Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Bab 9 - Ilusi Kenyataan


__ADS_3

Bertahun-tahun meniti karier sebagai guru dari jenjang TK hingga SMP, aku terlatih untuk berani melangkah.


Berani memasuki ambang pintu kelas untuk bertemu anak-anak yang baru kukenal.


Berani memasuki ruang tamu di sekolah untuk menghadapi orang tua yang membawa komplain.


Bahkan berani memasuki tugas manajerial baru di setiap tahunnya.


Tidak pernah aku merasa takut atau ragu. Ada tantangan baru? Terobos, Boss!


Keberanianku itu mungkin menurun pada Tia.


Karena Tia, putriku itu adalah anak yang luar biasa berani.


Di saat anak-anak lain (anaknya Sari atau Nia, atau bahkan Nadien) harus diberi insentif untuk belajar merangkak dan berjalan, tidak dengan Tia-ku.


Ia merangkak di usia 6 bulan dan berjalan di usia 8 bulan.


Berjalannya juga unik. Ia tidak perlu walker atau alat bantu apapun.


Aku ingat sore itu aku dan Windra yang kebetulan sedang libur duduk berseberangan, terpisah beberapa meter.


Tia kami sedang berdiri sambil berpegangan pada sofa di antara kami sambil tertawa manis.


Lalu tiba-tiba tanpa kami suruh, ia berjalan cepat (nyaris berlari) menuju Windra. Kami sampai shocked dibuatnya.


...


Tapi hari ini, memasuki restoran, aku mengkhianati sifat alamiku.


Aku yang biasanya berjalan masuk ke setiap ruangan dengan percaya diri, kini sengaja berlama-lama di belakang Laut dan Josh.


Semalaman aku sudah mempersiapkan diri untuk hari ini, pertemuan ini.


Namun sekarang, tepat di detik-detik penentuan, aku ragu luar biasa.


Should I be doing this? Is this the right way?


Damn. Terlambat sekali kalau mau menyesal, karena dua sejoli yang bersamaku itu sudah menaiki tangga menuju pintu masuk.


“Mbak, yuk masuk. Aku sudah lapar nih”, panggil Laut.


Aku tersenyum tipis seraya menjawab, “Iya, kalian duluan deh. Mbak mau ke toilet dulu.”


Josh menoleh dan bertanya.


“Mau dipesankan apa, Ma’am?”


Aku menggeleng.


“Nanti saja. Kalian dulu saja. Jangan tunggu saya, ya.”


...


This is not working.


Ritual cuci muka dan make-up ulangku yang biasanya mujarab tidak mempan sama sekali.


Dua puluh menit sudah berlalu dan masih belum juga ada keberanian yang terkumpul.


Namun lebih lama dari ini, bisa-bisa dua anak itu mengira aku diare parah. Memalukan.


Berjalan keluar dari toilet, aku mencari-cari meja tempat Josh dan Laut berada.


Cukup sulit, karena restoran sangat penuh saat itu.


Dua-tiga kali pandangku menyisir area konsumen sebelum akhirnya menemukan rambut cokelat bergelombang Laut di dekat jendela.


Hela nafas lega, aku membuang tissue di tanganku dan hendak menghampiri mereka.


“Lama sekali, Wi.”


Kejut alang kepalang, aku menoleh dengan belalak.


Andra berdiri bersandar di tembok depan toilet. Menyeringai percaya diri.


“Sejak kapan kau ada di sini?”, tanyaku dalam degup kencang.


Andra mendekat dan menjawab.


“Dari sejak kamu masuk ke restoran dan bersembunyi di toilet. Aku menghitung ada dua puluh menitan, Wi. Upset stomach karena grogi bertemu denganku?”


Detak jantungku semakin cepat bukan lagi dalam kejut, namun dalam amarah.


Ucapannya yang terlalu percaya diri, posisi tubuhnya yang terlalu dekat, matanya yang menatapku terlalu tajam.


This is completely wrong. Aku menyesal setengah mati sudah menyanggupi ajakan laki-laki kurang ajar ini.


Andra mundur selangkah dan tersenyum.


“Yuk duduk di meja. Aku sudah pesan meja khusus agar kita bisa mengobrol tanpa gangguan.”


Aku harus menahan emosiku sekuat tenaga agar tidak menampar wajahnya.


Dengan rahang ketat, aku menjawab.


“Saya datang dengan teman saya. Kalau mau, kita join table saja.”


Mendengar ini, dahi Andra berkerut kesal.


“Kamu bawa teman? Buat apa?”


Gemertak gigiku menjawab.


“Karena saya tidak percaya pada Anda! Anda keterlaluan, ya. Saya masih berstatus istri orang. Istri sahabat Anda! Tapi Anda berani menggoda...”


“Istri? Bukankah kalian sudah pisah rumah satu tahun terakhir ini? Bukankah kamu sudah menolak telepon-telepon dan pesan dari Windra? Jadi apa salahnya?”


Ledakan jiwaku terdiam sesaat.


Bagaimana dia bisa tahu sejauh itu?


Andra mendengus geli melihat raut wajahku.


“I know about you and Windra, Wi. I know a lot. Windra menceritakan semuanya padaku.”


Goyah oleh pernyataan ini, tanpa sadar aku melangkah mendekatinya.


“Windra menceritakan semuanya?”

__ADS_1


Andra tersenyum penuh kemenangan.


“Oh ya. Dia bercerita bagaimana dia pergi ke Amerika Serikat satu hari setelah pemakaman putri kalian. Dia bercerita bahwa dia pergi untuk bekerja di Dallas, Abby Grace Foundation. Wait. Don’t tell me you don’t know about this?”


Ujung-ujung jariku terasa dingin dan mati rasa.


Amerika Serikat?


Dallas? Abby Grace Foundation?


Andra meraih tanganku tanpa malu-malu.


“Sit down with me and I’m going to tell you everything you need to know. And maybe give you everything you need.”


Aku mengangkat wajah memandang dia.


Ingin berontak, namun tak kuasa.


Ingin menampar wajahnya, namun lemas sekujur rasa.


Andra tersenyum dan menarikku lembut.


“Yuk.”


“Mbak!”


Tersentak, kami berdua menoleh. Spontan aku melepaskan tangan dari genggaman Andra.


Laut dan Josh di sana.


Berjalan mendekat, ekspresi curiga mereka sama persis.


Berusaha menetralkan suasana, aku tersenyum gemetar.


“Oh, La, Josh. Kenalkan, ini Andra. Temannya Mas Windra yang janji bertemu dengan Mbak hari ini.”


Tidak ada jabat tangan.


Laut menggenggam lenganku dan setengah menarikku.


Josh maju ke antara aku dan Andra.


Andra diam, senyumnya telah hilang dari wajahnya.


Lalu tanpa kata, ia berbalik dan pergi.


Laut segera menatapku cemas.


“Mbak, Mbak tidak apa-apa? Mbak tidak diapa-apakan oleh orang itu, ‘kan?”


Josh menopang punggungku hati-hati.


“Ayo kita duduk dulu, Ma’am.”


Kalau dua anak ini bisa sebegitu concern-nya padaku, berarti hanya ada satu penjelasan.


Shock dan ketakutan yang kurasakan sudah merambat jauh dan memancar dari kedua mataku.


Bahkan menguasai diriku sepenuhnya saat ini.


***


Nadien memberondongku dengan emosi yang membubung tinggi.


“Kamu itu mikir apa sih? Andra itu mencurigakan, Wi. Laki-laki yang berani menggoda istri sahabatnya seperti itu adalah orang yang berbahaya! I thought you are smarter than this!”, ucapnya panas.


Aku menghela nafas lelah.


“Iya, Dien.”


Nadien masih belum selesai.


“Gila. Kalau tidak ada Laut dan Josh, mungkin kamu akan dibawa entah ke mana. Diperlakukan entah bagaimana. Dan kamu mungkin tidak akan melawan karena dia mengiming-imingi informasi tentang Windra!”


Aku memijat dahiku keras-keras.


“Lalu aku seharusnya berbuat apa, Dien? Aku juga takut pada Andra. Tapi kalau aku tidak bertemu dengannya, tidak mungkin aku tahu kalau si Windra sialan itu sedang enak-enak di US, ‘kan?”


Nadien berdecak kesal.


“Jadi kamu mau diapakan saja oleh Andra asal kamu bisa tahu secuil tentang Windra?”


Aku memindahkan telepon ke telingaku yang satunya.


“Ya bukan begitu, Dien.”


Nadien memotongku ketus.


“Halah, tadi saja dipegang-pegang mau kok.”


Dipojokkan terus menerus, aku bangkit dan balas menyentak.


“Terus aku harus apa, Dien? Kamu kira enak jadi aku? Ditinggalkan tanpa berita begini? Kamu kira enak jadi aku? Ditinggalkan waktu aku sedang butuh-butuhnya?”


Sedetik, dua detik Nadien terdiam.


Aku bisa merasa bahwa dia juga sedang menenangkan diri.


Akhirnya, ia berkata.


“Look, Wi. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi kalau kamu tanya apa yang harus kamu lakukan, menurutku jawabannya cuma tiga pilihan. Pilihan yang dari dulu aku katakan kepadamu. Menyerah dan ceraikan Windra, which I highly recommend, atau bertahan menunggu seperti sekarang, atau kamu telan egomu dan angkat teleponnya. Balas pesan-pesannya. Tanya apa yang sedang ia lakukan dan mengapa ia melakukan itu.”


Aku terdiam. Hati ini rasanya sudah diremas habis.


Nadien berkata dengan nada final.


“Choose between the three of them, Wi. Hanya tiga itu pilihannya. Tidak ada jalan memutar, tidak ada jalan pintas. Choose wisely, Wi. Choose right.”


...


“Ma, Papa kok jalang (baca : jarang) main cama kita?”


Aku membelai rambut putri kecil yang sedang bersandar di dadaku ini.


“Papa sedang bekerja, Sayang.”


Putri kecilku itu merengut.


“Huh. Papa kelja telus. Papa nggak cayang Tia.”

__ADS_1


Tersenyum, aku mengecup ubun-ubunnya lembut.


“Tia, lihat Mama sini, Mama mau bicara sesuatu.”


Aku menunggu agak lama sebelum ia berbalik dan menghadapku.


Masih tersenyum, aku mendekapnya erat dan menjelaskan.


“Papa itu pahlawan, Tia. Kamu tahu, ‘kan? Seperti Iron Man dan Spiderman itu tuh. Makanya dia sering sibuk. Tapi Papa sayang kok sama Tia.”


Tia masih merengut.


“Nggak, Papa nggak cayang cama Tia.”


Semakin erat memeluk, aku berbisik.


“Papa sayang kok sama Tia. Papa itu sibuk di luar melawan penjahat, Tia. Penjahat seperti Thanos dan Venom itu tuh. Cuma nama penjahatnya itu penyakit. Papa melawan penjahat-penjahat itu supaya kalau Tia jalan-jalan sama Mama, Tia nggak akan bertemu penjahat itu. Hebat ‘kan?”


Binar mata bulat manisnya sungguh menggemaskan.


“Ohhh begitu ya, Ma.”


Aku mencium pipinya dalam-dalam.


“Iya, makanya sekarang Tia jangan marah, ya. Papa ‘kan jadi pahlawannya kalau sedang di luar saja. Kalau di rumah, Tia pahlawannya. Karena Tia yang bisa menolong memijat Papa dan membuat Papa tertawa. OK?”


Tia membalas menciumku dalam-dalam.


“Mama juga ikut bantu Papa ketawa ‘kan, Ma?”


Aku tersenyum yakin.


“Pasti dong. Sekarang yuk kita mandi, biar waktu Papa pulang, Tia bisa langsung main sama Papa. OK? Tos dulu sama Mama.”


...


Tia, Nak.


Apa yang kamu inginkan supaya Mama lakukan pada Papamu, Nak?


Bantu Mama memilih apa yang benar, Nak.


...


Getar singkat penanda pesan masuk menyapa handphone.


Membuka mata, aku memandang chat yang datang untukku.


Windra


online


Hi, Wi. Sedang apa kamu? Sudah makan? Sehat-sehat kamu di sana? Jangan terlalu kecapekan ya. Nanti sakit. 17.45


I miss you, Wi. So much. 17.46


...


Kalau kamu begitu merindukanku, kenapa kamu pergi, Win?


Kenapa kamu tidak pernah bicara tentang apa yang kamu lakukan?


Kenapa kamu tidak pernah bicara soal kapan kamu bisa pulang kembali padaku?


Apa kamu memang ingin kembali?


...


Getar lain menerobos masuk dalam gawaiku.


Pesan lain.


Andra


online


Disappointed of what happened this afternoon, Wi. 17.47


Well, kalau kamu mau tahu lebih banyak tentang apa yang sedang Windra lakukan, we can always arrange another meeting. Just the two of us. 17.47


...


Aku tidak tahu harus berbuat apa.


Pesan baru kembali masuk memanggil.


Andra


online


FYI, ini kabar terbaru dari ‘suami’ kamu. 17.48


Dia mengirim foto.


Ya Tuhan, foto apa ini?


Aku gemetar tak terkendali menunggu gambar terkirim penuh di layarku.


Sebagian diriku tergoda untuk menghapus chat dan mem-block kontak laki-laki kurang ajar ini.


Namun bagian diriku yang lain ingin terus mendengar apa yang ia katakan.


Ini rasanya seperti kecanduan narkoba.


Too hurtful to continue, but too hard to stop.


Ding. Foto terkirim penuh.


Aku membukanya dan tertegun tak tahu arah.


Tak bisa mempercayai mataku sendiri.


Itu foto Windra. Jas putih dokternya membalut kemeja biru dan celana panjang favoritnya.


Tersenyum.


Menatap seorang wanita lain yang juga berjas putih dokter.


Dengan tatapan yang dulu ia berikan padaku.

__ADS_1


__ADS_2