
“Kamu yakin mau menikah dengan dokter, Wi?”
Menjelang masa-masa pernikahan, kalimat ini memang sering sekali mampir di telingaku.
Dimulai dari Sari.
“Dengan dokter ‘kan lama dapat uangnya, Wi. Mereka harus koas, lalu praktik di klinik kecil dulu. Kalau mau gaji besar harus spesialis. Spesialis harus 4 tahun sendiri. Ih, aku sih ogah ya.”
Nia.
“Wi, Wi. Bisa tidak sih kamu itu sekali saja dalam hidupmu memilih dengan benar? Sudah kerja jadi guru, eh pilih pasangan dokter. Memangnya tahan ditinggal-tinggal? Kalau someday sedang kangen tapi suami dipanggil ke IGD bagaimana?”
Nadiena (Wakil Kepala Sekolah SMP Lumbung Padi International saat itu sekaligus sahabat sejatiku).
“Kamu yakin, Wi? Dokter dan guru mungkin memang mirip front perjuangannya. Tapi kita beda dunia lho, Wi. Beda zona waktu. Kita sibuk dari pagi sampai sore, dokter sibuk dari sore sampai pagi. Kamu kuat, Wi?”
Bahkan dari Windra sendiri.
“Babe, kamu yakin? Benar-benar yakin mau menikah denganku? Kamu tahu bahwa di banyak waktu, aku akan lebih memprioritaskan Hippocratic Oath dibanding janji nikah kita, ‘kan?”
Well, I already know all of these long before them.
Aku sudah tahu semua risiko dan worst case scenarios yang bisa terjadi jika aku memautkan masa depanku bersama seorang dokter.
Aku tahu bahwa Windra-ku tidak akan bisa menjadi milikku sepenuhnya.
Aku tahu bahwa aku harus merelakan dirinya pergi kepada orang lain yang membutuhkannya, bahkan di saat aku sedang sangat memerlukan kehadirannya.
I have asked myself countless times dan aku selalu mendapatkan jawaban yang sama dari dalam hati.
Aku siap.
Aku sudah melatih diriku sejak dini.
Di saat teman-teman kuliahku menghabiskan weekend berpacaran ke Blitz Megaplex atau XXI, aku harus rela duduk diam di rumah dan melepaskan rindu dengan BBM chat yang jarang-jarang karena ia sedang jaga di IGD rumah sakit.
Di saat teman-teman sebayaku berpacaran dengan cara makan siang bersama dan saling bertatapan mesra, aku harus rela menonton Windra tertidur kelelahan di kursi cafe di waktu-waktu langka kami bisa berkencan.
And I’m okay, perfectly okay.
Di tahun-tahun pernikahan kami pun begitu.
Malam ketiga kami menikah, saat pasangan-pasangan lain menghabiskan waktu cuddling seharian atau piknik ke Bali, Windra menghabiskan satu hari penuh di klinik kerjanya untuk menangani 5 kasus demam berdarah dengue.
Apalagi 6 bulan kemudian, saat ia mengambil pendidikan spesialis neurologi di Universitas Padjajaran.
Aku ingat percakapan kami saat itu.
“Babe?”
“Hm?”
Windra beringsut mendekatiku yang sedang asyik membuat power point slides di sofa.
“Kamu sedang apa?”
Tanpa menoleh, aku menjawab.
“Ini, buat slides untuk anak-anak. Kira-kira contoh soal apa yang cocok untuk ini ya, Babe?”
Windra mengernyit menatap layar.
“Ini materinya apa, Babe?”
Aku meneguk jus buah sebentar sebelum menjawab.
“Aritmatika sosial. Aku mau mengajari anak-anak tentang harga bruto neto begitu. Ada ide?”
Windra berpikir sejenak, lalu berkata.
“Hmm... Apa ya? Yang sedang trend di antara anak-anak sekarang apa? Aku juga kurang paham sih. Kue-kue rainbow begitu, mungkin?”
Aku tersenyum dan mengecup pipinya singkat.
“Ide bagus. Terima kasih ya.”
Windra balas tersenyum.
“Sama-sama.”
Hening beberapa saat, Windra memanggilku lagi.
“Babe?”
“Hm?”
Ia berdehem serius.
“Aku... Aku mau ambil spesialis boleh, Babe?”
Aku menghentikan kegiatanku dan memutar badanku menghadapnya penuh.
“Spesialis apa, Babe? Di mana? Mulai kapan rencananya?”
Windra tertawa.
“Kamu seperti dr. Bimo yang sedang bertanya tentang penelitian kelompok saja.”
Aku memukul gemas lengannya.
“Windra! Jawab aku saja sih, cepat!”
Ia tersenyum.
“Iya, iya. Rencananya di Unpad (Universitas Padjajaran) lagi sih, Babe. Aku inginnya neurologi. Kamu tahu ‘kan aku sangat ingin memahami lebih tentang cara kerja otak. Can you imagine, Babe? A grey matter dengan berat beberapa kilogram saja, tapi di dalamnya ada emosi, keinginan, imajinasi, dan perasaan. Bahkan kadang kita mendapat ilham dari Yang Di Atas di sana! Ajaib sekali, ‘kan?”
Menyaksikannya begitu antusias seperti anak kecil yang menceritakan mainan kesukaannya, bagaimana mungkin aku menolak?
Aku tahu menyetujui pendidikan spesialis untuknya berarti pemasukan keluarga kami akan berkurang selama 4 tahun ke depan.
Berarti waktunya akan semakin berkurang untuk berada di rumah.
__ADS_1
Berarti aku harus menghadapi kehamilanku nyaris seorang diri.
Tanpa sadar, tanganku mengelus perutku lembut dan Windra menyadarinya.
Dengan agak bersalah, ia berkata.
“Tapi kalau kamu tidak setuju, tidak apa-apa kok, Wi. Aku bisa menunggu.”
Aku menarik tangannya dan meletakkannya di perutku.
“Win, ini baru bulan pertama, jadi perutku belum begitu besar. Tapi di dalam sini sudah ada kehidupan, Win. Anak kita.”
Aku menatapnya lurus dan tersenyum yakin.
“Don’t you dare backing down on your dreams in our child’s presence, Win. Don’t you even dare.”
Windra tersenyum dan mengecup keningku dalam-dalam.
“I’m so lucky to have you, Babe.”
Mengapa aku bisa seyakin itu?
Sederhana saja. Prinsip tiga titik.
Jika ada dua titik yang berseberangan, cara terbaik untuk menyatukan kedua titik itu adalah membuat satu titik lain yang akan menjadi tujuan bersama.
Lalu tariklah garis dari kedua titik berseberangan itu menuju titik tujuan.
Aku percaya walaupun aku dan Windra berlainan dalam topik bacaan (aku tentang aljabar dan pecahan, dia tentang neurofisiologi dan cerebrovascular disease), zona waktu, dan tingkat stress, tapi jika kami punya satu tujuan yang sama, kami tidak akan terpisahkan.
Dan tujuan itu adalah keluarga.
Keluarga kami.
Setidaknya itulah yang kupikirkan dahulu, sebelum mendapati bahwa dia punya tujuan lain yang tidak dibagikannya padaku.
Entah tujuan apa yang dikejarnya hingga mencampakkanku begini.
Aku selalu mendukungnya untuk mengejar mimpi ke manapun ia mau, tapi dia mendukungku setelah aku terluka saja tidak...
...
Damn.
Perenungan semacam ini bukan bahan pikiran pagi yang baik.
Ini pasti muncul karena aku menangis semalaman dan hanya tidur tiga jam.
Aku bangun dari tempat tidur Tia dengan tubuh sakit dari kepala hingga kaki.
Ingin berbaring sepanjang waktu di sini bersama sisa-sisa kenangan kami, namun waktu sudah menunjukkan pukul 05.30.
Aku harus bangun.
***
“Mbak?”
“Hm?”
“Hari ini aku jadi sopir Mbak seharian, ya?”
Aku sampai tersedak susu mendengarnya.
“Hah? Tidak usah, Dhar! Kamu ‘kan baru pulang kemarin. Jetlag, lah. Tidur saja kamu. Kalau mau jalan-jalan, Mbak temani nanti sore setelah dari toko, ya.”
Andhara menggeleng.
“Sudah tidak apa-apa, Mbak. Biar Mbak bisa tidur di mobil juga. Masak Mbak menolak punya sopir seganteng ini?”
Aku tertawa.
“Halah, kamu mau antar Mbak karena mau melihat guru-guru magang ‘kan?”
Andhara mengernyit.
“Guru magang yang mana ya, Mbak? Aku tidak ingat. Yang aku ingat sih guru cantik yang Indo-blasteran itu. Siapa namanya, Mbak?”
Aku bangkit, berjalan, dan menepuk kepalanya dengan gulungan koran.
“Itu Miss Laut, Dhar. Sudah mau menikah dia. Jangan macam-macam kamu, ya.”
Andhara mengelus kepalanya sambil pura-pura merengut.
“Galak sekali sih, Mbak. Aku ‘kan cuma bercanda.”
Aku tertawa seraya mengambil tas kerjaku.
Andhara mengejarku dengan pertanyaan.
“Jadi aku boleh ya, Mbak? Jadi sopirmu?”
Aku menghela nafas dalam.
Bersyukur pada Tuhan dengan sepenuh hati.
Ternyata aku tidak ditinggalkan begitu sendirian.
***
“Oh iya, Mbak. Aku sudah lihat laporan toko kemarin. Keuntungan bulan ini agak menurun ya? -2% lho, Mbak. Harus segera ditangani nih.”
Aku menyandarkan kepala di kursi penumpang. Memang enak juga disopiri seperti ini.
“Oh. Turun ya? Nanti di toko Mbak bicara dengan Lastri deh.”
Andhara melirikku sekilas dan menghela nafas.
“Mbak, aku tahu Mbak itu tidak tidur semalam. Mungkin hanya tidur beberapa jam. Aku juga sudah dengar dari Mbok Jem kalau itu terjadi bukan hanya satu dua hari.”
Aku memejamkan mata dan tidak menjawab.
__ADS_1
Andhara berkata lagi.
“You have to take care of yourself, Mbak. Jujur aku sakit hati melihat Mbak begini. Kalau waktu aku tidak di sini, siapa yang mengurusmu, Mbak?”
Aku mendengus geli.
“Adikku ini sudah besar, ya? Sudah bisa mengurusi Mbak-nya rupanya.”
Andhara tidak tertawa.
“Mbak, aku serius. Maaf aku harus bicara begini, Mbak. Tapi mau sampai kapan Mbak menyiksa diri begini? Kalau Mas Windra...”
“Enough”, potongku.
Aku memijat pelipisku yang mulai tersengat pening.
Membuka mata, aku berusaha menyisipkan permintaan maaf dalam senyumku.
“Maaf tadi Mbak memotongmu ya, Dhar. Tapi Mbak tidak apa-apa kok. Terima kasih ya, Adikku sayang.”
Aku melambaikan tangan seraya Andhara membawa mobilku pergi.
Meninggalkanku berdiri diam di gerbang sekolah.
Dengan perkataan Andhara terngiang-ngiang dalam kepalaku.
“Mau sampai kapan Mbak menyiksa diri begini?”
Pertanyaan yang ini, aku tidak bisa menjawabnya.
***
San Filippo Syndrome Type C. Pernah dengar nama itu?
Aku juga tidak.
Aku baru pertama kali mendengarnya di ruang dr. Rahmadi Risjad, Sp. N. di RS Hasan Sadikin Bandung.
Berdampingan dengan Windra, tanganku di dalam genggamnya.
Mendengarkan dr. Rahmadi berusaha menjelaskan hasil observasinya atas Tia.
...
Damn. This is not the time to recall this.
Bukan saat aku sedang duduk dalam rapat staf bulanan.
“Terima kasih laporannya, Mr. Andrew. Sekarang kita dengar laporan dari Student Affairs. Please, Ma’am Dewi.”
Aku mengangguk singkat pada instruksi Nadiena, sahabatku yang kini sudah duduk sebagai Kepala Sekolah.
“Thank you, Ma’am Nadiena. So, teachers, here are our upcoming activities. Starting from the Parent’s Day. Jadi saya mendapat saran dari Mr. Josh, (aku mengangguk pada salah seorang staf Kesiswaan yang paling kuandalkan) Parent’s Day bulan ini akan kita buat berbeda. Kita akan minta anak-anak membuat vlog bersama orang tua mereka, a simple daily activity. Ini akan dilombakan dan vlog terbaik dalam tiap kelas akan ditayangkan...”
...
Otak dan bibirku terus berkolaborasi dalam menyampaikan presentasi yang luar biasa sementara hatiku pedih hingga berdarah setiap aku menyebutkan kata ‘parents’.
Satu gelar yang hilang dariku karena penyakit saraf langka yang merenggut putri kesayanganku.
Aku ingat kepanikan yang menyergapku saat Mbok Jem membangunkanku pada pukul satu dini hari.
“Bu! Pak! Tia kejang-kejang!”
Windra dan aku dalam sekejap mata bangun dan berlari ke kamarnya.
Mengobservasi keadaan, Windra segera berlari dan memiringkan badan putri kami.
“Wi! Telepon ambulans sekarang!”
Dalam kilasan-kilasan panik, Windra menggendong Tia, menaikkannya ke ambulans, dan kami mendampinginya hingga ke IGD.
Tim dokter segera mengambil alih dan kami diminta menunggu.
Shocked hingga lemas dalam semua sendi, aku nyaris tak mampu berdiri.
Windra memeluk dan membisikkan kata-kata penguatan untukku, sementara ia pun berjuang mengatasi kepanikannya sendiri.
“Tenang ya, Sayang. Tenang. Tia tidak pernah seperti ini sebelumnya, ‘kan? Mungkin ia hanya demam dan kejang saja. It will be alright. It will be alright.”
...
It didn’t.
Karena itu bukan kejang biasa.
Itu adalah gejala pertama dari penyakit yang merenggut kemampuannya bicara perlahan-lahan.
Merenggut segala ingatan di dalam tubuhnya.
Ingatan akan cara makan, cara membaca, cara berjalan.
...
Hingga akhirnya membuat tubuhnya lupa cara bernafas.
San Filippo Syndrome Type C.
Penyakit tanpa obat yang menyerang 1 dari antara 100.000 anak setiap tahunnya.
Penyakit yang membuatku, seorang ibu yang tidak berdaya, harus merasakan dinginnya tangan putriku sendiri.
Penyakit yang membuatku kehilangan kesempatan untuk melakukan Parent’s Day bersama putriku untuk selamanya.
Tanpa bisa melakukan apa-apa.
“Mau sampai kapan Mbak menyiksa diri begini?”
Mungkin sampai selamanya.
Karena hanya itu yang bisa kulakukan untuk putriku.
__ADS_1