Mentari Yang Hilang

Mentari Yang Hilang
Hadiah istimewa untuk istri


__ADS_3

Dani membawa Santi memasuki mall termewah di kota itu. Hanya orang-orang kaya terpandang saja yang bisa masuk ke mall tersebut. Santi yang memang dari desa ia sesekali berdecak kagum saat mulai memasuki area mall. Apalagi ia baru merasakan area mall yang sejuk karena AC serta pintu otomatis yang terbuka tanpa penjaga.


"mass.. Bagus sekali.."


"kita ke sana ya"


Dani menunjuk ke salah satu toko pakaian wanita. Santi pun hanya menurut pada suaminya dan ikut bersama masuk ke dalam toko tersebut. Saat masuk ke toko, mereka sudah di sambut oleh orang yang bekerja di sana yang menjadi sales toko tersebut.


"selamat datang tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"tolong carikan baju yang cocok untuk istri saya dari baju sehari-hari sampai baju formal"


"baik tuan, anda ingin berapa banyak?"


"ajak istri saya berkeliling, biar dia pilih semua baju yang ada di sini"


"baik.."


Sales itu menatap ramah pada Santi dan mulai mengajaknya berkeliling.


"kebetulan dia lagi sibuk cari baju, mending gue ke koto lain dulu"


habis itu, Dani memutuskan untuk pergi sebentar keluar karena ada keperluan. Sementara Santi masih asik memilih baju yang mana ia sukai dengan di bantu sales yang memilihkan baju yang cocok untuk dirinya.


"ini bagaimana nyonya?"


"eumm.. Yang ini lucu" tunjuknya pada salah satu baju tidur bergambar kartun lucu.


"mau yang ini nyonya? Baik.. Silakan anda pilih yang lain.."


Santi benar-benar dibuat kebingungan karena harus memilih baju di toko seluas itu. Terlebih baju-baju nya sangat bagus jadi dia tidak bisa memilih apa yang ia inginkan.


"bingung mbak.. Saya ikut saran mbak aja deh"


"boleh.. Mari ikut saya memilih lagi"


Sales tersebut menunjukkan lagi beberapa model pakaian pada Santi. Ada beberapa pilihan sales tersebut yang sangat ia sukai, jadi ia memilih itu dan membelinya. Kebanyakan baju yang ia pilih untuk dipakai sehari-hari dan dipakai untuk keluar rumah jika ada keperluan.


"segini saja nyonya? Ada yang mau dipilih lagi?"


Berbelanja di toko sebesar itu membuat Santi merasa kelelahan berkeliling memilih baju yang terbaik. Bahkan saking capeknya ia tidak bisa berdiri jadi sales itu membantunya duduk di sofa yang tersedia di sana.


"hah.. Hah.. Iya.. Segitu saja cukup"


"baiklah nyonya, ayo kita temui suami anda"


Santi mengangguk pelan, tubuhnya mulai terasa lemas sekali karena terus menerus berjalan mengelilingi toko hanya untuk memilih baju. Mereka pun berjalan di tempat perkumpulan awal tadi, dan Dani ternyata masih ada di sana.


"mas.." lirihnya lelah. Ia langsung memeluk suaminya yang ada di depannya.


"kenapa?"


"maaf tuan, nyonya kecapekan belanja"


"oh hahaha.. Ya sudah mana belanjaan dia?"


"ini tuan."


Dani terheran akan Santi yang memilih sedikit baju padahal ia sebenarnya mampu untuk membeli baju satu toko.


"cuma segini saja?"


"iya tuan.. Nyonya tadi berkata demikian"

__ADS_1


Dani menghela nafas kasarnya karena tidak menyangka sifat kesederhanaan Santi masih terbawa.


"ya sudah, kamu bungkus ini, dan carikan lagi yang banyak ya.."


"b-bbaik tuan."


Sales tersebut pun pergi untuk mengerjakan tugas dari Dani. Melihat sales itu menjauh, Dani tersenyum mengarah pada istrinya yang masih berada di dalam pelukannya..


"capek ya?"


"hm.." lirihnya lelah.


"mau ke tempat lain?"


mendengar ia bisa belanja ditempat lain lagi, wajahnya tiba-tiba berangsur terangkat menatap wajah suaminya.


"emang boleh?"


"boleh dong.. Selagi nunggu pesanan baju selesai, kita lihat-lihat yang lain saja dulu"


"boleh deh mas"


"ayo kita lihat yang lain dulu"


Dani mengajak Santi pergi untuk ke toko yang lain dulu. Dani mengajak Santi untuk berbelanja perlengkapan kecantikan seperti makeup, skincare, body care dan lain sebagainya. Namun semua itu tampak asing bagi Santi yang memang tumbuh di desa dengan perlengkapan kecantikan seadanya.


"ini toko apa?"


"ini toko menjual perlengkapan kecantikan.. kamu pengen tetap cantik terawat bisa beli perawatan maupun makeup di sini"


"wah.. Aku baru pertama kali lihat toko begini"


Dani terkekeh pelan melihat tingkah polos istrinya itu.


"baiklah.."


Ia pun keliling toko kecantikan itu bersama suaminya. Lalu ada beberapa sales juga yang membantu mencarikan mana yang cocok dipakai olehnya. Makeup dan skincare yang ia pilih hanya yang biasa saja tidak terlalu mencolok.


bahkan Santi pun di dandani oleh salah satu sales sebagai tester makeup yang ia beli cocok tidaknya di wajah imutnya.


"wah.. Bagus.. Aku mau ini semua"


"baik nyonya.."


Lalu ia pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Dani menunggu area tunggu di dekat kasir.


"sudah?"


"sudah mas.."


"bungkus semuanya ya"


"baik tuan.."


Belanjaan yang ia beli sangat banyak hari ini. Terutama baju yang di pesan Dani untuk istrinya sampai pakai 2 koper berukuran sedang untuk mengangkut semuanya.


Total belanjaan yang ia bayar jumlahnya tidak sedikit, bahkan sampai Santi pun syok melihat angka yang begitu besar jumlahnya. Namun, itu tidak masalah bagi Dani. Berapapun jumlah belanjaan istrinya yang penting dia senang.


"mau pulang sekarang?"


"ayo mas.. Aku sudah lelah"


"baiklah.. Ayo"

__ADS_1


Dani menuntun tangan istrinya keluar dari mal tersebut menuju parkiran. Semua belanjaannya ia minta tolong untuk antarkan semuanya ke mobilnya. saat sudah sampai, terlihat koper sudah berada di dekat mobil sekarang giliran Dani yang memasukkan koper-koper itu ke dalam mobil.


Setelah semuanya selesai, mereka berdua mulai masuk ke mobil. Tapi, Dani tidak menyalakan mobil setelahnya justru ia terdiam memandangi wajah istrinya dengan senyuman.


"mas kok tidak jalan mobilnya?"


"sebentar sayang, mas punya sesuatu untuk kamu"


"ada lagi?"


"iya.. Dan yang ini lebih istimewa"


Lalu Dani merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah kecil yang kini berada di dalam genggamannya.


"apa itu mas?"


Dengan penuh senyum, Dani mulai membuka kotak tersebut dan memperlihatkan dua cincin yang berada di dalamnya. Santi yang melihat itu otomatis syok karena suaminya itu membelikan cincin yang sangat bagus yang pasti harganya sangat mahal.


"aku beli ini waktu pas kamu masih sibuk milih baju.. Kenapa aku beli kamu cincin? Ini adalah cincin nikah kita. Aku belikan ini supaya bisa menjadi bukti bahwa kita sudah terikat satu sama lain"


Santi yang mendengar itu perlahan mengembangkan senyumnya. Bahkan air matanya pun ikut keluar karena terharu diperlakukan manis oleh suaminya.


"kita saling pasang ya.. Kamu pasang duluan ke jariku"


Santi mengangguk, ia pun mengambil cincin yang berukuran lebih besar dan dipasangkan di jari manis bagian tangan kanan suaminya. Setelah itu gantian Dani yang memasangkan cincin tersebut ke jari manis istrinya.


Setelah itu, Santi pun memeluk erat sang suami sembari menangis bahagia.


"terima kasih mas.. Aku senang sekali.."


"syukurlah.. Maaf jika aku beli cincinnya yang simpel tidak bercorak apapun"


Santi melepaskan pelukannya dan menggelengkan kepalanya.


"tidak.. Ini sangat bagus menurutku"


"mas senang kalau kamu tersenyum seperti ini sayang"


Mereka saling berpandangan dengan penuh cinta. Lalu perlahan wajah mereka mulai semakin dekat, mereka pun menutup mata dan mulai menempelkan bibir mereka satu sama lain.


Dani mulai ******* lembut bibir istrinya itu dan membuat Santi ikut terbuai.


"eunghhh.."


lama-lama tautan mereka semakin menuntut. Bahkan Santi sampai meremas rambut suaminya sedangkan Dani memeluk erat istrinya. Suara decakan pun terdengar jelas di sana menambah sensasi panas akibat ulah mereka.


Hampir 10 menit kemudian, Dani melepaskan cumbuannya secara perlahan. Setelah itu, mereka mengambil nafas banyak karena ciuman mereka tersebut tidak cukup untuk menghirup udara.


"makasih sayang.. bibirmu bikin aku candu"


"mas.. Ayo kita pulang"


"baiklah istriku.."


Dani pun mulai menyalakan mobilnya, sebelum itu mereka sudah memakai sabuk pengaman untuk mencegah terjadi sesuatu. perlahan mobilnya mulai bergerak dan meninggalkan area gedung mall itu.


selama perjalanan, Santi bergelayut manja di pelukan suaminya yang fokus menyetir. Tapi itu tidak mengganggunya justru membuat Dani senang sesekali mengelus pucuk kepalanya dengan lembut.


Tak berapa lama, mobilnya pun mulai masuk ke area perumahan dengan rumah yang begitu besar. Santi pun terlihat kagum saat melihat rumah-rumah besar berjejeran satu sama lain.


Tibalah mereka ke sebuah rumah besar dengan pagar otomatis terbuka. Kemudian Dani memasukkan mobilnya ke area pekarangan rumah besar tersebut dan menghentikan mobilnya ketika sudah di dalam.


"sudah sampai.. Selamat datang di rumahku sayang"

__ADS_1


__ADS_2