Mentari Yang Hilang

Mentari Yang Hilang
Munculnya Cinta pandangan pertama


__ADS_3

setelah memandangi Santi cukup lama, dirinya memutuskan untuk pergi menjauh dari Santi agar tidak ketahuan jika dirinya terus menatap ke arahnya. Lalu ia melihat-lihat sekitar sana yang banyak dikunjungi oleh orang-orang.


"ayo-ayo siapa lagi.. Yang menembak tepat sasaran dapat hadiah menarik!"


Dani yang mendengar itu sontak menghentikan langkahnya dan melihat ke arah tempat dimana sang penjual tersebut berteriak untuk memanggil pelanggannya. Karena tertarik ia mencoba mendekati penjual tersebut.


"mau coba tembak Mas? Kalau tepat anda bisa tebus hadiah yang terpajang di sana" ujar pedagang itu pada Dani.


Dani mengedarkan pandangannya pada seisi toko yang memajangkan hadiah untuk pemenang penembak terbaik.


"berapa?"


"sekali main 10rb"


di jaman itu terutama di perkampungan harga 10rb sangatlah mahal untuk sekedar bermain tembakan biasa.


"saya coba main.."


Penjual tersebut mengangguk lalu menyerahkan sebuah senapan panjang pada Dani yang akan ia gunakan untuk menembak.


"jaraknya di ujung sana ya.. Harus kena tanda merah yang ada di tengah itu"


"baik.."


Dani mengambil posisi yang pas untuk menembak peluru tersebut. Ia memposisikan senapan agar bisa pas saat menembak. Posisi Dani yang sedang memegang senapan membuat orang disana turut melihat aksinya.


"eh apa itu?"


"tampan sekali.."


Santi yang memang sudah selesai belanja pun ikut terhenti saat semua orang mengerumuni sehingga ia tidak bisa lewat.


"permisi.. Maaf saya mau lewat" ujar Santi.


Ia pun perlahan menerobos masuk agar bisa pulang ke rumahnya. Namun, lagi-lagi ia berhenti saat melihat pemuda yang ada di rumahnya itu berdiri ditengah jalan sembari memegang senapan. Ternyata Dani pun sama melihat Santi yang sekarang sedang menatapnya.


Dani menghela nafasnya agar bisa tenang saat menembak. Dengan perlahan, ia menekan pedal peluru dan..


DOR!!"


"Yeeeeeee!!!!"


Dani tersenyum lebar saat tembakannya itu tepat mengenai tanda merah yang berada di tengah. Lalu pandangannya kembali jatuh ada Santi yang sedari tadi menatapnya. Mereka berdua saling melempar senyum indahnya. Namun, Santi yang salah tingkah pun segera tersadar dan pergi dari sana melewati Dani yang sedari tadi menatapnya.


"hebat sekali..."

__ADS_1


"iya hebat.."


Banyak gadis dewasa yang memberikannya tepuk tangan karena kagum akan Dani yang menembak tepat sasaran. Sementara Dani kini sibuk memilih hadiah yang akan ia bawa pulang. Ia mengedarkan pandangan ke tempat berkumpulnya hadiah-hadiah, disana ia melihat gelang tangan yang sangat cantik.


"saya mau yang itu" tunjuknya pada sebuah gelang.


Penjual langsung mendekati benda yang ditunjuk oleh Dani "yang ini?"


"iya"


Lalu ia menghampiri Dani dengan membawa gelang tersebut ditangannya "Silakan.." penjual itu menyerahkan gelang yang sudah Dani dapatkan. Dani tersenyum dan mengucapkan terima kasih karena sudah bermain.


Akhirnya karena sudah puas, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah pak Ujang dengan membawa hadiah gelang yang ia simpan di saku celananya.


***


"ibu.. Ini belanjaannya"


"iya.. Bantu ibu masak ya"


"nanti aja Bu.. Aku mau lihat domba-domba dulu ya" ujar Santi sembari berlari ke arah luar pintu. Narmi yang kesal mengejar anak gadisnya itu yang pergi saat dirinya membutuhkan bantuan.


"hey Santi! Tunggu!"


Santi berlari sekencang mungkin untuk menuju peternakan domba yang sekarang sedang makan di ladang dekat dengan rumahnya. Aktivitasnya memang selain membantu ibunya, ia juga kadang bermain dengan banyak hewan.


"halo semua.. Maaf aku baru ke sini hehe.."


Lalu santi mengambil rumput dan memberikannya pada domba yang ia dekati satu persatu. Rasa bahagia memuncak dihatinya. Walaupun ia hanya bermain dengan hewan, itu tak membuat dirinya kesepian. Ia berlarian diikuti domba-domba yang ada di sana dan juga bersenang-senang.


***


"huffttt... Capeknya.." keluh Dani.


Ia baru saja sampai di depan rumah pak Ujang setelah berjalan mengelilingi desa itu lebih tepatnya mengelilingi area pasar aja. Ia duduk di tepi tangga sembari mengibaskan bajunya yang digunakan sebagai kipas.


Saat sedang asik mengipas, ia mendengar suara canda tawa dari kejauhan walaupun begitu tawanya tersebut sangat jelas terdengar ditelinganya. Lalu, ia memfokuskan pandangannya ke depan lebih tepatnya ke kumpulan domba-domba itu.


tiba-tiba Santi muncul di kerumunan domba itu dengan memainkan rambut panjangnya. Dani melihat betapa asiknya santi bermain dengan domba-domba tersebut. tak terasa ia menyunggingkan senyumnya saat melihat Santi bermain kejar-kejaran bersama dengan domba.


Nathan pun melihat Dani yang sudah pulang, segera keluar menghampirinya. Ternyata Dani sedang melihat lurus ke arah depan dimana di sana ada sebuah ladang yang cukup luas nan hijau membentang. Nathan duduk di sebelah sahabatnya itu tak lupa dengan menepuk bahunya pelan.


"lihatin apa sih? Dari tadi pandang ke depan terus?"


Dani tak menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. Pandangannya masih terus berfokus ke depan. Merasa penasaran, Nathan mengikuti pandangan yang Dani lihat. Dan ternyata ia melihat Santi sedang bermain dengan sekumpulan domba dan memberikannya makan. Nathan mengembangkan senyum jahilnya. terdiam ya Dani, Nathan menyimpulkan jika Dani sangat tertarik pada gadis itu.

__ADS_1


"lu suka sama dia?" bisik Nathan di dekat telinga Dani.


Dani yang tersadar, mendengar pertanyaan itu langsung menoleh pada Nathan yang berada di sebelahnya.


"apaan si lu" jawab Dani mengelak.


Nathan kembali tersenyum untuk menggoda sahabatnya ini. Pasalnya ia sangat tahu gerak-gerik seseorang jika suka dengan lawan jenis pasti akan memperhatikannya terus menerus layaknya Dani sekarang.


"tidak usah bohong.. kita itu sahabatan sejak lama, jadi lu gak bisa sembunyikan apapun dari gue termasuk soal perasaan lu"


Dani akhirnya kembali menoleh ke arah Nathan dengan tatapan sayunya, kemudian kembali menatap lurus ke depan.


"entahlah.. Memang gadis itu menarik saat gue melihatnya pertama kali. Rasanya hati gue seperti tersetrum listrik. Sensasinya beda saat gue lihat cewek lain"


"ya berarti benar.. Lu punya perasaan sama Santi. Tapi, Lu yakin bro? Kan lu udah dijodohkan sama nyokap dan bokap lu"


"gue belum di jodohkan sih cuma pengenalan aja.. lagi pula gue gak suka diatur soal jodoh.. Gue ingin menentukan jodoh gue sendiri"


Nathan pun memberikan tepukan semangat dibahu sahabatnya itu "apapun.. Gue dukung lu, termasuk perasaan lu sama Santi. Gue saranin lu langsung ngomong jujur saja sama pak Ujang kalau lu suka sama dia"


"nanti saja kalau waktunya sudah tepat"


lama mereka berbincang, tak lama kemudian Bu Narmi muncul dari arah belakang dan menegur mereka untuk segera makan siang sebab makanan sudah dihidangkan.


"kalian, ayo makan siang dulu"


Kedua emuda itu pun langsung menoleh ke arah Bu Narmi yang berada di belakang mereka.


"eh.. Eh.. Maaf Bu repot-repot.."


"tidak apa-apa.. Kalian tamu di sini.. Ayo, makan di dalam saja"


Mereka pun mengangguk dan langsung berdiri masuk ke dalam rumah. Di sana sudah terhidang berbagai jenis makanan yang sudah membentang di lantai.


"ayo Nak Dani, nak Nathan.." ujar pak Ujang.


"terima kasih.."


Mereka tidak menolak akan pemberian makan oleh Bu Narmi sebab perut mereka pun sudah lapar sekali. Lalu mereka makan dengan lahapnya namun dalam porsi standar.


"ayo tambah lagi"


"Eumm.. Tidak Bu, cukup.." ujar Dani


Walaupun makanannya sangat sederhana, tapi Dani dan Nathan sangat menikmati makanan tersebut. Dan ini jarang sekali mereka makan makanan seperti itu. Wajar, keduanya lahir di kota besar sehingga tidak pernah makan makanan dari kampung.

__ADS_1


__ADS_2