihat tuh si Santi.. Makin sombong aja dia"


"iya ya.. Mentang-mentang punya suami orang kota, paling nanti juga kalau di rumah mertua juga jadi babu"


"hush.. Udah jangan ngomongin orang, lanjut kerja"


Tanpa terasa langkah mereka pun telah sampai ke rumah. Santi mengambil alih pakaian kotornya untuk dijemur karena sudah di cuci. Sementara Dani sudah memasuki rumah terlebih dulu.


"Bu.. Bapak sama Nathan mana?" tanya Dani saat memasuki rumah tidak menemui pak Ujang serta Nathan.


"oh, mereka berdua lagi ada di sawah.. Nathan ikut bapak katanya bosan di sini sendirian"


"oh gitu.. oh iya Bu, Dani mau ajak Santi keliling sebentar ya.."


"iya Nak.."

__ADS_1


setelah izin, ia pun kembali keluar menemui istrinya yang tengah membereskan area luar.


"sayang.. Ayo ikut aku"


"eh mau kemana?"


Dani menaruh sapu yang ada di tangannya itu lalu menarik tangan istrinya.


"kita pacaran dulu.. Ayo"


"pacaran?"


tangannya kembali di tarik alhasil langkahnya pun ikut mengikuti langkah suaminya pergi. Di perjalanan, mereka berdua saling melemparkan candaan. Sampai akhirnya Dani menghentikan perjalanannya dan duduk di sebuah ladang hijau yang sangat subur. Di sana juga terdapat para hewan yang sedang makan rumput.


Dani mengajak Santi duduk di pangkuannya.


"ih mas.. Kalau ada yang lihat gimana?" Santi risih harus duduk diatas suaminya seperti ini. Mungkin kalau di rumah beda cerita ya tapi ini di ruang terbuka, yang mana bisa dilihat oleh orang lain.


"ah peduli banget sama omongan orang.. Aku lagi mau bermanja sama kamu" sesekali Dani mendusel wajahnya di bahu belakang sang istri.


"mas iihh.."


"hahaha iya-iya"


Dani menurunkan istrinya dan mendudukkannya di sampingnya. Setelah itu, Santi kembali memeluk tubuh suaminya itu seraya melihat ke arah depan di mana pemandangan di sana sangat indah. Sungguh nyaman di gunakan untuk menghabiskan waktu berduaan.


"mas.."


"hm?"


"aku boleh tanya sesuatu?"


"boleh.. Tanya apa?"


Dani tersenyum membalas pelukan sang istri dan membelai rambutnya dengan lembut.


"kenapa kamu berpikiran seperti itu? Keluargaku juga baik kok, pasti mereka bakal suka kalau ketemu sama kamu"


"benarkah?"


"iya.."


"jadi mas mau bawa aku ke kota kapan?"


"besok kan mas pulang sayang.. kamu nanti ikut mas pulang ke rumah mas" jelas Dani.


Tiba-tiba raut sedih di wajah Santi mulai terlihat. Dani pun merasa heran karena raut wajah istrinya muli merubah.


"kenapa sayang? Kamu gak mau ikut sama mas?"


Santi bergeleng.


"terus kenapa hm?"


"berarti, aku bakal pisah sama bapak dan ibu?" lirihnya sendu.


"iya.. Karena kamu sudah menikah, jadi harus ikut suami. Kamu juga pasti tahukan?"


"heem.. Tapi, aku kasian sama bapak ibu, kalau aku gak ada siapa yang bantu mereka di sini?"

__ADS_1


"itu biar urusanku ya.. Yang penting kamu mau ikut sama aku. Kamu mau kan pergi ke kota?"


"kemana pun kamu pergi, aku mau.. Hehe"


"begitu dong.. Itu namanya istriku muachhh.."


Mereka kembali bercanda di sela-sela obrolan mereka. Bak anak kecil yang sedang bermain, sesekali mereka bermain kejar-kejaran. Suara canda tawa mereka pun terdengar sangat bahagia. Terutama pada Santi, ia tidak pernah merasakan kebahagiaan bersama orang yang ia sayangi.


"mas.. Capek"


Dani terkekeh geli "ya sudah istirahat dulu"


Mereka kembali duduk di bangku yang tadi mereka duduki. Lalu mereka meneguk sebotol air minum yang mereka bawa sendiri dari rumah. jari-jari tangan Dani tidak mau diam. Dani menautkan jari-jari tangannya, ke tangan istrinya. Ia juga beberapa kali menciumi telapak tangan santi.


"nanti kalau sudah di kota, aku bakal belikan kamu cincin nikah"


"benarkah mas? Aaaa makasih.."


"sama-sama, yang pasti gak gratis ya"


"kenap- hmmmmmpppttt.."


Tiba-tiba Dani menyambar bibir seksi Santi yang dari tadi bicara terus tanpa henti. Mereka bercumbu dibawah pohon pisang yang rindang sehingga menambah kesan sejuk.


"eunghhh.."


Santi terus mengimbangi gaya cumbuan suaminya itu. nafsu mereka mulai membara. mereka bahkan sampai menutup mata untuk menikmati setiap inci dari pagutan mereka.


Eunghhhmmhh...haaahh..


Karena kehabisan nafas, Dani melepaskan tautannya sejenak. Setelah itu ia membelai rambut istrinya sebentar, setelahnya Dani mulai kembali menempelkan bibirnya di bibir sang istri. Santi sedikit kewalahan, namun wanita itu tetap membalas setiap cumbuan suaminya.


Setelah hampir 15 menit berciuman, pagutan mereka pun mulai terlepas bahkan masih ada sisa lendir yang masih menyatu. Dengan rakus, Dani kembali menghisap semua bahkan kembali mengecup bibir istrinya itu.


"hah.. Enak sekali.."


"mas Dani kekencengan.. Sakit tau di gigit ih"


"uluh.. Uluh.. uluh.. Maaf sayang hehe, abisnya enak sih"


"ish kebiasaan" kesal Santi sembari mencubit pinggang suaminya.


Kemudian mereka kembali terdiam sembari menatap pemandangan di depannya. sebenarnya di benak Santi, ia masih banyak pertanyaan tentang suaminya ini. ia pun menoleh pada suaminya yang masih menatap lurus ke depan.


"mas Dani.. Aku boleh nanya lagi?"


"nanya apa?"


"kalau suasana di kota itu kaya gimana?"


"kamu ingin tahu?"


"heem.." ujar Santi sembari menganggukkan kepalanya berkali-kali. Karena gemas, tak jarang pipi Santi menjadi sasaran cubitan, gigitan hingga kecupan.


"baiklah.. Mas akan cerita.."


Santi sangat serius mendengarkan kisah dari suaminya itu. mendengar suasana kota yang menyenangkan, Santi ingin segera pergi ke sana terlebih ia bisa menemui ibu dan ayah mertuanya.


"wahh.. Aku gak sabar pengen ke kota.."

__ADS_1


"nanti kita ke kota bareng ya.. Hehe"


Santi yang bahagia pun kembali memeluk tubuh ideal suaminya dengan sayang. Mereka kembali menghabiskan waktu dengan menikmati suasana pedesaan. Karena mulai besok, mereka akan melakukan perjalanan yang sangat panjang.


__ADS_2