
setelah menghabiskan waktu berdua, Dani dan Santi memutuskan untuk pulang ke rumah dikarenakan hari sudah sore. Dan mereka juga harus mengemas barang-barang mereka untuk pulang besok.
Tak berselang lama, mereka pun sampai ke area rumah sederhana itu. Di sana terlihat Nathan tengah sibuk merapikan barang-barangnya ke dalam tas miliknya.
"lu udah selesai?"
Nathan yang mendengar suara Dani langsung menoleh ke arahnya.
"iyalah.. Udah lu sana kemasin barang Lu.. Biar besok langsung berangkat pagi-pagi"
"ayo sayang.." Dani menarik tangan Santi untuk menuju ke kamarnya. Lalu Dani mulai mengemasi barang-barangnya dari mulai baju kotornya, baju yang baru selesai kering, peralatan mandinya dan lain sebagainya.
"mas.. Aku pakai apa kemasnya? Aku gak ada tas"
Santi kebingungan untuk mengemasi barangnya. Sebab di kampung memang tidak ada tas gendong layaknya yang digunakan Dani dan Nathan.
"yaudah.. Bawa seperlunya saja, taruh ke dalam tasku.. Kelihatannya masih muat"
Memang tas Dani masih memiliki ruang untuk di isi, sebab ia saja hanya membawa barang seperlunya tidak begitu banyak. Sementara Santi sedang memilih bajunya yang akan dia bawa ke kota.
"mas.. Kira-kira bajuku ini sesuai tidak kalau dipake ke kota?"
"bawa 3 style baju saja.. Nanti sisanya kita beli saat di kota ya, jadi gak banyak bawaan nanti"
"baik.."
Santi menuruti apa yang dikatakan suaminya. Lalu ia memilih mana yang cocok untuk ia bawa ke kota, dan untuk pakaian dalam ia masukkan ke dalam plastik lalu dimasukkan ke dalam tas suaminya agar menjadi pembeda. Dan beberapa alat makeup lainnya ia juga mengemasi semuanya.
"punyaku udah semua mas.."
"punya mas juga.. Gak sabar mas cepat-cepat pulang, supaya kenalin kamu sama orang tua mas di sana"
"aku juga mas.."
Mereka berpelukan hangat setelah selesai membereskan barang-barang mereka yang tidak begitu banyak di bawa. Karena Dani sendiri tidak mengizinkan Santi untuk membawa banyak barangnya. Setelah itu, mereka pun melepaskan pelukannya.
"aku ke dapur dulu ya mas.. Mau bantu ibu di dapur"
"ah kamu.. Mas masih pengen berduaan.." Dani sangat manja ketika berada di dekat Santi. Bahkan tubuh Santi tidak bisa menjauh akibat pelukan erat yang diberikan suaminya itu.
"mas jangan gitu, gak enak sama ibu.. Apalagi hari ini terakhir aku di sini"
Dani pun tersenyum manis pada istrinya "iya.. Tapi mas pengen kita main sebentar"
"main ap- haaaaa"
Dani menyergap tubuh istrinya dan menjatuhkannya ke dalam kasur lantai dengan lembut.
"m..ma-.. Hmmmppt"
Dani kembali melakukan aksinya dengan mencumbui istrinya. gerakannya sangat lembut sehingga Santi pun ikut terbuai nafsu yang dibuat Dani.
"eunghmmm.."
Santi pun meremas rambut suaminya karena tidak dapat menahan rasa gejolak dalam dirinya. Setelah puas dengan bibir, Dani mulai menciumi area sekitar seperti pipi dan terus turun ke telinga hingga leher.
__ADS_1
"eummhh.. Mass... geli.." lenguhnya pelan.
justru Dani semakin semangat untuk mencumbui istrinya tersebut. Tak lupa tangannya sudah mendarat pada benda bulat milik istrinya. Ia pun mulai memainkannya dengan lembut dan itu membuat Santi semakin tak karuan.
"mas.."
"sssttt.. Nikmati sayang.. Mas ingin main untuk terakhir kalinya di sini"
setelah berkata seperti itu, ia kembali meraup bibir seksi istrinya dan mulai bermain sedikit kasar.
***
di luar sana masih ada Nathan yang sudah selesai membereskan barang-barangnya. sekarang ia sedang mengobrol bersama dengan pak Ujang dan istrinya.
"kamu dan Dani sudah siap untuk pulang?"
"sudah pak.. oh iya, apa bapak dan ibu yakin kalau Dani bawa Santi pergi dari sini?"
Pak Ujang dan istrinya saling melempar senyuman "justru itu, dengan Santi ikut ke kota dipastikan hidupnya kan aman terlebih lagi ada nak Dani yang akan menjaganya. Dibandingkan di sini selalu ada gangguan. Walaupun bapak dan ibu sedih, tapi ya mau bagaimana lagi demi kebaikan Santi"
"oh gitu.. Tapi-"
"Aa-ahhhhh maaass...." teriakan dari dalam kamar Santi.
Mereka bertiga sontak terdiam karena mendengar suara seperti itu. Kemudian mereka pun saling melempar senyum dan melempar tawa mereka.
"dasar pengantin baru"
***
"mas.. Capek.."
"hehehe.. Makasih ya, mas puas banget rasanya"
Dani mengecup kening sang istri menandakan ia sangat menyayangi istrinya. Kemudian mereka pun saling memeluk tubuh mereka yang sama-sama polos sembari menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih hinggap di dalam diri mereka.
Lalu saking lelahnya, mereka pun akhirnya tertidur dengan dibalut selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua.
***
beberapa jam berlalu..
Santi yang bangun terlebih dahulu, mulai mengerjapkan matanya dan mengucek untuk membersihkan area mata agar melihat dengan jelas. Kemudian, ia menoleh ke arah samping dan melihat jam sudah masuk pukul 7 malam.
"ya ampun, aku harus bantu ibu"
Ia pun mulai beranjak dari tidurnya dan memunguti baju-bajunya yang terlempar sembarangan akibat ulah suaminya tersebut. karena merasa terusik, akhirnya Dani pun terbangun dan melihat istrinya tengah memakai pakaiannya.
"kamu udah bangun?" tanya Dani.
"udah mas.. baru aja mau dibangunin.. Ayo eoat ke depan ini udah jam 7 malam..,"
"apa? Jam 7?"
Ia melihat ke arah jam tangannya itu. dan benar sudah masuk pukul 7 malam. Tak hanya Santi, Dani pun sibuk membenarkan baju serta celana nya. Mungkin saking lelahnya mereka menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
Santi keluar kamar terlebih dulu dan langsung menuju ke dapur. Di sana ada ibunya yang tengah memasak untuk makan malam mereka.
"Bu, sini biar aku aja"
mendengar suara Santi, ibu pun menoleh ke arahnya. Seketika senyum jahil di bibir Bu Narmi mulai terlihat dan membuat Santi terheran akan sikap ibunya itu.
"ibu kenapa senyum begitu?"
Ibu pun terkekeh dengan masih fokus memasak "nggak kok, kamu pasti lelah ya? Beresin piring aja membuat makan kit semua.
"baik.."
Tak berselang lama, makanan pun siap dihidangkan hanya lauk pauk biasa saja namun nikmat karena dimasaknya pakai hati. Lalu santi mulai menghidangkannya ke depan 3 pria yang sedari tadi mengobrol.
"ayo semuanya makan dulu"
Mereka pun menghentikan mengobrol dan mulai mengambil piring masing-masing. Santi duduk di dekat suaminya dan mulai makan bersama. Suasana sederhana namun mengenang di hati. Santi melihat keadaan sekitar rumahnya untuk yang terakhir kali. Mungkin setelah ia pergi, ia tidak akan kembali dalam waktu yang dekat.
Melihat Santi termenung membuat pak Ujang merasa ada sesuatu yang mengganjal hati putrinya itu.
"nak? Kenapa diam? Ayo makan.. Suamimu udah mau habis makanannya"
"ah? B-bbaik pak.."
"ada apa nak? Ada yang kamu pikirkan?"
Santi bergeleng sembari tersenyum "tidak pak.. Aku cuma ingin mengenang makan malam terakhir aku di sini saja"
Mendengar itu, sontak membuat pak Ujang dan Bu Narmi terdiam. memang benar, mulai besok Santi sudah harus pulang ikut bersama suaminya ke kota. Dalam artian di rumah ini nanti hanya tinggal Bu Narmi dan pak Ujang saja.
Pak Ujang tersenyum tipis namun ada kesedihan di dalam hatinya "ya sudah.. habiskan makanannya.. Santi kamu sudah berkemas?"
"sudah kok pak.. Udah beres semuanya"
"baguslah.."
Lalu mereka pun kembali fokus pada makanan yang belum habis dipiring masing-masing dan menghabiskan semuanya tanpa tersisa.
***
Jam menunjukkan sudah hampir tengah malam, Nathan sudah tertidur di area ruang tamu begitu juga Dani dan Santi tidur di kamar mereka. Namun, pak Ujang dan Bu Narmi belum bisa tidur karena mereka belum bisa melepaskan anak satu-satunya pergi jauh.
"pak.. Besok Santi sudah tidak ada di rumah ini.. Rasanya seperti mimpi anak kita sudah menikah dan ikut dengan suaminya"
"iya Bu.. Waktu berjalan begitu cepat sekali.."
"tapi, apa bapak yakin mengizinkannya pergi?"
"kenapa ibu bicara seperti itu? Bapak mengizinkannya pergi karena memang dia harus pergi dari sini.. Di sini Santi tidak aman terlebih banyak yang mengganggunya. Bapak tidak bisa setiap hari jaga santi. sementara kalau dia ikut bersama suaminya, akan merasa aman. Bapak juga berat jika Haris berpisah dengan Santi, tapi mau bagaimana lagi.. Kita berdua harus ikhlas demi masa depan anak kita juga"
Bu Narmi mengangguk..
"bapak benar.. Ibu harap, Santi bahagia bersama keluarga barunya di sana"
"aamiin.. Sudah malam Bu, besok harus bangun pagi-pagi sekali"
__ADS_1
Mereka mulai naik ke ranjang tempat tidur dan merebahkan diri mereka berdua di atasnya. Kegundahan mereka sekarang perlahan sirna. Mereka sangat mempercayai Dani bahwa dia bisa menjaga anaknya. Mereka pun akhirnya tertidur pulas setelah berbincang-bincang singkat.