Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Epilog


__ADS_3

Gedung itu berdiri di antara pepohonan bagaikan pualam putih di latar kanvas.


Tidak banyak riuh lalu lintas di jaringan jalan Cimanuk sehingga kicau burung masih megah terdengar.


Riak angin menyapa dahan-dahan ditimpali dengan sinar matahari yang mencari celah di antara dedaunan, ini adalah gambar sempurna untuk ketenangan.


Tapi orang datang ke sana bukan untuk mencari ketenangan.


Orang-orang dari berbagai latar belakang, tempat asal, dan pekerjaan itu datang dengan satu tujuan utama.


Pemulihan.


 


 


Mulai dari keluarga kecil yang rutin datang, awalnya setiap hari, sampai setiap minggu satu kali.


Bukan hanya frekuensi yang berubah, raut wajah mereka juga berubah di tempat itu.


Di awal kedatangan mereka, si Ayah dan si Ibu luar biasa kusamnya.


Alis bertaut dalam tanpa harapan dan fosil senyum tanpa bekas di wajah mereka.


Tanpa harapan, membawa putra kecil mereka yang manis.


Putra yang mengalami kejang-kejang beberapa hari sebelumnya dan mulai kehilangan kemampuan bicaranya.


Namun beberapa bulan kemudian, putra manis itu mendapatkan kembali semuanya.


Dan orang tuanya pun mendapatkan kembali senyum mereka.


 


 


Itu hanya salah satu contoh dari keajaiban yang terjadi di gedung sederhana ini.


Ada terlalu banyak kisah berharga yang disaksikan tembok dan pintu-pintu di sana.


Ada terlalu banyak saksi.


Bukan hanya dari pihak pasien dan keluarganya saja.


Dari pihak para pemulih berjas dokter yang nyaris kehilangan gairah hati, dibuat hambar oleh kebutuhan dan keinginan hidup, lupa akan ikrar pelayanan yang mereka kejar di awal tahun perkuliahan, pemulihan juga terjadi.


“It’s like finding yourself again”, ujar salah satu dokter senior di sana.


“It’s like a journey to meet your passion again”, timpal dokter lainnya.


“Berada di sini membuat saya yakin bahwa menjadi dokter memang panggilan saya”, kata dokter lainnya.


Oh, kenapa mayoritas dokter di sana berbahasa Inggris, kamu tanya?


Karena ini adalah “Andum Arun” (Bahasa Sansekerta untuk “Berbagi Cahaya Matahari”), pusat penelitian San Filippo Syndrome terbesar di Asia.


Tempat neurologists dari berbagai negara berkumpul dan bersatu, mencari upaya penyembuhan untuk penyakit yang telah...


 


 


“Psst.”


Gadis itu menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard laptop dan berdecak kesal.


Mendelik ke samping, ia berbisik kesal.


“Apa?”

__ADS_1


Teman yang tadi menghentikannya menjawab dengan menunjuk ke atas mimbar.


Mimbar sederhana yang didirikan di halaman Pusat Penelitian “Andum Arun”.


Berdiri di hadapan ratusan kursi yang penuh diduduki.


Berdiri di bawah rindangnya pohon dan spanduk besar bertuliskan “20 Tahun Andum Arun”.


Kedua gadis yang beradu bisik tadi adalah dua dari sekian banyak blogger yang datang meliput perayaan ulang tahun yayasan bersejarah ini.


Tulisan yang tadi kita baca adalah sepenggal dari karya gadis pertama, Kalyha.


Putri dari Nadiena Anggra Makarawung, mantan ketua yayasan pendidikan yang cukup besar di Bandung.


Gadis kedua yang menghentikan tulisan Kalyha sesaat adalah Anika.


Sahabat kecil dari Judistia Jyotika Wibowo.


Sahabat dari putri pendiri pusat penelitian yang luar biasa ini.


 


 


Kalyha memutar bola matanya kesal.


“Nik, please deh. Acaranya belum mulai. Lebay banget sih.”


Anika berdecak.


“Belum mulai dari mana, Neng? Itu dr. Andra lagi naik mimbar. Ampun, itu mata atau boba?”


Kalyha segera menoleh dan benar saja.


Seorang pria berjas putih berjalan menaiki mimbar.


Rambut peraknya seolah memantulkan matahari, namun untuk ukuran pria berusia 50 tahunan sepertinya, ia cukup sigap.


Mengetuk mikrofon untuk memeriksa fungsi, lalu dengan senyum ramah ia menyapa semua orang yang hadir di sana.


 


 


“Selamat siang, Hadirin sekalian. Terima kasih atas kehadiran Anda sekalian di perayaan ulang tahun ke-20 Pusat Penelitian ‘Andum Arun’ kami ini.”


Tepuk tangan hangat membalas jeda dari sapaan dr. Andra.


Lalu setelah mereda, dr. Andra melanjutkan.


“20 tahun yang lalu, saya bukanlah seorang dokter yang baik. Saya banyak bermain-main dengan koas wanita, saya sama sekali tidak serius dengan panggilan saya.”


Hening.


dr. Andra menghela nafas sebelum melanjutkan.


“Namun semua itu berubah saat saya berinteraksi dengan satu keluarga yang luar biasa. Yah, tanpa malu-malu saya akui, interaksi saya dengan keluarga ini bukan interaksi yang baik pada awalnya. Saya berusaha menghancurkan keluarga ini untuk kepentingan saya pribadi.”


Mencengkeram mimbar, dr. Andra mengusap keringat di dahinya.


“Saya betul-betul menyesal. Itulah titik terendah saya sebagai manusia. Keluarga ini sedang menghadapi kehilangan dan masalah yang besar, dan yang saya lakukan hanya menambahinya.”


Semua mata terpaku ke mimbar.


“Yah, saya mendapatkan apa yang pantas saya dapatkan. Sebuah pukulan ke wajah”, lanjutnya sambil tersenyum getir.


“Pukulan itu datang beberapa hari sebelum keluarga ini mengalami kehilangan lagi. Kehilangan yang sangat besar.”


Kalyha dan Anika begitu fokus mendengar sehingga tubuh mereka condong ke depan.

__ADS_1


“Memberanikan diri, saya datang untuk menyampaikan bela sungkawa saya pada anggota keluarga yang tersisa. Sahabat saya. Saya sudah mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan. Dari pukulan lainnya sampai pengabaian penuh.”


dr. Andra berhenti sejenak dan membagikan pandang pada seluruh audiens.


Ia tersenyum.


“Tapi sahabat saya menyambut jabatan tangan saya. Ia memaafkan saya. Dan malah, saat ia memiliki ide untuk mendirikan pusat penelitian ini, ia mempercayakan posisi wakil direktur pada saya.”


Kini, tersenyum bangga ia berkata.


“Kita semua tahu keluarga yang saya bicarakan. Keluarga dr. Rawindra. Keluarga yang telah kehilangan seorang putri dan seorang ibu karena penyakit San Filippo Syndrome. Keluarga yang bangkit dan memutuskan untuk mengabdikan seluruh masa hidupnya menolong orang-orang lain yang mengalami penderitaan yang sama.”


Masih dengan senyum di wajah, ia menambahkan.


“Saya percaya bukan hanya saya saja yang mengalami perubahan hidup karena cahaya yang mereka bagikan. Ada begitu banyak tenaga peneliti dan pasien yang dipulihkan di sini. Mungkin satu-satunya penyesalan saya hanyalah... dr. Rawindra tidak sempat melihat keberhasilan proyek penelitian kami.”


Menarik nafas dalam, dr. Andra berkata lagi.


“Seperti yang kita semua ketahui, 15 tahun yang lalu dr. Rawindra meninggal dalam kecelakaan yang tragis. Namun ada sesuatu yang belum banyak orang ketahui. Sesuatu yang ia ceritakan pada saya tepat sebelum ia berangkat dalam perjalanan terakhirnya. Sesuatu yang akan saya bagikan hari ini.”


Sekali lagi membagikan pandang pada seluruh audiens, dr. Andra mengakhiri.


“Saya sempat bertanya padanya tentang alasan ia mendirikan pusat penelitian ini. Dan jawabannya sangat sederhana. Saya harap jawaban ini akan menjadi sumber kekuatan kita untuk terus melanjutkan misi hidup dr. Rawindra. Inilah jawabannya...”


 


 


...


Dan di akhir sambutan, dr. Andra menyampaikan jawabannya.


“Secepat apapun cahaya berlari, ia akan selalu didahului oleh kegelapan. Maka dari itu, cahaya harus terus ada dan berlari. Semakin cepat dan semakin cepat. Karena jika cahaya menyerah, apa yang tersisa untuk kita?”


 


 


Membaca tulisannya sekali lagi, Kalyha tersenyum puas.


Di sampingnya, Anika mengangkat alis.


“Atta girl, bagus banget ini tulisannya, Kal. Cepat post, istirahat kita sudah hampir selesai.”


Kalyha sigap menekan tombol post dan menutup laptop.


Senyum bersemangat.


“Ayo, Nik!”


 


 


Kalyha dan Anika hanya dua blogger muda yang tergerak menjadi sukarelawan di pusat penelitian tersebut.


Sekian insan yang tersentuh oleh cahaya dan terdorong untuk membagikannya pada orang yang membutuhkan.


...


Buah dari penantian panjang Raden Sri Dewi Adhisti yang tidak menyerah untuk menunggu cahaya-nya pulang.


Hasil dari kegigihan Rawindra Santosa Wibowo yang memutuskan untuk tidak berhenti bercahaya sampai waktunya ia pulang.


 


 


...

__ADS_1


Tidakkah kita pun seharusnya begitu?


__ADS_2