Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Keping-Keping


__ADS_3

Rawindra


“Malam, Dok”, sapanya ramah.


Aku tersenyum tipis menjawab.


“Saya sudah tidak praktik di sini kok, Mbak. Jangan panggil ‘Dok’ lah.”


Mbak-Mbak di counter kopi itu tertawa.


“Buat saya sih sekali dokter tetap dokter. Yang biasa, Dok?”


Aku menyerah kalah dalam perdebatan tidak penting ini dan mengangguk.


Menerima pesanan tanpa kata dariku, ia segera berkutat dengan cash register machine.


“Hot Caramel Machiato 50% sugar. Semuanya jadi Rp 30.000,-, Dok. Cash atau debit?”


Aku merogoh dompet dan menyerahkan tiga lembar uang sepuluh ribu.


Mbak-Mbak counter itu menerimanya dan tersenyum.


“Terima kasih, Dok. Nanti saya panggil kalau sudah jadi ya.”


Aku mengangguk, memasukkan kembali dompet ke dalam saku, dan berbalik.


Namun baru saja badanku berbalik, ia menyusul dengan tanya.


“Ibu bagaimana, Dok? Sudah baikan?”


Mantap, aku menoleh tersenyum.


“Syukurlah, Mbak. Doakan ya.”


 


 


...


Syukurlah.


Ya, itu kata yang tepat.


Ini sudah malam keenam Dewi-ku masuk rumah sakit.


Setelah malam pertama yang luar biasa (karena rekonsiliasi kami), malam-malam selanjutnya terasa mudah bagi kami.


Bagiku khususnya.


 


 


Kabar gembira pertama, tim dokter dari Dallas dan Bandung sudah sepakat membentuk semacam tim gabungan untuk menangani Dewi.


And of course, who can blame them?


Dewi-ku itu kasus yang luar biasa langka.


Penderita San Filippo yang bisa bertahan hingga usia 30 akhir?


You will never get a chance like this.


Dan karena itu aku bersyukur, karena aku yakin seyakin-yakinnya bahwa tim gabungan ini tidak akan berhenti sampai Dewi sembuh seutuhnya.


Kabar gembira berikutnya, tim Indonesia yang diketuai dr. Rahmadi rajin memantau dan memeriksa kondisi Dewi. Tiga kali, bahkan sempat empat kali sehari.


And you know what? All the check results came up good!


Aku tidak mau membuat siapapun bosan dengan detil-detil tes kandungan zat dalam otak yang mereka ukur, pokoknya hasilnya menggembirakan.


Semangatku semakin membubung karena tim Dallas akan tiba besok.


Dengan dr. Lauryn-Anne sendiri di dalam tim, honestly, what could go wrong?


 


 


Satu rekonsiliasi dan dua kabar gembira besar.


Tentu saja hari-hariku bersamanya terasa mudah dan ajaib.


 


 


“Babe, sorry. Tolong ambilkan smartphone-ku, dong.”


Mataku terangkat sejenak dari jurnal medis di hadapan dan menatapnya putus asa.


“Dewi sayang. Berapa kali harus aku bicara? Untuk urusan Parents’ Day, Josh sudah urus. ‘Kan baru tadi sore dia menjenguk dan menyampaikan hal itu.”


Dewi balas menatapku dengan sorot puppy eyes-nya.


Damn, she’s so cute.


“Bukan itu kok, Babe. Aku cuma mau lihat-lihat Instagram. Aku bosan.”


Menghela nafas, aku mengancam.


“Kalau sampai aku lihat kamu kontak dengan sekolah...”


Dewi tertawa.


“Iya, iya. Aku ‘kan sudah janji akan jadi pasien yang baik. Jadi tolong ambilkan ya, Pak Dokter Ganteng.”


Dengan senyum tersungging aku bangkit dari duduk, mengambil smartphone Dewi dari coffee table di sisi ruangan, dan menyerahkannya.


“Half an hour and that’s it. Okay?”


Ia tersenyum manis saat berkata.


“Iya, Babe. Siap.”


Aku mencium pipinya gemas.


“Nah, begitu dong. Jadi pasien jangan ngeyel.”


Dewi tertawa.


 


 


Itu hari kedua kami di rumah sakit.


Hari yang cukup sibuk baginya memang.


Kunjungan Nadiena di pagi hari, kunjungan orang tuaku dan Dewi di siang hari, lalu kunjungan rekan kerjanya di sore hari.


Karena itu aku tidak menyalahkannya saat kutemukan ia tertidur dalam posisi duduk bersila, sekembaliku dari kamar mandi.


Lembut, aku mengambil smartphone dari genggamnya dan menidurkan ia.


 


 


“Babe, aku mau itu dong”, ujarnya sambil menunjuk selai di tanganku.

__ADS_1


Aku terhenti dalam kegiatanku mengoles selai strawberry ke atas roti gandumku dan tertawa tak percaya.


“Kamu mau ini, Babe? Selai strawberry? Tidak salah? Kamu ‘kan tidak suka strawberry?”


Dewi tersenyum polos.


“Yah, aku juga tidak tahu kenapa, Babe. Rasanya ingin saja.”


Aku mengangkat bahu dan menyerahkan roti yang sudah kubuat padanya sembari menggoda.


“Jangan-jangan kamu mengidam, Babe. Tapi aneh, aku ‘kan baru membayangkannya bersamamu, kok sudah hamil lagi sih? Mungkin karena aku membayangkannya intens ya.”


Dewi tertawa terbahak-bahak.


“Duh, Windra! Kamu itu... Ada-ada saja sih.”


Aku ikut tertawa.


 


 


Itu hari ketiga.


Well, tidak perlu kujelaskan lebih lanjut tentang betapa bahagianya kami.


This feels like catching up with the lost time.


Rasanya seperti mengejar ketinggalan dari satu tahun yang tidak kulewatkan bersamanya.


Only me, her and our happiness.


Sudah terlalu lama kami tidak merasakan ini.


 


 


“Dokter Rawindra, kopinya!”


Mendengar panggilan, aku bangun dan beranjak.


Tersenyum-senyum sendiri seraya berjalan.


Damn, baru sebentar saja tidak bertemu Dewi rasanya sudah rindu begini.


Ini bahkan melebihi apa yang kurasakan saat pertama jatuh cinta padanya dulu.


Ini rasanya seperti jatuh cinta lagi, dan lebih dalam dari sebelumnya.


Dengan bunga-bunga memenuhi pikiranku, aku mengambil kopi dan berterima kasih.


Segera bergegas menuju lift ke kamar Dewi.


Sebelah tangan hati-hati menggenggam kopi panas dan sebelah menekan tombol, aku menunggu tidak sabar saat penanda lantai turun dengan lambat.


Nyaris tidak menyadari wanita cantik berambut panjang hitam dalam pakaian rumah sakit di sudut mata.


Berjalan turun dari tangga, melangkah ke lobby rumah sakit.


Dari sudut mata, menarik perhatian hingga aku menoleh memandang.


Bagaikan orang lupa ingatan, wanita itu berjalan bingung hingga tiba di resepsionis.


Dingin menjalar di sepanjang punggungku saat mendengar ia berkata dari seberang ruangan.


“Suster, ruangan tempat Tia dirawat di mana, ya?”


Lemas, kopi di tangan meluncur terjun tanpa kesadaran.


Panik, aku berlari menyeberangi lobby secepat aku bisa.


Perkataannya terdengar semakin jelas saat ia menjawab kebingungan resepsionis.


Tiba di sisi, aku segera merangkul lengannya.


“Dewi? Sedang apa kamu di sini? Yuk aku antar ke kamarmu.”


Demi merasakan sentuhanku, ia menoleh dan menatapku dengan tatapan yang tidak akan pernah bisa kulupakan.


Wanita yang kucintai setengah mati.


Wanita yang kucintai sampai aku mati.


Ia menatapku kaget dan berkata.


“Lho, Bapak siapa?”


 


 


***


Mondar mandir, mondar mandir, mondar mandir.


Tak bisa menahan untuk tidak mengintip ruang ICU setiap beberapa langkah sekali.


Tidak bisa diam tanpa dilahap kengerian yang gelap.


Kenapa? Apa artinya ini?


Bukankah hasil tesnya bagus semua?


Bukankah semua kondisi vital sangat baik indikatornya?


Tapi kenapa episode ini terjadi lagi?


Kenapa kondisi Dewi bisa se-anjlok ini?


 


 


Seburuk-buruknya istriku, ia tidak pernah seling-lung ini.


Sepanjang pengetahuanku, bahkan dalam insiden paling nadir sekalipun, mata Dewi tidak pernah menatapku seperti tadi.


Saat ia lupa jalan atau lupa nama orang.


Bahkan saat ia lupa menjemput Tia.


Mata Dewi selalu berbicara.


Aku selalu menemukan Dewi yang kukenal dari pancaran matanya.


Tapi tadi... Ya Tuhan...


 


 


“Mas Windra!”


Aku menoleh dan mendapati Andhara berlari menghampiri.


Panik luar biasa, ia segera bertanya.


“Mbak Dewi bagaimana?”


Jemari masih gemetaran, aku berusaha menyampaikan apa yang terjadi dengan setenang mungkin.

__ADS_1


Mendengar penjelasanku, Andhara hilang tenaga dan jatuh terduduk.


Kalut dalam pikiran.


Aku bertanya.


“Ayah dan Ibu ikut, Dhar?”


Andhara menggeleng.


“Aku tidak mau membuat mereka khawatir. Mereka tahunya Mbak Dewi sudah baik-baik saja. Biar mereka tenang, Mas.”


Aku mengangguk.


Keputusan yang benar.


Karena aku tidak tahan untuk memikirkan apa yang akan terjadi jika sekiranya Dewi bangun dan tidak mengenali Ayah dan Ibunya sendiri.


Tak tahu apa yang harus kulakukan, aku menjatuhkan diri di kursi.


Tepat di seberang Andhara.


Entah berapa lama detik sudah berlari dengan keheningan sebagai atmosfer saat tiba-tiba Andhara berkata.


“Kenapa lama sekali pemeriksaannya, Mas? Mereka sedang apa di dalam?”


Aku memijat keras wajahku sebelum menjawab.


“Tadi sedang diberikan obat penenang. Sekarang mungkin tim dokter Indonesia sedang Facetime dengan tim dokter Dallas. Mendiskusikan kondisi Mbak Dewi.”


Jari bertaut dan kedua siku bertumpu di atas lutut, Andhara gelisah.


Sama sekali tidak puas akan jawabanku.


“Tim dari Dallas ini benar-benar tim yang hebat ‘kan, Mas? Maksudku, mereka pasti bisa menyembuhkan Mbak Dewi ‘kan? Dulu Eyang kami juga biasa lupa begini, tapi bisa hidup sampai usia senja, Mas.”


Aku berusaha menjelaskan.


“Eyangmu tidak menderita San Filippo, Dhar. Eyangmu menderita dementia biasa. Tapi kadang dementia genetik bisa berubah menjadi seperti... Seperti ini...”


Suaraku tercekat dan semakin hilang di penghujung kalimat.


Mungkin Andhara tidak mendengarnya, karena ia berkata.


“Aku tidak paham, Mas. Soal dementia biasa lah, San Filippo lah, yang aku tanyakan, tim dokter ini benar-benar hebat ‘kan? Mereka pasti bisa menyembuhkan Mbak Dewi ‘kan?”


Aku menatap wajah adik iparku lekat-lekat.


Berusaha menyampaikan jawabanku se-diplomatis mungkin.


“Dhar, kami manusia hanya bisa berusaha. Tapi soal sembuh atau tidak, semua di tangan Tuhan.”


Andhara menggeleng.


Ia membenamkan wajahnya ke tangkupan kedua telapak tangan.


Berkata dengan suara teredam.


“She doesn’t deserve this. She doesn’t deserve this at all.”


Aku menghela nafas.


Bangkit berdiri, aku menghampiri dan menyentuh bahunya lembut.


“Nobody deserves this, Dhar. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdoa.”


Tiba-tiba, Andhara mengibaskan sentuhanku dan bangkit berdiri.


Matanya menatapku tajam, demikian juga kata-katanya.


“’Kita’, Mas? Maaf ya, Mas. Jangan sekali-sekali berpikir untuk menyatukan kita di pihak yang sama. For all that I care, Mbak Dewi tidak akan se-drop ini kalau Mas tidak meninggalkannya setahun yang lalu. Tepat setelah Tia meninggal!”


Aku tertegun.


Andhara belum selesai.


“For all that I care, Mbak Dewi mungkin memang sakit. Tapi yang membuatnya sampai seperti ini bukan penyakitnya, Mas.”


Ia menunjuk wajahku dan mendesis pedas.


“Mas penyebabnya.”


 


 


...


Segera setelah ia berkata demikian, Andhara melangkah melewatiku.


“Aku mau cari angin. Tapi ingat yang kukatakan tadi, Mas. Kalau sampai ada apa-apa dengan Mbak Dewi. Selamanya aku akan menganggap Mas-lah yang bertanggung jawab.”


Tepat di titik perkataan Andhara, pintu ruangan terbuka.


Kami berdua menoleh, dr. Rahmadi di sana.


dr. Rahmadi menyapa Andhara dan memanggilku dalam satu kalimat.


“Selamat malam (ia mengangguk pada Andhara). Win, kita harus bicara. Ikut ke kantor saya, ya.”


Serasa tak berdaya dalam setiap serat tubuh, aku tidak bisa menjawab.


Andhara-lah yang bertanya cepat.


“Ada apa, Dok? Kakak saya tidak apa-apa, ‘kan?”


dr. Rahmadi masih berusaha mengarahkan perkataannya padaku.


“Mungkin lebih baik kalau kita bicara pribadi di ruang tertutup.”


Andhara berkeras.


“Saya keluarga terdekatnya, Dok. Saya berhak untuk mengetahui apa yang terjadi!”


Hening, dr. Rahmadi menatapku.


Kosong, jawaban yang diberikan bibir dan tatapku padanya.


Akhirnya ia menyerah.


“Baiklah, silakan duduk dulu.”


Kami bertiga duduk bersisian.


dr. Rahmadi di sisi terjauh, diikuti Andhara, dan aku.


Mengawali dengan helaan nafas, dr. Rahmadi berkata pelan dan berat.


“Kondisi Dewi memburuk. Kerusakan jaringannya sudah meluas lebih cepat dari yang kita duga.”


Menatap Andhara dan aku bergantian, ada jeda sekian lama sebelum ia menuntaskan.


“Kami khawatir bahwa terapi yang kami rencanakan tidak akan sempat ataupun mampu memulihkannya.”


 


 


...


Jatuh.

__ADS_1


Hancur.


Berkeping-keping.


__ADS_2