Mentari Yang Hilang

Mentari Yang Hilang
kemarahan Dani


__ADS_3

Dani yang sedang menuju ke rumahnya merasa sangat cemas. entah apa yang terjadi pada istrinya ini, ia harus segera sampai ke rumahnya. Tanpa memberitahu orang rumah jika ia pulang lebih dulu, ia memasukkan mobilnya di area parkir di rumahnya. dengan tergesa, ia pun membuka mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.


Kebetulan ia sengaja membiarkan suara mobilnya tidak begitu kedengaran dan tidak menyapa saat masuk ke dalam rumah. Lalu, ia mendengar percakapan mamanya dan Milly yang sedang asik mengobrol tanpa tahu Dani ada dibelakang mereka.


"apa dia akan jera Tante kalau dihukum seperti itu?"


"pastinya.. lagipula kan Tante gak suka sama gadis itu, pembawa sial bagi Dani.."


"hahaha.. Iya Tante, biarkan dia membusuk di gudang haha"


Sontak Dani membulatkan matanya mendengar percakapan itu. Dengan wajah marah, ia pun segera mendekat pada mereka berdua.


"apa yang kalian bicarakan?!"


Kedatangan Dani yang secara mendadak membuat mereka berdua sangat terkejut. Terlihat wajah gugup pada keduanya.


"D-ddani.. Kamu sudah pulang? kenapa tidak bilang?"


namun Dani tak bergeming, ia terus menatap tajam kearah mereka berdua.


"apa yang kalian bicarakan tadi? Apa yang kalian lakukan pada istriku" Tegas Dani kembali.


"ah tidak kok mas Dani.. Kita dari tadi di sini, betul kan Tan?"


"i-iiya.."


Dani memicingkan matanya tanda curiga pada mereka berdua. Dalam hati mereka semoga Dani tidak menyadari perlakuannya terhadap Santi. Jika Dani pergi, mereka akan melepaskannya. Namun sebelum itu terjadi, mereka mendengar suara barang jatuh dan suara gaduh dengan ketukan pintu di area gudang. Mereka berdua terkejut mendengarnya.


"suara apa itu?"


Dani ingin melihat ke arah gudang namun dicegah oleh mereka.


"tidak apa-apa Dani.. Mungkin itu suara tikus. Kamu lebih baik ke kantor lagi ya, pasti kamu lagi sibuk" ujar mamanya yang mengalihkan perhatian Dani.


Namun saat mereka sedang terdiam, terdengar lagi suara ketukan dan disertai dengan teriakan lirih wanita.


"mama... Buka pintunya.. Aku mohon maa... Mas Daniiii.. Tolong aku.."


Ya itu suara Santi, mereka berdua kaku saat mendengar suara itu terutama ada Dani di sana. Dani yang syok segera berlari ke arah gudang.


"Dani.. Kamu mau kemana?!"


"aduh.. Bagaimana ini Tante? Kalau dia buka mulut mas Dani bakal marah sama kita"


Dani segera menyingkirkan benda-benda yang menghalangi pintu gudang tersebut. Kemudian, ia pun mengetuk pintu tersebut berulang kali.


"ada orang di dalam?"


Ia mengetuk pintu berkali-kali namun tidak ada suara yang seperti ia dengar tadi. Kemudian terdengar kembali suara wanita dari dalam sana dan itu memanggil namanya.


"mas Dani.. Mas Dani tolong keluarkan aku mas.." ujaran disertai tangisan tersebut menyebut namanya.


"Santi?! Santi kamu ada di dalam?! Kenapa kamu bisa ada di dalam?!" Dani terkejut mendengar suara istrinya berada di dalam gudang itu. Ia mencari sebuah kunci namun tidak menemukannya.


"sayang? Kamu masih di sana?"


"i-iiya mas.."

__ADS_1


"kamu menjauh dari pintu ya, mas akan dobrak pintunya.."


dengan sekuat tenaga Dani mendobrak pintu gudang yang terkunci itu. Berulang kali ia mencoba, sampai akhirnya ia menendang sekuat tenaga..


BRAK..


dan pintu tersebut berhasil di buka.


"Santi.."


Dani melihat istrinya sedang meringkuk di lantai gudang yang sedikit kotor.


"mas Dani.." tangisan Santi kembali pecah sembari merentangkan tangannya untuk memeluk tubuh suaminya. Dani pun memeluk istrinya itu dan memberikan ketenangan untuknya.


"kenapa kamu bisa ada di sini?"


Santi tidak bisa menjawab, ia hanya menangis dan lumayan kencang. Ia sangat ketakutan berada di gudang ini sendirian.


"aku takut.."


Dani pun mengeratkan pelukannya itu.


"sudah.. Tidak apa-apa, ada aku.. Ayo kita ke keluar"


Santi mengangguk walaupun ia masih menangis. Lalu Dani terheran karena Santi tidak bisa berdiri.


"awshhh.."


"kamu kenapa?" tanya Dani khawatir.


"kakiku sakit mas.."


Dani kembali dibuat syok akan keadaan istrinya tersebut. Kakinya terkena pecahan kaca yang membuat kulitnya banyak yang robek. Kedua telapak kakinya itu terdapat darah yang sudah mengering.


"kenapa kamu bisa seperti ini sayang?"


Dani banyak sekali menyimpan pertanyaan untuk istrinya itu, namun ia menahannya.


"ayo kita ke rumah sakit.."


Dani menggendong istrinya itu, dan membawanya keluar dari gudang. Melihat Dani yang sudah mengeluarkan istrinya membuat Rida dan Milly terdiam. Pandangan Dani pada mereka pun terlihat tajam dan menusuk.


"kalian berdua, diam disini.. Jangan pergi sebelum saya kembali" tegasnya.


Dani pun membawa pergi istrinya yang terkena luka di kaki, ke rumah sakit terdekat. Setelah mendaftar, Santi segera mendapatkan penanganan. Dokter yang memeriksanya sempat meringis karena terdapat banyak pecahan kaca yang hinggap di kulitnya.


Dengan segera pecahan kaca tersebut mereka bersihkan dengan alat khusus. Dan itu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.


"SAKIT.. MAS DANI TOLONG HENTIKAN DIA.. HAAAA"


"sabar sayang ya.."


santi terus menerus menjerit kesakitan, sementara Dani terus menguatkan istrinya agar tetap tenang. Hatinya sangat sakit sekali melihat keadaan istrinya seperti ini. Pantas saja dari awal dia ragu meninggalkan istrinya di rumah sendirian terlebih ada mamanya yang membencinya. Baru beberapa jam saja udah dibuat seperti ini.


Amarah Dani pun masih tersimpan di dalam hatinya. Ia tidak ingin membuat Santi merasa ketakutan karena melihat kemarahannya.


1 jam sudah mengobati kakinya, sekarang kaki Santi sudah terbalut perban dan untuk sementara waktu dia tidak bisa berjalan. Alhasil Dani membeli kursi roda agar memudahkan istrinya bergerak untuk melakukan aktivitasnya.

__ADS_1


"sudah tidak sakit lagi kan?"


"tidak kok mas.. Makasih sudah datang nolong aku. padahal aku tahu kamu sekarang sedang sibuk" lirih Santi.


"kamu jangan cemas soal aku.. Yang penting kamu baik-baik saja.."


Mendengar itu, Santi hanya bisa mengembangkan senyumnya.


"ayo kita pulang"


Santi mengangguk. Dengan dibantu oleh suaminya, ia memasuki mobil dan duduk di sebelah kursi pengemudi. Dan untuk kursi rodanya Dani meletakkan di bagian belakang. Santi bergelayut di tangan suaminya yang fokus menyetir. Mereka akan pulang ke rumah dan itu membuat Santi sedikit takut, tapi ia tidak ingin merepotkan suaminya dengan menahan rasa takutnya.


***


"bagaimana ini Tan? Dani pasti marah besar sama kita"


"awas saja kalau gadis itu sampai buka mulut.. Tante akan beri dia pelajaran yang lebih dari itu!"


"siapa yang akan diberikan pelajaran?"


Mereka berdua sontak menoleh ke arah pintu utama dan menampilkan Dani yang sedang menggendong istrinya Santi. Matanya masih terlihat tajam saat menatap mereka.


"eh tidak kok mas dani.. Mas salah dengar kali" ujar Milly yang berusaha mencarikan suasana.


"kalian tunggu di sini, jangan kemana-mana"


Dani melewati mereka berdua dan menuju ke kamarnya untuk membawa istrinya beristirahat setelah kejadian yang menimpanya hari ini. setelah sampai, ia pun meletakkan Santi diatas tempat tidurnya.


"kamu istirahat dulu ya.. Aku mau ke bawah sebentar"


"mas.. Apa kamu mau memarahi mamamu?" tanyanya dengan lirih.


Dani mengembangkan senyum tipisnya sembari mengelus pelan rambut istrinya dengan sayang.


"tidak kok.. Hanya mengobrol biasa"


"jangan marahi mama ya mas.. Mama marah juga karena ku yang pecahkan Gucci itu. Aku tidak mau hubungan mama dan kamu rusak lagi"


"kamu jangan khawatir, aku tidak akan melakukan hal itu.. Udah kamu istirahat ya" Dani sangat lembut jika berhadapan dengan istrinya. Ia membantu menidurkan istrinya itu hingga terlelap. Ia mengecup keningnya tanda sayang darinya.


Tatapan lembutnya kembali ke setelan awal yang tajam. Ia segera pergi dari kamarnya untuk menuju ke lantai bawah. Terlihat mamanya dan Milly masih ada di sana. ia pun mendekat, kali ini ia berbicara bukan layaknya orang yang ia kenal sebagai Dani keluarganya, melainkan sebagai suami dari Santi yang meminta penjelasan dari tindakan mereka.


"kenapa kalian berbuat seperti ini pada istriku?! Jangan pura-pura mengelak, dikira aku tidak tahu tindakan kalian hah?!!"


Dani memarahi mereka berdua, bahkan mamanya sendiri. Ia sudah muak dengan perlakuan mamanya terhadap istrinya itu.


"kamu marah sama mama karena gadis itu Dani?"


"jelas ma! Dia itu istriku!! Kenapa mama tega buat dia seperti ini?!! Baru beberapa jam Dani tinggalin dia saja sudah mama perlakukan seperti ini, gimana kalau Dani pergi jauh"


"kalau mama masih tidak suka pada istriku tidak apa-apa.. Tapi jangan sesekali bermain fisik atau sampai menyiksanya.. Aku tidak terima!" marahnya memuncak.


"dan kamu Milly! Jangan pernah ikut campur masalahku.. Kamu bukan keluarga di sini, kamu itu orang asing! Tau gak?!" bentak Dani pada Milly.


"kamu apa-apaan sih Dani?! Kenapa kamu berubah seperti ini?! Dani yang mama kenal bukan pembangkang seperti ini!"


"ini semua juga karena mama.. jangan pernah menyalahkan siapapun, karena ini adalah buat dari semua paksaan yang mama lakukan padaku. Aku sekarang memberontak apa yang menurutku tidak benar!"

__ADS_1


Dani benar-benar dibuat marah karena tindakan mamanya ini sangat keterlaluan. Ia tidak habis pikir sebegitu tidak sukanya kah pada Santi sampai menyiksanya seperti ini. Suami mana yang tega melihat istrinya di sakiti oleh mamanya sendiri.


"kalau mama memperlakukan istriku seperti ini lagi, aku tidak akan segan untuk pergi dari rumah ini!"


__ADS_2