
Malam pun tiba..
suasana di malam itu kembali kondusif setelah keributan tadi sore setelah kepulangan Dani. Sekarang mereka semua turun dari kamar masing-masing untuk mempersiapkan makan malam kecuali Dani dan Santi yang masih berada di kamar mereka.
di dapur ada beberapa art yang sedang memasak untuk makan malam mereka. Karena Rida tidak bisa memasak jadi menyewa orang untuk memasak untuk dirinya dan juga keluarganya.
Rida sudah turun bersama dengan suaminya begitu juga dengan Milly yang sudah berada di meja makan menunggu semua orang datang.
"kamu sudah makan mil?"
"belum Tan, aku nunggu kalian semua dulu"
Makanan pun satu persatu sudah siap dihidangkan diatas meja. Menu kali ini yang biasa mereka makan. Mereka bertiga kembali duduk di bangkunya masing-masing.
"ma.. Dani dan istrinya tidak makan malam bersama?"
Mendengar itu, Rida langsung menatap sengit pada suaminya. Tangannya yang memegang centong untuk menyendok nasi tiba-tiba terhenti.
"untuk apa mama tawari mereka? Kalau Dani nanti mama siapkan tapi untuk istrinya mama tidak peduli" ketusnya.
Herman bergeleng mendengar jawaban dari istrinya itu.
"kamu tidak boleh begitu ma.. Istri Dani juga manusia butuh makan. Apalagi dia menantu kita"
BRAK..
Rida membanting centongnya ke lantai dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.
"cukup pa! Jangan sebut gadis itu sebagai menantuku.. Aku tidak Sudi punya menantu seperti dia. Kalau papa peduli, papa saja yang pergi sana.. Mama mau makan sama Milly saja"
Tidak ingin berdebat kembali, Herman hanya bisa diam dan memakan makanan yang sudah disiapkan istrinya di piringnya. Dengan perasaan yang masih emosi, Rida pun mendudukkan dirinya dengan kasar. Ia juga memasukkan makanannya dengan kasar karena masih kesal dengan ucapan suaminya.
Tak berapa lama, Dani pun terlihat. Kali ini ia tidak sendiri dan turun bersama istrinya ke meja makan. Dani yang memang disiplin, dia sudah tahu jika jam segini waktunya makan malam.
"ayo sayang.."
Santi sebenarnya masih takut untuk turun. Tapi dengan paksaan suaminya ia pun ikut turun untuk makan bersama keluarganya. Walaupun begitu, ia berdiri di belakang sang suami untuk tidak melihat wajah mertuanya.
Melihat Dani sudah ada di meja makan, semua nampak terdiam. Namun mata Rida kembali dibuat kesal karena melihat gadis itu turun bersama anaknya.
"tunggu dulu!"
Saat Dani menarik kursi untuk istrinya duduk, namun tertahan oleh perkataan ibunya.
"dia tidak boleh makan di sini!" tegasnya.
Dani syok mendengar perkataan ibunya ini. Sementara Santi merasa tidak enak dan kembali menyembunyikan badannya di belakang badan suaminya.
"kenapa ma? Dia juga butuh makan.. Apa mama melarangku juga untuk makan?"
"kamu boleh.. tapi dia tidak. Dia bukan keluarga disini!"
__ADS_1
"ma.. Dia bukan orang asing. tapi dia istriku.. Aku gak mungkin biarkan dia kelaparan.. Mama itu bagaimana sih?!"
Lagi-lagi keributan antar ibu dan anak kembali terdengar. Milly sempat memperhatikan Dani dan juga Santi yang berdiri gak jauh dari tempatnya duduk. Melihat ketegasan Dani membela istrinya dan kelembutan dan kepedulian yang Dani berikan pada istrinya membuat Milly sedikit iri.
Dani yang kaku ternyata bisa seromantis itu jika berhadapan dengan orang yang ia cintai. Milly juga menatap tidak suka dengan gadis yang sudah merebut calon suaminya, pikirnya.
Santi kembali jengah akan keributan suaminya dan mertuanya itu di sebabkan oleh dirinya. Ia juga mencengkram baju suaminya agar paham kode darinya.
"mas.. Sudah tidak apa-apa.. Kamu makan saja, aku tidak apa-apa tidak makan"
dengan jawaban Santi tersebut membuat Dani justru semakin tidak suka. Ia menatap tajam istrinya dan membuat Santi pun menundukkan kepalanya.
"bicara apa kamu ini? Aku tidak akan biarkan kamu tidak makan. Dari tadi siang kamu belum makan kan? Jangan dengarkan mamaku, duduk dan makan" tegas Dani.
"tapi mas.."
"Dani!!"
Mendengar bentakan dari ibunya, Dani jadi tak karuan. Ia membanting gelas miliknya dan menjatuhkannya ke lantai.
PRAAANGGG..
"apa yang kamu lakukan Dani?!"
Mata Dani yang tajam tertuju pada mamanya yang masih bersikap egois.
"mama tidak mau Santi bergabung di sinikan? Baik.. Aku akan makan diluar bersama dengannya"
"kamu tidak boleh makan diluar Dani!"
"haaaa.. Dasar gadis sialan.. Dia sudah memperdaya putraku!" batin Rida menjerit.
"Tante tidak apa-apa?"
Rida yang sedang mengatur nafasnya, ia pun menoleh pada Milly yang berdiri di sampingnya sembari mengelus pelan bahunya.
"Tante tidak apa-apa nak.. Entah kenapa Dani jadi seperti ini semenjak gadis itu datang"
"sudah Tante tidak usah dipikirkan.. Ayo makan lagi"
Herman yang sedari tadi diam saat keributan terjadi, sudah menyelesaikan makannya. Ia tidak mengucapkan sepatah katapun pada istrinya dan langsung pergi meninggalkan meja makan.
Tingkah suaminya itu membuat Rida heran karena ia tidak biasa melihat suaminya ini selesai makan tanpa menyapa pergi. Herman pergi lebih dulu karena ia muak mendengar keributan yang dibuat oleh istrinya itu. Ia ingin sekali membela anak dan menantunya tapi Rida sangat keras kepala. Ceramah Herman pun tidak akan masuk ke dalam otaknya.
***
"mas Dani.. Kita mau kemana malam-malam begini?"
"makan.. udah kamu jangan banyak tanya" ketusnya.
mendengar nada ketus dari suaminya, Santi pun terdiam. Ia tidak berani menegur suaminya karena sedang emosi. Bahkan Dani membawa mobilnya sedikit kencang, dan membuatnya sedikit ketakutan.
__ADS_1
"mas.. Pelan-pelan"
Tapi Dani seakan tidak mendengar perkataannya. Lajunya malah semakin tinggi. Santi tak kuasa menahan rasa takutnya saat ini. Ketakutannya itu membuat dirinya menangis memohon agar suaminya tidak membawa kendaraan dengan cepat.
"mas.. Aku mohon.. jangan ngebut aku takut.."
"mas Dani.."
Isakan tangis Santi membuat Dani tersadar. ia kemudian memelankan laju mobilnya, kemudian ia menepikan mobilnya dipinggir dan menghentikan kendaraannya.
"aku takut mas.."
Dani yang merasa bersalah langsung merengkuh tubuh kecilnya itu. Ia merasakan getaran hebat Santi yang disebabkan olehnya.
"maafkan aku sayang.. Maafkan aku" lirih Dani merasa bersalah.
Tangisan Santi masih terdengar, dengan setia Dani terus memeluknya memberikan istrinya itu ketenangan. Setelah 10 menit menangis, tangisan Santi mulai mereda tersisa segukannya saja.
"maafkan aku Santi.. Aku tidak bisa mengawal amarahku. Aku sangat marah pada mama dan melampiaskannya di sini.. Maafkan aku"
"tidak mas.. Kamu tidak salah. Sudah ya"
Dani pun menghela nafas beratnya "ayo kita cari makan dulu dan sekalian menikmati waktu malam berdua"
"ah kamu. Kaya yang pacaran aja"
"kan kita emang lagi pacaran yang.."
Kesedihan mereka kini berubah menjadi canda tawa. Keceriaan Santi walau belum pulih sepenuhnya, ia masih bisa menghibur hati suaminya. gimana tidak sayang coba Dani diperlakukan seperti itu.
Dani melajukan mobilnya kembali, kali ini ia membawanya dengan kecepatan standar. Setelah lama berkeliling, ia mengajak istrinya makan disebuah cafe modern. Di sana Dani memesan berbagai menu makanan yang akan ia coba dengan istrinya.
"wah.. Sepertinya enak"
Santi sangat tergiur saat melihat hidangan yang mereka pesan sudah siap di atas meja.
"makanlah. Habiskan ya"
Dengan lahap, Santi mulai memakan semua makanan itu. Dani yang memperhatikan istrinya sedang makan tersenyum tipis. Mungkin jika orang membawa Santi akan merasa malu karena tingkah kampungnya masih terasa. Namun, Dani tidak merasa seperti itu. Justru ia menganggap jika Santi apa adanya dan ia bangga dengan itu.
"maafkan mamaku ya sayang.. Kita jadi makan diluar" ujar Dani merasa sedih karena kesekian kalinya istrinya ini ditolak oleh mamanya sendiri.
"tidak apa-apa mas.. Aku mengerti kok, mama belum bisa menerima kehadianku.. Mungkin lain waktu kita bisa makan bersama layaknya keluarga harmonis"
"apa kamu membenci mamaku?"
Mendengar pertanyaan dari sang suami membuat makannya tertunda sejenak.
"eum.. Untuk apa aku membenci mama mas? Mamanya mas kan mamaku juga. sekalipun aku tidak pernah membenci mama." ujar Santi dengan tulus.
Mendengar itu, sontak Dani sedikit syok. Kebaikan hatinya memang tidak bisa diragukan kembali. Ia tersenyum haru lalu mencium telapak tangan sang istri berulang kali.
__ADS_1
"kamu sangat baik sayang. seharusnya mama bangga punya menantu baik sebaik dirimu, bukan malah sebaliknya"
Santi tersenyum mendengar kalimat itu dari suaminya. Mereka kembali melanjutkan makan malam mereka. Dengan makan diluar, suasana hari kedua sejoli itu sedikit ringan. Daripada makan di rumah yang ada nambah masalah. Lebih baik diluar sembari menghabiskan waktu berdua.