
“Halo? Kamu sudah di mana, Win? Ini aku ada di gerbang kok... Oh, okay... Ya sudah, nanti kalau sudah sampai kabari aku ya... Hati-hati, Sayang.”
Aku menutup telepon dan memberi laporan pada Nadiena.
“Beres, 10 menitan lagi sampai.”
Nadiena mengangguk, agak panik.
“Baik. Anak-anak sudah standby ‘kan, Wi?”
Aku menepuk bahunya.
“Tenang, Dien. Kelas 7 sudah siap di GOR. Nanti kalau pemeriksaan sudah sampai di kelas terakhir, aku panggil anak-anak kelas 8.”
Nadien mengusap keringat dari dahinya.
“Okay, okay. Tegang aku, Wi. Pertama kalinya kita buat pemeriksaan kesehatan masal begini.”
Aku tertawa.
“Ah kamu. Event ini tegang, event itu tegang. Tenang, it will be alright. Jangan panik dong, masak menyambut tamu dengan alis luntur begitu?”
Nadien semakin panik.
“Eh serius alisku luntur? Aduh, bagaimana dong, Wi? Pensil alisku di ruang guru. Jauh.”
Aku semakin geli.
“Ya ampun, aku cuma bercanda, Babe. Sepertinya kamu tidak cocok di kesiswaan, Dien. Grogi-an banget kamu kalau urus event.”
Nadien memutar bola mata malas.
“Terus aku harus di mana? Kurikulum? Ih amit-amit harus kerja sama si Raja dan Andrew.”
Aku mengangkat bahu.
“Tapi setidaknya bersama mereka ‘kan tidak perlu mulas-mulas setiap mau mulai acara, Dien.”
Nadien tertawa.
“Lebih baik mulas deh, lumayan bisa kurangi berat badan. Duh, kapan ya kesiswaan kita punya orang yang bisa jadi MC kalau ada event begini?”
Aku melayangkan pandang dan menjawab.
“Mungkin nanti kalau kamu sudah jadi kepala sekolah, Dien. Sekarang kita harus make do dengan kamu dulu. Tuh para koas sudah datang.”
One of the perks of dating a med-student.
Saat Mr. Marco, kepala sekolah kami punya ide untuk melaksanakan pemeriksaan kesehatan masal sekaligus doctor career day untuk para siswa, aku tidak perlu kebingungan mencari kontak puskesmas untuk diajak kerja sama.
Satu telepon pada Windra dan semuanya senang. Aku senang, Windra senang, Nadien senang, Mr. Marco senang.
Aku dan Windra senang karena ini berarti satu hari penuh bersama-sama untuk kami.
Nadien dan Mr. Marco senang karena tujuan kegiatan tercapai tanpa harus bersusah payah.
Aku tak bisa menahan senyum saat melihat Windra turun dari ambulans dan berlari girang ke arahku.
“Hai, Sayang! Kami belum terlambat, ‘kan?”
Aku harus berusaha ekstra keras untuk tidak tenggelam dalam rindu dan memeluknya erat-erat, secara ini pertama kalinya dalam satu bulan aku melihat wajahnya.
Rambut cepaknya mulai menjadi lebat, juga rambut-rambut halus tumbuh merambat di dagu dan pipinya. Selain itu, tidak ada yang berubah dari Windra-ku. Masih tampan, menawan, dan energik.
Aku menjawab sama girangnya.
“Hai juga, Sayang! Tepat waktu, kok. Kenalkan, Babe, ini Nadiena. Head of Student Affairs di sini, sekaligus koordinator kegiatan hari ini.”
Nadiena menjabat tangan Windra dengan percaya diri.
“Halo, Windra. Dewi told me a lot about you. Akhirnya kita bertemu, ya?”
Windra tersenyum sopan.
“Salam kenal, Dien. Dewi told me a lot about you too.”
“Dra! Itu Pak Radit tanya, apa kita mau ditunggu atau ditinggal saja?”
Mataku mengikuti sumber suara yang datang dari belakang Windra dan mendapati seorang pria.
Sama tinggi dan tegapnya seperti Windra, hanya saja rambut hitamnya lebat dan kulitnya lebih cerah.
Windra sigap memperkenalkan kami semua.
“Wi, Dien, perkenalkan ini Andra. Ketua kelompok koas juga sama sepertiku. Nanti kalau ada apa-apa, hubungi kami, ya.”
Setelah perkenalan singkat, aku dan Nadien menonton Windra dan temannya kembali ke ambulans untuk memandu teman-teman mereka dan mengambil alat.
Nadien terpana sampai meneguk ludah.
“Wi, ini dokter-dokter dari rumah sakit mana? Kok ganteng-ganteng semua sih?”
Aku tertawa.
“Dien, Dien. Jiwa playgirl-nya belum musnah juga. Tobat, Dien. Aristo pacarmu itu mau disimpan di mana?”
Nadien melirikku jenaka.
“Ini kemejaku ada dua kantong, Wi. Aristo di sini, (ia menunjuk saku depan sebelah kiri) di dekat jantungku. Yang kanan ‘kan masih kosong, Wi.”
Lalu kami tergelak habis-habisan.
...
__ADS_1
That was the year 2011, the first time I met Andra.
Kali berikut aku bertemu dengannya adalah saat ia menjadi best man-nya Windra di pernikahan kami, saat ia membesuk Tia di rumah sakit, dan saat ia mengunjungi pemakaman Tia.
And that’s it. Tidak ada apa-apa lagi.
Tidak ada obrolan panjang, tidak ada chat (tentu saja), tidak ada kontak dengan jenis seperti apapun.
Karena itu aku terkejut bukan main saat ia tiba-tiba muncul, membayari kami, dan memberi pesan seberani itu.
Apalagi setahuku, selain keluargaku dan Nadien, tidak ada yang tahu bahwa Windra sudah meninggalkanku.
“Wi, kita lanjut ke PVJ, yuk! Aku kok tiba-tiba ingin mencoba Sour Sally, ya?”
Celetukan Nadiena membangunkan lamunanku.
Aku menoleh memandangnya.
“Ini kamu sedang kalap atau apa sih, Dien? Di Paskal belanja gila-gilaan. Sekarang masih mau jalan lagi?”
Nadien tersenyum.
“Selagi Aristo di luar kota, Wi. Kapan lagi?”
Aku tertawa.
“Kasihan sekali Aristo punya istri shopaholic begini.”
Ya, Nadiena Anggra Makarawung, wanita blasteran Tionghoa-Menado yang cantik seperti Sandra Dewi (dengan tambahan lemak di pipi dan dagu) ini memang tukang belanja yang luar biasa.
Dari zaman kuliah saat ia mengajakku bolos kelas demi mengejar diskon (semoga tidak ada murid kami yang membaca ini) hingga sudah menjadi istri dan ibu seperti sekarang ini.
Nadien merajuk.
“Ya tidak apa-apa dong, Wi. Sekali-sekali menyenangkan diri sendiri kenapa sih?”
Aku menoleh ke jok belakang yang sudah dipenuhi tas belanja dari Pull & Bear, H & M, Zara, dan Uniqlo. Menggelengkan kepala prihatin.
“Saking stress-nya jadi kepala sekolah ya, Dien?”
Nadien tertawa.
“Sembarangan. Kamu sendiri tidak belanja, Wi?”
Aku mengangkat tas belanja Zara berisi celana panjang dan blazer dari antara kakiku.
“Aku sih sudah cukup ini, Dien. Tapi demi kamu yang ingin nostalgia masa-masa masih gadis, aku temani deh ke PVJ.”
Nadien mengangguk puas.
“Nah, begitu dong. Sekalian kita lihat-lihat Body Shop, Wi. Aku mau beli cream muka.”
Mendengar kata Body Shop, aku jadi teringat sesuatu.
Nadien menggoda.
“Sudah habis atau butuh yang lebih wangi untuk dating?”
Aku mengernyit tak mengerti.
“Ha? Date sama siapa? Sama kamu? Sama kamu sih pakai sabun anak juga cukup.”
Nadien berdecak.
“Ah, masa tidak paham sih. Sama Mas-Mas ganteng yang tadi di coffee shop dong!”
Aku mendengus.
“Ya ampun, Dien. Dibahas lagi dong.”
Memang setelah kejadian di coffee shop itu, Nadien tidak henti-hentinya menggodaku.
Mulai dari : “Jadi itu dokter juga? Wah, ganteng lho, Wi.”
Lalu : “Keren lagi namanya, Andra. Mirip Andra and the Backbone. Jangan-jangan jago main gitar juga?”
Sampai : “Mana sini nomornya, aku ajak bertemu saja langsung. Aku jadi third wheel tidak apa-apa deh.”
Yang semuanya kujawab dengan, “Please deh, Dien. Jangan berlebihan ah. Dia bukan siapa-siapa juga. Temannya Windra, tapi bukan temanku. Mengobrol saja tidak pernah.”
Yang segera dijawab Nadien dengan, “Berarti dia mengagumi kamu sejak lama, Wi. Asyiknya yang punya fans.”
C’mon.
This is not right.
Menurutku sih sudah ke tahap kurang ajar dan lancang.
Bagi orang luar aku ‘kan masih istrinya Windra.
“Berarti cuma ada dua kemungkinan, Wi”, ujar Nadien saat aku menyampaikan hal itu.
“Kemungkinan apa?”, tanyaku bingung.
Nadien terkekeh.
“Antara dia itu memang perebut istri orang, atau dia cinta mati padamu, Wi.”
Aku menggelengkan kepala.
“Mulai deh imajinasinya Nadien.”
Nadien tertawa sebentar, lalu berkata lagi.
__ADS_1
“Tapi serius, Wi. Aku senang lho.”
Aku berdecak.
“Senang apa lagi sih, Dien?”
Nadien menggenggam tanganku.
“Aku senang ada pria ganteng yang mengagumimu dan menyatakan kekagumannya terang-terangan. Supaya kamu sadar, Wi. Hidup kamu belum berakhir. Masa depanmu cerah, secerah karier dan senyummu.”
...
Aku tidak menjawab.
Menolehkan wajah memandang jendela, merasakan mataku mulai panas oleh air mata.
Bukan karena terharu mendengar perkataan Nadien.
Tapi karena teringat saat aku melintasi Kidzoona Paskal 23.
Teringat tawa Tia kecil-ku yang berlari-lari riang.
Teringat rangkulan hangat Windra dan crepes yang ia suapkan untukku.
Teringat momen saat aku masih bahagia.
...
Aku tidak menginginkan masa depan yang cerah.
Aku hanya ingin kembali ke masa lalu kami yang bahagia.
Hanya itu.
***
Aku melambaikan tangan dari jendela mobil yang terbuka.
“Bye, Dien! Hati-hati di jalan, ya. Ingat itu Baskin-nya aku belikan untuk Kalyha (putri tunggalnya Nadien), lho. Jangan dihabiskan!”
Nadien tertawa.
“Iya, iya, cerewet. Terima kasih untuk hari ini ya, Wi! Bye!”
Tanganku masih membeku dalam ucapan perpisahan saat mobil Nadien menghilang di tikungan.
Tersenyum, aku bersyukur atas hal-hal kecil yang masih bisa kunikmati.
Baju baru (akan segera kupakai Senin nanti di sekolah), strawberry shower gel yang menyegarkan, dan perut kenyang hasil traktiran Nadien.
What could be wrong?
Getar mengusik dari dalam tas tanganku.
Merogoh dan menarik handphone keluar, aku mendapati nomor tak dikenal.
Ragu sejenak, aku menekan tombol jawab.
“Halo?”
Suara pria berat menjawab dari sana.
“Halo Wi, masih ingat aku?”
Sambil berjalan menuju pintu, aku mencoba mengingat.
Suara ini rasanya tidak asing, tapi...
Si penelepon tertawa.
“Ini aku Andra, Wi. Apa kabar? Maaf ya aku menghubungi tiba-tiba begini. Tapi kutunggu telepon darimu tidak datang-datang nih. Kira-kira kamu ada kosong kapan buat kita catch up nih?”
Aku menjauhkan handphone dari telingaku dan membelalakkan mata tak percaya.
Gila ini orang.
Kurang ajar betul sikapnya pada istri temannya sendiri!
Sementara itu dia terus berkata-kata.
“Omong-omong, ini Windra titip salam, Wi. Minta aku mengecek keadaanmu juga. Jadi aku harus jawab apa nih padanya?”
Tanpa sadar, begitu aku mendengar nama Windra, aku meletakkan kembali handphone di hadapan telingaku.
“Windra titip salam?”
Andra mengiyakan dari seberang telepon.
“Iya. Jadi kapan kamu kosong? Kita catch up yuk.”
...
“Besok Minggu kosong kok. Nanti kabari saja tempat dan waktunya ya.”
Aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat berkata begitu.
Yang aku tahu hanyalah dadaku sesak saat ini.
Sesak oleh rindu, yang ditimbulkan dari mendengar namanya.
Sesak oleh rasa bersalah pada diriku sendiri.
Karena setelah semua sakit hati itu, aku tidak bisa menyangkal bahwa aku masih menunggunya.
__ADS_1
Menunggu Windra pulang.