
Rawindra
“History is a reconciliation of the past with the present; otherwise it would be incomprehensible to those for whom it is written. And since the present is always in a state of flux, it follows that interpretations and judgements alter with time.”
- Jonathan Riley-Smith, The Crusades: A Short History (1987) -
“Sejarah adalah rekonsiliasi antara masa lalu dan masa kini; jika tidak begitu, sejarah tidak akan bisa dipahami oleh pembacanya. Dan karena masa kini selalu berubah, maka pemahaman dan penilaian terhadap sejarah juga akan terus berubah seiring waktu.”
- Terjemahan Rawindra yang sedang duduk melamun di tangga darurat rumah sakit -
...
Ya.
Setelah menerima kabar dari dr. Rahmadi dan amarah dari Andhara, ini yang kulakukan sebagai respons.
Tanpa keberanian untuk masuk ke kamar Dewi, aku lari.
Lari menjauh hingga tiba di sini.
Sendirian dalam gelap, hanya ditemani foto-foto masa lalu yang dari tadi terus kupandangi.
Tenggelam dalam sejarah dan makna-makna barunya bagiku di masa sekarang.
Foto ini misalnya.
Memuatku dalam kemeja batik slim-fit dan celana panjang hitam serta Dewi dengan gaun terusan batik selututnya.
Rambut hitam panjang sempurnanya seperti air terjun di kedua sisi wajahnya.
Mata Dewi yang bulat cantik berbinar-binar. Demikian juga dengan mataku.
Senyum lebar merekah dari bibir manisnya, menampakkan deretan gigi putih cemerlang.
Tangan kami masing-masing menggenggam segelas wine yang hampir habis setengahnya.
Masih ada jarak di antara kami, secara ini adalah foto pertemuan kami yang pertama.
Diambil oleh asisten rumah tangganya Dewi, berlokasi di halaman belakang rumah orang tuanya.
“Terima kasih, Mbok Yum!”, ujar Dewi riang.
Mbok Yum tersenyum balik dan sambil tersipu-sipu ia menjawab.
“Sama-sama, Mbak Dewi. Cepat-cepat ke pelaminan ya, Mbak dan Mas.”
Deg. Jantungku berdegup lebih kencang.
Si Mbok ini ada-ada saja sih!
Kebelet kawin lagi sepertinya si Mbok ini.
Wong baru juga bertemu, masak tiba-tiba bahasannya sudah menikah lagi.
Dalam kecanggungan, aku melirik wanita di sampingku.
Mempersiapkan pose meringis untuk wajahku dan mencari jokes dalam kepala untuk menghindari awkward moment.
Tapi di sisiku, Dewi malah tertawa lepas.
“Kami cocok ya, Mbok?”
Ia pun lalu segera melirikku jenaka dan menambahkan.
“Tuh, Mbok Yum sudah setuju. Asal tahu saja, Win, persetujuan-nya Mbok Yum itu susah didapatkan lho!”
Otomatis, aku dan Mbok Yum ikut tertawa.
...
Jika memori ini kuakses saat Dewi duduk bersandar di dadaku, pasti makna yang kutangkap dan kusuarakan adalah :
“Right then, I knew. Aku tahu bahwa kita akan menikah, Wi. Aku tahu bahwa kita ditakdirkan bersama.”
Kata-kata yang akan dibalas Dewi dengan, “Mosok sih? Bukannya waktu itu kamu sedang proses eliminasi daftar gebetan? Aku nomor urut berapa nih?”
Responsku berikutnya tentu adalah mencium bibirnya gemas dan berbisik.
“Kutunjukkan kamu nomor urut berapa di ranjang ya, Sayang.”
Tapi mengakses memori itu sekarang, dengan posisiku sebagai penjahat dan pembunuh di mata keluarganya, makna yang kutangkap berbeda.
...
Seandainya kamu tidak pernah bertemu denganku, Wi.
Seandainya malam itu tidak pernah terjadi.
Seandainya aku berkukuh menolak ajakan Ibu untuk bertamu ke rumahmu.
Mungkin kamu akan jauh lebih bahagia sekarang.
Mungkin kamu tidak akan terbaring di ranjang rumah sakit.
Dalam keadaan tidak sadar dan melenyap perlahan.
“Win? Sedang apa kamu di sini?”
Tersentak sadar, buru-buru aku menghapus air mata dan menoleh.
...
No, no. Impossible.
This can’t be happening.
Ternganga tak mengerti, aku berdiri bagai terhipnotis.
Melangkah seperti sleep-walking, aku mendekat dan mengulurkan tangan ingin menyentuhnya.
Is this real?
This can’t be real, right?
Rambut hitam panjangnya terurai di kedua sisi wajahnya sempurna.
Mata bulat cantiknya memancarkan kasih sayang.
Bibir manisnya terbuka dan tersenyum riang.
Lembut, ia meraih tanganku yang terulur dan menuntunku menyentuh pipinya.
Ia pun mengulurkan tangan membelai pipiku di saat yang sama.
Masih tersenyum, ia berkata.
“Sedang apa kamu duduk sendirian di dalam gelap seperti ini? Tidak sehat tahu. Yuk ikut aku berjalan-jalan.”
Masih tak mengerti, aku menyerahkan diri untuk dibawanya.
Terbata-bata aku berkata.
“W... Wi...? Kenapa kamu... Kamu ‘kan... Ini pasti mimpi.”
Melirikku jenaka, ia mencubit pipiku.
“I don’t care what this is, Win. Neither should you. Yang penting sekarang, hapus tampang bingungmu, Sayang. Berjalanlah bersamaku.”
***
Koridor rumah sakit sepi, tidak seperti biasanya. Mungkin karena hari sudah jauh malam.
Sedari tadi hanya ada deretan bangku kosong dan pintu-pintu yang tertutup.
Tidak ada seorang perawatpun yang mampir di ruang berpapasan.
Tidak di depan, tidak juga di belakang.
“Fokus, Babe.”
“Huh?”
Dewi mencubit lenganku.
“Kebiasaan kamu kalau jalan tidak pernah fokus. Fokus dong, jangan lihat ke sana kemari. Istrinya di samping kok tidak dilihat-lihat. Mau cari wanita lain, ya?”
Aku tergagap.
“Bu... Bukan...”
Tertawa, Dewi meremas tanganku.
“Just kidding, Babe. Tapi serius deh. Jangan lihat ke sana kemari ah. Lihat aku saja, ya.”
Aku menuruti dan menatapnya di sisi.
Harum shampoo di rambutnya yang selalu membuatku tenang, apapun yang sedang kualami.
Rasa lembut kulitnya pada kulitku...
Man, I used to joke about her skin.
Dewi tersenyum dan berkata seakan ia bisa membaca pikiranku.
“Ya, that’s more like it. Apa tuh candaanmu soal kulitku, Babe?”
Aku ikut tersenyum dan berkata pelan.
“Ini kamu bisa licin begini kulitnya. Aku curiga kamu tiap malam bukan pakai skincare, Babe. Tapi diamplas dan dipelitur.”
Dewi tertawa terbahak-bahak.
“Ya kali istrimu ini disamakan dengan meja kayu jati.”
Aku ikut tertawa, dan setelah tawa mereda, pemahaman datang.
“Ini... Ini tidak nyata ya, Babe? Which means kamu...”
Mendadak, Dewi melangkah ke depanku.
__ADS_1
Telunjuk rampingnya menutup bibirku.
“For the last time, Win. Does it really matter what’s real or not? Nikmati saja, Babe. Please?”
Mataku menatapnya dalam-dalam.
Ia juga melakukan yang sama.
Setelah beberapa saat, aku mengangguk.
Riang, Dewi tersenyum dan berbalik.
Menarik tanganku untuk melangkah.
“Yuk kita lanjutkan.”
Bersisian kembali, aku berusaha menguasai diri sekuat tenaga.
Menahan rasa, aku berkata pelan.
“Kita mau ke mana, Babe?”
Dewi menggigit bibir dan tersenyum. Melirikku dengan tatapan jahilnya.
“Ada deh. Rahasia.”
Aku tertawa kecil.
“Iya deh, aku ikut saja.”
Maka melangkahlah kami.
Menyusuri koridor, terus ke depan.
Mataku kini hanya terpusat padanya.
Entah sudah berapa lama kami berjalan, aku tidak peduli.
Aku hanya memfokuskan semua dayaku ke ujung jari dan telapak tangan kiriku yang sedang menggenggamnya.
Memecah keheningan, Dewi berkata.
“Kira-kira, apa yang sedang Tia lakukan sekarang, ya?”
Terkejut oleh pertanyaan tak terduga ini, aku tidak langsung menjawab.
Dewi melanjutkan.
“Tebakanku sih pasti sedang main masak-masakan. Hobi anakmu tuh, Babe. Pasti besarnya jadi chef terkenal, ya? Oh, atau mungkin sedang membaca buku cerita? Kalau sedang membaca buku, pasti dia sedang membaca novel itu. Ck, apa sih judulnya?”
Aku menjawab pelan.
“’The Once and Future King’, ya?”
Dewi tergelak puas.
“Iya, itu! Dasar ya itu anak. Gara-gara kamu nih suka mendongeng soal medieval times, dia jadi kecanduan novel itu deh!”
Aku tersenyum.
Dewi betul.
Sejak kecil, seperti anak-anak lain, Tia senang sekali dibacakan cerita sebelum tidur.
Tapi entah mengapa ia tidak suka fairy tales seperti Cinderella atau Snow White.
Mamanya sampai bingung dibuatnya.
Suatu hari, sepulang praktik aku masuk ke rumah dan mendapati dua cantik kesayanganku itu sedang bertengkar.
Tia melipat tangan keras kepala di sofa dan berkata, “Tia nggak mau bobo! Tia nggak suka ceritanya!”
Dewi berlutut memohon-mohon di depannya dan berkata, “Aduh, Sayang. Tia maunya apa dong? Mama sudah keluarkan semua cerita, lho. Jangan buat Mama bingung dong, Sayang.”
Terkekeh, aku turun tangan.
Aku menggendong putri cantik itu dan menyelimutinya dengan kisah-kisah bacaan waktu luangku.
Tentang kisah kepahlawanan Lord Bohemond dari Taranto di Perang Salib Pertama, tentang kisah kecerdikan Sultan Saladdin di Perang Salib Kedua, hingga keberanian Raja Richard The Lionheart di Perang Salib Ketiga.
Dan entah bagaimana, Tia tertidur.
Setelah kejadian malam itu, aku dan Dewi memutuskan untuk menyumbangkan semua buku cerita fairy tales-nya Tia dan menggantinya dengan novel Arthurian untuk anak kecil.
Menyela kenanganku, Dewi mencium pipiku penuh cinta.
“You know you’re such a great dad, right?”
Menerima ciumannya, aku mencoba tersenyum.
Namun kata-kata Dewi meremukkan hatiku.
Lebih dari kata-kata Andhara beberapa jam sebelumnya.
Dewi berkata lagi.
“Tia selalu lebih senang denganmu, Win. Entah mengapa. Mungkin karena image-ku sudah telanjur menjadi ‘Mama yang galak dan cerewet’ di matanya, ya?”
“Kamu bicara apa, Wi? Tia bahagia bersamamu kok. Nih ya, kamu ingat waktu itu hari Minggu? Sepulang gereja, kamu tiba-tiba diminta mendampingi murid lomba dan aku seharian bersama Tia?”
Dewi menoleh dan bertanya dengan tatapannya.
Aku meneruskan sanggahanku.
“It was a complete mess, Wi. Tia marah-marah tidak mau makan dan tidak mau tidur siang. ‘Mama biasanya begini ke Tia, Pa. Papa salah!’. Dalam hati aku berpikir, ‘Ya Tuhan, ini anak ngeyel-nya ampun deh. Dewi banget.’”
Dewi tertawa dan memukul lenganku.
“Kurang ajar.”
Aku tersenyum dan melepaskan genggamku.
Mengulurkan tanganku jauh ke bahunya, aku menarik Dewi dalam rangkulku.
“I can never do it like you, Babe. Kamu favoritnya.”
Dewi balas merangkul pinggangku sama eratnya.
“Iya, iya. Let’s call it a tie, ya, Babe? Seri saja deh kita. Daripada berdebat terus.”
Aku tertawa.
Kami berjalan terus.
Setelah beberapa saat, Dewi berkata pelan.
“Aku sudah jadi Mama yang baik ‘kan, Win?”
Aku berhenti dan menoleh.
Air mata. Dewi menangis.
Segera aku melangkah ke depannya, kedua tanganku menyentuh pipinya lembut.
Aku mencium keningnya dalam-dalam dan menghapus air matanya.
“Of course you are, Babe. Of course you are.”
Hanyut dalam tangis, Dewi berkata terpatah-patah.
“Aku... Aku takut, Win... Aku tidak berani bertemu... Bertemu Tia...”
Menarik nafas dalam, ia berkata lagi.
“Tia pasti kecewa punya Mama seperti aku, Win... Pasti... I’m a horrible mother... Aku Mama yang mewariskan kematian buatnya...”
Aku menariknya dalam peluk, membiarkan tangisnya tumpah di dadaku.
Tangis yang selama ini ia pendam dalam-dalam.
Dan aku hanya bisa membelai rambutnya.
Membelainya lagi, membelainya lagi.
...
Waktu seolah berhenti, jadi aku tidak tahu berapa lama Dewi menumpahkan isi hatinya dalam tangis.
Tapi saat kurasa ia mulai tenang, aku mencium ubun-ubunnya dan berkata pelan.
“None of this was your fault, Babe. Tidak ada yang menyalahkanmu. Aku tidak menyalahkanmu. Dan Tia juga pastinya tidak. Dan kamu tahu kenapa?”
Aku membuka pelukanku dan menatap wajahnya.
Tersenyum, aku berkata.
“Karena Tia pasti berterima kasih atas kehidupan yang kamu berikan padanya, Wi. Kehidupan yang walaupun singkat, tapi sudah kamu penuhi dengan cinta. Tia tidak akan marah padamu. Pasti.”
Senyum menyeruak dari balik isak yang masih tersisa.
Ia mengangguk.
“Terima... Terima kasih... Terima kasih, Win...”
Aku mencium keningnya lagi.
“It’s okay, it’s okay.”
Dewi menarik nafas dalam-dalam dan akhirnya menguasai dirinya lagi.
Tersenyum.
“Okay, yuk kita berjalan lagi, Babe.”
...
I mean every word, Wi.
Tia tidak akan marah padamu.
__ADS_1
...
Tia akan marah padaku kalau tahu apa yang kulakukan pada Mama kesayangannya ini.
***
“Kita hampir sampai”, ujar Dewi.
Aku tidak menjawab.
Langkah-langkah kami semakin pelan demi aku melihat apa yang berada di ujung koridor panjang ini.
Sepasang pintu.
Tepat di depan pintu, Dewi berhenti.
Aku pun berhenti.
Ia menghela nafas dalam dan berbisik.
“This is it, Win.”
Hati remukku yang sudah berusaha kutahan sepanjang jalan rasanya hanya setitik saja jauhnya menuju kehancuran total.
Dewi menoleh dan tersenyum.
“Kita duduk dulu yuk, Sayang.”
Tanpa daya, aku membiarkan diriku dituntun ke sepasang kursi di samping ruangan.
Dewi duduk di satu kursi dan menepuk lembut kursi di sisinya.
Aku mengikuti isyaratnya dan duduk.
Kembali bergenggaman tangan, dan kembali hilang kata-kata.
Tidak tahu harus berkata apa.
Selama keheningan, aku tahu Dewi menatapku teliti dari atas sampai bawah.
Treatment yang ia berikan setiap kali aku tiba di rumah dengan suasana hati kacau dan enggan bicara.
Biasanya sesudah kegagalan perawatan di rumah sakit.
Aku tahu bahwa khasnya Dewi, ia akan membiarkanku diam sampai tiba waktunya aku siap untuk bercerita.
Dan kali ini, aku berharap ia akan melakukan hal yang sama.
“None of this was your fault, Win”, ujarnya.
Aku menoleh menatapnya.
Berkaca-kaca.
Hampir hancur.
Senyum lembut, ia mengulurkan sebelah tangannya yang lain untuk membelai tanganku.
“Aku tahu kamu sudah mengusahakan yang terbaik, Babe. Terbaik untukku, terbaik untuk Tia. Seperti yang biasa kamu lakukan.”
Please, Wi.
Please stop.
“Kami bangga punya suami dan Papa sepertimu, Win. We love you so much.”
...
Air mata bercucuran.
Runtuh.
“Ma... Maaf... Aku... Aku yang... Aku yang pergi... Aku membuat kamu... Membuat kamu seperti ini...”
Kini Dewi-lah yang menarikku dalam peluk.
Membelai rambutku, ia menenangkanku lembut.
“Sshh, it’s okay, Babe. It’s okay.”
Isak tak terkendali.
“Maaf... Maafkan... Maafkan...”
...
“Hidup kami memang singkat, Win. Tapi seperti yang kamu katakan tadi, kamu sudah memenuhi kami dengan cinta dalam waktu yang singkat itu. Terima kasih, ya.”
Jari-jari lembutnya menghapus air mata dari wajahku.
Aku menggenggam lengannya.
Tidak bisa melepas.
Dewi tersenyum sedih.
Matanya berkaca-kaca.
“Yah, harus kuakui aku sedih, Win. Tadinya kukira kita akan hidup bahagia sampai tua. Tinggal di pondok kecil di tepi danau.”
Aku tertawa dalam isak.
“And more kids?”
Dewi ikut tertawa dalam derai.
“And more kids. Aku mengalah deh soal itu.”
Aku menguasai nafasku sekuat tenaga.
Menatapnya sekali lagi.
Seakan haus dan lapar, seakan tidak pernah puas.
Aku meneliti setiap detil wajahnya.
Kerut-kerut di sudut matanya, lesung pipit dalam senyumnya, sampai bayanganku dalam lensa matanya.
The apple of my eye.
My Dewi.
Dewi tersenyum dan membelaiku sekali lagi.
“Aku pamit ya, Sayang. Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi. Jangan keasyikan kerja sampai lupa makan atau tidur. Jangan khawatir soal Andhara, ia hanya sedang kalut saja kok. Maafkan Andra juga, ya.”
Sepasang pintu di depan kami terbuka.
Dan mengintip dari ambang pintu, sesosok putri cantik yang sangat kukenal.
Rambut panjang hitamnya yang bergelombang, mata hitam bulat jenakanya, senyum cantiknya.
Perpaduan sempurna dari aku dan istriku.
“Papa! Mama!”
Serentak, aku dan Dewi bangkit dan menghampirinya.
Berlutut di depannya, memeluknya seerat cinta.
Dengan susah payah, aku melepaskan peluk pada kedua cahaya-ku ini.
Dewi pun melakukan hal yang sama.
Tia girang sekali saat berkata.
“Mama! Tia kangen Mama! Tia kangen sekali sama Mama!”
Isak haru dan senyum tulus, Dewi menjawab.
“Mama juga kangen sekali sama Tia, Nak. Kangen sekali.”
Tia menoleh dan tersenyum lebar padaku.
“Papa, terima kasih buat semuanya ya, Pa. Tia nggak apa-apa sekarang. Mama juga nggak apa-apa.”
Dewi bangkit berdiri dan menggendong Tia.
Mendekat, memelukku berdua dengan Tia untuk terakhir kalinya.
Berbisik.
“Thank you for everything, Sayang*. We’re alright now.”*
***
“Mas Windra? Bangun, Mas.”
Beratnya kelopak mataku terasa saat aku mengerjapkan mata.
Dari buram, perlahan kejelasan lihat kembali.
Andhara membungkuk di atasku.
Air mata membanjir di sisi wajahnya.
“Mbak... Mbak Dewi, Mas... Mbak Dewi sudah...”
Aku bangkit dari tidurku di tangga darurat rumah sakit.
Meraih adik iparku erat dalam pelukan.
27 Oktober 2021 pkl 02.30 dini hari.
Telah berpulang ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa.
Raden Sri Dewi Adhisti.
Ibu dari Judistia Jyotika Wibowo.
__ADS_1
Istriku.