
Dani dan Santi merasa bahagia menghabiskan waktu bersama. Setelah makan malam, Dani sengaja tidak pulang ke rumah lebih dulu dan mengajak istrinya untuk jalan-jalan dan menghadiri acara festival yang menjual berbagai makanan.
Santi sangat berbinar saat melihat ini semua. Dani membawa Santi untuk melihat ke sana dan membeli berbagai macam makanan untuk menjadi cemilannya di rumah. Karena ia yakin, jika Santi tidak diizinkan untuk mengambil apapun di rumahnya.
Setelah itu, Dani juga mengajak Santi untuk berbelanja cemilan di minimarket. Santi awalnya ragu karena harganya lumayan mahal. Tapi karena suaminya memaksa jadi ia memilih seperlunya untuk dibawa pulang.
"mas.. Habis ini kita mau kemana?"
"kamu mau kemana? Mau jalan-jalan lagi ayo"
"tapi mas.. Ini sudah malam, mending kita pulang aja yuk"
Dani tersadar jika ia sudah menghabiskan banyak waktu diluar dan sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ada rasa malas juga karena harus pulang dan pasti akan ada keributan lagi. Tapi ia melihat ke arah istrinya, melihat keadaan Santi yang mulai mengantuk.
"ya sudah.. Ayo kita pulang"
Akhirnya Dani melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Keadaan malam yang sepi tak membuat Dani takut menyusuri jalanan. Tak berselang lama, mobilnya pun telah sampai di depan gerbang rumahnya. Pintu gerbangnya itu otomatis terbuka jadi Dani tidak perlu bersusah payah membukanya.
Ia menghentikan mobilnya saat sudah masuk garasi. Hari ini ia sangat senang bisa menghabiskan malam bersama sang istri.
"kamu senang?"
Santi mengembangkan senyumnya "aku senang mas.. Nanti kita jalan-jalan malam hari lagi ya"
Dani mengecup pipi Santi dengan singkat. Lalu mereka keluar secara bersamaan. Santi tidak membawa belanjaannya karena Dani yang mengambil alih membawa belanjaan cemilan itu.
Dengan santai, Dani membawa Santi masuk ke dalam rumahnya. Kebetulan ia membawa kunci cadangan jadi walaupun rumahnya terkunci ia tetap bisa masuk. Saat mereka masuk ke dalam, terlihat Rida yang masih belum tidur menghadap ke mereka berdua ditambah Milly di belakangnya.
"dari mana saja kamu?!"
Dani hanya melihat ke arah mamanya dengan datar, sementara Santi tertunduk takut melihat wajah dari mama mertuanya itu.
"bagus ya kamu jam segini baru pulang? Dan itu kamu bawa apa? Mama sering melarang kamu untuk tidak membeli makanan dari luar Dani.. Kenapa sekarang kamu sering membantah mama sih?"
"sudah ma.. Dani tidak mau ribut.. aku dan istriku mau istirahat" jawabnya dingin.
Melihat perdebatan anak dan ibu itu kembali, Milly akan memanfaatkan situasi agar Rida semakin dekat dengannya. Dengan itu, ia akan mengambil hati Dani lewat Rida dan juga menguasai semua hartanya Dani.
"mas Dani.. Mama sudah bersusah payah memasak untuk kamu. Seharusnya kamu lebih menghargai mamamu dibandingkan istrimu itu"
Dani kembali menatap tajam Milly "jangan pernah ikut campur urusan keluargaku! Kamu bukan keluarga disini!"
"siapa bilang dia bukan keluarga? Dia ini sudah mama anggap anak mama bahkan akan menjadi menantu mama.. Milly anak baik dan lebih dari istrimu itu"
"terserah! Sudahlah Dani muak terus-terusan debat"
kali ini Dani sudah lelah untuk berdebat dengan mamanya. Ia menarik tangan Santi untuk menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sementara kedua wanita itu menatap kesal khususnya pada Santi.
"Tante.. Kalau dibiarkan terus, mas Dani akan ada dibawah kendalinya. Kalau benar dia menikah karena harta gimana Tan? Bisa habis nanti" ujar Milly memprovokasi.
"kamu benar.. Tante akan cari cara untuk memisahkan mereka berdua dan menikahkanmu dengan Dani. Tante tidak mau punya menantu udik seperti dia"
***
__ADS_1
Sementara di dalam kamar, dua sejoli kini sedang memadu kasih mereka di gelapnya malam dan hanya diterangi dengan sinar rembulan. Hati mereka sama-sama cape, jadi memutuskan untuk memaniskan kembali hubungan mereka.
"mas.." ringis Santi saat merasakan gejolak dalam tubuhnya karena sentuhan lembut yang dilakukan oleh Dani.
"mas pengen sayang.. mas capek karena terus berantem sama mama. Aku jadi pengen makan kamu" bisiknya sembari memeluk tubuh sang istri yang sudah polos dan hanya menyisakan pakaian dalam saja.
"lakukanlah mas.."
Dani langsung meraup bibir istrinya dan ********** dengan sedikit kasar. Santi yang sudah terbiasa berusaha mengimbangi permainan suaminya. Kini badan mereka sama-sama polos dan baju mereka berantakan dimana-mana karena Dani yang melemparnya.
lenguhan dan suara rintihan terdengar memenuhi kamar itu. Kebetulan kamar Dani dilengkapi alat kedap suara jadi sekencang apapun suara mereka, tidak akan terdengar keluar.
sudah hampir jam 2 pagi, Dani masih bersemangat bergerak dengan kencang menggoncang tubuh istrinya yang sudah kelelahan.
"mas..."
"sedikit lagi sayanghh..aa-aaa.."
Gerakan Dani semakin cepat dan itu membuat Santi ikut merasakan gejolak yang luar biasa sebentar lagi akan keluar. Suara rintihannya semakin kencang mengikuti alur dari suaminya.
"aku sampai.."
"MAS DANIIIIII...."
***
Alarm kamar sudah berbunyi kencang, tanda hari sudah pagi. Dan yang bangun terlebih dulu adalah Santi karena ia memang terbiasa bangun pagi di jam berapapun ia tidur. Kemudian dengan tubuh polos yang ditutupi selimut ia mematikan alarm tersebut.
Kamar mandi Dani dilengkapi dengan laundry pribadi, jadi Dani terbiasa mencuci pakaiannya sendiri dan tidak ikut digabung dengan keluarganya. Sembari mencuci pakaian, ia juga sembari mandi membersihkan badannya dari sisa-sisa percintaannya dengan suaminya. badannya juga lengket karena peluh.
Air dingin yang memenuhi tubuhnya membuatnya sangat segar. tidak ada rasa lelah dan cape yang hinggap di tubuhnya.
"ahh segar sekali.."
hampir 20 menit Santi menghabiskan waktu diair, akhirnya ia selesai juga. Ternyata cuciannya pun telah selesai, ia langsung menjemur pakaian itu dengan dirinya yang masih dibalut handuk. Setelah semuanya selesai, ia langsung keluar kamar mandi. Di sana masih ada suaminya yang masih tertidur.
Santi memilih baju yang sudah Dani belikan saat ia baru sampai ke kota. Ia memilih baju sedikit kekinian cocok untuk pergi maupun saat di dalam rumah. tak lupa ia dandan sedikit agar wajahnya tidak begitu pucat.
"nah selesai.."
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi tandanya ia harus membangunkan suaminya untuk berangkat bekerja.
"mas.. Bangun.. Udah pagi" ujar Santi membangunkan suaminya dengan nada lembut.
"mas.. Bangun ih"
Kemudian, tubuh dari tiba-tiba diregangkan. "eunghhhhhh.." setelah itu ia pun mengerjakan matanya sembari menguceknya.
"udah jam berapa sayang?" tanyanya parau karena masih belum bangun sepenuhnya.
"udah jam 6 mas.. Kamu kan harus kerja"
"eungghhh.. Malas ah.."
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhnya kembali memeluk sang istri dengan keadaan mata yang masih tertutup.
"aku pengen di sini aja sama kamu"
"kamu ini bicara apa? Ayo bangun.."
kali ini Santi sedikit tegas pada suaminya yang tidak mau bangun. Mendengar nada tegas Santi, sontak membuat Dani langsung terbangun. Dan ia melihat istrinya sudah berdecak pinggang dan melihat tajam ke arahnya.
"ayo bangun mas.."
"i-iiya.. Ini aku sudah bangun hehe"
Karena tidak ingin membuat Santi marah, ia pun segera berlari menuju kamar mandi dengan tubuhnya yang tidak dibalut apa-apa. Santi yang melihat kelakuan suaminya hanya bergeleng.
Selama Dani di kamar mandi, ia menyiapkan keperluan Dani untuk bekerja seperti pakaian, tas dan sepatunya.
"mas.. Aku sudah siapkan semuanya ya"
"iya sayang!" jawabnya dari kamar mandi.
Lalu ia tiba-tiba terhenti saat hendak menuju dapur. Ia ingin sekali membuatkan sarapan untuk suaminya, namun ia masih takut berhadapan dengan mama mertuanya. Tapi, dalam sekejap ia meyakinkan dirinya jika ia harus berani berhadapan dengan mama mertua. Walaupun mama mertuanya itu masih tidak suka padanya, yang penting ia sudah bersikap baik.
Jadi setelah berpikir panjang, akhirnya Santi memutuskan untuk ke dapur seorang diri tanpa di dampingi Dani. Ia turun perlahan sembari menyiapkan mental dan hatinya agar kuat berhadapan dengan mereka semua.
Dengan penuh senyum ia masuk ke dapur dan terlihat ada 2 orang art yang sedang memasak sarapan untuk keluarga ini.
"halo.. Ada yang bisa saya bantu?"
Mungkin terdengar aneh jika ia seorang istri dari tuan rumah mengucapkan salam pada kedua art tersebut.
"eh.. Nona? Sebaiknya anda tidak membantu kami ya. kamu takut anda kena marah"
Justru Santi mengembangkan senyumnya mendengar kalimat tersebut dari mereka.
"aku mau tanya, setiap pagi mas Dani sarapan dan minum apa?"
"tuan biasanya sarapan roti sandwich sama kopi Nona"
"oh begitu.. Biarkan saya buat sarapan untuk suami saya ya"
"tapi Nona-"
"tidak apa-apa"
jadilah Santi ikut bergabung dengan mereka. Santi sangat pandai dalam hal di dapur. Ia membuat sandwich dengan arahan dari art tersebut. Dengan mudahnya ia menyelesaikan membuat sarapan untuk suaminya.
Lanjut ia membuat kopi, namun sebelum itu ia mendengar suara langkah kaki yang menuju ke sana. Ia pun menoleh dan melihat mama mertuanya serta gadis di sampingnya sudah ada di dapur.
"ngapain kamu di sini?! Seenaknya saja main keluar masuk di rumah ini!" bentak Rida pada Santi.
"m-mmaaf ma.. Aku cuma buat sarapan untuk mas Dani" lirihnya se sopan mungkin.
"apa mama?! dengar ya.. Saya ini bukan mama kamu!! Saya tidak Sudi jika kamu memanggilku mama!"
__ADS_1