
Rawindra
Seperti yang semua orang ketahui, seorang pelayan kesehatan sepertiku ini jarang sekali bisa ada di rumah di jam-jam normal.
95% dari kehidupan keluarga kami adalah aku berangkat dini hari dan pulang di dini hari berikutnya, bahkan setelah aku menjadi spesialis.
Karena itu, saat-saat langka di mana aku bisa duduk di sofa bersama Dewi dan Tia saat matahari masih bersinar adalah saat paling berharga bagi kami.
Lebih dari apapun.
Dan kami tahu itu.
Maka kami sudah berjanji pada diri kami sendiri untuk mencurahkan diri seutuhnya di jam-jam tersebut.
No smartphone, no nothing. Just us.
Dan kami melakukan apa saja yang kami inginkan.
Menonton film berseri, bercakap-cakap, atau bersih-bersih rumah saat Tia masih ada di pangkuan Tuhan.
Bermain lego, bermain play-doh, dan bermain tea party saat Tia sudah dititipkan di pangkuan kami berdua.
Just me, my wife and my daughter. Our family.
Nah, suatu hari...
Aku lupa kapan persisnya, pokoknya saat itu Tia belum lahir.
Kami menemukan diri kami di sofa lagi.
Aku dan Dewi, tertawa-tawa karena candaan yang terlupakan.
Asyik jumping from channel to channel sambil mengobrol ke sana kemari.
Tidak sungguh-sungguh menonton, hanya melihat beberapa menit pembuka dan berpindah lagi.
Tidak masalah bagiku karena semua tontonan itu hanya suara latar bagi pertunjukan utama yang kutunggu-tunggu.
Suara celetukan Dewi.
Mulai dari “Aku baru tahu lho kalau biscuit itu artinya roti yang dipanggang dua kali” saat kami menyaksikan ‘Food Factory’.
Hingga “Maybe I’m wrong, tapi menurutku ‘The Devil Wears Prada’ is overrated” sesudah kami melihat 10 menit pertama dari film legendaris tersebut.
Lalu entah bagaimana, kami tiba di channel yang sedang menayangkan ‘Criminal Minds’.
Tahu, ‘kan? Serial crime-solving yang berpusat pada petualangan tim Behavioral Analysis Unit-nya FBI itu.
Dan entah mengapa, kami berhenti mengobrol dan sungguh-sungguh fokus menonton episode itu.
Aku ingat judul episodenya adalah ‘The Caller’.
Tentang seorang penjahat yang menculik dan membunuh anak-anak kecil setelah mengirimkan pesan telepon mengerikan pada orang tua mereka.
Well, khas Hollywood, akhirnya penjahat itu berhasil ditangkap.
Tapi anehnya, adegan yang paling berkesan bagiku bukan saat para profiler FBI itu berhasil menemukan identitas si penjahat dari suara latar telepon terornya.
Bukan pula saat para agen FBI itu berhasil meringkus si penjahat di rumahnya sendiri.
Tapi adegan penutuplah yang paling berkesan bagiku.
Di situ digambarkan kedua orang tua dari korban terakhir.
Setelah para agen pulang ke Quantico, sepasang orang tua ini duduk bersisian di sofa.
Tidak berpegangan tangan, tidak bersentuhan.
Hanya duduk bersandar, tatapan nanar kosong ke depan.
Dan saat itu juga sesuatu menghantamku begitu nyata.
...
Nobody teaches them how to move on.
__ADS_1
Mereka memang mendapatkan closure.
Mereka tahu apa yang terjadi pada anak mereka, siapa yang melakukannya, bahkan mengapa si pelaku melakukannya.
Tapi setelah itu apa?
Gelap. Dingin. Sendiri.
Bagaimana cara mereka melanjutkan hidup?
Bisakah si Ayah pergi bekerja seperti biasa, bercengkerama dengan rekan-rekan seperti biasa, atau melakukan business deals seperti biasa?
Bisakah si Ibu memasak seperti biasa, pergi tidur seperti biasa, membersihkan rumah seperti biasa?
Apa yang harus dilakukan setelah kehilangan sebesar itu?
...
Jujur, aku tidak tahu.
Dan ini menyiksaku sepenuhnya.
Aku tahu mengapa Tia diambil dari kami.
Aku tahu penyebabnya, aku tahu sel-sel mana saja yang rusak, aku bahkan paham proses kesakitannya.
Tapi tahu semua itu tidak membuatku tahu apa yang harus kulakukan setelahnya.
Or rather...
Aku tahu apa yang harus kulakukan, tapi semua pengetahuan itu tidak membuatku MAMPU melakukannya.
...
San Filippo Syndrome Type C.
Penyakit degeneratif unik yang menghancurkan sel-sel dan jaringan otak perlahan-lahan.
Penyakit otak ganas yang merenggut segala identitas seseorang dengan begitu kejamnya.
Aku sudah curiga sejak kejadian Dewi lupa menjemput Tia.
Dan setelah kugali lebih dalam ke Ayah dan Ibu Mertua-ku, aku jadi tahu bahwa Dewi bukan kasus tunggal dalam keluarga.
Ada Eyang Putrinya dan bahkan Kakek Buyutnya yang pernah mengalami hal yang sama.
Aku tahu ini harus segera ditindak lanjuti.
Istriku harus segera diikutkan perawatan terapi intensif untuk mengendalikan, atau setidaknya memperlambat kinerja si penyakit ini.
Aku tahu...
Tapi apa aku bertindak?
Tidak.
Aku tidak sanggup.
Aku tidak sanggup melihatnya menangis lagi.
Menangis karena merasa begitu lemah dan tidak berarti.
Menangis karena merasa tidak bisa apa-apa.
Menangis karena merasa tidak berguna.
Karena itu aku memilih menjaganya dari jauh.
Aku mempekerjakan sopir pribadi untuk mengantar-jemput Tia.
Aku menghubungi asisten-asisten kami di toko untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab dengan lebih banyak bayaran (dari kantong pribadiku, tentu saja).
Aku melakukan semuanya, tanpa sepengetahuan Dewi.
Saat Tia jatuh terserang penyakit yang sama, aku sudah tahu jauh di lubuk hati.
__ADS_1
Aku bahkan sudah menyiapkan hati seandainya Tia dipanggil pulang ke sorga.
Aku hanya berdoa supaya ia tidak pergi dengan terlalu banyak kesakitan.
Dan setelah apa yang kutakutkan sungguh terjadi, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan.
Aku harus pergi.
Aku harus mempelajari perawatan terapi khusus San Filippo Syndrome Type C ini baik-baik.
Aku harus melengkapi diriku dengan kemampuan untuk merawat istriku.
...
Aku tahu.
Tapi aku tidak mampu.
Aku tidak mampu mengatakan yang sebenarnya.
Derum mobil halus di halaman depan membuyarkan lamunanku.
Aku mengangkat wajah dari buku bacaanku dan mendapati Jazz Dewi sudah memasuki halaman.
Menghela nafas dalam-dalam, aku menutup buku dan bangkit berdiri.
Di ujung pandangku, Dewi membuka pintu dan beranjak keluar.
Aku meneguk ludah.
Ini saatnya.
Aku tidak boleh lari lagi.
Aku harus menyatakan yang sebenarnya.
Mungkin ia akan menangis lagi.
Hancur begitu tahu bahwa putri kami direnggut karena penyakit bawaan keluarganya.
Tapi di situlah peranku sebagai suami, ‘kan?
Aku harus menyangganya saat ia jatuh.
Mengingatkan bahwa ini bukan kesalahan siapa-siapa.
Dan menyediakan diri untuk menemaninya sampai akhir.
Aku siap.
Ketukan tumit sepatunya bergema memantul dari lantai ke seluruh ruangan.
Langkahnya cepat dan sigap, aktif seperti biasanya.
Ia melemparkan tas tangannya ke atas sofa, lalu berjalan mendekat kepadaku.
Aku tersenyum menyambut, berusaha menyembunyikan keteganganku.
“Sudah pulang ya, Wi.” (Crap, pembuka macam apa ini? Ya iya dia sudah pulang. ‘Kan orangnya
ada di depanmu!)
“Padahal tadi aku jemput saja, Wi. Supaya kamu bisa istirahat. Masalah mobil sih nanti bisa diatur.” (Okay, better, Dra. Be cool.)
“Uhm, Wi. Masih ada waktu sampai makan siang dengan Andra. Kita duduk dulu, ya? Ada yang mau aku bicarakan sebentar.” (Okay, this is it. The moment of truth. Help me God.)
Aku mengulurkan tangan meraih lengannya, dan di saat itulah bibirnya terbuka.
Mata terpejam, ia memalingkan wajah dariku.
Menolak sentuhanku.
“Aku selingkuh dengan Andra”, ujarnya.
Beku.
__ADS_1