Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Bab 15 - Titik Balik


__ADS_3

Everybody has a hiding place.


Semua orang punya tempat sembunyi yang mereka andalkan untuk bertahan dalam setiap musim kehidupan.


Bagi banyak selebriti Hollywood seperti Drake, the Kardashians, dan bahkan Justin Bieber yang harus bersembunyi dari kejaran paparazzi, itu adalah Calabasas. Sebuah area perumahan yang tenang di Lembah San Fernando, Los Angeles, California.


Bagi Adolf Hitler yang harus bersembunyi dari kejaran intel seluruh dunia pada masanya, itu adalah The Fuhrerbunker, kompleks pertahanan bawah tanah anti serangan udara di Berlin, Jerman.


Bagi Windra itu adalah tangga darurat rumah sakit. Tempat terbaik untuk bersembunyi dari tekanan keluarga pasien dan direktur rumah sakit, bahkan dari diri sendiri saat ia merasa sangat bersalah (Windra pernah menghabiskan semalaman di sini dan tidak pulang sama sekali saat pasien kembar siam dempet kepalanya yang masih bayi meninggal di meja operasi, di bawah pimpinannya langsung).


Bagi Judistia putriku yang harus bersembunyi dari kekesalan aku atau Windra, itu adalah di balik selimut favoritnya (ia pernah bertahan tinggal di situ seharian tanpa makan dan minum saat aku dan Windra kesal karena ia tidak mau ikut les vocal).


Bagiku yang harus sembunyi dari rasa bersalah atas apa yang telah kulakukan bersama Andra, itu adalah Motherheart kami.


Tidak ada yang lebih menenangkan daripada duduk di sudut toko, di atas bangku kayu kecil ini. Menonton keluarga-keluarga kecil berdatangan dan membeli keperluan anak mereka, ataupun pasangan-pasangan muda yang sedang mempersiapkan kelahiran buah hati mereka.


...


Aku tahu aku sudah sangat bersalah.


Aku sudah terlalu dalam dan terlalu lama bermain api.


Maksudku, membiarkan pria lain menyentuh dan membelaiku seperti itu?


Aku tahu aku salah.


Tapi apa lagi yang bisa kulakukan?


Apa lagi yang bisa aku, seorang wanita yang kehilangan putri dan suaminya dalam satu hari ini lakukan untuk bertahan hidup?


Lebih-lebih saat aku melihat foto Windra dengan perempuan lain...


Stop it.


Tidak ada gunanya.


Tidak ada gunanya aku berusaha membela diri dari kejaran nurani ini.


I messed up, big time.


Terlebih lagi saat aku menguatkan diri menatap mata Windra dan meneliti raut wajahnya.


Dia tidak pernah bisa berbohong atau menyembunyikan sesuatu dariku.


Dan kemarin saat aku bertemu lagi dengannya setelah satu tahun, aku sama sekali tidak menemukan mata yang ketakutan karena sudah selingkuh di belakang pasangannya.


Justru kalau mau jujur, mataku lah yang memancarkan ketakutan itu.


...


But please be honest with yourselves.


Aku tidak akan melakukan apa yang kulakukan dengan Andra jika Windra tidak terlebih dahulu menyakitiku.


Tidakkah kalian akan melakukan hal yang sama di posisiku?


...


Forget it.


Tidak ada gunanya.


Mau bercerita pada siapapun, tidak akan ada yang mau membelaku.


Mungkin satu-satunya fakta yang masih bisa menenangkan nuraniku adalah aku tidak melakukan lebih dari menonton film atau makan malam bersama Andra.


Beberapa sentuhan dan pegangan tangan, but that’s it.


Menghela nafas, aku bangkit dari bangku.


Sehebat-hebatnya sebuah tempat persembunyian, kita tetap tidak bisa selamanya tinggal di situ, ‘kan?

__ADS_1


Menyandang tas tangan mantap, aku berjalan menghampiri kasir.


Aku akan meminta laporan perkembangan media sosial toko dari karyawan hari ini, agar kunjunganku ke sini tidak sia-sia sepenuhnya.


“Selamat pagi, Bu”, sapa penjaga kasir ramah.


Aku balas tersenyum.


“Pagi. Tokonya lancar ya, sejauh yang saya lihat.”


Penjaga kasir tersebut mengangguk sopan.


“Iya Bu. Ada yang bisa saya bantu, Bu?”


Masih tersenyum, aku menjawab.


“Iya, saya mau memeriksa saja. Bagaimana media sosial toko? Rajin di-update ‘kan?”


Penjaga kasir tersebut tampak kebingungan.


“Mm, maaf Bu. Maksud Ibu media sosial apa ya?”


Senyumku berkurang derajatnya sedikit.


“Media sosial toko ini. Instagram, Facebook, semua yang kita buat bulan kemarin itu lho.”


Makin kebingungan, penjaga kasir itu mulai menoleh ke sana kemari mencari bantuan.


Senyumku semakin memudar, berganti kesal.


“Kamu karyawan baru, ya? Panggilkan Lastri deh.”


Kebingungan dan panik, si penjaga kasir tersenyum gemetar.


“Mm, maaf Bu. Lastri mana ya, Bu?”


Kekesalanku semakin memuncak.


Keras-keras, aku menegur si penjaga kasir keterlaluan ini.


Ketakutan, si penjaga kasir menciut.


Sebagai respon dari teguranku, seorang penjaga toko lain datang menghampiri.


“Maaf, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”


Aku menoleh dan mendamprat orang yang baru datang ini.


“Ada yang bisa kalian bantu memang. Dan itu sederhana sekali kok. Saya hanya ingin tahu laporan perkembangan media sosial toko! Sesulit itu kah?”


Berusaha tenang, penjaga toko yang baru datang ini menjawab.


“Maaf Bu, tapi Ibu siapa?”


Dari sudut mata, aku bisa melihat security toko mulai mendekat.


Pemandangan ini, jawaban ini, dan semua ini membuat darahku semakin panas.


“Kamu tanya saya siapa? Saya Raden Sri Dewi Adhisti! Pemilik toko ini! Pemilik Motherheart! Siapa kamu berani-beraninya...”


Cepat dan jelas, ia memotong.


“Maaf Bu, tapi ini bukan Motherheart. Ini toko Moms and Us.”


Belalak dan shock merambat di sekujur badan, aku seolah disiram air dingin dan ditarik sadar.


Seragam toko, interior, dan orang-orang di dalamnya bukan milik Motherheart.


Aku salah tempat sama sekali!


Sentuhan lembut berusaha menggiring lenganku, disertai suara berat security.

__ADS_1


“Mari Bu, saya antar keluar.”


Tanpa daya, aku membiarkan diri dipapah.


Semakin malu dan merasa gila saat menyadari tatapan seluruh orang di dalam toko tertuju padaku.


Di depan pintu mobil, security melepaskan lenganku dan berkata ramah.


“Apa ada yang bisa saya bantu, Bu? Ada nomor yang bisa kami hubungi untuk membantu Ibu?”


Membalas tatap, aku terperangah.


Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?


***


Dahi menempel di atas setir, aku masih berusaha menenangkan diri.


Dua jam dan beberapa kilometer kemudian pun, kejadian itu masih terasa segar di ingatan.


Sial, sial, sial!


Lupa jalan sudah biasa, sekarang aku lupa tempat?


Bagaimana mungkin? Aku masih muda! 35 tahun!


Bagaimana bisa aku berlaku seperti almarhumah Eyang Putriku yang salah masuk rumah bertahun-tahun yang lalu?


What is wrong with you, Wi?


Berjam-jam aku duduk di toko tadi. Berjam-jam aku melihat pemandangan di sana.


Bagaimana mungkin aku tidak menyadari bahwa itu bukan tokoku?


Stupid! Stupid!


Se-stress dan se-distracted-distracted-nya aku, belum pernah aku bertindak sebodoh ini.


My God.


...


Gemetaran, aku mengambil botol jus-ku dan meneguknya dalam-dalam.


Membiarkan tetesan demi tetesan segarnya meredakan gejolak ketakutan di dadaku.


Handphone-ku sudah berdering sedari tadi, namun aku tidak mau menjawabnya.


Aku tidak peduli apakah itu Windra atau Andra atau siapa lah yang menelepon.


Aku tidak mau lagi memikirkan Windra.


Aku tidak mau lagi terlibat dengan Andra.


Enough is enough.


Menghabiskan jus-ku hingga tetes terakhir, aku melempar botol kosong begitu saja ke jok samping.


Memejamkan mata dan menghela nafas dalam-dalam.


Membuka mata, aku memasukkan persneling dan menginjak gas.


Menuju arah pulang, untuk mengakhiri semuanya.


Aku akan mengakui apa yang telah kulakukan dengan Andra selama satu bulan belakangan ini.


Aku akan menghadapi Windra dan menanyakan mengapa ia meninggalkanku selama ini.


Dan setelah itu, aku akan memutuskan semua hubungan dengan kedua laki-laki itu.


Sudah cukup.

__ADS_1


Sudah cukup mereka menyiksaku hingga aku berantakan begini.


Sudah cukup.


__ADS_2