Mentari Yang Hilang

Mentari Yang Hilang
ikatan batin suami dan istri


__ADS_3

Kendaraan yang dilajukan Dani sekarang sudah menuju ke sebuah tempat dimana ia bekerja. Kusumo group company, itulah nama perusahaan yang didirikan oleh keluarganya turun temurun. Dan sekarang ia sudah menjabat menggantikan ayahnya. Walaupun begitu, papanya masih ikut dengannya untuk bekerja di kantor bersama.


perusahaannya ini bergerak di bidang konsultan proyek dimana Dani sendiri lulusan sarjana arsitektur dan sudah menempuh S2 sarjana teknik sipil. Dan gelar itu sudah dimiliki oleh papanya juga.


Ia pun telah memarkirkan kendaraannya di tempat biasa ia menaruh mobilnya. Kemudian, ia pun masuk seorang diri tanpa di dampingi siapapun. Kenapa berangkat tidak bareng papanya dan Nathan? Mereka berdua bekerja dan mengurus perusahaan cabang, sementara Dani berada di pusatnya.


"selamat pagi pak.."


"pagi pak Dani.."


"pagi pak.."


Semua karyawan yang ada di sana menyapa kehadiran atasannya itu.


"iya pagi semua"


Dani terkenal sebagai atasan yang super baik namun tidak jarang sikap tegasnya juga ia keluarkan jika sedang ada masalah. Ia juga sangat disegani, ya iyalah dia pemimpin perusahaan. Tak hanya itu diusianya yang masih muda, banyak sekali karyawan perempuan yang caper terhadapnya. Namun itu tidak membuat Dani goyah sedikitpun.


"selamat datang kembali pak.."


"terima kasih Juan.."


Ya itu adalah Juan Manuel yang merupakan salah satu sekretaris dan sebagai orang kepercayaannya selama ia bekerja.


"bagaimana dengan liburan anda pak?"


"lumayan menyenangkan.. Oh iya, jadwal hari ini ada apa saja?"


"jadwal hari ini ada beberapa meeting yang harus anda datangi pak.. sebanyak 4-5 agenda meeting"


"baiklah.. Kamu siapkan semuanya ya, saya mau periksa data dulu"


"baik pak.."


Dani kembali fokus pada laptop yang di depannya. Ia memeriksa dokumen yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari sebelumnya untuk meeting hari ini. namun di saat yang bersamaan, tiba-tiba ada rasa gundah di hatinya. ia teringat akan istrinya di rumah seorang diri.


"apa dia baik-baik saja di rumah?" batin Dani cemas.


Ia berusaha menenangkan dirinya agar tidak berpikiran buruk pada istrinya. Ia tahu jika Santi pasti akan mengabarinya jika terjadi sesuatu di rumah. Semua dokumen sudah lengkap dan siap untuk berangkat.


"Juan.. Ayo kita pergi sekarang"


"baik pak"


***


Di rumah, terutama di kamar.. Santi tengah merapikan kamar mereka yang cukup berantakan. Awal kedatangannya memang belum sempat ia rapikan sebelumnya. Ia mulai membersihkan meja, menyedot debu dengan alat penyedot debu yang sudah diajarkan Dani padanya, mengganti seprai dan merapikan pakaian.


Semua ia lakukan sendiri tanpa di bantu oleh pekerja yang ada di rumah suaminya. Ia hanya ingin barang-barang miliknya terutama suami hanya ia saja yang pegang.


Semua ia rapikan di tempat semula dan kembali membersihkan yang kotor-kotor. Suasana kamar Dani segini sudah sangat rapi. Semua tertata dalam tempatnya. Seprai kasur dan bantal pun sudah ia ganti. Saatnya ia mencuci semua pakaian kotornya.


tanpa menunggu waktu lama, semua seprai yang kotor perlahan bersih. Ia menjemurnya di antara baju-baju yang menggantung di laundry kamar suaminya.


"hufftt.. Beres juga"


Setelah selesai mengemas kamar, terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras dan ada yang memanggil namanya dengan keras pula.


"Santi!! Keluar kamu!!"


"Santi keluar!!"

__ADS_1


Bentakan tersebut ia terus dengar. Awalnya ia ragu, tapi ia harus memberanikan diri menghadapi mereka. Ia pun keluar dari kamar mandi dan membuka pintu kamarnya itu. terlihat di sana ada mama mertuanya beserta Milly yang memandangi dirinya dengan tatapan tajam.


"a-aada apa?"


"ada apa.. Ada apa.. Kamu itu ya, baru jam berapa ini sudah tiduran di kasur hah?! Emangnya ini rumah bapakmu?! Enak sekali kamu ya!" bentak Rida pada Santi.


Santi berusaha menyangkal karena ia memang tidak seperti itu. Ia bergeleng untuk menolak pernyataan yang dikeluarkan Rida padanya.


"tidak ma.. Aku habis merapikan kamar mas Dani, dan sekarang baru saja rapi"


Memang benar ia baru selesai merapikan kamar dan bajunya pun sedikit basah karena habis mencuci seprai kasur dan bantal. Mereka seketika kikuk sejenak, namun mereka kembali menatapnya tajam.


"Halah Tante.. Jangan tertipu sama muka polosnya. Bisa aja itu Dani yang bersihkan sebelum dia berangkat kerja bukan dia"


"benar ma.. Aku tidak bohong"


"Diam!!!"


Lagi-lagi Santi menerima bentakan dari Rida yang membuat Milly tersenyum kemenangan.


"ayo ikut!!"


"mama mau bawa aku kemana?"


Santi di seret pergi oleh Rida dan diikuti Milly dibelakangnya. Santi Sedikit meronta tapi ia juga ikut melangkah bersama dengan Rida. Lalu ia dihempaskan saat di area dapur sehingga tubuhnya terjatuh di lantai.


"aduh.."


"kalian semua bisa pergi.. Bersihkan area belakang" titahnya pada semua art yang bekerja di sana.


"b-baik nyonya"


karena takut, mereka lantas pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga.


"ingat Santi! Saya masih berbaik hati agar kamu tidak pergi dari sini.. sekarang, bersihkan seluruh rumah ini sampai kinclong.. Saya tidak mau ada debu sedikit pun yang menempel!"


Santi sontak terkejut dengan perintah dari mama mertuanya. Ia harus membersihkan rumah ini seorang diri? Rumah ini sangat besar sedangkan ia hanya sendirian.


"tapi ma.. Rumah ini sangat besar, aku tidak bisa melakukannya sendiri"


"oh mau melawan kamu hah?!"


Rambut Santi tiba-tiba dijambak oleh Rida karena tidak mematuhi perkataannya. Santi meringis kesakitan akibat jambakan dari mama mertuanya itu.


"ma.. S-ssakit.."


"kalau kamu adukan semua ini pada Dani, siap-siap saja akan menerima hukuman lebih dari ini!" sekarang giliran Milly yang berkata seperti itu. Ia merasa puas jika melihat raut wajah kesakitannya itu.


Santi hanya bisa mengangguk sembari menangis karena tidak kuat menahan rasa sakit akibat jambakan tersebut.


"cepat bersihkan!"


Santi melakukan perintah dari mama mertuanya, ia membersihkan rumah besar itu seorang diri dengan hanya bermodalkan kain dan ember. Ia membersihkan semua area di sana seorang diri. Tak dipungkiri jika ia sangat lelah. Bahkan sampai tidak bisa berdiri dengan baik.


sampai saatnya ia tidak bisa menahan rasa speknya lagi, ia menopang tubuhnya ke dinding. Namun apa yang terjadi? Ternyata Santi tidak sengaja menyenggol Gucci besar karena badannya yang sangat lelah. Gucci tersebut pecah dibarengi dengan butuhnya yang terjatuh di lantai.


"apa itu yang pecah?!!"


Rida sangat syok melihat Gucci kesayangannya itu pecah karena itu harganya sangat mahal dan ia membelinya saat di luar negeri. Raut wajah Rida memerah akibat marah pada Santi. Ia semakin emosi karena ia sudah menghancurkan Gucci kesayangannya.


"apa yang kamu lakukan hah?!! Apa kamu tidak bisa hati-hati?! Ini Gucci kesayanganku!! Harganya sangat mahal tau gak?!!"

__ADS_1


Santi hanya bisa menunduk karena rasa bersalah telah memecahkan Gucci tersebut.


"maaf ma.. Aku sangat lelah, dan tidak sengaja menyenggol ini" lirihnya.


"ALASAN!! DASAR PEREMPUAN MISKIN!! AYO IKUT DENGANKU! AKU AKAN BERI KAMU PELAJARAN!!"


Amarah Rida tidak dapat ia bendung. Ia sangat marah pada Santi karena telah menghancurkan Gucci kesayangannya itu. Santi yang kelelahan ikut terseret kembali.


"ma.. pelan.."


"cepat!!!"


Karena Rida menariknya dengan paksa, ia pun tak sengaja menginjak pecahan Gucci sehingga kakinya tertusuk oleh duri pecahan Gucci tersebut.


"arrghhh..."


Santi meringis kesakitan, tapi Rida tidak peduli, ia terus menariknya dengan paksa. Akibat tertusuk pecahan Gucci, kakinya sampai berdarah dan terlihat bekas darah yang ikut mengalir bersamaan ia di seret.


"ma.. Hentikan.."


"cepat ikut!!"


Milly lagi-lagi tersenyum miring melihat Santi disiksa habis-habisan oleh Rida. Kemudian ia pun menyusul Rida membawa Santi ke suatu ruangan.


Rida membuka sebuah ruangan yang ternyata sebuah gudang, lalu melemparkan tubuh Santi begitu saja sampai kepalanya mencium lantai gudang.


"diam kamu di sini!! Awas saja mencoba kabur, akan ku beri pelajaran lagi!!"


"maa.. Jangan ma.. Jangan terus aku di sini!" seru Santi memohon pada Rida.


Namun Rida kembali menjauhkan tubuhnya dari Santi dan mulai menutup pintu gudang tersebut.


"ma... Maaaaaa! Buka pintunya ma!! Arrghhhh"


Santi kesulitan bergerak karena kakinya masih sakit akibat terkena pecahan tadi. Ia terus menggedor pintunya yang terkunci dari luar. tangisannya pun tak dapat tak dapat ia bendung lagi.


Ia lelah terus berteriak minta dilepaskan, namun tidak ada hasilnya. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya terduduk lemas dilantai.


"mas Dani..." panggil Santi sembari terus menangis. Walaupun lirih tapi ia rasa itu bisa untuk memanggil hati Dani agar cepat pulang dan membebaskan dirinya.


***


Saat hendak mulai meeting, tiba-tiba langkahnya kembali terhenti dan itu membuat Juan menatap heran padanya.


"ada apa pak?"


Dani tidak menjawab, justru ia memegangi hatinya yang terasa sakit. Kemudian, ia teringat akan Santi yang sendirian di rumah. Entah kenapa pikiran buruk tentang istrinya terus memenuhi kepalanya.


"Santi?" gumamnya.


"pak, meeting nya kan segera dimulai"


Dani menatap Juan dengan tatapan serius "Juan, tolong gantikan saya untuk meeting kali ini. Saya akan pulang dulu ke rumah"


"loh kenapa pak?"


"saya khawatir pada istri saya di rumah.. Aku hanya ingin memastikannya baik-baik saja"


Juan pun terdiam paham. Ia mengetahui jika bosnya ini telah menikah karena sebelum ia bekerja kembali, ia sudah mengumumkannya terlebih dahulu.


"baiklah bos.. Saya akan handle meeting ini"

__ADS_1


"terima kasih Juan, kalo begitu saya pulang dulu"


__ADS_2