Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Bab 6 - Pintu Baru Untuk Dewi


__ADS_3

“Wi... Wi... S... Stop dulu, yuk... Hhh... Hhh...”


Aku menghentikan sepeda dan menoleh ke belakang. Tertawa saat Nadiena mendekat perlahan-lahan.


Terengah, ia berkata.


“Gi... Gila... Cepat... Sekali kamu... Hhh... Hhh...”


Aku geleng-geleng kepala melihatnya.


“Nadien, Nadien. Terlalu lama duduk di belakang meja sih. Out of shape ‘kan jadinya. Lemaknya bertumpuk tuh.”


Nadien meneguk energy drink dan mengatur nafas sebelum menjawabku.


“Iya nih, parah. Baru segini saja sudah keok. Padahal dulu kita sering sampai ke Dago, ya?”


Aku ikut meneguk jus botol-ku dan mengangguk.


“Ke Dago, ke Padalarang malah, Dien. Sekarang baru sampai ke Jalan Menado sudah gemetar kakinya ya?”


Nadien tertawa.


“Dasar. Beda deh yang keep fit. Rahasianya apa, Wi?”


Aku mengangkat bahu cuek.


“Rahasianya yoga setiap weekend saja, Dien. Dan kurangi makan konsumsi dari yayasan.”


Nadien tertawa terbahak-bahak.


Aku ikut tertawa sebelum bertanya.


“Jadi? Lanjut sampai ke Gasibu atau mau call it in, Dien?”


Nadien menggeleng dan menyerah.


“Call it in deh, Wi. Gila kalau aku paksa ke Gasibu. Kalau aku tidak bisa gowes lagi memang kamu mau bonceng?”


Aku tertawa.


“Kalau aku bonceng dapat uang lembur tidak, Dien? Kalau dapat aku mau deh.”


Nadien memukul lenganku.


“Gila! Matre gila! Sudah ah, cari coffee shop yuk. Aku mau meluruskan kaki nih.”


Untungnya, tempat kami berhenti tidak jauh dari sebuah coffee shop sederhana untuk para bikers seperti kami.


Setelah memarkirkan sepeda, Nadien segera berjalan ke arah kasir.


“Wi, kamu mau pesan apa? Latte?”


Aku berpikir sejenak dan menggeleng.


“I’ll pass deh, Dien. Aku masih ada jus kok. Titip croissant atau sandwich saja ya.”


Nadien mengangguk dan memesan, sementara aku memilih untuk duduk di sebuah meja di halaman luar.


Meletakkan helm di samping, aku memeriksa aplikasi olahraga di handphone-ku.


Hm, not bad. 300 kalori sudah terbakar dari sel-sel tubuhku. Untuk kategori cycling for fun, ini sudah luar biasa.


Puas memandang pencapaianku hari ini, aku membuka Whatsapp dan mendapati bahwa grup Student Affairs Crewmates sudah penuh dengan pesan bertema rajukan Cindy yang harus membuat contoh vlog Parent’s Day di weekend ini.


Cindy English


Duh weekend itu mestinya nge-mall dong, Ma’am Wi. Kenapa harus Senin sih contohnya? ‘Kan event-nya juga masih bulan depan. 10.05


Indri Bio


Sstt, berisik Cin. Ma’am Dewi-nya juga sedang cycling. Lagipula memang kamu mau nge-mall sama siapa sih? Pak Sardhana PJOK ya? Hahahaha 10.07


Cindy English


Sembarangan! Aku jomblo tapi masih ada harga diri, ya! Masak sama duda seperti Pak Sardhana! 10.08


Josh IT


Duda ‘kan banyak pengalaman, Cin. Nanti diajari banyak posisi lho, Cin. 10.08


Cindy English


Berisik, Josh! Gila! Aku adukan ke Laut ah, kalau calon suaminya porno*!* 10.09


Josh IT


Lah, memang posisi apa? Posisi yoga maksudnya, Cin. Biar langsing sedikit tahu. 10.10


Aku terkekeh membaca pesan-pesan miring dari para anak buahku itu.


Me


Sstt, sudah fokus ke job masing-masing! Cin, nanti Senin aku belikan donat J.Co deh, bayar lembur weekend, OK? 10.10


Cindy English


Yay! Sama gelato juga ya, Ma’am! 10.10


Me


Siap, nanti aku minta Pak Sardhana yang kirim langsung ke kost-an mu ya? 10.11


Josh IT


Wkwkwkwk, nice one, Ma’am! 10.11


Cindy English


Ma’am Dewiiii (emoji menangis) 10.11


“Ayo lho, sedang lihat apa kamu? Kok senyum-senyum sendiri begitu, Wi?”


Nadien duduk dan menyodorkan sepiring sandwich ke hadapanku.


Aku menunjukkan chats di grup Student Affairs padanya.


“Ini, Dien. Anak-anak SA. Gila semua.”


Nadien membaca grup sambil menyeruput caffe latte-nya dan ikut tertawa.

__ADS_1


“Asyik ya, punya anak buah seperti mereka itu.”


Aku mengangguk.


“Banget. Aku bersyukur sih bisa bekerja di SA bersama mereka. Tidak terbayang aku kalau harus bekerja dengan Arianto atau Rianne dari Kurikulum. So boring.”


Nadien terbahak.


“Jadi aku tidak salah menempatkan ya, Wi? Padahal tadinya Mr. Raja usul kamu jadi Kurikulum lho. Katanya guru matematika ‘kan biasanya sistematis. Dia tidak tahu saja kalau dulu kamu buat skripsi dikebut satu minggu, ya.”


Aku terkekeh.


“Apa serunya play by the rules, Dien? Jangan terlalu serius lah, hidup itu.”


Nadien meneguk lagi caffe latte-nya dan menatapku dalam.


“Wi, aku sudah lama tidak mengobrol denganmu. How are you, Wi? Are you okay?”


Aku membiarkan pertanyaan itu menggantung sambil memotong sandwich.


Nadien tentu saja tahu apa yang terjadi padaku.


Ia ada bersamaku dari sejak pertama kali Tia masuk ke rumah sakit.


Ia juga tahu apa yang terjadi dengan keluargaku setelah Tia dipanggil Tuhan.


Jadi aku tidak perlu pura-pura tidak tahu apa maksud pertanyaannya.


Menghela nafas, aku mencoba tersenyum.


“Aku baik-baik saja kok, Dien.”


Nadien meletakkan cangkir dan mencondongkan badannya mendekat.


“You are a lot of things, Wi. But you are not a liar.”


Senyum rapuhku berubah menjadi tawa ironis.


“Well, to tell you the truth, I am not okay, Dien. Tapi kamu sudah tahu itu, ‘kan?”


Nadien terdiam sesaat, lalu bertanya pelan.


“Jadi belum ada kabar sama sekali dari Windra?”


Aku mengangkat bahu tanpa acuh.


“Mengabari sih masih. Tapi kabar-kabar tidak penting. Chat dan telepon menanyakan kabar begitu saja. Tanpa memberitahu dia di mana dan apa yang sedang ia lakukan.”


Nadien mengelus tanganku lembut.


“Sabar ya, Wi.”


Masih tak acuh, aku mulai menyantap sandwich pesananku.


“I’ve told you, I’m okay, Dien. Tidak apa-apa. Aku juga sudah berhenti berharap dia kembali. Sudah bertemu wanita lain mungkin. Wanita yang...”


Aku terhenti.


Semua hal yang kupikirkan, kurasakan, dan kualami selalu kubagi pada Nadien.


Kecuali fakta mengerikan tentang kemungkinan akulah yang menurunkan penyakit genetik pada Tia dan Windra meninggalkanku karena itu.


Memutar otak, aku menyambung kalimat dengan cepat.


“Wanita yang lebih baik dari aku.”


Nadien memutar bola mata tak percaya.


“C’mon, Wi. Wanita mana lagi yang lebih baik dari kamu? Wanita mana lagi yang tahan berkorban dalam segala hal demi suaminya? Wanita mana lagi yang tahan menghadapi semua yang kamu alami seorang diri tanpa pernah mengeluh satu kalipun? Wanita mana yang bisa seperti kamu?”


Aku tertawa.


“Ciye, tumben gombal nih, Dien. Minta ditraktir ya?”


Nadien tidak tertawa.


“Wi, aku serius. Aku memang sudah lama tidak mengobrol intens denganmu, tapi aku tahu kalau kamu kurang tidur setiap hari. Maksudku... Kamu cantik, kamu sukses, kamu luar biasa. Untuk apa kamu menyiksa diri demi suami tidak bertanggung jawab seperti itu?”


...


Ini lagi.


Aku tidak menjawab, memusatkan perhatian pada makanan di hadapan.


Nadien mengawasiku selama beberapa saat, lalu menghela nafas dalam.


“Setidaknya kamu sudah cerai dari dia, ‘kan?”


Aku menjawab dengan menunjukkan cincin yang masih melingkar di jari manisku singkat.


Nadien terkejut dan marah.


“Kamu apa-apaan sih, Wi? Suamimu pergi tidak jelas satu tahun penuh tanpa ada itikad untuk memperbaiki hubungan, tapi kamu masih saja bertahan...”


“Tidak semudah itu ‘kan, Dien?”, potongku.


Nadien menjawab dengan nada menantang.


“Kenapa tidak mudah? Dia mudah saja meninggalkanmu setelah pemakaman Tia.”


Aku berkata pelan.


“Dien, sudah cukup. Aku tidak mau bicara soal ini lagi, OK?”


Nadien menjawab keras kepala.


“Kalau kamu tidak bicara denganku sekarang, kamu mau bicara dengan siapa lagi?”


Aku mengangkat wajah dan menatapnya lurus.


“Mungkin aku tidak mau membicarakannya dengan siapapun.”


Nadien berdecak kesal.


“Kenapa kamu itu sulit sekali untuk ditolong, Wi? Kenapa kamu menolak semua usaha orang-orang untuk membantumu?”


Aku berkata tanpa berpikir. Darahku mulai naik ke kepala.


“Karena aku tidak layak ditolong, Dien. Aku tidak mau ditolong. Ini hukumanku.”

__ADS_1


Nadien membelalakkan mata.


“Hukuman untuk apa? Memangnya kamu salah apa, Wi? Yang terjadi pada Tia adalah kehendak Yang Di Atas! Bukan hukuman untuk kesalahanmu!”


Aku tidak menjawab.


Menarik nafas dalam sekuat tenaga, aku memejamkan mata dan menatapnya.


“Dien, please. Aku ingin supaya hari ini tenang. Okay?”


Nadien terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya berujar.


“Semester depan, aku akan diangkat menjadi kepala bidang SDM di yayasan, Wi.”


Aku mengangkat wajah dalam kejut.


“Wow! Sela...”


Nadien menyela ucapanku.


“Dan aku sudah mencalonkan kamu sebagai penggantiku di sekolah. Pengurus yayasan sudah setuju.”


Aku tertegun.


Mengulurkan tangan dan menggenggamku sekali lagi. Lebih erat.


“I only want the best for you, Wi. Don’t you want the best for you too?”


Aku tak tahu harus berkata apa pada berita mengejutkan ini.


Nadien tersenyum, melepaskan tanganku, dan berkata.


“Aku tahu pasti ini mengejutkan untukmu. Maaf ya, baru memberitahumu sekarang.”


Akhirnya kata-kata kembali ke bibirku.


“Mengejutkan? Ini sih gila, Dien! Kenapa harus aku? Masih ada Andrew dari Kurikulum, ‘kan?”


Nadien mendengus.


“That ambitious guy? No thanks, Wi. Ambisinya akan mengorbankan guru-guru.”


Aku masih memutar otak, mencari alasan lain untuk diutarakan saat Nadien berkata lagi.


“It’s done, Wi. Sudah dilakukan. Kamu mau protes apa juga tidak bisa mengubah apa-apa. Masih ada satu semester kok, tapi nanti kita banyak mengobrol soal sekolah di bulan-bulan ini, ya.”


Aku tak tahu harus berkata apa.


Bahkan tidak tahu harus merasa apa.


Nadien menghabiskan caffe latte-nya dan melihat jam.


“Masih jam 11, Wi. Aku ikut mandi di rumahmu, lalu kita jalan-jalan yuk. Bosan aku di rumah. Di Paskal 23 sedang ada sale lho.”


Aku berjalan mengikuti Nadien ke kasir seperti terhipnotis.


Kepala Sekolah.


Ini memang impianku sejak dulu.


Impian yang berhasil kuraih di usia 35 tahun.


Tapi sekali lagi, aku merasa sangat berdosa.


Aku hidup, berkarya, dan meraih mimpi sementara putriku...


“Mbak, kami mau pulang. Jadi berapa semuanya?”, tanya Nadien.


Perempuan penjaga kasir tersenyum saat menjawab.


“Oh, sudah dibayar semua, Bu.”


Aku tersadar dari lamunan dan bertanya cepat.


“Dibayar? Oleh siapa, Mbak?”


Penjaga kasir menunjuk sopan ke arah luar.


Tepat di samping meja yang tadi kami duduki, ada seorang pria.


Tersenyum percaya diri dan mengunjukkan cangkir kopi kepada kami.


Tanpa sadar, Nadien bertanya pelan.


“Siapa itu, Wi?”


Aku meneguk ludah.


Rambut hitam lebat belah pinggir yang rapi, wajah kokoh tampan berkulit terang, postur tubuh tegap sempurna.


“Andra.”


Nadien berbalik menatapku heran.


“Siapa?”


Aku balas menatapnya.


“Itu Andra, Dien. Sahabatnya Windra di rumah sakit.”


Penjaga kasir berdehem dan menyodorkan secarik kertas kepadaku.


“Ini ada pesan, Bu. Dari Bapak yang itu.”


Aku mengambil kertas dan membaca apa yang tertera di atasnya.


“For old time’s sake.”


Nadien berujar.


“Eh, itu ada pesan lagi di belakangnya, Wi.”


Aku membalik kertas dan mendapati sebuah pesan lain.


“+62 812*****743. In case you want to repay me for this day.”


Alisku bertaut seiring bibirku terbuka tak percaya.


Apa-apaan ini?

__ADS_1


__ADS_2