
Jantung Dani tak berhenti berdetak kencang. Ia semakin merasa tegang karena belum mendengar mereka mengizinkannya untuk menikahi putri mereka.
"Bu, panggilkan Santi ke sini.. bapak mau bicara dengannya"
"baik, pak"
Ibu langsung berdiri dan pergi ke kamar anaknya yang sedari tadi belum keluar kamar. ketiga pria tersebut masih terdiam tidak ada yang berbicara. Kemudian, pintu kamar Santi pun terbuka menampilkan ibu yang lebih dulu keluar, terus diikuti oleh Santi di belakang.
"ada apa pak?"
"sini.. Duduk dekat bapak.. Bapak mau bicara sama kamu"
Santi mengangguk, lalu ia pun duduk di sebelah bapaknya dan ibu Narmi duduk di sebelahnya.
"Santi.. Menurutmu Nak Dani seperti apa?"
"maksud bapak?"
"ungkapkan saja apa yang kamu tahu"
Santi melirik sejenak ke arah Dani yang menatapnya setelah itu kembali menatap sang ayah.
"mas Dani orangnya baik pak.."
"lagi?"
Walaupun Santi belum mengenal Dani, tapi ia selalu memperhatikan Dani secara diam-diam. Ia menjelaskan semua yang ia tahu kepada bapaknya.
"itu saja?"
"iya.." jawabnya dengan jujur. Karena ia sangat polos jadi tidak mudah untuk dia berbohong.
"kamu suka sama Nak Dani?"
"ha? A-aaaku.."
Santi merasakan kegugupan yang luar biasa saat ditanya hal seperti itu oleh pak Ujang. Jantungnya berdetak kencang sembari sesekali menatap ke arah Dani.
"a-aaku.."
"tidak apa-apa.. Jujur, bapak ingin mendengarnya langsung dari kamu"
wajahnya tiba-tiba merona, karena malu jadi Santi menundukkan kepalanya sembari memainkan jarinya.
"A-aaku.. I-iiya.. Aku suka" lirihnya jujur.
Mendengar itu, Dani yang awalnya tegang mengembangkan senyumnya. Bahkan Nathan pun ikut senang karena perasaan sahabatnya akhirnya terbalas juga.
"kamu menyukai nak Dani?"
Santi hanya mampu mengangguk sembari menunduk karena ia malu harus menatap pria yang ia sukai ada di depannya. Terlebih lagi, ia harus berkata jujur di depan semuanya.
Lalu pak Ujang, menatap Dani dan memberikan kode padanya agar Dani yang menceritakan langsung apa maksud semuanya. Dani mengangguk paham lalu kembali menatap Santi yang masih menundukkan kepalanya.
"Eumm.. Santi, tolong lihat aku sebentar"
__ADS_1
Ia pun mengangkat wajahnya perlahan dan melihat ke arah Dani yang masih menatapnya.
"aku senang kamu juga suka padaku.. Aku cuma ingin bilang, kamu mau menikah denganku?"
Lagi-lagi dia dibuat syok karena Dani tiba-tiba melamarnya.
"apa?"
"kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Dani dengan suara sedihnya.
Santi pun terdiam dan menunduk kembali. Tangannya meremah kerah bajunya. Nafasnya tersengal dan jantungnya berdebar kencang. Santi sangat bingung untuk menjawab lamaran Dani.
"nak, pikirkan baik-baik.. Nak Dani melamarmu sebelum ia pulang ke kota dan tidak akan pernah kembali ke sini. Jadi putuskan kalau kamu menolaknya, kamu tidak akan pernah bertemu dengan Dani lagi"
Mendengar itu, Santi langsung menatap Dani tidak percaya. Ia senang karena Dani berada di rumahnya karena ia satu-satunya teman yang ia miliki.
"namun jika kamu menikah dengan nak Dani, kamu akan terus bersama Dani.. kamu pilih mana?"
"Aku.. Aku.."
Santi tidak ingin kehilangan Dani. Ia baru saja merasakan kenyamanan berada di dekat laki-laki. semuanya terdiam menatap Santi karena dia satu-satunya orang yang akan memutuskan untuk menikah atau pun tidak.
"aku tidak mau kehilangan mas Dani.." lirihnya sedih.
"jadi?"
"aku.. Aku menerima lamaran mas Dani pak"
Mendengar Santi menerima lamaran itu, semuanya lega terutama Dani yang sangat senang karena cintanya terbalaskan. Nathan pun ikut bahagia dengan memeluk sahabatnya itu.
"Santi.. Terima kasih karena kamu mau menerimaku"
Santi hanya tersenyum malu sembari menganggukkan kepalanya.
"karena Santi menerima, maka ibu dan bapak juga menerima kamu sebagai menantu kami"
"terima kasih pak.."
Dani tak henti-hentinya mengembangkan senyum di wajahnya. Baru kali ini ia merasakan kenikmatan cinta yang terbalaskan. Selama dari hidup, ia tidak pernah akan jatuh cinta pada seorang wanita. Tapi kali ini justru dirinya terpincut oleh gadis desa dimana dia sendiri tersesat di dalam hutan.
"tapi, kalian menikahnya kapan?" tanya Nathan.
Pertanyaannya itu sukses membuat semuanya kembali terdiam. Dani juga bingung kaoan dirinya melangsungkan pernikahan, apalagi tidak ada kedua orang tuanya yang mendampingi.
"itu jadi urusan bapak.. Nak Dani, walaupun tanpa kedua orang tuamu, pernikahanmu dan Santi akan tetap sah secara agama dan negara. jadi kamu tidak usah khawatirkan itu"
"iya pak.."
"untuk prosesi nikahnya akan dilakukan malam ini, tepat di jam 1 dini hari."
"apa?!"
Dani dan Nathan ikut syok karena Dani akan menikah malam ini juga di jam dini hari.
"mungkin ini terdengar aneh. Tapi memang, biasanya warga di sini menikah di jam seperti itu. Tapi, tenang saja. Pernikahan kalian berdua tetap sah. Ini hanya acara adat kami saja"
__ADS_1
"baiklah Nak Dani, Santi persiapkan diri kalian.. Kalian akan menikah malam ini. Ibu, bawakan penghulu ke rumah kita ya"
"baik pak"
Santi sudah kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Karena ia akan bangun larut malam untuk menikah dengan lelaki pujaannya. sementara pak Ujang pergi menyiapkan pernikahan kedua anaknya itu.
"cieee.. Senyum terus hahaha"
"gue senang Than.. begini ya rasanya kalau lagi jatuh cinta"
"ah lu.. Makanya jangan jadi jomblo akut"
"bentar lagi kan gue gak jomblo yeee" ejek Dani kembali.
"iya dah yang mau nikah mah beda.. Udah sana lu tidur, lu harus bangun lebih pagi"
"iyeee"
***
Tepat jam 12 malam, semua anggota keluarga pak Ujang sudah terbangun. Terutama Dani dan Santi sudah siap dengan pakaian adat yang mereka kenakan malam ini.
Acara pernikahannya akan digelar di sebuah tempat dekat dengan hutan dan itu sudah disiapkan pak Ujang serta dibantu oleh beberapa orang di sana.
Santi pun tampak cantik dan sangat manis karena makeup tipis dengan dibalut pakaian adat khas desa itu. Bebacaan pun di mulai. Nathan dan ibu Narmi ikut menyaksikan pernikahan mereka dari jarak yang lumayan sedikit jauh.
Di sana ada pak penghulu serta pak Ujang yang sedang membacakan ritual pernikahan mereka. Setelah mengucapkan ijab kabul, pak Ujang membacakan ritual terakhir sebagai penyempurna pernikahan mereka.
dan sekarang sudah masuk jam setengah 3 pagi, ritual dan bacaan pun telah selesai. dan sekarang Santi dan Dani resmi menjadi sepasang suami istri.
kemudian, tirai yang membentang di tempat itu kemudian menutupi Santi dan juga Dani yang berada di dalam sana. Dani yang sudah resmi menjadi suami Santi pun mulai melakukan aksinya.
Ia perlahan menjatuhkan tubuh Santi ke alas yang sudah di sediakan di sana. mereka pun saling bertatapan satu sama lain. Senyuman mereka mengembang tanda kebahagiaan.
Lalu Dani mulai menutup kedua matanya dan mendekatkan bibirnya menciumi istrinya.
"eungh.."
Dani mulai menggerayangi tubuh molek istrinya dan mulai menciumi leher serta wajah manis istrinya itu.
"kamu cantik sekali" puji Dani.
Tanpa berpikir lama, dia langsung melahap bibir mungil istrinya itu. Santi yang terbuai ikut membalas cumbuan suaminya dan melingkarkan tangannya di leher suaminya.
cumbuan mereka makin panas dan suara lenguhan pun mulai terdengar. Santi yang sudah terbuai nafsu sampai meremas rambut suaminya itu dengan sedikit kencang.
hampir 20 menit mereka bercumbu, akhirnya Dani melepaskan pagutannya.
Eumh... mhhaahh.. Hahh..
Nafas mereka masih berseru kencang bagaikan lari maraton jarak 5 kilo meter.
"terima kasih.." lirih Dani.
Santi pun membalas dengan senyumannya. Lalu mereka pun kembali memeluk satu sama lain dengan posisi masih terlentang dimana Santi berada di bawah dan Dani diatasnya.
__ADS_1