
Keadaan dibawah sana benar-benar diluar ekspektasi. Rida hanya bisa menghela nafas kasar berulang kali. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya itu. Kenapa ia begitu membela gadis itu dibandingkan dirinya. Bahkan Dani sudah berani melawannya dan berbicara keras padanya.
"sudahlah ma.. Dani sudah dewasa jangan bersikap seperti itu"
"tapi pa.. Kenapa dia bisa kenal dengan gadis itu? Terlebih Dani kelihatan sangat peduli dengannya.. Mama yakin ada sesuatu yang janggal.. Pasti dia sudah guna-guna Dani untuk mau menikah dengannya"
Herman menoleh ke arah istrinya dengan tatapan tidak suka. Walaupun ia pun syok akan putranya yang sudah menikah tanpa seizinnya tapi ia tidak melarang anaknya untuk menikahi gadis yang ia sukai.
"mama apaan si.. Mikirnya kejauhan.. gak mungkin gadis itu guna-guna Dani. Lagipula papa lihat dia anak yang baik dan gak mungkin sampai melakukan hal itu"
"mungkin saja kan pa.. Dani tidak pernah bersikap seperti ini sama mama. Dan.. Mereka menikah juga tanpa restu dari kita.. Gimana mama gak curiga"
"sudahlah ma.. Mama jangan berpikiran aneh-aneh.. Biarkan Dani hidup bahagia dengan pilihannya. Jangan diusik lagi anakmu itu"
Rida kesal akan ucapan suaminya yang lebih memihak pada anaknya dibanding dirinya. Ia lalu melihat ke arah Milly yang masih terdiam di sana. Mungkin ia juga syok akan kehadiran Dani bersama seorang wanita. Padahal ia sudah menjanjikan dirinya untuk menikah dengan anaknya.
"Milly.. Maafkan Dani ya. Tante juga tidak menyangka kalau Dani sampai seperti itu"
Wajah Milly yang terdiam tiba-tiba mengembangkan senyumnya.
"tidak apa-apa Tan.."
"Milly.. Tante harap kamu tidak membenci kami ya. Tante janji akan menyatukan kalian berdua dan menyingkirkan gadis itu yang sudah membawa sial di keluarga ini"
"baik Tante.."
"oh iya, kalau begitu kamu menginap di sini untuk beberapa hari mau? Biar Tante yang menyiapkan semuanya untuk kamu"
"boleh deh Tan.. Aku bilang ke mama dulu ya"
"iya sayang.."
Rida menyayangi Milly bak anaknya sendiri. Padahal Milly sangat cantik tapi kenapa dia tidak tertarik malah justru menikahi gadis yang asal usulnya tidak jelas. Raut wajah Rida kemudian berubah benci karena memikirkan gadis itu membuatnya muak. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
***
Di dalam kamar, Dani dan Santi kini sedang merapikan barang-barang mereka dari koper ke lemari. Kebetulan lemari Dani masih sangat luas jadi bisa terisi oleh pakaian istrinya. Raut ceria Santi berubah menjadi diam. Kediamannya itu membuat Dani merasa tidak enak hati akan istrinya.
Padahal selama ia dijalan, Santi terus mengoceh tentang keluarganya. Pasti mereka akan senang akan kehadirannya. tapi kenyataannya tidak demikian. Justru Santi ditolak mentah-mentah oleh mereka terutama mamanya.
"udah selesai?"
"udah mas.. Maaf aku pakai lemari kamu untuk mengisi baju-bajuku"
__ADS_1
"tidak apa-apa.. Kalau gitu, aku mandi dulu ya.. kamu juga jangan lupa mandi"
"iya mas.."
Setelah itu Dani memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dulu untuk membersihkan badannya yang lengket setelah berjam-jam di perjalanan. Sementara Santi masih sibuk merapikan kamar Dani yang berantakan.
Pikirannya masih soal masalah tadi. Santi sedih karena kehadirannya tidak disukai oleh keluarga suaminya. Terlebih ia juga syok karena suaminya punya calon istri dan tidak diberitahukan kepadanya. Jika ia tahu dari awal, mungkin ia akan menolak Dani dan tidak menikah dengannya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua telah terjadi begitu saja. Santi hanya pasrah dan menerima keadaannya yang sekarang. badannya sangat lelah, ia memutuskan untuk istirahat di balkon sembari melihat pemandangan dari atas kamar suaminya.
Tidak ada senyum yang mengembang di wajahnya.
"Bu.. Pak.. aku sudah melakukan kesalahan.. Apa yang harus aku lakukan" lirih Santi yang kebingungan. Saat ini ia tidak tahu harus berbuat apa. badannya yang lelah diikuti hatinya yang juga lelah.
tak berapa lama, Dani keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaian ganti di badannya. Ia menggosok-gosok rambut agar bisa kering dengan cepat. Ia mengedarkan pandangannya karena tidak melihat Santi ada di dalam kamar.
"kemana dia?"
Lalu ia pun melihat ke arah balkon dan melihat Santi yang sedang berada di balkon membelakangi dirinya. Ia pun mulai mendekat dan mendengar isakan tangis yang begitu pelan yang berasal dari istrinya.
Dani yang khawatir segera memeluknya. Ia merasa Santi menangis karena kejadian tadi.
"sudah.. Jangan menangis"
"maafkan aku mas.. Karena aku, kamu sama mama bertengkar.. Ini semua salahku. Aku-"
"sttthhh.. Sudah jangan menyalahkan dirimu sendiri.. Ini bukan kesalahanmu, mama memang seperti itu suka memaksa anaknya untuk mengikuti apa yang ia mau.. Dulu aku memang menuruti semua keinginannya, tapi soal menikah aku tidak ingin main-main.. Terlebih sekarang aku punya kamu, aku akan melawan siapapun yang berani menyakiti kamu termasuk mamaku sendiri"
Ibu jari Dani menghapus perlahan air mata yang jatuh dari pipi istrinya itu.
"sudah ya.. jangan berpikiran buruk, anggap ini mimpi buruk.. Dan semuanya akan baik-baik saja"
Santi kembali memeluk suaminya itu. Ia bersyukur karena Dani berada di pihaknya dan membelanya di depan keluarganya. entahlah apa yang terjadi jika Dani tidak membelanya terlebih dirinya di sini hanya sendirian.
"terima kasih mas.. Aku sayang kamu"
"aku juga sayang kamu.."
Dani menciumi semua rea wajah yang besar akibat air mata yang terus keluar.
"sudah kamu mandi ya.. Bersihkan diri kamu dulu"
"iya mas.."
__ADS_1
***
Baru beberapa jam tiba di rumah, tidak ada wajah ceria dari raut Santi. Dari tadi ia hanya diam termenung melihat ke depan. Dani yang baru saja selesai mengerjakan sisa pekerjaannya merasa ada sesuatu yang istrinya pikirkan.
Lalu, ia meletakan laptopnya di atas meja dan mulai berjalan mendekati istrinya yang sedang terduduk di atas kasur.
"kamu kenapa hm? Masih kepikiran yang tadi?" ujar Dani dengan lembut sembari mengelus rambut panjang istrinya.
Santi perlahan mulai menatap wajah suaminya, lalu ia pun bergeleng perlahan menandakan jika ia tidak memikirkan masalah tadi.
"terus kenapa?"
Helaan nafas Santi mulai terdengar "mas Dani kenapa tidak bilang sebelumnya soal ini?"
"soal apa maksud kamu?"
"kenapa mas tidak bilang kalau sudah punya calon istri? Kalau mas bilang, aku.. Aku tidak mungkin menikah denganmu dan juga tidak menyakiti perasaan ibu mas." lirih Santi.
Mendengar itu, Dani terdiam sejenak. Lalu ia merapatkan tubuhnya dan membawa Santi ke dalam pelukannya.
"dengar.. Aku memang dijodohkan, tapi hanya fase perkenalan saja.. Dia bukan calon istriku karena aku tidak merasa dia punya hubungan denganku."
"jadi kamu tidak usah memikirkan apapun tentang kejadian tadi ya.. aku tidak ada hubungan apapun dengan Milly. Aku cuma sayang dan cinta sama kamu saja"
Dani menggelitiki tubuh Santi sehingga menimbulkan tawaan yang renyah darinya.
"hahaha mas.. Hentikan hahaha.. gelii..."
"tidak ah.. Ayo kena kamu hahaha"
"maaaaaaassss..."
Dani merasa bahagia karena mendengar tawaan istrinya kembali. Kemurungannya membuat hatinya sedih. Ia tidak ingin menenggelamkan senyum manis hanya karena masalah keluarganya.
"I love you.."
"hm? Apa itu?"
Lagi-lagi Dani tidak bisa menahan tawanya.
"aku cinta kamu sayang" ujar Dani sembari memeluk tubuh mungil istrinya itu.
"aku juga mas.."
__ADS_1
"jangan nangis-nangis lagi ya.. ada mas yang selalu ada buatmu"