
Aku selalu mengagumi Kota Bandung, meskipun dengan alasan yang agak nyeleneh.
Orang ‘kan mengagumi Bandung karena keindahan pegunungannya, kesejukan alamnya, atau daya tarik wisatanya, ya.
Tapi aku? Aku mengagumi Bandung karena pengaturan jalan-jalan di kotanya.
Kenapa?
Karena you will never get lost in Bandung. No matter how lost you are, you can always find your way back home easily.
Berbeda dengan Jakarta dan semua labirin one-way nya.
Atau New York dengan nama-nama jalannya yang sulit diingat setengah mati.
Di Bandung, jika kita ingin pergi ke Dago misalnya, namun salah mengambil jalan dan entah bagaimana malah tiba di Sukajadi, tidak perlu khawatir.
Ikuti saja jalan dan petunjuk-petunjuknya, kita pasti akan segera tiba di tempat yang ingin kita tuju. Bahkan tanpa perlu memutar balik.
Karena semua jalan di Bandung itu terhubung satu sama lain. Bagaikan miliaran neuron yang meskipun berstruktur rumit luar biasa, tapi tidak pernah terlepas dari kawanannya.
Itulah mengapa aku berani menyetir mobil di kota ini meskipun aku ini pelupa parah.
Putriku saja selalu ragu kalau harus diantar sekolah olehku.
Saat ia sudah duduk manis dengan seragam TK-nya lalu mendapati bahwa akulah yang masuk dan menyalakan mesin mobil, ia selalu berkata.
“Ma, hali ini Tia cama Mama? Tia cama Papa atau Pak Supli (baca : Supri) aja, Ma.”
Perkataan yang selalu kubalas dengan, “Iya, Sayang. Hari ini sama Mama, ya? Tidak apa-apa, ‘kan?”
Lalu sambil memainkan jari mungilnya, ia biasanya bergumam.
“Tapi kata Papa, Mama *cuka*calah jalan.”
Jika aku sudah mendengar ini, aku biasanya segera mengulurkan tangan dan mencubit gemas pipi cantik semata wayangku itu.
“Jadi Tia tidak mau sama Mama, nih? Mama turun ya?”
Jurus yang tidak pernah gagal karena putriku itu pasti akan langsung tersenyum dan menarik tanganku lembut.
__ADS_1
Dan lalu kami akan menghabiskan menit-menit di jalan sambil menyanyi dan tertawa bersama.
Meskipun memang aku sering salah berbelok atau salah memilih rute, tapi semua itu bukan masalah.
Karena aku sudah menghabiskan waktu bersama putriku.
Karena aku berhasil mengantarkan putriku ke tempat tujuannya.
Putriku.
Judistia Jyotika Wibowo. Cahaya matahari keluarga Wibowo.
Terangku.
...
Mobilku melaju mulus di jalanan kota Bandung.
Diterangi lembayung senja, aku menyetir tanpa arah.
Aku harus cepat pulang.
Ada tugas para murid dan laporan keuangan toko yang harus kuperiksa sebelum malam tiba.
Tapi aku tidak mau pulang secepat itu. Tidak sekarang. Tidak hari ini.
Hari ini aku ingin tersesat.
Ingin tersesat sejauh mungkin sampai tidak bisa kembali.
Ingin tersesat sejauh mungkin sampai aku lupa caranya kembali.
Dering bercampur getar memanggil kencang dari jok penumpang, menerobos lamunanku yang dipenuhi memori.
Aku melirik sekilas dan mendapati nama Windra di sana.
__ADS_1
Mengetatkan genggam pada setir, aku menginjak pedal gas sedikit lebih dalam.
Aku tidak mau mengangkatnya. Tidak akan pernah. Tidak akan pernah mau.
“Halo?”
Ketus.
“Apa?”
Hela nafas.
“Wi, jangan ketus begitu dong. Aku ‘kan hanya ingin menanyakan kabarmu. Sedang apa kamu? Sudah makan?”
Aku mendengus penuh ironi.
“Why do you care anyway, Win? You didn’t care then. Ini basa basi untuk apa sebenarnya?”
Lelah, ia menjawab.
“Dewi, please. Kenapa kamu selalu seperti yang benci padaku? Aku cuma mau...”
Tak peduli pada apa yang mau ia katakan, aku memutuskan telepon dan melemparkan handphone sembarang ke jok samping.
Tadi itu Windra. Nama lengkapnya Rawindra Santosa Wibowo.
Suamiku.
...
Correction. Ex-husband.
Seperti benci, Win? You’re wrong.
Aku memang membenci kamu.
__ADS_1
Aku membenci laki-laki pengecut yang pergi meninggalkan aku, satu hari setelah putri kami satu-satunya dipanggil Tuhan.
Sampai matipun aku tidak akan pernah memaafkannya.