
Dani dan Nathan tengah bersiap untuk kepulangannya hari ini sebab mereka sudah berhari-hari menginap di sana. Dan tak lupa terutama Dani yang sekarang tidak pulang berdua melainkan bertiga bersama istrinya.
"udah selesai semuanya?" tanya pak Ujang.
"sudah pak.. Tinggal nunggu Santi bersiap"
Mereka pun mengeluarkan barang-barang yang akan dibawa pulang. Hanya yang inti saja.
"ini.. Makanlah saat istirahat di perjalanan" ujar Bu Narmi memberikan makanan dibungkus dengan daun serta dilapisi plastik.
"makasih Bu.. maaf selama ini kamu merepotkan kalian berdua" ujar Dani.
"tidak kok.. Justru kami senang dengan kedatangan kalian membuat rumah kami jadi lebih ramai" ujar ibu.
kemudian, datanglah Santi yang sudah bersiap mengenakan pakaian khas kota yang baru dibelikan ayahnya kemarin. Dani yang melihat Santi yang sangat berbeda tersenyum kagum.
"aku udah siap mas.."
"wah.. anda cocok sekali nyonya" ujar Nathan memuji Santi mengenakan pakaian ala kota di jaman itu.
"ah biasa saja" balas Santi tersipu.
Kemudian Santi memeluk kedua orang tuanya sebagai tanda perpisahan karena ia akan ikut dengan suaminya ke kota.
"aku pergi ya pak.. Bu.."
"jaga diri kamu baik-baik ya.. Jangan menyusahkan suamimu" nasehat sang ibu.
pak Ujang dan Bu Narmi meneteskan air mata karena tidak tahan akan kepergian putri semata wayang mereka.
"nak Dani.. bapak titip Santi ya"
"iya pak.. Saya akan jaga Santi"
Lalu kedua pemuda tersebut mengalami kedua orang tua itu.
"kalau begitu kami pergi ya pak.. Bu.."
"iya nak Dani, nak Nathan.. Untuk jalannya Santi bisa membantu kalian untuk keluar dari hutan itu"
"baik pak.."
mereka pun mulai melangkahkan kakinya menjauh dari area rumah tersebut.
"selamat tinggal pak.. Bu.."
"hati-hati ya sayang.."
Santi memegang tangan suaminya dengan erat. Mereka mulai berjalan menjauh dari rumah itu untuk menuju ke hutan. melihat kepergian mereka, Bu Narmi masih menangisi putrinya itu. Pak Ujang pun memeluk istrinya untuk memberikan kekuatan agar tidak bersedih.
"sudahlah Bu.. Kita ikhlaskan Santi pergi bersama suaminya"
"iya pak.. Ibu cuma tidak menyangka Santi akan berpisah dari kita.."
"sudah-sudah.. Daripada kita sedih terus, kita doakan supaya Santi dan suaminya selalu bahagia di sana"
"aamiin"
***
sementara mereka bertiga sudah setengah perjalanan, perlahan namun pasti dan sekarang sudah hampir sampai menuju hutan yang merupakan tempat keluar masuk jalur ke kampung ini.
"Yang.. Kamu benar tahu jalan keluar hutan ini?"
"tahu kok.. Mas Dani sama mas Nathan harus yakin kalau kita bisa keluar dari sini.. Dan nanti akan keluar dengan mudah"
__ADS_1
"ya sudah.. Ayo kita masuk"
Mereka mulai memasuki area hutan yang sangat luas. Cahaya yang masuk hanya sedikit jadi hanya terdapat remang-remang cahaya yang menerangi jalan mereka. Santi yang terbiasa masuk hutan berjalan dengan santainya. Ia jalan lebih dulu, sementara Dani dan Nathan berada dibelakangnya. Melihat tingkah istrinya yang sangat semangat membuat Dani tersenyum.
"San.. Gak nyangka lo bakal pulang bawa anak orang haha"
"iya juga ya.."
Dengan bersenandung, Santi menyusuri jalanan hutan dengan melihat kanan dan kiri.
"jalannya hati-hati sayang.. Jalanan Nya tidak mulus, takut kamu jatuh"
Dani memperingati Santi agar berhati-hati karena jalanan yang mereka lewati itu tanah yang sedikit bergelombang.
"iya mas.."
perjalanan mereka di nikmati dengan santai. Suasana yang masih pagi sangat segar di sana. Tidak ada polusi udara jadi bisa bernafas dengan tenang.
hampir setengah jam mereka berjalan dan sekarang keadaan mereka masih terus menyusuri jalanan hutan. Mereka saat ini sudah berada di tengah-tengah hutan yang sedikit berkabut karena masih terlalu pagi, jadi cahaya matahari masih tidak cukup untuk mengusir kabut-kabut tersebut.
Kini Santi berada di samping suaminya dengan menggenggam erat tangan besar milik Dani. Kemudian, langkah mereka menjadi waspada saat mendengar sesuatu yang mulai mendekati mereka.
"siapa itu?" ujar Dani siaga.
Kemudian suara tersebut terdengar lagi. Dani dan Nathan seketika mengeluarkan senjata yang memang ia bawa untuk berburu seperti tujuan awal ia datang ke sana.
"mas.. Ada apa?"
"ssttt.."
Dani dan Nathan bersiap untuk menembak sumber suara tersebut. Namun Santi masih terdiam menyimak suara yang ia dengar itu. Saat mereka hendak menembak, tiba-tiba..
"Berhenti!"
"ada apa?"
Dia tidak menjawab ujaran suaminya itu, lalu ia langsung berlari ke arah sumber suara. Dani melihat istrinya berlari mulai panik karena keadaan hutan yang penuh dengan kabut.
"sayang kamu mau kemana!! Jangan lari sendirian!" Pekik Dani melihat kepergian istrinya tiba-tiba.
"ayo Dan.."
Mereka lantas mengikuti Santi berlari. Dengan tergesa mereka berdua mempercepat larinya.
"sayang kamu dimana?!!"
"Santi!!"
Mereka berdua berlari dengan tergesa. terutama Dani yang panik karena Santi tidak menjawab panggilannya itu.
"Santi!!"
"Santi kamu dimana?!"
Namun setelah beberapa menit berlari, terdengar suara Santi menjawab panggilan tersebut.
"aku di sini mas.."
Dani dan Nathan mengedarkan pandangannya dan memfokuskan telinga mereka untuk mengikuti suara Santi yang menjawab panggilannya itu.
"di sana Dan.."
"ayo.."
Mereka berdua berlari melintasi jalanan yang penuh dengan kabut. Karena kabut itu lah menyulitkan pandangan mereka untuk melihat ke depan. Lalu, setelah berlari cukup jauh, perlahan kabut tersebut mulai berkurang. Mereka pun bergegas untuk berlari kembali sehingga kabut yang membelenggu mereka akhirnya hilang.
__ADS_1
lalu, Dani melihat istrinya tengah memeluk dan mengelus sayang sebuah rusa dengan tanduk yang sangat besar. Dani kaget karena itu adalah rusa yang ia buru pas awal masuk ke hutan. Ditambah raut wajah khawatirnya masih ada, ia pun langsung berlari menuju istrinya.
mendengar suara langkah kaki dengan cepat, Santi yang membelai rusa tersebut menoleh ke arah samping kanannya dan melihat suami serta temannya berlari menuju dirinya.
"mas.."
Santi pun merentangkan tangannya, lalu di sambut dengan pelukan Dani yang sangat hangat.
"kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?"
"aku tidak apa-apa mas.."
"Santi.. Tolong kamu jangan bertindak seenaknya.. Kalo kamu hilang tadi bagaimana?! jangan buat kami khawatir" ujar Nathan yang kesal karena Santi menghilang tiba-tiba. Seketika, raut wajah bersalahnya pun mulai muncul.
"maaf.. Abisnya aku dengar langkah kaki rusa, dan aku juga takut kalian menembaknya jadi aku berlari untuk menyelamatkan rusa ini"
"tapi jangan berbuat seperti itu lagi ya.. Bahaya.." kali ini Dani yang memberikan wejangan atas kelakuan istrinya itu.
Santi pun menunduk "iya mas.. Maafkan aku"
Dani pun menghela nafas kasarnya, lalu membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Kecupan hangat pun hinggap di dahinya untuk menenangkan istrinya.
"sudah.. Yang penting kamu selamat. Tapi, jangan diulangi lagi ya"
"iya.."
Pandangan Dani dan Nathan jatuh pada rusa yang masih berdiri di sana. Santi pun kembali mendekati rusa itu kembali dengan diikuti oleh kedua pria tersebut.
"kamu tenang ya.. tidak ada yang jahat sama kamu kok.. Kamu pergi ya.. Jaga diri baik-baik" ujarnya pelan pada rusa tersebut.
Entah rusa tersebut mengerti atau tidak, tapi setelah Santi mengatakan hal itu, tubuhnya pun mulai bergerak menjauhi Santi serta Dani dan Nathan.
"dah rusa.."
Dani tersenyum tipis melihat kebaikan Santi pada hewan-hewan di sekitarnya. Lalu Santi pun kembali berbalik dan mulai menggenggam tangan suaminya.
"ayo kita lanjut jalan lagi"
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka karena perjalanan mereka masih jauh untuk menempuh ujung hutan agar mereka bisa keluar dari hutan itu.
***
Setelah lama berjalan, energi mereka perlahan berkurang. Lelah dan letih mulai terasa terlebih mereka membawa barang bawaan yang berat jadi cepat lelah.
"haduh.. Dan, kita istirahat dulu sebentar sekalian makan dulu.. Udah capek banget nih"
Dani yang melihat temannya kelelahan, ia pun mengangguk. Ia melihat ke arah Santi yang juga kelelahan karena berjalan terus menerus. Akhirnya mereka pun duduk di bawah pohon rindang untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
"Santi.. kira-kira kita sudah ada di mana?" tanya Nathan. Karena Santi memang mengenal hutan itu jadi dia seharusnya tahu jika sekarang lokasi mereka ada di mana.
"ini udah mulai sampai ujung.. Sebentar lagi kita bisa keluar dari hutan ini kok"
"ayo makan dulu.. Sampahnya jangan berserakan ya"
Mereka beristirahat sekaligus makan cemilan yang sudah di siapkan oleh Bu Narmi untuk mereka. Berjalan cukup jauh membuat perut mereka pun terasa lapar. terlihat Nathan sangat lapar sekali. Sementara Dani dan Santi saling menyuapi satu sama lain.
10 menit berlalu, perut mereka pun sudah terisi dan rasa lelah dan letih mulai perlahan hilang.
"udah selesai?"
"udah nih.."
"ayo kita lanjut.."
Mereka mulai mengambil tas mereka kembali untuk melanjutkan perjalanan. Untuk sampah bekas mereka, di simpan di dalam tas khusus agar tidak mengotori hutan.
__ADS_1