
Dani yang memberanikan diri berbicara terlebih dulu pada seorang bapak-bapak yang ia tidak kenal sama sekali. Mendengar suara Dani bertanya padanya, bapak itu dengan wajah datar menoleh dan melihat seluruh tubuh Dani dari bawah sampai ujung rambutnya.
"pak?"
"sepertinya kamu bukan orang sini ya?" tanya bapak itu.
Dani mengangguk "b-bbenar pak.. Saya dan teman saya tersesat di hutan saat jalan pulang. tiba-tiba kita berdua sudah berada di sini.. Oh iya, apa di sini ada pemukiman warga pak?"
Bapak itu kemudian tersenyum "tentu saja ada.. Desa kami memang terpencil dan berada di dalam hutan. Kalian pasti lelah seharian menyusuri hutan kan? Ayo, ikut bapak saja"
"yang benar pak?"
"boleh.. Ayo"
Nathan yang sedari tadi hanya terdiam mulai bergidik ngeri. Pasalnya ia merasa aneh karena ditengah hutan lebat seperti itu bisa ada pemukiman warga yang tersembunyi.
"Dan.. Lo serius mau ikut bapak itu?" bisiknya
"iya.. Sekalian kita bisa beli makanan di kampung sana karena makanan kita sudah habis"
"tapi.. Kalau ada apa-apa gimana, bapak itu juga terlihat aneh"
"hush.. Lu kalo ngomong.."
Bapak itu seolah mengerti kegundahan Nathan yang takut akan dirinya. Bapak itu hanya merespon tersenyum sembari natap Nathan untuk meyakinkan dirinya hanya manusia biasa.
"tidak usah takut Nak.. Bapak juga manusia biasa. Dan memang benar di sini ada perkampungan. Kami tinggal di sini sudah sejak lama"
Dani yang merasa tidak enak meminta maaf pada bapak tersebut.
"kalau boleh tau, nama bapak siapa? Saya Dani.. Dan ini teman saya Nathan"
"panggil saja pak Ujang.."
"oh iya, pak Ujang.. Salam kenal terima kasih karena sudah mau membantu kami"
"ayo.. ikut saya"
Dani dan Nathan pun mengangguk. Mereka mengambil peralatan dan membawa semuanya. Mereka kemudian berjalan mengikuti arah langkah pak Ujang yang menyusuri jalanan yang kecil. Mereka lagi-lagi dibuat kagum oleh pemandangan di sana karena sangat asri dan indah.
"di sini sangat terjaga ya pak" ujar Dani.
"iya.. Karena kami memang sangat menjaga alam sekitar agar tidak dirusak"
Kemudian mereka kembali terdiam sembari terus berjalan menyusuri jalanan kecil itu. tak berselang lama, mereka melihat orang-orang di sana tengah bekerja ada yang sebagai petani, ada juga yang menjaga ternak. mereka awalnya merasa aneh tapi berusaha untuk percaya bahwa mereka memang benar manusia.
Dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit berjalan kaki, akhirnya mereka telah sampai di sebuah perkampungan dimana pak Ujang sekeluarga tinggal. Di sana Dani dan Nathan melihat semua warga beraktivitas layaknya manusia biasa. Bahkan ada yang berbincang dan bergosip. Mereka terus mengikuti langkah pak Ujang sampai bapak itu menurunkan ember airnya di sebuah rumah panggung berwarna kuning.
"kita sudah sampai.."
"ini rumah bapak?"
pak Ujang yang kelelahan sedikit mengusap peluhnya sembari mengangguk "iya ini rumah bapak.. Kalian untuk sementara tinggal saja di sini. Nanti saya akan membantu kalian untuk keluar dari hutan."
"benar nih pak?" tanya Nathan.
__ADS_1
"iya benar.. ayo silakan naik ke atas"
Mereka pun mulai menaiki tangga rumah yang ada di sana mengikuti langkah pak Ujang.
"Bu... Bu... Ada tamu nih.."
Kemudian, dari arah dapur keluarlah seorang wanita yang sudah berumur hampir 50 tahunan menghampiri mereka. Wanita itu menyambut suaminya pulang mengambil air dan menatap kedua pemuda itu.
"kenalkan ini istri saya namanya Narmi.. Bu, ini Dani dan Nathan.. Mereka tersesat di hutan jadi bapak bawa mereka kemari untuk beristirahat sejenak"
"ohh nak Dani dan nak Nathan.. Selamat datang di kampung kami ya.. Mari duduk kalian pasti lelah kan? Maaf jika tidak nyaman karena rumah kami sangat kecil"
Dani dan Nathan hanya bisa mengangguk mengiyakan Bu narmi itu.
"ah tidak kok bu.. Terima kasih"
ternyata warga di sini sangatlah ramah. Terbukti pak Ujang dan Bu Narmi bersedia menampung mereka berdua untuk sementara. Tapi, tetap saja Dani dan Nathan masih penasaran dengan desa ini.
"pak Ujang.. Bu Narmi terima kasih karena sudah mengizinkan kami tinggal di sini"
"sama-sama.. Sesama manusia harus saling membantu" ujar pak Ujang dengan ramah.
"oh iya pak, ini namanya desa apa?" tanya Nathan.
"desa ini bernama desa Siliwangi. Dinamakan seperti itu karena desa ini memang telah ada saat masa kerajaan pajajaran dulu"
"ohhh begitu.. Tapi pak, bagaimana kami nanti bisa keluar dari sini?" tanya Nathan kembali.
"sebenarnya mudah, Kalian hanya butuh ketenangan dan percaya bahwa kalian bisa pulang, otomatis energi positif itu bisa membawa kalian keluar dari hutan itu"
Mereka pun melanjutkan mengobrol kembali. Tak berselang lama, Bu Narmi pun menghampiri mereka kembali.
"kalian sudah makan?" tanya Bu Narmi.
"eum.. Tadi sempat sarapan sebelum ke sini Bu" jawab Dani sopan.
"kalian mau makan bareng kami?"
Nathan dan Dani saling bertatapan. Awalnya mereka ingin menolak tapi rasanya tidak enak menolak perjamuan yang sudah diberikan tuan rumah kepada mereka.
"boleh.. Maaf merepotkan" ujar Dani sedikit tidak enak.
Kemudian, mereka semua terdiam saat mendengar suara perempuan dari arah luar rumah terus menerus memanggil ibunya.
"ibu.."
"ibu.."
Bu Narmi pun menoleh ke arah pintu dan melihat anak perempuannya baru saja pulang dengan membawa hewan di pelukannya.
"aduh kamu ini.. Kenapa bawa hewan lagi? hewan yang kamu tangkap sudah banyak"
"tapi kasian Bu.. Jadi aku bawa pulang aja"
Lagi-lagi Dani dan Nathan hanya bisa saling berpandangan melihat Bu Narmi mengobrol dengan seseorang di balik pintu itu.
__ADS_1
kemudian, suara perempuan tadi pun menghilang. Dan digantikan dengan munculnya gadis muda masuk ke dalam rumah tersebut. Dani dan Nathan sontak membulatkan matanya karena gadis itulah yang mereka lihat di hutan kemarin. Dan hewan yang ada di pelukannya itu adalah kelinci yang sempat mereka jadikan buruan.
"bapak.. Lihat, aku bawa kelinci.. Cantik ya"
Pak Ujang tersenyum mengusap kepala anaknya itu.
"kamu masuk ke hutan lagi ya?" tanya sang ibu.
"hehe. Abisnya aku bosan.. Jadi aku main ke hutan ambil hewan ini.. Takut ada pemburuan"
ternyata benar, gadis itu yang Dani lihat saat dihutan tadi. Senyuman indah dan wajah polosnya membuat Dani seketika terkesima melihat kecantikan yang dimiliki gadis itu. Entahlah.. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. tapi, saat melihat gadis itu kembali hatinya seakan berdebar kencang. Apa jangan-jangan Dani menyukai gadis itu.
pandangan gadis itu jatuh pada Nathan dan juga Dani yang sedari tadi menatapnya. Gadis itu membalas tatapan Dani sebentar membuat pemuda itu mengulaskan senyum tipis ke arahnya.
"nak.. Kamu ke pasar ya.. Ibu mau masak, belum ada bahan makanan"
"oh ya sudah sini keranjangnya"
gadis itu meletakkan kelincinya di lantai dekat bapaknya. Kemudian ia pun berdiri menghadap ibunya yang memberikan keranjang belanja padanya.
"yang biasa aja"
"baik"
dengan cepat, gadis itu mulai berbalik dan keluar rumah untuk menuju ke pasar membeli bahan-bahan makanan untuk makan siang nanti.
"gadis itu.. Siapa pak?" tanya Dani.
Pak Ujang menatap Dani "oh itu anak gadis saya namanya Santi.."
"kemarin, kami seperti sempat melihat anak bapak di hutan ambil hewan gitu.. Apa tidak berbahaya jika perempuan masuk ke hutan?" ujar Nathan terheran.
Pak Ujang terkekeh mendengar penjelasan dari Nathan "Santi memang suka ke hutan sendirian hanya untuk menenangkan diri dan bermain. Gadis itu juga pecinta hewan tak heran kalau pulang dia sering bawa hewan ke rumah"
"oh begitu.. Jadi namanya Santi ya? Cantik ya pak" ujar Nathan sembari sedikit mengeraskan suaranya dengan menatap jahil Dani yang memang sudah mengagumi kecantikan Santi saat awal menemukannya.
"haha terima kasih.. Kalian juga tampan"
"oh iya pak, saya boleh keluar sebentar? Mau lihat-lihat desa ini aja" izin Dani pada pak Ujang.
"boleh saja.. Tapi jaga sikap ya, jangan sampai buat orang-orang di sini marah"
"baik pak.."
Kemudian Dani pun berdiri karena ia sangat penasaran akan desa ini. Jadi ia memutuskan untuk berkeliling sebentar. Sebelum pergi, ia menatap sahabatnya terlebih dulu.
"lu mau ikut?"
"kaga ah.. Lu aja sana, gue capek"
"ya sudah.."
Dani pun keluar dari rumah pak Ujang dan mulai berkeliling desa dengan berjalan kaki. Di sana sangat ramai terlebih dekat dengan area pasar. Saat berjalan sebentar, ia kembali melihat gadis bernama Santi sedang membeli beberapa sayuran.
Melihat gadis itu kembali membuatnya terdiam. Dari samping, ia melihat senyumannya, cara bicaranya yang halus membuatnya terkesima.
__ADS_1
"jadi.. Namanya Santi ya?" batin Dani.