
“Jadi begitu, Wi. Aneh ‘kan? Kesannya seperti perusahaan itu memaksa kita untuk memilih antara pekerjaan dan keluarga kita. Those two things are not supposed to be chosen between, right? Mestinya yang namanya company itu ngerti dong, kita juga ‘kan tidak akan bisa bekerja dengan baik kalau keluarga kita tidak terurus.”
Aku terkekeh mendengar repetan Nadien.
Dia sudah semakin menjiwai perannya sebagai anggota ibu-ibu kompleks memang. Mengeluh dan curhat sambil mencuci piring dengan rambut diikat seadanya dan daster sebagai sandangnya. Untung bukan daster batik.
Dilatari gemericik air keran, pagi ini Nadien sedang menceritakan kekesalannya pada perusahaan tempat suaminya, Aristo bekerja.
You see, Aristo itu seorang international risk management trainer yang memang harus bepergian ke sana kemari setiap dua minggu.
Training di Singapura lah, konsultasi di Banjarmasin lah, rapat di Manila lah, dan banyak lagi.
Namun satu bulan penuh kemarin, dia diminta perusahaannya untuk mengurus sebuah proyek pelatihan manajemen di Dubai. Tentunya setelah pergi sebulan penuh, kita berharap bahwa bulan berikutnya dia akan diliburkan, bukan?
Wrong. Baru juga pulang tiga hari, kemarin dia diminta pergi mendadak ke Denpasar. Mempersiapkan event tahunan perusahaan katanya.
Maka begitulah, aku menghitung sudah lima belas menit penuh Nadien marah-marah soal topik ini. And it’s completely okay for me.
Karena bagiku, tidak ada lagi tempat yang lebih baik untuk aku melarikan diri dari my upside down world, selain ke dalam another person’s upside down world.
Thinking about another person’s problem makes me forget about my own problem. At least for a while.
“Keterlaluan, lama-lama aku minta dia keluar juga dari sana, Wi. Habis kesabaranku. Perusahaan orang diurus sampai berbulan-bulan, dicari akar masalahnya dan diselesaikan. Istri sendiri? Anak sendiri? Boro-boro.”
Aku menoleh dan tersenyum jahil pada sahabatku ini.
“Dien, sebenarnya inti masalah ini bukan karena work-family balance ‘kan?”
Nadien mengeringkan tangan dan balas menatapku heran.
“Hah? Kamu mabuk atau bagaimana, Wi? ‘Kan itu yang dari tadi aku bahas?”
Aku bangkit dari sofa dan menghampirinya.
Tiba di hadapannya, aku berkata pelan sambil menahan tawa.
“Inti repetan panjangmu itu sebenarnya simple, Dien. Kamu kemarin sedang ‘pengen*’* waktu Aristo diminta pergi. Iya ‘kan? Tidak keturutan ya, Dien?”
Tawanya meledak dan ia memukul lenganku keras-keras.
“Gila! Pikiranmu itu ya, Wi! Isinya porno melulu!”
Aku ikut tertawa. Tawa yang langsung terhenti saat ia berceletuk.
“Kalau kamu bagaimana, Wi? Kemarin langsung minta jatah dong sama suami?”
...
Yah, untuk apa kututup-tutupi.
Setibanya aku di sini, Nadien langsung menyambutku di pagar rumahnya dengan pertanyaan, “Ada apa sebenarnya, Wi?”
Pertanyaan yang langsung kujawab dengan kesal.
“Windra, Dien. Dia sudah pulang kemarin.”
Matanya membulat dalam ketidak percayaan.
“No way.”
Aku memutar bola mataku malas.
“Yes way. Kemarin Andhara meneleponku waktu aku sedang di luar, katanya ada mobil Jeep hitam parkir di rumahku. Jeep hitam mana lagi yang berani parkir begitu? Dan waktu aku pulang, iya memang dia ada di sana.”
Nadien merendengiku memasuki rumahnya dan bertanya.
“Terus? Dia minta maaf? Dia menjelaskan kenapa dia pergi selama ini?”
Rahangku mengetat dalam amarah.
“Sama sekali tidak. Dia tidak minta maaf, tidak memberi penjelasan, tidak membahas soal kepergiannya sama sekali. Bersikap seperti biasa saja. Seperti tidak ada yang terjadi.”
Alisnya bertaut dalam marah yang sama frekuensinya denganku.
“Gila itu orang.”
Aku menghempaskan diri di sofa.
“Exactly.”
Nadien segera ikut duduk di sampingku dan terus bertanya penasaran.
__ADS_1
“Terus apa saja yang dia lakukan begitu pulang, Wi? Apa yang kalian lakukan? Diam-diaman begitu? Ih, awkward banget ya. Kalau aku jadi kamu, aku sudah kabur dari malam kemarin.”
Aku mendengus kesal.
“Ya begitulah. Awkward memang. Cuma satu yang aku tidak bisa mengerti. Kok bisa-bisanya setelah melakukan hal separah itu, dia tidak merasa bersalah. Masih senyum-senyum, masih menyiapkan peralatan mandiku, masih menyiapkan kopi pagiku...”
Nadien memperhatikanku lekat-lekat selama aku menumpahkan semua kekesalanku.
Dari bagian ke bagian cerita, perlahan ekspresinya berubah.
Dari yang kesal luar biasa, hingga menjadi tenang dan atentif.
Di akhir cerita, dia kehilangan kata-kata dan hanya bisa menggenggam tanganku.
“Wi...”
Berusaha menenangkan nafasku yang memburu, aku tidak sanggup menjawab.
Meremas tanganku, Nadien berkata hati-hati.
“Aku paham kamu marah sekali padanya.”
Aku tertawa ironis.
“Bukan marah lagi, Dien. I can’t stand him. I can’t stand being in the same room with him.”
Masih erat menggenggam, Nadien berkata lagi.
“Iya, Wi. Tapi entah mengapa, mendengar apa yang ia lakukan kemarin dan apa responmu terhadapnya, aku merasa...”
Aku menoleh menatapnya.
Nadien tersenyum empati.
“Aku merasa jauh di lubuk hatimu, kamu masih sangat mencintai dia, Wi. Dan... I’m sorry, Wi. Aku tahu Windra sudah sangat bersalah dengan menghilang begitu dan tidak meminta maaf sampai sekarang. Tapi melayanimu? Membuatkan kopi kesukaanmu? Aku merasa dia juga masih sangat mencintaimu.”
Nadien tidak menunggu reaksiku dan syukurlah, karena aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Ia bangkit berdiri dan menepuk bahuku lembut.
“Aku sambil cuci piring ya, Wi. Menumpuk di dapur. Asisten rumah tanggaku sedang sakit.”
“And then Princess Elsa shut the door and say... One, two, three!”
Bersemangat penuh, Kalyha menyanyikan “Let It Go”-nya Frozen kencang-kencang di pangkuanku, hingga aku tertawa geli melihat aksinya.
“Ya ampun, ditinggal sebentar saja sudah jadi bestie-nya Aunty Dewi nih.”
Nadien muncul dari tangga dengan rambut basah, berjalan menghampiri kami di ruang keluarga.
Kesal nyanyiannya diinterupsi, Kalyha merajuk.
“Mama ganggu saja sih. Aku lagi sama Aunty Dewi, tahu.”
“Mama ganggu, hah? Mama ganggu? Sudah berani ya sama Mama?”
Tawa berdering memenuhi ruangan di rumah besar ini sementara Nadien menghujani putrinya dengan ciuman.
“Mamaaa, stop!”
Nadien tertawa dan mendaratkan ciuman terakhir di pipi Kalyha.
“Iya, iya. Kalyha Sayang, kita sarapan dulu yuk Mama sudah siapkan tuh. Aunty Dewi juga mau sarapan.”
Sementara Kalyha bangkit dan berlari ke ruang makan, aku bertanya heran.
“Kamu masak di kamar mandi atau bagaimana, Dien? Asisten-mu sedang sakit ‘kan?”
Nadien terkekeh dan mengunjukkan handphone-nya.
“Please deh, Wi. Zaman sekarang sih online food saja. Gitu aja kok repot.”
Aku menoyor kepala sahabatku itu.
“Gayamu itu, Dien. Sarapan take away saja gayanya sudah seperti masak sendiri.”
Kami berjalan menuju meja makan, masih tertawa, saat tiba-tiba handphone-ku berdering.
Beradu tatap denganku sekian lama, Nadien lalu berkata dengan senyum jahil di wajah.
“Pasti Windra tuh. Kangen dia, Wi.”
__ADS_1
Aku menggeleng sambil merogoh saku.
“Jangan ngaco ah, Dien.”
Aku mengangkat handphone ke dalam jarak pandang dan beku seketika.
Bersamaan dengan itu, suara Kalyha memanggil dari dapur.
“Mama, ayo cepat! Aku sudah lapar nih!”
Panik, Nadien buru-buru berkata pada dua orang dalam satu kalimat.
“Iya, iya sebentar! Wi, aku duluan ya. Jangan lama-lama teleponnya!”
Aku mengangguk dan tersenyum singkat.
Sementara langkah kaki Nadien terus menjauh, aku kembali menatap nama yang memanggil dari layar.
Masih terpaku.
...
“Halo?”
“Halo, Wi. Kamu sedang sibuk?”
“Ada apa?”
“Bertemu yuk di jam makan siang ini. Mau ‘kan?”
Aku menghela nafas.
“Tidak. Windra...”
Tawa berdering dari seberang telepon.
“Iya aku tahu Windra sudah pulang. Ajak saja dia sekalian. Kita makan siang bersama, ya.”
Tanpa jawaban dariku, dia meneruskan cakapnya.
“Kita tidak mau menyembunyikan ini lebih lama, ‘kan, Wi? Our dates and everything.”
Tersengat, aku menjawab dalam desis tajam.
“Beraninya kau...!”
Tawa lagi.
“Just kidding, Wi. Sudahlah, santai saja. Aku tunggu ya, Windra sudah OK kok.”
Nada sambung.
Telepon tertutup.
Lemas, aku mengulurkan tangan. Berusaha menyangga tubuh dengan bertumpu pada dinding.
Denting WhatsApp memanggil.
Melirik layar, mendapati pesan.
Windra
online
Wi, nanti jam 12 kamu kosong ‘kan? Andra mau ajak kita makan siang. Ingat Andra, ‘kan? Sahabatku itu. Mau ya? Nanti aku jemput. Kamu ada di mana sekarang? 08.42
“Wi? Yuk makan... Wi? Ada apa?”
Nadien buru-buru menghampiriku khawatir.
Aku menatapnya dan tahu pada saat itu juga bahwa aku tidak bisa bersembunyi darinya.
If there’s no hiding, then what’s left for me is...
“Mm, tadi ada telepon dari toko, Dien. Urusan darurat katanya. Aku pulang dulu, ya. Terima kasih waktunya, Dien.”
“Lho, Wi?”
Secepat aku bisa, aku melangkah menjauh.
Terlalu berkecamuk.
__ADS_1