Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Bab 3 - Ruang Kenangan


__ADS_3

September 2021, Melanjutkan Waktu dari Awal Cerita


Jam sudah menunjukkan pukul 20.46 saat mobilku berbelok masuk ke Jalan Guntur.


Menembus pepohonan rindang di kanan-kiri jalan, aku menuju rumah sederhana nomor 23.


Tubuh lelah setelah berkendara memutari Bandung berjam-jam, hati lelah karena kenangan tidak penting yang muncul tanpa permisi.


Kenangan perkenalan dan pernikahanku dengan Windra.


Sial, aku harus mencuci habis pikiranku dengan sesuatu. Tidak mungkin aku bisa bekerja dengan hati remuk begini. Mungkin segelas anggur boleh juga.


Tenggelam dalam renungku sendiri, aku nyaris tidak menyadari mobil Honda Jazz kuning yang familiar terparkir rapi di depan pagar rumah.


Menahan keheranan hingga aku memasukkan mobil ke halaman, aku baru bertanya pada Mbok Jem setelah aku turun.


“Mbok, Andhara ada di sini?”


Mbok Jem mengangguk.


“Sudah dari tadi sore, Bu. Mau menunggu Ibu pulang katanya.”


Dan benar saja, begitu langkahku melewati ambang pintu, sapanya menyambutku nyaring.


“Sis!”


Menyusul panggil, Andhara sendiri datang dan memelukku erat-erat.


“Apaan sih, Dhar, panggil-panggil Sis segala. Memangnya Mbak reseller online shop?”, ujarku sambil membalas pelukannya.


Andhara melepas peluk dan tersenyum lebar.


“Apa kabar, Mbak? Sehat?”


Aku mengelus pipi adik laki-laki kesayanganku ini.


“Sehat, Dhar. Kamu kapan pulang dari US?”


Andhara menjawab.


“Kemarin, Mbak, terus aku langsung ke rumah Ibu. Baru hari ini keliling-keliling. Tadi siang ke Mbak Sari dan Mbak Nia, sore ini mengunjungi Mbak. Mbak dari mana saja sih? Aku tadi sampai ketiduran menunggu Mbak pulang.”


Aku mengajak Andhara masuk ke dalam sambil menjawab pertanyaannya.


“Ya biasa, Dhar, sibuk di sekolah, terus tadi refreshing keliling-keliling Bandung saja. Duduk dulu, Dhar. Sudah makan belum?”


Andhara duduk di meja makan dan mengawasiku meletakkan tas kerja di seberangnya.


Lama ia tak menjawab sampai aku harus bertanya ulang.


“Dhar? Kok tidak jawab sih? Kamu sudah makan?”


Andhara masih menatapku diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya berkata.


“Hari ini aku menginap boleh ya, Mbak?”


Aku mengernyit.


“Lho, kok tiba-tiba? Biasanya kamu menginap di rumah Ibu kalau sedang di Indonesia?”


Andhara tersenyum.


“Iya, tapi hari ini aku mau di sini saja. Boleh ya, Mbak? Sudah malam juga. Salah Mbak sendiri sih, adiknya yang ganteng pulang tapi diabaikan berjam-jam.”


Aku balas tersenyum.


...


Aku sangat mengenal adikku ini. Aku tahu saat ia sedih, marah, suka pada seseorang, dan terutama sekali, aku tahu saat ia sedang tidak mengatakan yang sebenarnya.


Dan aku juga tahu kenapa ia berkeras menemaniku malam ini.


Berusaha tetap tersenyum, aku menjawab.


“Okay, pakai kamar tamu ya, Dhar.”


Andhara mengangguk antusias.


“Siap, Mbak! Omong-omong, selagi aku ada di sini, ada lagi yang bisa aku bantu, Mbak?”


Aku pura-pura berpikir.


“Apa ya? Cuci piring, mengepel, mengelap meja sudah sama Mbok Jem semua. Pijat Mbak saja bagaimana?”


Andhara tertawa keras.


“Nasib jadi anak laki-laki tunggal. Jauh-jauh kuliah bisnis di Harvard, pulang ke Indonesia jadi tukang pijat.”


Aku mengangkat bahu sambil tertawa.


“Lha, ‘kan kamu sendiri yang tanya toh? Ya sudah kalau tidak mau memijat, bantu Mbak periksa laporan keuangan toko mau ya? Mau dong.”


Andhara terkekeh.


“Nah begitu dong, Mbak. Yang sesuai dengan jurusanku begitu lho.”


Sementara Andhara asyik memeriksa e-mail ku, aku menyodorkan sepiring makan malam buatan Mbok Jem.


“Nih makan, Dhar. Nanti kamu sakit, Mbak lagi yang dimarahi Ibu.”

__ADS_1


Tanpa mengangkat pandang, Andhara menjawab.


“Okay, Mbak. Sebentar lagi.”


Tidak berselera makan, aku sendiri hanya meneguk segelas anggur dan mengeluarkan berkas pekerjaan siswa yang akan kuperiksa.


Andhara melirikku sekilas dan berdehem.


“Sudah pukul 9 malam lebih lho, Mbak. Istirahat saja.”


Aku menggeleng.


“Ini koreksian harus sudah selesai besok, Dhar. Besok Mbak masuk lagi ke kelas mereka soalnya.”


Keras kepala, Andhara menukas.


“Duh, murid-murid juga mengerti lah Mbak kalau koreksiannya terlambat beberapa hari. Kesehatanmu itu lho yang harus diperhatikan.”


Sama keras kepalanya, aku juga menolak.


“Sudahlah, Dhar. Fokus saja pada pekerjaanmu. Ini cuma dua kelas kok. Cepat lah.”


Decak kesal, Andhara menjawab.


“Susah bicara dengan Mbak. Diperhatikan malah ngeyel.”


Aku tertawa.


“Ya memang perempuan itu begini, Dhar. Keras kepala. Kamu sebagai laki-laki harus belajar mengayomi dong.”


Andhara mendengus.


“Sepertinya tidak ada deh perempuan yang sekeras Mbak. Teman-temanku di US open-minded semua kok. Manut-manut saja kalau aku beri saran.”


Aku menggodanya.


“Itu sih bukan karena mereka open-minded, Dhara Sayang. Itu karena mereka sedang cari perhatian padamu.”


Mendengar pujianku, Andhara membusungkan dada.


“Kalau masalah itu sih jangan ditanya. Andhara gitu lho.”


Aku melempar ballpoint ke wajahnya.


“Dipuji sedikit langsung narsis ini anak! Sudah fokus kerja sana!”


...


“Babe, sudah dulu dong kerjanya.”


Aku fokus memandangi laptop.


Windra mendengus sambil telentang di sampingku.


“Sekolah kamu itu memang tidak bisa melihat orang senang, ya? Kita ‘kan baru menikah. Sudah tidak bulan madu, sekarang malam kedua dilewatkan dengan menunggui kamu bekerja. Sucks.”


Mendengar rajukannya, aku tertawa.


Mengalihkan pandang dari laptop, aku mencium dahinya dan berkata.


“Cuma sebentar kok, Babe. Ini juga sudah mau selesai. Memangnya kamu mau melakukan apa sih di malam kedua? Bukannya malam pertama sudah cukup, ya?”


Segesit macan, Windra segera bangun dan menciumku dalam-dalam.


Berbisik seraya mengelus tanganku lembut.


“With you, Babe? It will never be enough.”


Lalu proposal kegiatan yang seharusnya kuperiksa disingkirkannya dan kami bercinta.


Bercinta dengan penuh gairah sebagaimana layaknya sepasang suami istri yang saling mencintai.


Bercinta di kamar yang di hadapannya aku berdiri sekarang.


...


Kamar tempatnya menghancurkan hatiku hari ini, satu tahun yang lalu.


Aku pernah bercerita bahwa aku ini pelupa parah.


Aku sering lupa jalan, lupa nama orang, bahkan lupa letak barang yang baru saja kuletakkan.


Tapi aku masih ingat jelas kejadian satu tahun yang lalu itu.


Sangat jelas, sampai rasanya aku bisa menyaksikannya lewat mata imajinasiku.


Aku tersungkur di sisi tempat tidur.


Menangis pilu sampai tidak ada lagi air mata yang dapat kutumpahkan.


Jiwaku remuk, hatiku hancur tak berbentuk.


Kurang dari 24 jam sebelumnya, aku harus menyaksikan putri semata wayangku...


Judistia kesayanganku... Tia ku...


Direnggut paksa tanpa penjelasan dariku.


Direnggut paksa ke dalam dinginnya bumi.

__ADS_1


Aku bahkan tidak mampu berjalan masuk ke tempat pemakaman tanpa dipapah Windra.


Dalam waktu-waktu kejam seperti itu, aku merasa hidupku hanya seutas benang jauhnya dari keputus asaan.


Jika bukan karena pelukan suamiku.


Jika bukan karena suamiku yang ikut menangis bersamaku.


Aku mungkin sudah menyerah saat tim dokter menyampaikan kabarnya.


Maka di malam itu, aku juga menunggu pelukannya.


Menunggu suaranya yang juga tercekat berkata, “Sayangku. Sabar ya. Ini ujian dari Tuhan. Tuhan lebih sayang pada Tia. Sabar ya.”


Dan sentuhannya memang datang, hanya kali ini bukan berupa pelukan.


Suaranya juga datang, tapi bukan usaha menenangkan aku.


“Wi.”


Tanpa tenaga, aku terisak. Tak sanggup menjawab panggilannya.


Hela nafas, ia berlutut di sampingku dan memanggil kembali.


Tangannya masih membelai punggungku.


“Wi.”


Setelah beberapa lama, akhirnya aku cukup tenang untuk mengangkat wajah dan memandangnya.


Dan betapa terperanjatnya aku melihat Windra berpakaian lengkap. Jaket, kemeja, celana panjang, dan koper di sisinya.


“Kamu... Kamu mau ke mana?”


Windra tampak bergumul untuk bisa memberi jawaban.


Ia terlihat kesakitan dalam hati saat berkata.


“Aku... Aku harus pergi dulu, Wi.”


Masih terisak, aku bertanya remuk.


“Per... Pergi? Pergi ke mana?”


Windra berkata pelan.


“Ke luar negeri, Wi. Aku... Aku tak tahu akan pergi sampai kapan.”


Kehabisan nafas dan tekad, aku menjangkaukan tangan dan mencengkeram pakaiannya dengan sisa kekuatanku.


“Ke luar negeri? Kenapa? Mau apa? Kamu... Kamu meninggalkan aku?”


Sekuat tenaga pula, ia menggenggam dan melepaskan tanganku lembut.


“Aku pasti kembali, Wi. Tunggu aku, ya. Aku pasti kembali.”


Tak mengerti, aku bertanya gemetar.


“Tapi... Tapi kenapa, Win? Putri kita... Putri kita... Aku tidak bisa sendiri, Win. Aku butuh kamu.”


Air mata mengalir di wajahnya saat ia berkata.


“Aku tahu, Wi. Tapi... Aku harus pergi. Percayalah padaku. Ini demi kamu, Wi.”


Aku menghabiskan seluruh sisa emosi dan kekuatan untuk bertanya.


Namun ia pergi.


Tanpa penjelasan, ia pergi.


Saat luka hati karena kepergian Tia masih berbekas tajam di dalamku, ia pergi.


...


“Bu?”


Aku menoleh. Mbok Jem di sana.


“Ibu mau tidur di mana malam ini? Biar Mbok siapkan kamarnya.”


Menelan sakit hati yang timbul kembali setelah susah payah kukubur dalam satu tahun ini, aku menjawab.


“Di kamar Adik, Mbok.”


Sejak malam itu, aku tidak bisa.


Aku tidak bisa menginjakkan kaki di kamar ini lagi.


Dua kehilangan adalah ujian yang terlalu berat untukku.


Karena itu aku tidur di kamar putriku.


Kamar yang sengaja kubiarkan keadaannya seperti saat aku terakhir kali menyelimutinya dalam lelap.


Aku tidak bisa mengenang Windra tanpa sakit hati.


Karena itu aku akan bertahan hari demi hari dengan mengenang Tia.


Dengan caraku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2