Mentari Yang Hilang

Mentari Yang Hilang
pergi dari rumah


__ADS_3

di dalam kantor Dani hanya menghabiskan waktu dengan sang istri berdua di dalam. Sembari menemani istrinya, dirinya mencari sebuah rumah untuk ia tinggali sementara. ia melihat berbagai macam rumah dari harga termurah sampai termahal. Namun karena Dani sudah tidak punya apa-apa jadi ia memutuskan untuk membeli rumah yang sedikit terjangkau dan tidak jauh dari pusat kota serta transportasi umum, tidak terlalu terpencil.


"sepertinya ini cocok.."


ia tidak membeli rumah itu melainkan hanya mengontrak. Itu sudah menjadi kesepakatan karena mereka harus berhemat untuk sekarang.


"yang.. Nanti kita pulang ke rumah dulu ambil baju ya"


"iya mas.. Mau pulang sekarang?"


"boleh deh.."


Berhubung kerjaan Dani juga sudah selesai, jadi ia tidak ingin berlama-lama lagi. Ia sudah menyimpan rapi semua berkas hasil kerjaannya dan membawa pulang barang-barang pribadinya. Setelah itu, Dani membawa Santi pergi keluar ruangan itu menuju ke lantai bawah.


Setiap Dani berjalan, pasti ada karyawan yang menyapanya. ia memang terkenal ramah tak heran jika semuanya akrab dengannya.


"pak.. Mau pulang?"


"iya nih.. Duluan ya"


Dani memasuki mobilnya untuk pulang ke rumah orang tuanya. setelah 20 menit perjalanan, akhirnya mereka pun tiba dipekarangan rumahnya. Awalnya Santi ingin digendong oleh suaminya namun ditolak karena ia merasa kakinya sudah tidak sakit lagi.


"beneran kamu bisa jalan?"


"bisa kok mas.."


Dengan di papah, Santi dan Dani masuk ke dalam rumah tersebut. Di sana sudah ada mamanya yang duduk di ruang tamu. Sepertinya mereka sedang menunggunya. Namun Dani seolah tidak peduli, ia menyuruh pelayan rumahnya untuk mengambil barang-barangnya yang ada di atas. Jika ia mengambilnya sendiri, ia takut akan istrinya kenapa-kenapa.


"taruh di sini saja.." tunjuk Dani ke sebelah kirinya.


"baik tuan.."


kemudian terlihat tatapan marah yang dilayangkan Rida. Menatap ke arah putra semata wayangnya itu.


"kamu serius ingin meninggalkan rumah ini Dani? Kamu lupa mama ini yang melahirkan kamu! Kamu tidak boleh pergi dari sini!"


Dani kembali menatap mamanya terheran "loh? Kenapa?? Kan mama sendiri yang suruh aku pergi.. Ini sudah aku lakukan.. Aku akan pergi tanpa membawa apapun, aku sudah miskin sekarang. Jadi, jangan ikut campur masalahku lagi"


"hebat ya kamu Dani.. Hebaaatt!! Demi wanita ini kamu jadi anak yang durhaka. kalau kamu keluar dari rumah ini, jangan harap mama akan menganggap mu sebagai anak mama lagi! Jangan pernah cari mama saat kamu kesulitan! Ingat itu!!"

__ADS_1


Santi mencengkram pelan lengan suaminya dengan perasaan takut. Ia sebenarnya tidak ingin membuat suami dan ibu mertuanya jadi seperti ini. Sementara Dani hanya terdiam dengan wajah datarnya.


"ayo sayang, taksi sudah ada di depan rumah.."


Ya sebelum ia sampai ke sini, ia sempat menyewa taksi untuk mengantarkan mereka ke tempat baru mereka akan tinggal. Santi hanya mengangguk pelan mengikuti suaminya. Ia pun menggenggam erat jari jemarinya, kemudian tangan kirinya menggenggam koper dan beberapa tas lainnya.


Dani tidak mendengarkan ocehan mamanya sendiri, ia terus berjalan perlahan menuju keluar rumah tanpa menoleh ke belakang.


"DANI!!!"


"KAMU TEGA SAMA MAMA DANI!!"


Rida sangat kecewa akan perubahan sikap anaknya itu. Bagaimana pun ia adalah seorang ibu yang telah melahirkan Dani ke dunia. Ia memang mengharapkan Dani memiliki kehidupan yang layak seperti yang diimpikannya. Namun impiannya hancur berkeping-keping saat Dani membawa gadis asing yang diperkenalkan sebagai istrinya.


melihat kepergian anaknya hanya bisa terdiam. Walaupun ia marah, tapi ia sangat peduli akan anaknya. Ia tidak ingin kehilangan putra satu-satunya. tubuhnya berangsur terduduk di lantai, air matanya mengalir, denyut di dada membuatnya sangat nyeri.


"Dani..."


***


Dani sudah mengemas barangnya ke dalam bagasi mobil taksi tersebut dibantu oleh supirnya. Kemudian, supir mulai masuk ke dalam mobil kecuali Dani dan Santi yang masih diluar. Ternyata saat ia hendak masuk mobil, papanya muncul seketika. Karena memang jam kerja sudah selesai jadi tak heran jika Herman sudah kembali ke rumah.


"kamu mau berangkat nak?" tanya papa.


terlihat senyum tipis di bibir Herman.


"papa bangga sama kamu nak.. Maafkan papa tidak bisa membelamu"


"tidak apa-apa pa.. Ini sudah menjadi keputusan Dani, dan bukan kesalahan papa. Oh iya, semua pekerjaan sudah aku selesaikan semua. Sisanya nanti papa saja yang lihat ya"


Santi hanya terdiam melihat suami dan mertuanya mengobrol untuk terakhir kali karena mungkin mereka akan jarang atau tidak akan pernah kemari lagi.


Kemudian tatapan tua Herman jatuh pada Santi. Santi yang merasa ditatap langsung menundukkan kepalanya.


"jangan menunduk nak Santi.. Tataplah papa"


Mendengar suara lembut dari papa mertuanya, ia perlahan menatap dan melihat Herman tersenyum kepadanya.


"maafkan kami ya sudah membuatmu tidak nyaman. Papa sebenarnya tidak masalah jika kamu menikah dengan Dani. Papa menerimamu sebagai menantu papa.. Maafkan papa tidak bisa membelamu di depan mamanya Dani" lirih Herman merasa bersalah pada Santi.

__ADS_1


"sudah pa.. Aku juga sudah maafkan semuanya.. maaf juga karena kita harus pergi dan tidak tinggal bersama lagi"


"papa doakan supaya kalian berdua bahagia"


"terima kasih pa"


Santi mencium punggung tangan papa mertuanya itu sebagai penghormatannya. Lalu di sambung oleh Dani yang memeluk papanya tersebut.


"kami pergi dulu ya pa.."


"iya silakan.."


Mereka mulai memasuki mobil dan supir pun mulai menyalakan mesin mobilnya.


"dah pa.."


"hati-hati ya"


Perlahan taksi tersebut mulai berjalan menjauh dari pekarangan rumah tersebut. mungkin kenangan di rumah itu tidak akan pernah hilang dari benak Dani. Namun, ia tidak ingin membuat istrinya tidak nyaman berada di sana.


Kepala mungil Santi mulai bersandar di bahu lebar suaminya. Dani pun merespon dengan mengelus pelan rambutnya itu.


"mas.. Apa mama sama papa tahu rumah yang akan kita tempati?" tanya Santi.


"hm? Tidak.. Tidak ada yang tahu kecuali mas dan kamu nanti,"


"tempatnya bagaimana mas? Apakah cukup untuk kita?"


"lumayan menurutku.. Tapi sayang, maaf ya jika kita ngontrak rumah dulu, mas cuma punya uang pas-pasan dan tidak mampu beli rumah. maaf sebelumnya belum bilang ke kamu"


"tidak apa-apa mas.. Selama ada kamu, pasti aku suka hehe"


Dani tersenyum mendengar jawaban polos istrinya itu. Ia sangat beruntung dipertemukan dengan wanita yang menerima apapun keadaannya. Bahkan saat jatuh seperti ini Santi tetap menemaninya.


Lokasi yang ditempuh memang cukup jauh. Dani memilih sebuah kontrakan yang lumayan besar serta lokasi yang cukup strategis dimana akses jalan raya dari kontrakan tersebut sangatlah mudah. Tempatnya juga tidak terlalu mahal jadi sangat sesuai untuknya.


"ini berhentinya di mana ya pak?"


"bentar lagi ada pager warna hitam berhenti aja bang"

__ADS_1


Yap.. Lokasinya sekarang hampir mendekati tempat tinggal Dani yang baru. butuh waktu 2 jam untuk sampai ke lokasi tersebut. Dan mobil pun berhenti pepat di depan pagar hitam. Saat dilihat, dan memang benar itu adalah rumah mereka yang baru.


"sudah sampai.."


__ADS_2