Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Bab 2 - Dewi yang Bahagia


__ADS_3

April 2007


“Sar! Pensil alisku di mana? Perasaan tadi terakhir di sini deh.”


“Mbok Yum! Aku lupa bawa handuk! Tolong ambilkan handukku ya! Yang hijau!”


“Duh, please deh, Ni. Itu mata dipakai dong. Tuh pensil alisnya di depan. Sekalian nih tolong bawakan handuk buat Andhara. Mbok Yum sedang sibuk di dapur.”


“Duh, ini bocah. Andhara! Kamu ini kebiasaan sih sudah SMP tapi manja sekali. Periksa dulu dong handuknya, mau mandi tidak bawa handuk. Nih ambil!”


Duh, ricuh sekali sih. Bagaimana mau mengerjakan tugas kalau begini?


Mana makalahnya harus kumpul besok lagi.


“Sari, Tania, Andhara, ada yang lihat Dewi di mana?”


Mati aku. Ibu sudah mencari-cariku lagi. Harus sembunyi di mana supaya aku tidak ketahuan? Di dalam lemari di bawah tangga? Atau di dalam lemari pakaian?


Akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan akan bersembunyi di sudut halaman belakang rumah.


Selagi aku berindap-indap menembus kerusuhan, terdengar satu per satu balasan dari saudara-saudaraku.


Raden Sari Anggita Yasthi, kakakku yang tertua menjawab, “Aku tidak tahu, Bu! Aku dari tadi sedang mencari dress-ku yang baru!”


Raden Ayuning Tania Asri, kakakku yang kedua menjawab, “Tidak lihat, Bu! Dari tadi aku sibuk touch up!”


Raden Baskara Tito Andhara, adik bungsuku menjawab, “Lha, dari tadi aku mandi, Bu. Kak Dewi yang pasti ndak ada di dalam bak mandi.”


Mendengar jawaban Andhara, sontak aku terkikik geli. Ada-ada saja sih bocah ini. Kreatif juga kata-katanya, cocok jadi komedian suatu saat nanti.


Menyusul jawaban dari ketiga saudaraku, suara cemas Ibu sangat terdengar.


“Aduh, ini anak ke mana sih. Wi? Dewi?”


Buru-buru aku menyumpal kikikku dengan tangan.


Jangan sampai Ibu menemukan dan memaksaku berdandan deh.


Di saat seperti ini, tugas penelitian tindakan kelas dari Bapak Hotman lebih penting daripada menyambut rekanan bisnis Ayah.


“Raden Sri Dewi Adhisti! Di manapun kamu berada, Ibu tunggu di ruang tengah dalam lima detik!”


...


Yah, nama lengkap keluar sudah.


Hela nafas, aku menutup buku dan berjalan gontai menghampiri Ibu.


Dan demi melihatku, alis Ibu yang sudah dilukis hati-hati selama dua jam meninggi dan menyatu dalam marah.


“Dewi! Apa-apaan kamu ini belum siap-siap? Tamunya sudah mau datang! Cepat...”


Dalam sekejap, seluruh aktivitas dan riuh rendah rumah berhenti.


Seluruh penghuni rasanya seperti menahan nafas karena suara mesin mobil, lebih dari satu, memasuki halaman.


Panik, Ibu segera memberi titah padaku.


“Cepat naik dan berpakaian yang pantas! Jangan membantah!”


***


“Sudah datang ya tamunya?”


Aku mengangkat bahu malas.


“Maybe. I don’t have time for this. Lebih baik aku selesaikan tugas saja deh.”


Tania mencibir.


“Please deh, Wi. Zaman sekarang masih saja jadi anak geeky begitu. Kamu kurang bergaul, Wi.”


Aku mengangkat alis memandang Tania.


“Yang kamu maksud dengan bergaul itu apa, Ni? Gonta ganti pacar, hopping from club to club seperti kamu? Thanks, but no thanks.”


Sari segera menukas sebelum Tania bisa menyemburkan amarah.


“Ni, sudah tidak perlu marah-marah. Nanti make up-nya luntur lagi. Wi, Kakak setuju dengan Tania. Keluarga kita ini ‘kan begini-begini terkemuka, Wi. So act like one, dong. Ini kamu sudah kuliah tidak jelas di keguruan, dandan jarang, mau jadi apa kamu nanti?”


Aku pura-pura berpikir keras sebelum menjawab.


“Mau jadi orang normal sih, Kak. Yang bisa bermanfaat buat orang banyak.”


Andhara tertawa.


“Kak Dewi ini bagaimana sih. Kak Sari dan Kak Tania ‘kan bermanfaat juga. Membuka lapangan kerja untuk pegawai-pegawai di toko barang-barang branded lho.”

__ADS_1


Aku ikut tertawa sambil mengganti baju.


Sari dan Tania mendengus kesal dan sekarang mulai memainkan handphone mereka.


Jangan kaget, ya? Kami empat bersaudara ini memang terbagi menjadi dua kutub berseberangan.


Kutub yang satu, percaya bahwa kita ini dilahirkan dengan privilege dan wajib menikmatinya sepuas mungkin. Dihuni oleh Sari dan Tania.


Kutub yang kedua, percaya bahwa kita ini dilahirkan dengan privilege dan wajib bertanggung jawab menggunakannya untuk menolong orang lain. Dihuni oleh aku sendiri.


(Andhara? Dia sih netral. Dia akan memihak siapa saja yang menolongnya mengerjakan PR atau membelikannya game terbaru. Kebetulan kemarin aku baru saja membantu PR Matematikanya, maka hari ini dia memihakku.)


Mana yang benar? Mana aku tahu.


Yang pasti sih, aku tidak menemukan kedamaian dengan menghabiskan waktu hidupku dengan shopping ke mall atau fancy dining setiap weekend.


Jadi apa yang membuatku damai?


Menghabiskan waktu membacakan buku pada anak-anak di panti asuhan, mengajari mereka berhitung dan membuat prakarya.


Itu yang membuatku puas.


Tania yang masih panas tiba-tiba berceletuk.


“Ya silakan saja hidup seperti yang kamu mau, Wi. Paling juga jadi perawan tua.”


Menarik nafas dalam sambil merapikan rambut, aku berusaha keras untuk menelan jawaban pedas yang telah kusiapkan.


As bad as she is, she is still your big sister. Even though she is an annoying one.


Tawa Ibu terdengar dari lantai bawah, yang segera dilanjutkan dengan kode agar kami segera turun.


“Iya, anak-anak kami ada di atas. Mari kami perkenalkan, ya? Sari, Nia, Dewi, Andhara, turun sini, Nak!”


***


Kalau kalian dilahirkan di keluarga Jawa sepertiku, kalian akan mengerti.


Mengerti deritanya kunjungan-kunjungan tamu seperti ini.


Karena mau dipoles bagaimanapun, aku tahu kok.


‘Perkenalan’ dan ‘silaturahmi’ ini adalah topeng untuk pameran pencapaian sekaligus ajang perjodohan.


Ibu akan memperkenalkan kami satu per satu pada semua tamu yang datang (aneh bahwa semua tamu ini memiliki anak laki-laki yang sebaya kami. Bagaimana aku tidak curiga kalau ini setting-an?)


“Perkenalkan, ini Sari, putri sulung kami. Dia sedang kuliah bisnis di Pranditya.”


Seperti yang sudah dilatih, setelah Ibu mengucapkan ini, Sari dan Tania berdiri dan membungkuk sopan. Mengarahkan senyum termanis mereka kepada putra-putra rekan bisnis Ayah dan setelahnya langsung mengatur jadwal dating bersama. (hanya aku yang tahu bahwa dating-dating itu bukan kencan, hanya upaya untuk membujuk para lelaki malang ini membelikan mereka barang branded)


Dan aku juga sudah hafal perubahan nada perkenalan Ibu.


Jika Sari dan Tania mendapatkan introduction kualitas main show, maka aku hanya side show. Karena Ibu pasti akan berkurang binar mata dan semangatnya saat berkata.


“Dan ini Dewi, yang ketiga. Setahun di bawah Tania dan sedang kuliah keguruan di Paramesta.”


Aku pun sudah terbiasa. Jika anak-anak lelaki tamu itu sangat antusias memandangi Sari dan Nia, mereka hanya akan tersenyum seadanya padaku.


Yah, tidak masalah sih.


Aku lebih baik menjadi perawan tua daripada menjalani hubungan tidak jelas seperti kakak-kakakku.


Maka sesuai repertoir, aku membungkuk sopan dan menatap para tamu. Siap untuk menerima pengabaian yang biasa.


...


Lho... Hari ini ada yang berbeda.


Ada seorang laki-laki muda duduk tepat di depanku.


Kemeja batik slim fit tangan pendek, celana panjang hitam, kulit sawo matang, mata cokelat gelap, dan rambut cepak.


Cukup tinggi dan tegap posturnya.


Begitu aku selesai membungkuk, ia segera berdiri dan mengulurkan tangan padaku.


Senyumnya cemerlang saat ia berkata.


“Namaku Rawindra. Rawindra Santosa Wibowo. Salam kenal, Dewi.”


Itulah pertama kali aku bertemu dengannya.


***


Jujur, perasaanku berubah saat itu.


Biasanya aku sama sekali tidak tertarik dengan basa basi ini, jadi aku suka mencari alasan untuk menyingkir dan tidak kembali lagi.

__ADS_1


Tapi hari ini aku begitu betah berada di lantai bawah selama kunjungan berlangsung.


Semua itu karena setelah perkenalan formal selesai dan jamuan makan dimulai, Rawindra segera menghampiriku dengan semangat. (God, aku puas sekali melihat Sari dan Nia melongo heran dan kecewa begitu)


“So, keguruan, ya? Kamu memang bercita-cita ingin jadi guru, Wi?”


Aku sedang berdiri di teras belakang rumah sambil memakan buah-buahan saat itu.


Meskipun terkejut, namun aku menjawab.


“Yah, kurang lebih begitu, Rawindra.”


Ia tertawa.


“Panggil aku Windra saja, Wi.”


Aku tersenyum.


“Okay, Windra.”


Ia lanjut bertanya.


“Kalau boleh tahu, kenapa memilih jadi guru, Wi? Keluargamu tidak ada latar belakang guru, ‘kan?”


Aku mengingat-ingat dan menggeleng.


“Ayahku businessman, Ibuku businesswoman. Kakek dan Nenek juga begitu. Tidak ada sih.”


“So, why?”


Aku refleks memasang mental defensif.


“Kenapa kamu bertanya begitu? Aneh ya kalau aku memilih jadi guru?”


Sadar telah melewati batas, buru-buru ia menjelaskan.


“Eh, bukan, Wi. Aku tidak ada maksud mempertanyakan pilihanmu atau apa. Aku hanya ingin tahu saja.”


Menatap matanya dan mencari kebohongan, tidak kutemukan. Akhirnya aku pun menjawab jujur.


“Alasannya sederhana sih, Dra. Aku cuma ingin menolong orang yang perlu ditolong. Dan yang kedua, aku suka anak kecil. Jadi profesi yang paling cocok untukku ya guru.”


Rawindra menatapku dengan sorot mata bercahaya yang belum pernah kuterima sebelumnya.


Ia berkata lagi.


“Wow, keren, Wi. Jarang sekali kulihat ada perempuan di keluarga kaya raya yang punya jiwa berbagi sepertimu. Bukan sekedar berbagi uang dan selesai, tapi juga mau ikut terjun menolong sesamanya.”


Aku tertegun.


Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan itu padaku.


Rawindra meneguk jusnya dan bercerita.


“Aku juga sama, Wi. Aku mengambil jurusan kedokteran dengan alasan yang sama. Aku capek melihat banyak orang yang lahir dengan privilege malah menggunakannya untuk keuntungan sendiri. Sementara di luar sana ‘kan banyak yang membutuhkan apa yang kita punya. Benar tidak?”


Antusias, aku menjawab.


“Iya! Setuju! Karena itulah Tuhan memberi banyak berkat pada kita. Supaya kita menjadi berkat untuk orang lain!”


Rawindra tersenyum lebar.


“Wow, sama dengan prinsip hidupku, Wi!”


And on, and on, and on.


Kami bercakap-cakap tanpa henti, tanpa jeda.


Keakraban kami hanya terhenti sesaat karena keluarga Rawindra harus pamit pulang.


Namun hubungan antara aku dan dia terus berlanjut.


Kami bertukar nomor handphone dan meneruskan diskusi lewat SMS.


Dari SMS, berlanjut ke telepon.


Dari telepon, berlanjut ke janji bertemu.


Dari janji bertemu, berlanjut ke jatuh cinta.


Dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga akhirnya di penghujung tahun keenam ia melamarku.


Tanpa pikir panjang, aku menerima lamarannya dan kami segera menikah.


Dengan keyakinan penuh bahwa kami adalah pelengkap dan penolong bagi satu sama lain.


Aku, Rd. Sri Dewi Adhisti, S.Pd. resmi menikah dengan dr. Rawindra Santosa Wibowo pada tanggal 2 November 2013.

__ADS_1


Dan aku bahagia.


Kami bahagia.


__ADS_2