Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Konfrontasi


__ADS_3

Rawindra


Cerebrum dan cerebellum.


Yang pertama adalah bagian otak yang terbesar, beratnya 80% dari total berat otak manusia.


Bertanggung jawab atas memori, kecerdasan, dan tindakan yang dilakukan secara sadar.


Terdiri dari 70.000.000.000 neuron dengan jalur penghubung/synapses yang harus terus dikembangkan dari sejak lahir hingga akhirnya nanti.


Yang berikutnya adalah bagian otak terbesar urutan kedua, beratnya 10% dari total berat otak manusia.


Bertanggung jawab atas postur serta ketepatan serta koordinasi. Juga alam bawah sadar.


Terdiri dari 30.000.000.000 neuron, jauh lebih sedikit daripada jumlah neuron di cerebrum, namun jumlah synapses/jalur penghubung antar sel-nya jauh lebih banyak.


Membuat alam bawah sadar kita jauh lebih banyak dan cepat menyerap informasi dibandingkan alam sadar kita.


Inilah yang membuat banyak penegak hukum membuat banyak metode untuk mengakses cerebellum saat mereka sedang mencari keterangan saksi.


Karena ternyata, alam bawah sadar kita mengingat jauh lebih banyak dari pada alam sadar kita.


Bisa saja seorang saksi lupa detil-detil kecil pengalamannya saat wawancara biasa, namun setelah cerebellum-nya diakses, ternyata ia menyadari hal-hal yang tidak ia sadari sebelumnya.


Se-amazing itulah otak kita.


Sebodoh itulah aku.


2011, SMP Lumbung Padi International Free Health Examination and Doctor Career Day.


Aku ingat apa yang kulakukan hari itu.


Aku ingat menurunkan alat-alat pemeriksaan standar dari mobil puskesmas tempatku praktik.


Aku ingat memberi arahan pada koas-koas muda tentang apa saja yang akan kita lakukan hari itu bersama para siswa.


Aku ingat siapa saja nama koas yang terlibat dalam proyek tersebut.


Aku ingat perkataan Andra, sahabatku sejak kecil, setelah ia berkenalan dengan Dewi dan Nadiena.


“Bro, is that the chick you’ve been telling me about?”


Aku tersenyum dan menjawab.


“Yeah. Yang rambutnya panjang itu, Dra. My Boo, Dewi.”


Andra manggut-manggut.


“You’re such a lucky guy.”


You see, itu yang kuingat selama ini di alam sadarku. Di cerebrum-ku.


Tapi hari ini, suatu kesadaran baru timbul dari cerebellum bawah sadar-ku.


Kesadaran bahwa Andra mengatakan “You’re such a lucky guy” sambil menoleh dan memandangi Dewi.


Memandangi Dewi-ku dengan tatapan kurang ajar yang seolah menelanjanginya dalam imajinasi.


27 November 2012, kantin Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, istirahat siang.


Aku ingat hari itu adalah satu hari setelah aku melamar Dewi.


Aku ingat perasaan berbunga-bunga karena diterima yang kurasakan.


Aku ingat semua foto dan kata-kata yang aku dan Dewi ucapkan pada satu sama lain di malam sebelumnya.


Aku ingat duduk menghadapi makanan kantin yang entah mengapa, hari itu terasa seperti makanan mewah ala-ala The Peak Restaurant.


Dan aku ingat menceritakan semuanya pada Andra.


“So, you already proposed, huh?”


Ia bertanya sambil meneguk habis jus di tray-nya.


Aku mengangguk antusias seraya mengunjukkan foto Dewi dengan jari manis yang diunjukkan ke depan kamera.


“And she said yes, Bro!”


Andra tersenyum dan menjawab.


“Well, congratulations, Bro. Lancar sampai hari-H ya.”


Aku ingat tertawa dan berterima kasih.


Itu kata cerebrum-ku.


Baru hari ini cerebellum-ku berdehem dan menyodorkan informasi lain ke depan hidungku.


Informasi yang baru meluap dalam ingatan.


Informasi bahwa setelah aku berterima kasih, Andra segera pergi dan membuang semua makanan di tray-nya tanpa disentuh.


Dan informasi bahwa ia mengatakan “Well, congratulations, Bro. Lancar sampai hari-H ya” sambil meremas gelas jus sampai hancur, tanpa memandangku sama sekali.


One more thing.


2 November 2013. Pagi hari di gereja. Ibadah pemberkatan pernikahanku dengan Dewi.


Aku ingat berdiri di depan altar dengan gelisah.


Aku ingat betapa jantungku bertalu-talu dan betapa jari-jariku berkeringat dingin.


Aku ingat betapa semua itu berhenti sesaat, I literally skipped a beat, saat melihat Dewi melangkah memasuki ruangan.


Diantar oleh ayahnya, hari itu Dewi tampak sempurna dalam gaun putih bahagianya.


Instrumentalia gereja mengalunkan “Today I Will Walk”, dan bahkan dari jauh pun aku dapat melihat cantiknya calon istriku di balik cadar.


Again, that’s what my cerebrum said all this time.

__ADS_1


Dan lagi, cerebellum-ku menggelengkan kepala sambil menyerahkan berkas lain kepadaku.


Sesuatu yang tidak kusadari saat itu.


Bahwa selain aku, ada orang lain yang memandangi Dewi sedemikian intens dan pekat.


Bukan dari pihak keluarga atau kerabat dekat.


Tapi dari sisi bestman-ku. Andra.


Lagi, dengan mata nanar penuh nafsu yang seolah sedang menelanjangi objek pandangnya.


...


“Aku selingkuh dengan Andra”, katanya.


Nope, I’m not buying it.


Raden Sri Dewi Adhisti yang kukenal tidak akan berlaku serong dengan siapapun, dengan alasan apapun.


Dan berdasarkan semua ombak kesadaran yang menyapu alam ingatanku, aku menarik kesimpulan penting.


...


Ia sedang duduk santai, satu kaki menyilang di atas kaki yang lain.


A smirk on his jerk face, tanda kalau dia belum tahu kalau aku sudah tahu.


Sedang asyik berfokus pada smartphone dengan gerakan jari dari bawah ke atas dan mata nanar nafsunya.


Demi mendengar langkahku mendekat, ia mendongak dan meletakkan smartphone di meja.


Ia berdiri dan segera mengubah ekspresi menjadi empatik luar biasa.


Mungkin kalau aku tidak mendapat bocoran dari cerebellum-ku sebelumnya, aku akan termakan tipuan sociopath-nya.


Mengulurkan tangan, ia menggenggam kedua lenganku.


“Dewi bagaimana, Bro? Is she alright?”


Aku menatap matanya dan tertawa dalam hati.


Sebagus-bagusnya topeng yang kau pasang, Dra, matamu tidak bisa bohong.


Aku menarik nafas dalam-dalam.


Let’s play this game.


***


“Sorry ya, Bro. Lunch kita batal nih”, ujarku.


Andra mengangkat bahu santai dari seberang meja kantin rumah sakit.


“Not a problem. Namanya juga situasi urgent. Nanti kita atur lagi, Bro.”


“Selagi kita di sini, kita makan dulu saja, Bro. Kau juga belum makan pasti, ‘kan?”


Andra ikut memandang sekeliling dan mengangkat bahu lagi.


“Yah, bolehlah. For old time’s sake ya, Win?”


Aku bangkit berdiri dan tersenyum.


“For old time’s sake, Dra.”


Aku memesan paket makanan yang biasa menjadi konsumsi kami saat praktik di rumah sakit ini.


Dan untuk sementara, tidak ada dari antara kami yang bicara, berdua terpusat pada makanan di depan kami.


Selagi makan siang, sesekali aku menatap wajahnya.


Tatapan yang ia temukan dan balas dengan alis cepat terangkat.


Aku hanya tersenyum.


Beberapa suap, dentingan sendok-piring, dan tegukan jus kemudian, percakapan dimulai kembali.


“So, kapan pulang dari Dallas, Win?”, tanyanya.


Aku menghabiskan jus sebelum menjawab.


“A couple of days ago.”


Andra manggut-manggut, diam beberapa saat, lalu melanjutkan.


“Kau yakin tidak mau memindahkan Dewi ke rumah sakit tempatku bekerja? It’s more reliable there, Win. Tahu sendiri kau bagaimana penanganan di sini sewaktu Tia dulu, ‘kan?”


Api di dapur emosiku baru saja meningkat derajatnya.


How dare he mentioned my daughter now?


Aku terkekeh.


“It’s okay, Dra. Thanks for your offer. Tapi tidak apa-apa kok.”


Andra menghela nafas.


“Yah, suit yourself. You’re the husband. Aku sendiri cuma mau yang terbaik untuk Dewi kok.”


Api yang tadi kuceritakan meningkat lagi.


Kali ini naik langsung tiga kali lipat.


Tapi belum. I want to play this right.


Aku tersenyum.


“Sure you do, Bro.”

__ADS_1


Hening beberapa saat.


Ia mengeluarkan smartphone dari saku dan melakukan kegiatan scrolling kembali, dengan sorot mata yang sama seperti sebelumnya.


Aku bertanya penasaran.


“Lagi apa sih, Bro? Fokus banget.”


Andra melirikku dan tertawa kecil.


Menjawab dengan menunjukkan Instagram seorang wanita kepadaku.


Entah siapa dia, aku juga tidak peduli.


Bukan Dewi, bukan juga wanita yang aku tahu.


Dia terkekeh.


“Hot, eh? Koas baru nih. Baru masuk kemarin ke rumah sakitku.”


Aku menggelengkan kepala dengan ketenangan yang dipaksakan.


“New girl, huh? Bukannya kau sudah ada pacar, Bro?”


Tanpa memandangku, Andra mengibaskan tangan.


“That’s ancient history, Bro. Kau kelamaan di luar negeri sih. Kurang update.”


Aku menegakkan postur duduk.


Memajukan bidak caturku menuju check mate dalam permainan dengan si sociopath bertopeng ini.


“Omong-omong soal update, aku baru mendapat update yang tidak kumengerti, Bro.”


Jari berhenti di tengah layar, Andra mendongak.


“Update apa? Tentang Dewi?”


Aku memajukan kursi dan menjawab.


“Iya, tentang Dewi.”


Ia meletakkan smartphone di atas meja.


“Update apa? Hasil CT-scan sudah keluar?”


Jari-jari bertaut, aku memajukan bidak lain.


“Bukan, bukan hasil CT-scan. Jadi begini, Bro. Kau ‘kan tahu bahwa sudah lama aku curiga tentang kondisi Dewi. Kau tahu kalau dulu dia sempat menyetir keliling Bandung dan menyangka Tia ada bersamanya. Kau tahu kalau dia sering lupa jalan.”


Andra mengangguk, ia ikut mencondongkan badan mendekatiku.


Aku melanjutkan.


“Sebelum kolaps, dia sempat bercerita kalau hari ini dia duduk seharian di ‘Moms and Us’, mengira bahwa dia sedang ada di ‘Motherheart’.”


Andra semakin fokus, aku juga.


Aku meneruskan.


“Tapi bukan itu yang tidak kumengerti. Yang tidak kumengerti adalah apa yang dia katakan sebelumnya. Dia berkata kalau aku selingkuh dengan wanita lain di Dallas. Aneh ‘kan, Bro? Apa ini gejala baru dari San Filippo, ya? Memunculkan ingatan baru begitu. Karena setahuku, orang Indonesia yang tahu aku sedang di Dallas ‘kan cuma kau, Bro. Orang tua ku saja tidak tahu.”


Andra meneguk ludah, ia mundur menjauh.


Aku terus mengejar.


“Dia sampai berkata bahwa dia punya fotoku dengan wanita lain. Sumpah, aku tidak mengerti, Bro. Foto apa? Sepanjang tahun aku di Dallas ‘kan aku tidak pernah mengambil dan mengirimkan dokumentasi apapun. Satu-satunya foto yang kuambil ya cuma fotoku dengan dr. Lauryn-Anne, kepala peneliti di sana. Dan setahuku, itu foto ‘kan cuma kukirim pada satu orang. Kau ‘kan?”


Andra berdehem, berusaha memotong.


Bidak berikutnya kugerakkan.


“Dan yang paling gila, Dewi berkata kalau dia selingkuh denganmu, Bro. I mean, what non-sense is that, huh? Asli, aku tidak paham.”


Kering suara Andra saat terbata-bata.


“Br... Bro, mungkin kau harus...”


Aku memotong.


“Tapi mungkin, ini bukan gejala baru. Mungkin ini bukan symptoms dari San Filippo. Mungkin ini kenyataan. Tapi kalau ini kenyataan, berarti kesimpulannya hanya ada satu, Dra.”


Aku menatap tajam matanya.


Mata kurang ajar yang hari ini mengkerut kerdil ketakutan.


Check mate.


“Kesimpulannya adalah kau membohongi Dewi dengan berkata bahwa aku selingkuh di Dallas dan memanfaatkan itu untuk merebut Dewi. Bagaimana pendapatmu, Dra?”


...


20 Oktober 2021, kantin rumah sakit tempat Dewi dirawat.


Sekitar pukul tiga sore waktu setempat.


Kali ini cerebrum dan cerebellum-ku sepakat mengingat.


Mengingat wajah Andra yang tergeletak di lantai kantin dengan memar.


Mengingat seruan dan tarikan dari petugas keamanan yang kurasakan.


Mengingat deru darah dan panasnya tinjuku.


Mengingat bahwa Andra hanya seorang musuh yang harus kucoret dari lingkaran kehidupan kami.


Kehidupan aku dan Dewi.


Dan aku sudah mencoretnya.

__ADS_1


__ADS_2