Mentari Yang Hilang

Mentari Yang Hilang
Memberanikan diri melamar Santi


__ADS_3

Dani melihat mereka dengan tersenyum remeh "oh, kalian kira saya takut?"


"mas.."


"Kamu mundur, biar aku yang hadapi mereka"


Santi pun menurut dan langsung mundur beberapa langkah menjauh dari pria itu. Sementara Dani masih berhadapan dengan 7 orang pemuda yang ada di depannya bersiap untuk menyerangnya.


Dani mengambil ancang-ancang untuk mulai berkelahi.


"ayo, kita serang dia!"


Mereka mulai merang Dani dari berbagai sisi. Namun serangan mereka berhasil ditangkas. Dani yang seorang diri mampu melawan mereka semua dengan melakukan serangan balik.


Santi terdiam sejenak. Melihat Dani yang serius membuat ketampanannya semakin bertambah.


BUGH..


BUGH..


Mereka bertujuh pun mulai tumbang karena terkena serangan Dani. Walaupun mereka bertuju, tapi badan Dani lebih besar dibandingkan mereka. Santi yang melihat dari kejauhan hanya bisa melihat dengan raut wajah khawatir. Ia takut jika Dani kalah dan mulai di serang oleh mereka.


namun, lagi-lagi pemuda itu tersungkur ke tanah.


"gimana? Mau lagi?"


"t-ttidak.. Cukup.. Ampuni kami"


"kalau begitu, jangan lagi kalian berani mengganggu Santi lagi. Kalau sampai itu terjadi, akan ku patahkan tangan kalian semua.. Mengerti?!"


Mereka mengangguk ketakutan. Dan semuanya beranjak berdiri untuk melarikan diri. Santi senang dan merasa lega karena Dani menang melawan mereka.


Saat mereka kabur, Dani menoleh ke arah Santi dan tersenyum manis ke arahnya. Santi yang sangat khawatir menangis haru lalu berlari menuju ke arahnya.


"mas Dani..."


Tiba-tiba tubuhnya tanpa ia sadari memeluk leher Dani. Dan pun terdiam melihat Santi yang begitu khawatir padanya.


"kamu tidak apa-apa kan?"


"kamu tidak terluka kan?"


"kamu-"


Santi terdiam karena ia baru sadar sudah melakukan hal yang tidak pantas yaitu memeluk pria yang ia tidak kenal dekat. Bahkan ia memegang wajah dan rambut Dani untuk memeriksa keadaannya. setelah tahu kesalahannya, ia pun mundur beberapa langkah menjauh dari Dani.


"kenapa?"


"m-mmaaf mas.. Aku lancang" lirihnya tidak enak.


Dani terkekeh karena sikap polos Santi tersebut "tidak apa-apa.. Justru aku senang diperhatikan seperti itu"

__ADS_1


"T-ttapi.."


"sudah jangan dipikirkan.. Ayo kita pulang"


Santi mengangguk "eummmhh.."


mereka pun kembali berjalan menuju ke rumah. Setibanya mereka di sana, ada beberapa orang berkumpul di dalam rumah. Ya siapa lagi kalau bukan keluarga Santi dan sahabat Dani yaitu Nathan.


Santi langsung memasuki kamarnya dengan membawa kelinci. Sementara Dani ikut berkumpul dengan mereka.


"ada apa dengan Santi nak Dani?"


Pak Ujang merasakan ada yang aneh pada anak gadisnya itu sebab biasanya ia pulang dengan keadaan yang ceria. Sementara tadi, seperti ada rasa takut dan kesedihan di wajahnya.


Dani pun menghela nafas sebelum menceritakan semua.


"begini pak, tadi.."


Dani mulai menceritakan semua kronologinya dari awal pagi saat diganggu para pemuda itu sampai mereka kembali di hadang oleh mereka. pak Ujang yang mendengar itu sontak terkejut karena putrinya lagi-lagi mengalami hal seperti itu. Nathan juga sama ikut terkejut dengan apa yang terjadi.


"tapi, untungnya saya datang tepat waktu jadi Santi tidak kenapa-kenapa.. Dan tadi juga mereka menyerang saya, tapi tidak apa yang penting anak bapak aman"


Mendengar itu, pak Ujang merasa lega karena ada yang menolong anaknya saat kejadian itu. Ia menatap Dani dan berterima kasih padanya atas pertolongan yang Dani berikan untuk anaknya.


"terima kasih nak Dani.. Bapak berhutang Budi padamu"


"tidak usah pak.. anggap saja ini sebagai tanda terima kasih kami karena sudah di izinkan tinggal di sini.."


Pak Ujang mengangguk "iya nak Nathan.. Mereka sering sekali mengganggu Santi. Makanya Santi selalu keluar lebih pagi agar tidak bertemu mereka. kadang bapak bingung harus bagaimana, pemuda itu pasti akan terus ganggu Santi"


Kedua pemuda itu terdiam dan saling berpandangan.


"bapak gak usah khawatir, selama kamu ada di sini. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi baik pada Santi, bapak, dan ibu"


"betul pak.. Bapak dan keluarga sudah baik pada kami. jadi kami akan membalas dengan menjaga kehormatan kalian"


"terima kasih nak Dani, nak Nathan.. Bapak sangat berterima kasih pada kalian berdua"


Dani dan Nathan pun tersenyum pada pak Ujang. Kemudian mereka pun melanjutkan mengobrol ya sebelum pak Ujang kembali bekerja.


setelah lama mengobrol, pak Ujang pun telah ergi karena harus kembali bekerja sementara di rumah hanya tinggal kedua pemuda itu dan juga yang pastinya Santi yang masih mengurung diri di kamarnya. Di teras Dani dan Nathan kembali saling mengobrol. Mereka kembali membicarakan soal yang dialami Dani tadi.


"Dan, apa jadinya ya kalau kita berdua pergi dari sini terus keadaan pak Ujang dan keluarga gimana? terutama sama Santi, pasti pemuda nakal itu ganggu dia lagi"


Dani menghela nafas kasarnya "gue juga gak tahu Than. Kita juga gak selamanya tinggal di sini kan. Apalagi lusa kita harus pulang ke rumah. Jujur dari tadi gue diem mikirin soal ini"


Mereka kembali terdiam sejenak memikirkan solusi untuk masalah ini.


"gue tahu.." ujar Nathan tiba-tiba. Mungkin Nathan berpikir caranya ini akan berhasil melindungi Santi dan keluarganya.


"apa?"

__ADS_1


"lu nikahi Santi aja"


"apa?!!"


Dani terkejut karena Nathan tiba-tiba menyarankannya untuk menikahi Santi.


"bagaimana? Lu juga suka sama Santi kan bro? Ini cara satu-satunya buat Santi selalu aman. Kalau lu nikah sama dia, dia akan tinggal sama lu dan lu bisa jaga dia"


Dani terdiam memikirkan ucapan dari Nathan tersebut. Sebenarnya ada benarnya juga yang diucapkan Nathan tadi. Tapi apakah dengan menikahi Santi akan membuat semuanya lebih baik? Kalau Dani sih mau saja tapi bagaimana Santi menolaknya?


"tapi kalau dianya gak mau gimana?"


"lu usaha dulu.. bilang kalau lu serius sama Santi. Tapi lu beneran ingin menikahi Santi?"


"kalau gue, jujur pengen.. Tapi ini terlalu cepat"


"Lu harus mutuskan semuanya Dani.. Waktu kita di sini tidak banyak. Lu harus mutuskan untuk kedepannya, jangan sampai lu menyesal"


Dani lagi-lagi menghela nafasnya "baiklah.. Nanti gue pikirkan.. Terima kasih atas saran lo"


Hari terlihat semakin sore, sementara Dani di teras sedang termenung seorang diri sedangkan Nathan tidur di dalam. ia masih terngiang akan Saran Nathan yang diberikan padanya.


"nikahi Santi.. Apa gue harus menikahinya?" gumam Dani seorang diri.


Lalu ia memegang dadanya. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang saat memikirkan nama Santi di otaknya. Memang benar, ia sudah mulai jatuh cinta akan gadis desa itu. Tapi untuk menikahinya jujur Dani masih bimbang dengan keputusannya sendiri.


"gue harus gimana?!!"


Namun memorinya kembali terlihat saat Santi hampir dilecehkan oleh para pemuda tersebut. Dan itu membuatnya marah karena mereka berani menyentuhnya. Kalau bukan dia yang menjaga, siapa lagi yang akan menjaga Santi. kali ini, Dani mulai yakin akan dirinya sendiri. Selain ia mencintainya, ia juga ingin menjaganya sepenuh hati.


"baiklah.. Gue akan menikahinya segera.."


***


malam pun tiba..


pak Ujang pun telah pulang ke rumahnya karena selesai melakukan pekerjaannya. Dani melihat pak Ujang sudah pulang, memberanikan diri untuk menghadapnya.


Pak Ujang pun siap mendengarkan pembicaraan Dani. Di sana Dani mengungkapkan semua perasaannya dan langsung melamar Santi di depan pak Ujang serta Bu Narmi. Nathan pun tersenyum mendengar keberanian Dani yang langsung melamar Santi tanpa pikir panjang lagi.


"apa? Kamu mau menikahi putri kami?" tanya pak Ujang pak.


"iya pak.. Saya ingin menjaganya. Karena saya yakin, dengan Santi bersama saya, dia akan merasa aman"


Pak Ujang terdiam sejenak sembari menatap Dani dengan serius.


"apa kamu menikahi putriku hanya untuk menjaganya saja?"


"tidak juga pak.. Dari awal datang ke sini, saya sudah menyukai putri bapak. Dan perlahan, rasa cinta saya untuk Santi mulai tumbuh. makanya itu, sebelum kami pergi dari sini, saya ingin menikahi Santi lebih dulu" ujar Dani dengan jujur dan tegas.


mendengar itu, pak Ujang serta Bu Narmi kembali terdiam dan saling beradu pandang. Dani mulai tegang sebab ia takut jika lamarannya di tolak oleh keduanya. Tapi, bagaimana pun ia harus menikahi Santi. Ia tidak ingin menyesal karena Santi adalah cinta pertamanya. Jadi ia harus memilikinya lebih dulu sebelum dimiliki oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2