
Rida sangat terkejut mendengar pernyataan Dani yang menyatakan bahwa dirinya akan pergi meninggalkan rumah ini demi istrinya. Dani benar-benar sangat berubah. Rida menggeram marah pada anaknya itu, tangannya pun ikut mengepal karena emosi.
"apa kamu yakin Dani? Kamu ingin meninggalkan rumah ini karena dia?!"
"itu lebih baik, daripada terus menerus mendengarkan pertengkaran dan penyiksaan terhadap istriku.."
Milly yang masih ada di sana pun ikut terkejut mendengar keputusan Dani tersebut.
"mas Dani, tolong jangan seperti itu.. Kasihan Tante"
"lalu istriku bagaimana Milly? Apa aku akan terus membiarkan kalian menyiksanya lagi? Iya?!!"
Dani benar-benar muak dengan perlakuan ibunya terhadap istrinya. Mungkin jika ia memilih pisah rumah, mungkin akan lebih baik.
"mulai besok, aku tidak akan tinggal disini lagi.." tegas Dani pada mamanya.
Rida menyunggingkan senyumnya tanda menantang anaknya sendiri.
"kamu punya rumah uang dari mana hm? Semua yang kamu dapatkan itu berkat kedua orang tuamu.. Jika kamu pergi dari sini, semua aset serta jabatanmu sekarang, detik ini juga akan mama ambil semua! Mama tidak akan membiarkan gadis itu menikmati harta keluarga mama.. Apa kamu sanggup hidup tanpa uang haaa?!!"
Dani menatap mamanya tak kalah tajam "mama menantang ku? Aku tidak seperti mama yang gila harta.. Kalau mama menyita semua asetku, tidak masalah. Aku tidak peduli dengan semua itu! Yang aku pedulikan hanya keselamatan istriku saat ini" Tegas Dani.
Lagi-lagi Rida dibuat marah mendengar jawaban anaknya yang menantang balik dirinya. Biasanya Dani tidak akan pernah menjawab jika dirinya sedang marah. Namun, kali ini lagi-lagi Dani memberontaknya.
"silakan.. Kalau kamu ingin pergi dari sini!! Bawa semua barangmu, dan gadis itu dari rumah ini!! Mama sudah tidak mau berhubungan lagi denganmu!!" bentak Rida pada Dani.
"dan mulai hari ini, kamu tidak usah pergi ke kantor. Karena jabatanmu akan mama berikan pada orang lain!"
Herman yang merupakan papa Dani baru saja memasuki rumahnya karena ia ada ketinggalan barang jadi harus pulang ke rumah. Namun lagi-lagi ia mendengar suara teriakan istrinya dari arah ruang tamu. Dan mendekat ia melihat Rida sedang adu mulut dengan Dani.
"ada apa ini ribut-ribut lagi?! Kalian itu ya sudah dewasa selalu meributkan hal yang tidak perlu! Dan lagi mama, apa-apaan kamu ini sembarangan memutuskan sepihak seperti itu!"
Rida yang baru melihat suaminya pulang, langsung menatapnya tajam. Ia juga kesal karena suaminya itu selalu membela Dani.
"kamu kenapa sih?! Selalu membela anakmu itu! Dia sudah berani melawanku pa.. Seharusnya papa marahi dia bukan malah membelanya!" teriak Rida pada suaminya.
Herman yang masih tidak tahu permasalahannya ia pun menatap ke arah Dani dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"kamu kenapa Dani? kenapa kamu ingin pergi dari rumah dan turun dari jabatanmu?"
Dani menghela nafas beratnya "papa.. Maafkan aku, mungkin aku telah mengecewakan kalian sebagai seorang anak. Tapi pa.. Apa tindakan aku ini salah? Aku sekarang sudah menjadi seorang suami"
"apa papa tahu? Istriku baru ditinggal beberapa jam sudah di perlakukan buruk oleh mereka berdua. Dia dikurung di gudang dan kakinya terkena pecahan kaca sampai tidak bisa berjalan. Hati aku sakit pa istriku diperlakukan seperti itu" ujar Dani dengan raut wajah kecewa yang amat dalam.
Herman membulatkan matanya mendengar pernyataan anaknya itu. Ia menatap tajam ke arah istri dan juga Milly yang ada di depannya.
"apa itu benar ma? Jawab!"
Rida pun tergagap saat ditanya seperti itu oleh suaminya "i-iiya.. Karena mama marah dia sudah memecahkan Gucci kesayangan mama.."
Herman tidak habis pikir jalan pikiran istrinya ini. Kepalanya sangat pusing sampai ia memijat kepalanya sendiri.
"makanya itu pa, aku lebih baik pindah rumah dari sini agar istriku aman dan nyaman. Aku tidak ingin istriku terus disakiti mama.."
"aku memang seorang anak dan harus patuh pada orang tua, tapi aku juga seorang kepala rumah tangga. Sudah tugasku untuk melindungi istriku pa.. Aku sudah berjanji pada kedua orang tuanya untuk menjaga dan melindunginya di sini. Aku juga tidak ingin mengecewakan kedua mertuaku yang berada jauh di sana" Ujar Dani dengan tegas.
Herman terdiam sejenak memikirkan keputusan Dani tersebut. Keputusan Dani memang sangat terburu-buru karena ia masih ada sisa tanggung jawab yang harus diselesaikan di kantor. Tapi di satu sisi dia merasa bangga karena anaknya sudah tumbuh jadi pria sejati yang membela istrinya di depan keluarganya sendiri.
Herman tersenyum dan menepuk bahu Dani dengan pelan "kamu sedang marah, diskusikan dulu dengan istrimu.. papa mengizinkan kamu untuk pindah rumah"
Dani tersenyum tipis mendengar jawaban dari papanya itu.
"sebelum itu, pastikan semua sudah kamu selesaikan. Jika telah selesai, kamu boleh pilih kehidupanmu sendiri"
"baik pa.. Tapi, sebelum itu.."
Dani mengeluarkan beberapa kartu yang merupakan menjadi aset yang selama ini menemaninya. Di sana ia mengeluarkan beberapa kartu bank yang menyimpan uangnya di sana.
"ini aku kembalikan.. Mama tadi menyuruhku untuk mengembalikan semua aset, dan aku setuju.. Hari ini aku akan usahakan menyelesaikan semua pekerjaanku"
"aku harus kembali ke kantor.. Aku akan bawa Santi bersamaku. Aku takut jika dia di sini akan diperlakukan buruk oleh kalian lagi" ujarnya dengan datar.
Lalu ia pun pergi meninggalkan mereka yang berada bersamanya. Begitupun dengan Herman yang menuju ke ruang kerjanya untuk mengambil barangnya yang ketinggalan.
***
__ADS_1
Dani membuka pintu kamarnya dan melihat istrinya sudah terbangun dari tidurnya.
"kamu sudah bangun sayang?"
"sudah mas.."
Dani mendekati Santi dan duduk di tepi kasur.
"mas mau ke kantor lagi.. Kamu ikut sama mas yuk" ajak Dani.
Santi bingung akan ucapan suaminya itu "untuk apa mas?"
Dani dengan wajah sendu, ia menangkup jadi jemari istrinya.
"mas tidak akan meninggalkanmu lagi.. Ingat janji mas? Mas akan selalu melindungi mu.. Aku tidak akan membiarkan hal buruk seperti ini terjadi lagi padamu.. Makanya itu lebih baik kamu ikut mas ya" ujarnya lembut.
"tapi aku harus apa? Aku tidak tahu"
"tidak harus berbuat apa-apa.. Kamu hanya duduk menungguku selesai kerja ya.. Ayo, aku bantu"
Tidak ingin bertanya lagi, ia hanya mengangguk patuh pada perkataan suaminya itu. Setelah itu, Dani menggendong tubuh istrinya dan membawanya menuju ke bawah. Untuk kursi roda ia menaruhnya di mobil, jadi Dani harus menggendong istrinya sampai menuju ke mobil.
Saat di bawah, Rida melihat pemandangan yang sangat ia benci yaitu keharmonisan Dani beserta Santi sang menantu. Rida menganggap jika Santi telah merebut hati anaknya dan menghasutnya untuk membenci dirinya.
tatapan benci itu rupanya diketahui oleh Dani. Ia hanya melewati mamanya begitu saja tanpa menyapanya. Awalnya Dani juga menyerahkan kunci mobil tersebut karena itu aset pemberian kedua orang tuanya. Namun, papanya melarang dan masih mengizinkan Dani untuk memakai kendaraan itu.
"kaki kamu sudah baikan?"
"sudah kok mas.."
"ya sudah, kita ke kantor dulu ya.."
Dani mulai menyalakan mesin mobilnya itu, dan meninggalkan pekarangan rumahnya itu. Diperjalanan ia hanya terdiam dan fokus menyetir. Ia sama sekali belum berbicara soal keputusannya untuk pergi dari rumah pada istrinya ini.
"yang.. Ada hal yang aku ingin bicarakan sama kamu"
"apa itu?"
__ADS_1
"kita bicara setelah selesai aku meeting ya.."
"baiklah.."