Mentari Yang Hilang

Mentari Yang Hilang
Mendapatkan Restu


__ADS_3

Suasana di desa sangat menenangkan. Ditambah udara yang sejuk tanpa polusi semakin membuat yang tinggal di sana merasa nyaman. Di dalam rumah seperti biasa Dani dan Nathan hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama tuan rumah yaitu pak Ujang.


Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba Santi yang habis dari ladang berlari masuk ke dalam rumah namun di hadang oleh ibunya.


"eh.. eh.. Kamu ini ya, sudah gak mau bantu ibu.. Hemm.. Bau domba sana mandi dulu.. Anak perawan gak boleh bau!" omel sang ibu.


"ah ibu.. Ini kan cuma bau domba aja.. Nanti aku mandi, sekarang aku mau makan dulu"


"tidak mandi, tidak ada makanan.. cepat, mandi dulu sana"


"iya iya"


Santi pun masuk ke dalam kamar dengan pasrah. Ia mengambil peralatan mandinya untuk mandi di sungai sebab di rumah tidak ada kamar mandi. Dengan cepat, ia berlari keluar dengan membawa semuanya dan kembali berlarian keluar rumah.


"hati-hati Nak" ujar pak Ujang.


"iya pak.."


sementara kedua pemuda itu hanya terdiam melihat tingkah polos Santi. Terutama Dani yang memang sedari tadi memperhatikan Santi terus menerus mengembangkan senyum tipisnya.


"kamu dari tadi bapak lihat, senyum sama Santi terus.. Ada apa?" tanya pak Ujang pada Dani.


mereka berdua saling berpandangan dan sedikit terkejut karena curi pandangnya itu telah diketahui oleh orang tuanya.


"itu pak.. Dani-"


"diam.." senggol Dani pada Nathan.


"hehehe.. Nggak kok pak, saya tidak melihat apa-apa" alibi Dani. Padahal ia malu mengakui kalau memang dia selalu curi pandang pada anak gadisnya itu.


justru respon pak Ujang malah tersenyum geli melihat tingkah Dani yang salah tingkah di ajukan pertanyaan seperti itu.


"tidak usah bohong sama saya nak Dani.. Kalau pun kamu suka pada anak saya ya tidak apa-apa. Semua pemuda di kampung sini, kalau melihat Santi otomatis langsung suka karena dia memang gadis yang cantik"


Dani terdiam mendengar perkataan pak ujang tersebut. Ia ingin mengakui tapi ia malu mengungkapkan yang sebenarnya. Nathan pun terbahak melihat kediaman Dani yang salah tingkah itu.


"hahahaha.. Muka lu lucu kalau lagi malu Dan.."


"diam.." ujar Dani kesal.


Melihat keakraban dia pemuda itu membuat pak Ujang tersenyum tipis.


"Nak Dani.."


"i-iiya pak?"


"kalau pun benar kamu suka sama anak saya, saya sangat berterima kasih. Karena selama ini Santi hanya sendirian tidak ada yang ingin menemaninya."


Mendengar itu, Dani pun sontak terdiam seraya memandang serius pak Ujang.


"loh? Kenapa memangnya pak?" tanya Nathan.


raut wajah pak Ujang berubah sedikit sendu yang artinya ada kesedihan di hatinya.


"karena kecantikan yang dimiliki Santi, banyak perempuan di kampung ini membencinya. Bahkan ada juga tidak segan-segan membuat Santi celaka"


"ya tuhan.. Sampai sebegitunya pak?" ujar Nathan terkejut.


"iya Nak.. Pemuda di sini pun sering mengincarnya untuk hal yang tidak-tidak. Makanya Santi selalu sendirian karena tidak punya teman dan kalau di goda lelaki ia selalu bersembunyi di hutan agar tidak di kejar pria hidung belang"

__ADS_1


"makanya nak Dani, saya sangat setuju kalau kamu suka sama anak saya. Tapi bapak harap bukan dari segi kecantikannya saja tapi menerima semua kekurangan yang ada dalam dirinya. Bapak sudah tua dan tidak bisa menjaga lebih lama lagi."


Dani terdiam sejenak, lalu menatap tegas pak Ujang yang ada di depannya. Terlihat sorot keberanian prianya kembali muncul. Kali ini ia akan mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.


"iya pak.. Saya janji akan mencintai Santi dengan sepenuh hati saya. Terima kasih untuk restunya pak, dan maaf saya malu mengakui kalau saya suka sama Santi, pak"


"tidak apa-apa.. Kamu pria yang baik. Kalau kamu serius, dekatilah Santi secara perlahan ya Nak Dani.. Buat dia merasa nyaman untuk menerima kehadiran kamu"


"iya pak.."


Nathan menyenggol bahu sahabatnya itu dengan senyum jahil di wajahnya.


"tuhkan.. Dapat restu langsung hahaha.. Cieeee yang lagi suka sama cewek" goda Nathan.


"apaan si lu"


Mereka semua tertawa terutama Nathan yang tidak kuat melihat Dani salah tingkah seperti itu "hahaha senang sekali rasanya bisa godain lu Dan.."


"suka ya kamu godain teman sendiri" ujar pak Ujang.


"jelas pak.. Dani itu ya, mana mau dekat sama cewek paling anti.."


Dani yang kesal, mendorong-dorong tubuh Nathan berkali-kali. Namun pria itu justru semakin menggodanya.


"makanya itu saya agak kaget pas dia bilang suka sama anak bapak.. tidak ada angin tidak ada hujan kan ya pak, siapa yang tidak terkejut seorang Dani bisa suka sama perempuan hahahaha"


Dengan wajah kesal, lagi-lagi Dani melempar benda ke arah Nathan, kali ini ia melempar sampah bekas kue yang mereka makan tadi.


"ah.. Kampret jorok lu"


"makanya diem.. Kampret Lu" balas Dani.


Melihat Santi masuk, tawaan mereka terhenti dan berfokus melihat ke arahnya. Namun mereka melanjutkan ngobrolnya kembali sementara Santi fokus membereskan bajunya di area dapur yang dekat dengan ruang tamu.


dirinya sekilas melihat ke arah mereka bertiga namun pandangannya jatuh pada Dani yang sama tengah memandangnya. Santi yang tersadar telah memandang pria itu, membuatnya salah tingkah dan memalingkan wajahnya. setelah itu, ia pun masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.


Di dalam kamar, ia langsung memegang dadanya yang sedikit berdegup. Entah kenapa saat menoleh ke arah pria itu membuat dadanya berdebar. Apalagi saat mereka berdua saling berpandangan, rasanya tidak karuan. Tiba-tiba senyum manis di bibirnya mulai terbit sembari menautkan kedua jari-jari tangannya.


"tampan sekali.."


Memorinya berputar saat ia berpapasan dengan Dani. entah seperti kebetulan saat ia menatapnya Dani pun menatapnya. bahkan pria itu mengembangkan senyumnya. Merasa aneh pada dirinya, Santi pun tersadar segera memukul kepalanya perlahan.


"apa yang aku pikirkan? Hah sudahlah.."


***


Hari sudah semakin malam, suara hewan-hewan seperti jangkrik dan lainnya mulai terdengar jelas. di desa sana jika sudah beranjak malam tidak ada yang berani keluar rumah. Jadi suasana kampung mendadak sepi tidak ada suara kecuali di dalam rumah masing-masing.


karena sudah malam, keluarga pak Ujang sedang memasak makanan untuk makan malam mereka. Dan sekarang yang bertugas memasak adalah Santi. Sedari tadi ia berkutat di dapur bersama ibunya.


"Santi.. Buatkan kami teh ya.."


"iya pak.." jawabnya dari dapur.


Kemudian masakannya di ambil alih oleh ibunya yang membantu, dan Santi langsung membuat teh pesanan bapaknya sebanyak tiga gelas. Malam-malam sejuk seperti ini memang sangat cocok minum teh. Teh tersebut sudah jadi dan masih berasap alias panas.


Lalu dengan perlahan ia membawa teh tersebut ke ruang tamu yang mana di sana ada kedua pemuda di rumahnya serta bapaknya.


"ini tehnya pak.."

__ADS_1


"kasih ke mereka juga"


Santi mengangguk lalu menyerahkan teh tersebut pada Nathan dan juga Dani. Ia menyerahkan tehnya pada Nathan terlebih dulu.


"terima kasih"


Lalu ia menyerahkannya pada Dani.


"terima kasih" ujar Dani dengan senyum tipis di wajahnya.


Melihat senyum Dani, membuat Santi sedikit salah tingkah. Ia menundukkan kepalanya lalu kembali berdiri dan cepat menuju ke dapur kembali.


tak berselang lama, makanan yang sedari tadi di masak akhirnya jadi juga. Bu Narmi yang di bantu Santi menyiapkan semua makanan untuk dihidangkan ke depan mereka semua.


"wah.. Enak nih.." puji Nathan.


Kedua wanita itu pun duduk, dengan Santi yang duduk dekat pak Ujang. Semua telah mengambil piringnya masing-masing. Nathan yang memang sudah lapar, dirinya paling pertama melahap makanan ke dalam mulutnya.


"maaf ya, cuma seadanya.."


"tidak apa Bu.. Ini juga enak" jawab Nathan dengan mulut penuh.


"kalau ngomong, telan dulu makanannya. Kesedak tau rasa lu" ujar Dani kesal.


"ayo Nak Dani.. makan.. Ini semua Santi yang masak" ujar Bu Narmi pada Dani.


Dani dan Santi terdiam dan saling pandang sebentar. Sementara yang lain terkikik pelan melihat kekakuan kedua pemuda pemudi itu.


"i-iiya Bu.."


Dani mulai mengambil lauk pauk sedikit ke dalam piringnya. Ia tidak begitu suka makan terlalu banyak jadi ia mengambil porsi secukupnya saja.


"ayo kamu juga makan" ujar pak Ujang pada Santi.


"iya pak.."


Mereka kembali fokus makan makanannya masing-masing. Santi hanya terdiam mendengarkan mereka semua yang asik mengobrol sembari memakan makanannya itu sehingga ia telah selesai duluan karena makan tanpa bicara.


Karena cucian piring menumpuk, Santi langsung membereskan semuanya. Ia mencuci piring sembari duduk karena tempat cuciannya berada di bawah. Tak lama kemudian, piring bekas makanan tadi pun datang dan diletakkan di bawah oleh Bu Narmi.


"sekalian ya"


"iya Bu.."


Hampir 10 menit dirinya mencuci semua peralatan dapur dan sekarang semuanya telah bersih kembali. Ia meletakkan semua piring ke tempatnya masing-masing.


"Eumm.. Maaf"


Santi menegang saat mendengar suara bariton pria berada di dekatnya. Ia perlahan menoleh dan di sana ada Dani yang berdiri di dekatnya.


"tempat cuci tangan di mana ya?" tanyanya.


Santi mendadak tidak bisa mengeluarkan suaranya. Ia hanya menunjuk ke arah tempat air bersih dimana itu digunakan untuk mencuci piring dan bersih-bersih tangan.


"oh iya.."


Dani pun mencuci tangannya menggunakan air di sana. sementara Santi masih sibuk membereskan peralatan makan. Sambil mencuci tangan, Dani sesekali mencuri pandang pada gadis yang di sampingnya itu. Tak terasa senyum tipisnya pun mengembang di wajah tampannya.


sebelum ia pergi dari dapur, Dani kembali menoleh pada gadis itu kembali.

__ADS_1


"heumm.." tawanya pelan tertahan.


__ADS_2