
Nada tunggu mengisi penuh ruang dengarku sedari tadi.
Diiringi decak kesal setiap beberapa detik sekali.
“Si Nadien mana sih, belum sampai atau kenapa? Masak se-lama ini dari Guntur ke Rancamanyar?”
Setelah kesekian kali aku ber-monolog demikian, akhirnya ada jawaban dari seberang jaringan.
“Halo?”
Aku langsung memberondongnya.
“Gila kamu, Dien. Menyetir 10 km/jam dari tadi atau apa sih? Lama sekali ditelepon tidak angkat-angkat!”
“Ya ampun, sabar dong, Wi. Aku tadi mandi dulu. Ada apa sih? Kok emosi begitu?”
Aku mengganti posisi nyaman di atas sofa sebelum menjawab.
“Besok kamu free tidak? Temani aku makan ke Dago ya? Jam 12an, pas makan siang.”
Nadien tertawa.
“Hari ini belum cukup sama aku, Wi? Masih kangen? ‘Kan nanti Senin juga bertemu lagi.”
Tak sabar, aku berkata cepat.
“Bukan, bukan. Aku diajak bertemu oleh si Andra. Masak aku sendirian? Temani aku dong.”
Beberapa detik berlalu, Nadien tidak menjawab.
Aku memanggilnya kembali.
“Woy, Dien? Masih di sana? Habis pulsa kamu?”
Pelan, ia menjawab.
“Serius dia mengajak bertemu, Wi? Dan kamu mau? Kenapa?”
Aku menghela nafas dan berkata jujur.
“Dia menyebut nama Windra, Dien. Katanya Windra titip salam padanya.”
Diam lagi, lalu Nadien berkata.
“Personal advice, Wi? Don’t. Jangan menemui Andra.”
Aku keheranan.
“Lho, bukannya kamu tadi menggodaku terus soal bertemu Andra?”
Nadien berdecak.
“Itu bercanda, Wi. Ampun, deh. Jangan dianggap serius. Yang ini yang harus kamu anggap serius. Orang luar tahunya kamu itu istri Windra, Wi. Mereka tahunya Windra hanya sedang dinas panjang di luar negeri. Aku tidak mau nanti ada gunjingan tidak jelas tentang kamu.”
Aku tidak langsung menjawab.
Tentu saja aku tahu risikonya, tapi godaan mendengar kabar Windra dari sahabatnya terlalu besar bagiku.
Seakan bisa membaca isi hatiku, Nadien melanjutkan.
“Aku tahu pasti kamu tergoda ingin tahu apa yang sedang dilakukan Windra saat ini. Tapi tidak dengan cara ini, Wi. You’ll hurt yourself.”
Aku memohon.
“Maka dari itu aku meminta bantuanmu, Dien. Kalau ada kamu ‘kan aman, orang tidak akan bicara macam-macam. Mau ya?”
Nadien menghela nafas.
“Sorry, tapi besok aku janji mau jemput Kalyha dan ajak dia main, Wi. Aku tidak bisa.”
Kekecewaanku begitu besar hingga tersuarakan dalam keluh.
Berusaha menenangkan, Nadien mengakhiri dengan kalimat.
“Okay, begini saja. Kamu coba minta tolong ke dua orang lagi, Wi. Kalau tidak ada yang bisa, berarti fixed kamu harus batal bertemu Andra. Janji ya? Kalau soal Windra, nanti bisa kita urus. Kita fokus soal ini dulu. Aku serius, Wi. Tolong didengar, ya?”
...
Dua orang.
Siapa? Sari dan Nia dari dulu juga tidak pernah masuk ke dalam lingkaran terdekatku.
Aku coba Andhara.
“Halo, Mbak?”
“Halo, Dhar. Kamu belum tidur?”
Andhara menjawab dengan suara berat.
“Aku baru bangun sih, Kak. Ada apa?”
Mendadak kesal, aku malah memarahinya.
“Baru bangun semalam ini? Habis dari mana, Dhar?”
Andhara menguap sebelum menjawab.
“Tidak dari mana-mana, Kak. Semalam begadang karena ada e-mail mendadak dari perusahaan. Ada apa, Mbak?”
“Ohh, I see. Maaf Mbak marah-marah tadi ya. Mm, Dhar, kamu besok jam 12 siang kosong? Temani Mbak makan di Dago mau?”
Andhara berpikir sejenak.
“Minggu ya, Mbak? Sepertinya tidak ada apa-apa deh...”
Jantungku berdebar cepat.
“Eh”, ujar Andhara.
Jantungku berhenti.
“Kenapa, Dhar?”, tanyaku.
Permohonan maafnya terdengar dari seberang.
“Maaf, maaf, Mbak. Ternyata besok aku ada janji dengan teman-teman SMA-ku. Mau reunian.”
Aku mencoba memohon.
“Reuniannya di mana, Dhar? Pindah saja ke Dago mau ya?”
Masih memohon maaf, ia berkata.
“Tidak bisa, Mbak. Bukan aku panitianya. Reuninya di daerah Burangrang. Maaf ya, Mbak. Next time aku sediakan waktu untuk Mbak, deh.”
__ADS_1
...
Andhara tidak bisa.
Sisa satu orang lagi siapa? Apa aku ajak Mbok Jem saja?
...
“Mbakyu!”
Aku tertawa.
“La, berapa kali aku katakan, panggil Kakak saja. Tidak cocok muka blasteran kamu mengatakan Mbakyu, tahu.”
Yang kuhubungi sebagai harapan terakhirku ini adalah Laut. Salah seorang guru Bahasa Inggris sekaligus junior terdekatku di sekolah, tunangannya Josh.
Ia tertawa.
“Habisnya aku sudah terbiasa sih. Ada apa nih, Mbak? Tumben telepon malam-malam?”
Aku menelan ludah. Berdoa dalam hati agar Laut tidak menolak.
“La, besok siang jam 12an kamu kosong tidak? Makan di Dago yuk, temani Mbak.”
Laut berpikir sejenak.
“Jam 12 ya, Mbak? Josh ada menyanyi di gereja sampai jam 12 sih.”
Aku menjawab cepat.
“Ajak saja Josh-nya. Kita makan bersama. Mbak traktir deh.”
Laut menjawab.
“Aku tanya Josh dulu ya, Mbak. Biasanya pulang gereja itu dia suka kecapekan, jadi tidak mau ke mana-mana.”
Aku berusaha tetap menjaga nadaku tetap menyenangkan.
“Duh, ‘kan ini mau makan juga, La. Bilang padanya untuk tenang, Mbak tidak akan minta dia jadi MC kok.”
Laut tertawa.
“Iya, Mbak. Nanti aku kabari lewat chat, ya.”
...
Fingers crossed, aku berjalan mondar mandir di ruang tengah.
Aku sangat ingin mendengar tentang Windra.
Maksudku, sedang apa dia? Apa yang dia lakukan sehingga rela mengorbankan istrinya?
Apakah sungguh ada wanita lain? Apa wanita lain ini sudah dia temui dari sebelum semua ini terjadi?
Apa benar dia muak dan menyalahkanku atas kepergian Tia?
Aku harus tahu ini.
Aku tidak dapat hidup tenang tanpa mendapat jawaban atas semua ini.
Tidak tahan untuk tidak memeriksa handphone setiap beberapa detik, aku bergumam sendirian.
“Please, please, La. Bisa dong, bisa dong. Please, Josh.”
Satu pesan baru di Whatsapp masuk dari Laut.
Menarik nafas dalam, aku membuka chat baru tersebut.
Laut English
online
Bisa, Mbak. Kata Josh kebetulan memang mau bertemu dengan Mbak. Dago-nya di mana, Mbak? Kita bertemu di sana atau bagaimana? 21.20
Bersorak dalam hati, aku buru-buru membalas.
Mbak jemput saja di gereja kalian, ya? Alamatnya di mana? 21.20
Laut membalas lagi.
Oh! Sekalian saja ikut ibadah ya, Mbak! Nanti kita berangkat bersama. Di Asia Afrika gerejanya, Mbak. Nanti aku share loc ya. 21.21
Aku sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di tempat ibadah, namun saat ini aku tidak peduli.
Yang penting adalah aku akan mendengar kabar tentang suamiku.
You don’t want to tell me, Win? Fine.
Aku akan mencari tahu sendiri apa yang kamu sembunyikan dariku.
***
Ada beberapa momen saat waktu terasa begitu cepat.
Saat aku menemani Tia yang baru berumur 18 bulan bermain Play-doh di ruang tengah, membuat berbagai bentuk lucu seperti bola dan bola yang lebih besar dari pagi hingga sore.
Saat aku terharu melihat Tia mencoba seragam TK-nya dan mengirim fotonya pada Windra beserta pesan “Your little princess has grown so big. Rasanya baru kemarin kita mengganti popoknya ya.”
Saat aku mengajari Tia kecil membaca buku “My Little Bear” dan bangga luar biasa mendengarnya mengucapkan kata ‘Love’ dengan sempurna, lalu terkejut melihat langit di luar jendela yang sudah menggelap.
Well, this was not one of them.
2 jam di gedung gereja di samping Laut dan mengikuti ibadah rasanya sangat menyiksa bagiku. Lama sekali.
Karena yang memenuhi pikiranku hanyalah apa yang akan kudengar dari Andra beberapa menit dari sekarang.
Maka setelah ibadah selesai dan orang-orang mulai beranjak pergi, aku berbisik pada Laut.
“La, sudah selesai ‘kan? Yuk pergi.”
Laut tersenyum sabar.
“Sudah, Mbak. Mbak turun saja dan tunggu di mobil ya, nanti aku dan Josh menyusul. Dia mau ganti baju dulu. Berkeringat sekali soalnya.”
Aku balas tersenyum dan mengangguk.
Berjalan meninggalkan barisan kursi menuju lift, aku berusaha menekan kenangan yang mencoba timbul.
Kenangan saat aku menemani Windra bermain futsal dengan teman-teman kuliahnya di hari Minggu bertahun-tahun yang lalu.
Kenangan saat aku, seperti Laut saat ini, mengusap peluh di dahi pria yang kami cintai. Dengan kebanggaan penuh melihat kerja keras yang telah mereka lakukan.
***
“But you were so cool, Josh. I have to give you that.”
__ADS_1
Josh tertawa dari balik kemudi.
“Thank you, Ma’am. For the compliment and the ride.”
Aku memang berkeras meminta Josh untuk menyetir. Aku takut kelemahanku mengingat jalan akan membuang waktu yang berharga.
Dan karena hari itu Josh tidak membawa mobil, maka kami bertiga berangkat dengan mobilku.
Laut menengok dari jok penumpang depan.
“Tapi, Mbak. Ini ‘kan mobilmu. Kok aku dan Josh yang di depan sih?”
Aku tertawa.
“Lalu bagaimana? Mbak yang di depan? Nanti kamu cemburu tidak?”
Josh berceletuk.
“Aku sudah biasa dicemburui Laut, Ma’am. Tolong dong, Ma’am, say something nice tentang aku biar Laut tidak cemburu lagi.”
Laut mengadu padaku.
“Ya bagaimana aku tidak cemburu coba, Mbak? Ini penyanyi-penyanyi partner-nya di wedding, sudah tahu dia sudah bertunangan kok tetap berani menyapa kelewat akrab. Pakai pegang tangan segala. Kamunya juga mau lagi. Aneh.”
Aku terkekeh.
“Sudah, sudah, jangan berantem di mobilku dong. La, Josh ini setia kok. Dia mungkin begitu karena profesional saja. Harus menjaga mood partner bernyanyi-nya, ‘kan.”
Josh berkata penuh kemenangan.
“Tuh ‘kan...!”
Aku segera memotong.
“Tapi Josh, kamu juga harus menjaga perasaan Laut dong. Kira-kira bagaimana perasaanmu kalau misal posisimu dibalik? Laut yang disapa akrab oleh laki-laki lain? Kamu marah juga ‘kan?”
Laut balas berkata penuh kemenangan.
“Tuh dengar apa kata Mbak Dewi!”
Aku mencoba mendamaikan dengan nasehat.
“Ingat, kalian sudah mau menikah lho. Mulai berlatih untuk memikirkan perasaan pasanganmu lebih dari perasaanmu sendiri. Satu sama lain harus saling mengutamakan. Ya?”
Bersamaan dan unison mereka menjawab.
“Siap, Ma’am Dewi!”
Aku tertawa dalam ekspresi, aku menangis dalam hati.
Karena nasehatku itulah yang gagal terjadi dalam pernikahanku.
Hidup memang tidak seindah kata-kata Mario Teguh, ya.
“Eh, Mbak. Aku penasaran. Kok mendadak mengajak kami makan bersama sih?”, tanya Laut tiba-tiba.
Aku memutar otak mencari alasan, namun tidak mendapatkan satu pun.
Akhirnya aku memberikan kebenaran, atau sebagian di antaranya.
“Iya, Mbak diajak bertemu oleh sahabatnya Mas Windra. Laki-laki. Aneh dong kalau Mbak makan berdua dengan laki-laki lain. Jadi Mbak ajak kalian deh, tidak apa-apa, ‘kan?”
Josh yang menjawab.
“Tidak apa-apa, Ma’am. Jadi Pak Windra belum pulang dari luar negeri, ya?”
Aku berusaha tersenyum.
“Belum, Josh.”
Sebelum mereka mulai bertanya-tanya soal Windra, aku segera mengalihkan isu.
“Oh iya, Josh. Kata Laut kemarin kamu mau bertemu dengan saya? Ada apa?”
Josh mengingat sebentar sebelum menjawab.
“Oh, itu. Itu Ma’am, soal si Wally anak kelas 8D. Sudah tidak masuk 6 kali ‘kan. Saya beberapa kali hubungi orang tuanya tidak tersambung, jadi saya kunjungi rumahnya kemarin. Ternyata orang tuanya baru bercerai, Ma’am. Jadi dia sekarang tinggal bersama Ibunya. Ayahnya pergi.”
Josh menatapku lewat spion tengah.
“Apa nanti Senin Ma’am bisa ikut mengunjungi rumahnya? Saya kurang relate dengan Ibu-ibu nih, Ma’am. Siapa tahu Ma’am bisa memberi motivasi begitu.”
Aku tertawa.
“Kurang relate dengan ibu-ibu tapi dapat banyak kue dari Mama-mama muda ya, Josh.”
Laut terkesiap.
“Kue? Mama muda? Kue apa ini?”
Josh memelas pada kekasihnya.
“Sayang, bukan apa-apa kok. Dari orang tua murid. Tidak banyak juga, cuma dua orang tua. Itu juga aku tolak karena tidak boleh ‘kan. Ma’am Dewi sih ah, Laut jadi marah nih.”
Aku tertawa menonton perdebatan kecil mereka.
Sambil sekali lagi berusaha menekan iri hati yang timbul dari dalam hati.
Karena aku ingin sekali ada di posisi Laut.
Berdebat dan mengomeli pria yang kami cintai, dari sisinya.
...
Aku menahan air mata sekuat tenaga dan berusaha mengalihkan perhatianku pada hal lain.
Untungnya tidak terlalu sulit, karena mobil sudah memasuki area Dago Pakar.
Aku menegakkan duduk dan menyela perdebatan mereka.
“Guys, we’re almost there.”
Kedua teman perjalananku itu terhenti dan siaga seketika.
Aku meneliti jalan dengan mataku sambil mencari nama restoran yang kami tuju.
Bergumam, “Peaky Hills, Peaky Hills. Kamu sudah lihat, La?”
Laut melakukan hal yang sama dan menjawab.
“Belum, Mbak. Sebentar lagi seperti... Eh! Yang itu!”
Sontak kami bertiga memandang sebuah restoran megah bernuansa kayu yang berdiri di tanjakan Dago.
Aku menguatkan hati.
__ADS_1
Sebentar lagi aku akan mendengar sebagian kabar tentang Windra.
Aku harus siap.